OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Kenakalan Oleander-ku


__ADS_3

..."Makanya, kalo mau nakal, nakalnya yang bener." - Rain...


...🌸🌸🌸...


Di sudut ruangan penthouse mewah tersebut, ranjang yang sedang di tempati oleh Rain dan Joey, terletak di tepi kaca dengan latar pemandangan Kota Metropolitan Jakarta Selatan.


Suasana malam itu sangat romantis karena ranjang besar yang disuguhi pemandangan kota, namun semakin dibuat romantis lagi dengan cahaya yang redup karena penerangan kamar hanya menggunakan lilin dan pantulan sinar rembulan penuh. Malam itu benar-benar menjadi malam yang sempurna bagi sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.


Di kesempatan kali ini, Joey memutuskan untuk memegang kendali dalam bercinta. Entah atas dorongan apa, ia ingin membuat malam ini menjadi malam yang tak terlupakan. Malam di mana pria yang dulunya dingin, kini menjadi hangat, lalu melamarnya dengan sangat romantis.


Perlahan, Joey membuka satu persatu kancing kemeja Rain yang sedang terkapar pasrah di atas ranjang. Setelah semua kancing kemeja pria itu terbuka, Joey tak berniat melepaskan jas dan kemeja yang masih melekat di tubuh pria itu. Dibiarkannya kemeja tersebut terbuka sehingga memamerkan roti sobek yang sangat memanjakan mata.


“Pemandangan yang indah,” lirih Joey pelan.


Rain terkekeh kecil saat gadis kesayangannya terpesona oleh tubuh yang ia miliki. Ia juga mendadak bangga pada dirinya sendiri dan bertekad untuk mempertahankan postur tubuh yang bagus seperti itu.


Meski terpesona oleh roti sobek yang memanjakan mata tersebut, dengan lihainya, jemari lentik milik gadis itu mulai mera ba – ra ba setiap inci dari tubuh telan jang Rain. Lalu, ia membungkukkan tubuhnya agar dapat menciumi dada bidang pria itu. Namun, saat ia membungkukkan tubuh, tanpa sengaja ia semakin mendorong tubuhnya ke bawah dan menekan batang milik pria itu yang sudah mengeras dengan sempurna.


“Ugh…” le ng uh Rain tanpa sadar. Pria itu menarik nafas dalam-dalam saat batangnya yang sesak ditin dih.


“Ku pikir, seorang Rain nggak bisa me le nguh,” goda Joey sambil mendaratkan bibir hangatnya ke dada kiri pria itu. Tanpa jeda, ia melahap pucuk coklat milik pria itu dengan sangat rakus.


“S-s-sayang!” Rain tersentak dengan tubuh sedikit terangkat dan bibir yang setengah terbuka saat dadanya menjadi santapan liar gadis itu.


Joey tak mengindahkan reaksi pria yang menjadi santapannya malam itu. Sebaliknya, tangan kanan gadis itu mulai mera ba dada bidang pria itu, lalu memilin dan memelintir pucuk coklat yang sudah mengeras sejak tadi. Gadis itu menikmati setiap se do tan yang ia berikan pada dada bidang pria itu sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, terbersit di hatinya ingin menggoda pria itu lagi. Ia melepaskan lu ma tan hangat bibirnya sambil tetap memilin pucuk coklat pria itu.


“Emangnya, kamu doang yang bisa kayak gini?” goda Joey dengan tatapan nakal dan bibirnya yang sedikit basah.


“Ck!” Rain hanya berdecak sambil memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang gadis itu berikan.


“Memangnya kamu bisa apa selain meniruku?” ejek Rain sambil sudut bibirnya terangkat sebelah.


"Cih, belum tau aja dia," celetuk Joey sambil menyeringai. Ia menghentikan permainan jarinya di dada pria itu, lalu ia membuka ikat pinggang dan membuka kancing celana pria itu. Saat kancing celana beserta resletingnya terbuka, ada sebuah benda keras yang terlihat sudah meronta-ronta ingin keluar di balik boxer yang dikenakan oleh pria tersebut.


Joey membelai dengan perlahan gundukan keras yang masih tertutup boxer tersebut sambil menatap ke arah Rain. “Om, ini milikku, ‘kan?”


“Semua. Semua yang ada padaku menjadi milikmu." Jawab Rain sambil menahan nafas saat tangan gadis itu membelai belalainya.


