
...“Apartemen ini milikku. Jadi, terserah aku ingin melakukan apapun. Bahkan bercinta di ruang tamu pun, kamu nggak berhak melarangku.” – Rain...
...🌸🌸🌸...
Malam itu, saat Joey baru saja selesai mandi dan sedang memakai skincare di depan meja rias, ia mendengar suara pintu apartemen yang sedang di buka. Seketika wajah lesunya menjadi cerah dan matanya mendadak berbinar-binar.
“Om Rain!” serunya sambil bangkit dari duduk. Meskipun ia menggunakan daster seksi malam itu, ia tak peduli. Yang jelas, ia ingin berlari keluar ke arah pria yang sudah beberapa minggu ini tak pulang.
Joey bergegas keluar dari kamarnya dengan wajah yang cerah dan girang menuju pintu masuk di mana Rain berada. Namun wajahnya yang semula bercahaya tersebut mendadak gelap dan suram saat melihat Rain masuk bersama seorang wanita cantik.
Bagaikan disambar petir di siang hari, Joey terdiam membisu dan tak mampu berkata-kata saat melihat pria yang baru saja melamarnya beberapa hari yang lalu ternyata malam ini datang ke apartemen bersama seorang wanita. Dan yang membuat hatinya semakin sakit adalah, tangan kekar yang biasanya melingkar di pinggulnya, kini berada di pinggul wanita lain.
“Sayang, kok ada gadis lain di sini? Apa kita mainnya bertiga?” tanya wanita cantik yang berada di samping Rain.
“Dia masih amatir dan nggak seenak kamu yang udah berpengalaman,” jawab Rain sambil membelai lembut pipi wanita cantik tersebut di depan Joey.
“O-Om? Ke-kenapa ng-nggak di hotel?” tanya Joey terbata-bata. Gadis itu menahan rasa sakitnya dan memberanikan diri untuk bertanya. Meskipun mereka bukan lagi sepasang kekasih, tapi bukankah terlalu kejam jika pria itu langsung membawa wanita lain. Padahal, mereka baru beberapa hari yang lalu mengakhiri hubungan terlarang tersebut.
“Hmm? Hotel?” tanya Rain acuh tak acuh. “Aku nggak mau bikin skandal yang merugikan diriku.”
“Lagi pula, apartemen ini milikku. Jadi, terserah aku ingin melakukan apapun. Bahkan bercinta di ruang tamu pun, kamu nggak berhak melarangku,” sambung Rain tajam.
Pria itu bergegas merangkul wanita cantik tadi menuju kamarnya dan meninggalkan Joey yang mematung di depan pintu saat mendengarkan ucapan menohok yang tajam darinya.
Seluruh tubuh Joey bergetar hebat menahan amarah, kedua tangannya ikut dikepalkan dengan mata yang memanas. Benar apa yang dikatakan oleh Rain. Apartemen ini miliknya dan terserah dia ingin melakukan apa saja di tempat itu. Tapi entah kenapa, rasa cemburu ini begitu merajai hatinya. Ia merasa begitu terluka saat melihat pria yang ia cintai bersama wanita lain, terlebih lagi membayangkan pria yang ia cintai menghabiskan malam yang panas dengan wanita lain.
Dengan langkah yang berat, Joey berjalan kembali menuju kamarnya. Namun, saat ia berada di depan pintu kamarnya, ia berhenti sebentar di depan kamar Rain yang berseberangan dengan kamarnya. Entah apa yang mendorongnya, tapi ingin sekali rasanya ia mengetahui apa yang sedang terjadi di balik pintu itu.
“Aahkk!!!” suara de sah an seorang wanita terdengar di balik pintu tersebut.
Joey menggigit bibirnya dengan kuat sambil mencengkeram bajunya tepat di dada. Pilu yang begitu menyayat hatinya tak mampu ia tahan saat mendengarkan suara de sahan wanita yang pastinya datang dari penyatuan tubuh antara wanita tersebut dan pria yang ia cintai.
__ADS_1
CEKLEK!!!
Tiba-tiba saja pintu kamar Rain terbuka. Pria itu muncul di balik pintu dengan rambut yang berantakan dan semua kancing kemejanya yang sudah terbuka. Ada beberapa bekas lipstick yang menempel di kemeja putih pria tersebut.
“Kenapa di sini?” tanya Rain dingin.
“A-aku mau ambil mi-minum,” jawab Joey terbata-bata. Matanya penasaran dan tanpa sengaja mencoba melihat ke dalam kamar Rain.
