
...“Luna, Rain dan Zayn. Mereka meninggalkanku. Lalu sekarang, apa kamu juga akan meninggalkanku?” - Ravi Ravindra...
...🌸🌸🌸...
“Ma, kenapa nggak tanyain Papa dulu?”
Ravi yang saat itu sedang duduk di atas ranjang rumah sakit, ia menatap istrinya dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Beberapa menit yang lalu Alfred datang menjenguknya dan mengatakan akan melangsungkan pernikahan antara Zayn dan Sara pada bulan depan.
“Pa, anak-anak tau apa yang terbaik untuk mereka,” sahut Hana sambil mengupas apel.
“Tapi aku orangtuanya! Aku tau apa yang terbaik untuk anakku!” seru Ravi dengan penuh amarah.
“Papa tenanglah. Papa baru sembuh, jangan emosi dulu,” ucap Hana sambil menunduk dan fokus memotong apel.
“Ck! Nggak ada satu pun yang mendengarkan ucapanku. Semuanya merasa jalan yang mereka ambil itu benar! Bahkan Rain, berani-beraninya anak itu melakukan konferensi pers dan mengenalkan anak yang tak tahu asal usulnya dari mana itu menjadi istrinya?!” Ravi mendadak kesal dengan wajah yang menegang dan suram.
Meskipun sudah terlantar di rumah sakit tanpa dijenguk oleh Zayn dan Rain, ia tetap saja belum sadar dan sedikitpun tak merasa bersalah.
“Pa …” Hana menghentikan gerakan tangannya yang mengupas apel. “Kata dokter, hari ini Papa udah boleh pulang.”
“Hmm. Aku tau itu.” Sahut Ravi dingin. Pria tua itu meraih ponselnya dari atas meja yang ada di samping tempat tidurnya.
Beberapa menit berlalu. Suasana ruangan tersebut begitu hening tanpa adanya percakapan. Hana yang tak kunjung selesai mengupas apelnya, sedangkan Ravi tak henti-hentinya menghela nafas kasar karena melihat semua headline berita tentang keluarga Ravindra.
Zayn yang menikahi tunangan kakak kandungnya, sedangkan Rain menikahi gadis yang tak jelas asal usulnya. Ck! Kenapa keluarga bermartabat ini sekarang jadi berantakan dan tak tentu arah?!
"Haaaa ... apa sih yang mereka pikirkan?! Kalau begini bisa-bisa aku mati lebih cepat dari yang seharusnya!" umpat Ravi kesal.
__ADS_1
Hana menarik nafas dalam-dalam. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan hal penting pada Ravi, suaminya itu.
“Pa … aku mau cerai.” Hana mengatakan hal tersebut dengan gamblang dan lugas. Ia benar-benar sudah tak tahan lagi berada di sisi pria yang selama ini tak pernah tulus mencintainya sejak kepergian mendiang istrinya.
Kehadiran Hana di rumah itu ibaratkan sosok pengganti yang digunakan untuk pelepas tanya siapa Nyonya Ravi Ravindra saat ini. Hanya sebatas itu, tanpa cinta yang tulus.
"Hana?!!!"
Ravi terbelalak kaget menatap ke arah Hana sambil menyebut nama istrinya dengan suara yang lantang. Wajah keriputnya mendadak tegang akibat ucapan yang baru saja Hana lontarkan padanya. Cerai?!
“Aku tau, sampai sekarang pun Papa belum bisa melupakan Mbak Luna. Aku merasa bersalah padanya udah merebut Papa darinya karena ambisiku yang terlalu menggebu-gebu. Tanpa aku sadari, aku telah menyakiti anakku sendiri, Zayn. Aku ingin melihat dia bahagia sekarang,” ucap Hana dengan suara yang parau.
“Zayn juga anakku!” seru Ravi yang tak mampu menahan amarahnya. Perasaan yang sulit dijelaskan kini menyeruak di dada. Rasa bersalah yang selama ini hanya terfokus pada Luna dan Rain, tanpa sadar kini bertambah lagi pada Hana dan Zayn.
“Lihat aku, Hana!” seru Ravi dengan sorot mata yang tajam kepada Hana. Ia menuruni ranjang dan duduk di sisi ranjang sambil memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Hana, istrinya.