Joey mendadak menelan salivanya sambil menatap batang tersebut. Ini pertama kali baginya melihat benda itu sedekat ini dan menyentuhnya langsung tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.


"Give up?" ledek Rain sambil berusaha duduk.


Joey tak menggubris ucapan pria tersebut, sebaliknya gadis itu dengan sengaja membuka boxer dan celana tersebut hanya sebatas paha, lalu, tangan lembutnya menyentuh batang sakti milik pria itu dengan sangat hati-hati.


Rain terbelalak saat gadis itu memegang dan mulai memijat batangnya dengan sangat hati-hati. Sekujur tubuhnya mendadak kaku. “Sshh… kamu belajar di mana? Hem?”


“Om yang mengajariku,” tukas Joey saat itu juga sambil mengerlingkan matanya.


Tak ingin berlama-lama hanya sekedar memijat batang tersebut, Joey mendorong tubuh Rain hingga terlentang kembali ke atas kasur. Lalu ia memasukkan batang yang besar itu ke dalam mulutnya. Tapi sayangnya tak semua dapat masuk ke dalam mulut, karena batang itu terlalu besar, sehingga hanya setengah yang masuk.

__ADS_1


“Ughh!!!” le ngu h Rain sambil mencengkeram bedcover. Di saat yang sama, mata pria itu dibuat terpejam dengan nafas yang tercekat dan tubuh yang bergetar. Sensasi yang gadis itu berikan benar-benar membuatnya melayang.


Joey mengeluarkan batang tersebut dari mulutnya kemudian menyeringai dan tersenyum dengan penuh kemenangan. Gadis itu merasa puas, ia seperti telah berhasil menaklukkan monster yang selama ini melahap tubuhnya dengan rakus. Lalu, setelah itu ia memasukkan kembali batang keras tersebut dan mengu lumnya, sesekali lidah gadis itu bergerilya memainkan batang keras itu di dalam bibir.


Rain yang tak mampu menahan rang sa ngan penuh nikmat yang diberikan gadis itu, dengan refleks ia menekan kepala gadis itu sehingga gadis itu terpaksa melahap habis seluruh batangnya. “Shhh… kamu benar-benar liar!”


Joey mendadak tersedak dengan kedua mata yang melotot, lalu ia segera mencabut batang tersebut dari mulutnya dengan raut wajah yang cemberut. “Om! Kalo aku mati karna tersedak batang gimana? Kan nggak lucu.”


“Hahaha… makanya, kalo mau nakal, nakalnya yang bener,” ejek Rain. Ia mengatur nafasnya sambil menatap langit-langit dan menikmati sisa-sisa kehangatan yang masih dapat ia rasakan dari bibir mungil Oleander-nya tadi. Itu merupakan pertama kali baginya merasakan batang kerasnya masuk merasakan hangatnya mulut mungil gadis itu. Benar-benar luar biasa, pikir Rain saat itu.


Di saat Rain sibuk menikmati kenikmatan perdana yang gadis itu berikan padanya, Joey tiba-tiba saja sudah memanjat tubuh Rain sambil memegang batang keras tersebut dan mengarahkan batang tersebut ke lobang kecilnya. Rain kembali dibuat terkejut oleh tingkah agresif gadisnya yang tak main-main.


“Ughh…” kini, gantian Joey yang meringis karena tubuhnya bergetar hebat saat mencoba memasukkan batang besar yang keras itu ke dalam lobang kecil miliknya. Baru setengah yang masuk, namun Joey tak lagi mampu meneruskan karena mulai merasa nyeri dan sakit.


Di saat yang sama, saat di mana Joey dengan percaya dirinya mencoba memimpin aksi pada malam itu, Rain tak lagi mampu menahan kesabarannya. Baginya, ia sudah cukup sabar sejak tadi mengikuti permainan gadis kesayangannya yang terbilang mahir meskipun masih pemula.


Di dalam pikiran Rain saat ini, ia ingin menyentuh gadis itu, menja mah tubuh gadis itu dan sangat menginginkan gadis itu. Berkat dorongan hasraat yang membara, kedua tangan kekarnya menyentuh pinggul ramping milik gadis yang sedang menunggangi tubuhnya.


“Aku menginginkanmu,” ucap Rain dengan tatapan yang nanar. Dengan sekali hentakan, ia telah memasukkan semua batang perkasanya ke dalam lobang sempit gadis itu.


"Seperti yang pernah ku katakan, aku orangnya nggak sabaran."


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2