Sadar akan kelakuan bunga kesayangannya, Rain menarik pintu kamar dan menutupnya. Lalu ia berjalan menuju dapur.
“Katanya mau minum?” tanya Rain saat melihat Joey yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
“Oh… i-iya, Om.” Joey berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas.
Saat Rain ingin meraih teko, di saat yang sama Joey juga ikut meraih teko sehingga kedua tangan mereka saling bersentuhan. Joey terkejut dan menarik tangannya dari teko, sialnya saat ia terkejut tadi, gelas yang ia pegang mendadak jatuh ke lantai dan pecah.
“Haaa… hobimu memecahkan gelas?” tanya Rain dengan wajah yang datar dan sedikit kesal.
Rain tak bergeming, ia berjalan menuju kamarnya meninggalkan Joey yang membersihkan serpihan kaca di dapur tersebut.
“Aakk!!!” teriak Joey saat Rain memegang gagang pintu kamarnya. Tangan gadis itu terluka karena terkena serpihan kaca yang menancap ke jarinya.
Rain yang saat itu memegang gagang pintu, ia mendadak mengepalkan tangannya dengan bibir yang bergetar. Ingin sekali ia bergegas lari dan mendekati gadis tersebut lalu mengobati lukanya. Namun ia berusaha melawan hatinya untuk tak mempedulikan gadis tersebut. Dengan berat hati, Rain masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
Entah kenapa, mata Joey mendadak panas dan berkaca-kaca saat sadar akan sikap dingin pria itu. Padahal sebelumnya pria itu memang dingin, lalu kenapa sekarang ia menjadi terluka saat kembali dihadapkan dengan sifat asli pria tersebut.
“Hiks… hikss… hiksss…” tanpa terasa, airmata mulai membasahi pipinya. Ia tak mampu menahan rasa sakit yang menghujam dadanya bertubi-tubi.
“I-ini … hikss … karena lukanya perih … hikss ….” Isak Joey. Ia menangis sambil menatap jarinya yang berdarah karena terkena serpihan kaca. Berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa tangisan tersebut karena jarinya yang terluka, bukan karena hal lain.
Di saat yang sama, Rain diam-diam membuka pintunya secara perlahan untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi pada gadis kesayangannya. Ia merasa kesal karena tak dapat mendekati gadis yang sedang menagis tersebut. Ia tau bahwa gadis itu menangis bukan karena luka di jarinya, tapi karena rasa kecewa melihatnya yang datang dengan seorang wanita di malam hari.
__ADS_1
“Pak Rain,” panggil wanita cantik tadi. Ia mengejutkan Rain yang sedang diam-diam menguping di balik pintu.
Rain bergegas menutup pintu kamar di saat wanita tersebut memanggilnya. “Pulanglah, bayarannya udah di transfer Harry. Cek rekeningmu.”
“Bapak yakin? Masak bayar saya mahal-mahal cuma untuk akting? Saya bisa kok memuaskan, Ba-“
“Pulang selagi saya bicara baik-baik,” kecam Rain sengit. Pria itu menempik tangan wanita tadi yang mulai meraba dadanya dengan liar.
“B-baik, Pak,” ucap wanita tadi terbata-bata.
“Jangan lupa memprovokasinya,” titah Rain sambil berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya.
“B-baik, Pak.”
Sesaat setelah itu, wanita tersebut keluar dari kamar Rain sambil membenarkan bajunya dan menuju ke dapur di mana Joey sedang menyapu lantai dapur.
“Mbak, ada tisu?” tanya wanita tadi mengusik Joey yang sedang melamun sambil menyapu.
“Di sana, Mbak,” Joey menunjuk ke arah kotak tisu yang berada di atas meja makan.
“Kalo toilet di mana, Mbak?”
“Ini,” Joey menunjuk ke arah kamar mandi sambil mengerutkan keningnya. Ia penasaran kenapa wanita ini hanya sebentar dan tak menginap.
“Oh. Mbak penasaran ya? Ini, saya mau lap sper ma Pak Rain. Perjanjiannya sih nggak boleh keluar di dalam, tapi dia bilang terlalu bersemangat sampai-sampai keluar di dalam, saya ‘kan jadi pusing. Makanya saya pulang aja deh,” jelas wanita cantik tersebut yang sadar bahwa Joey menatapnya penasaran.
“Mbak jangan tidur dulu ya, ntar ada temen saya yang mau datang. Kayaknya sih Pak Rain bakalan main sama dia semalaman,” sambung wanita tadi sambil berjalan menuju kamar mandi.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1