“Tapi, Mas. Aku udah nggak sanggup lagi berada di sisi pria yang selama ini aku cintai tapi dia tak mencintaiku,” Hana menangis terisak.
“Hana, kita ini udah tua. Apa salahnya kita mencoba hidup tenang dan—”
“Justru karna kita udah tua, Mas. Aku ingin hidup tenang dengan membiarkan anak-anak itu bahagia dengan pilihannya sendiri. Dan aku juga ingin terbebas dari belenggu rasa bersalahku pada Mbak Luna. Mas aja belum bisa melupakan Mbak Luna sampai sekarang!”
“Aku ingin bahagia, Mas. Aku ingin hari-hari tuaku itu penuh dengan canda tawa anak cucu. Bukan masalah yang rumit dan cinta yang bertepuk sebelah tangan.” Dada Hana naik turun mencoba menenangkan emosinya yang meledak-ledak.
Ravi terdiam dengan sorot mata kosong yang menerawang jauh. Pikirannya di bawa melayang sampai ke masa lalu. Masa di mana ia menyiksa Luna karena nafsu sesaatnya yang tergoda dengan wanita lain. Lalu wanita itu kini menjadi istrinya. Meskipun nasi sudah menjadi bubur, tak ada pilihan lain selain bertanggung jawab penuh atas apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Aku udah nggak bisa membayar kesalahanku pada Luna. Lalu ... apa mungkin Hana juga aku biarkan pergi? Ravi ... Ravi ... kenapa selama ini kau begitu bodoh dan suka menyakiti hati orang lain?!" umpat Ravi dalam hati dengan wajah yang putus asa.
__ADS_1
Ravi berjongkok tepat di kaki Hana. Kemudian ia memegang kedua tangan Hana dan menatap wanita tua yang sudah keriput itu.
“Hana … aku tau ini sudah terlambat. Tapi, bisakah kamu memberikanku kesempatan sekali saja? Aku … aku janji akan membayar semua kesalahanku di masa lalu. Tolong … tolong jangan tinggalkan aku,” Ravi memohon belas kasih dari sosok wanita yang setia mencintainya sejak dulu hingga kini.
Hana menangis tersedu-sedu saat melihat Ravi si pria yang kaya raya dan terhormat itu berlutut di depannya memohon maaf. Meskipun kata maaf tak mampu memutarkan waktu yang selama ini telah terbuang sia-sia, tetap saja semua itu telah berlalu.
“Mas, jangan begini. Aku nggak sebaik itu sampai-sampai Mas berlutut di depanku,” ucap Hana sambil memeluk suaminya. “Aku sayang sama Mas. Aku cuma mau kita itu bahagia, Mas. Kita udah tua. Apalagi yang kita cari selain kebahagiaan dan ketenangan?”
Ravi memeluk tubuh istrinya dengan erat. “Kamu benar. Yang kita butuhkan itu hanya kebahagiaan dan ketenangan.”
Tok Tok Tok!
Saat Ravi dan Hana sedang sibuk menumpahkan isi hati masing-masing, saat yang sama juga Joey muncul di balik pintu ruangan rawat inap yang di tempati oleh Ravi.
“Se-selamat siang, Om, Tante.” Joey mencoba tersenyum meskipun canggung.
Gadis yang kini merupakan Nyonya Rain Ravindra itu masuk ke dalam ruangan yang di tempati oleh ayah mertuanya sambil membawa keranjang yang berisikan buah-buahan. Zea juga saat itu ikut mendampingi Joey di belakangnya.
“Maaf, mungkin kehadiranku di sini tak diinginkan,” ucap Joey dengan perasaan bersalah dan berat. Terlebih lagi saat tadi ia melihat Ravi dan Hana sedang berpelukan dengan mata yang memerah dan masih basah.
“A-aku cuma mau menjenguk Om Ravi. Syukurlah kalo Om Ravi udah sembuh,” sambung Joey dengan sangat tulus. Senyuman terlukis indah di wajah gadis itu.
“Siapa yang kamu panggil Om dan Tante?” tanya Ravi dengan suara yang dingin.
...****************...
BERSAMBUNG…
__ADS_1