
..."Makan yang benar. Biar makin gede, makin enak." - Rain...
...🌸🌸🌸...
..."Sekecil apapun itu, aku selalu tau jika itu berhubungan denganmu. Bahkan isi di balik handuk itu pun aku tau." - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Om marah?" tanya Joey saat melihat Rain yang mengenakan handuk keluar dari kamar mandi.
Rain tak bergeming atau melihat ke arahnya. Pria itu cuek dan berjalan menuju ranjang, lalu ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tersebut tepatnya di sebelah Joey.
"Om?" Joey memutar tubuhnya menghadap Rain. Lalu gadis itu menatap dengan perasaan bersalah.
Lagi-lagi Rain tak bergeming. Pria itu menaruh lengannya ke dahi sambil memejamkan mata. Sepertinya ia kewalahan akibat pertempuran yang ia lakukan sendiri di kamar mandi tadi.
Kruyukkk...
Joey mendelik saat perutnya berbunyi. Kenapa harus di saat seperti ini sih! Di saat keduanya sedang canggung, perutnya malah minta jatah untuk makan.
Sesaat setelah mendengarkan bunyi keroncongan yang keluar dari perut Joey, Rain bergegas bangkit dari tidurnya, lalu pria itu duduk di sisi kasur dan mengangkat pesawat telfon yang berada di atas meja kecil di depannya.
"Halo. Bawakan enam menu best seller di hotel ini. Termasuk hidangan pembuka dan penutup. Untuk minuman, saya pesan jus terong belanda satu dan jus apel satu."
Setelah memesan makanan, Rain mengakhiri panggilannya. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.
"Terong belanda 'kan jus kesukaanku? Jaranv ada yang suka jus itu," celetuk Joey tiba-tiba. "Jus apel juga."
"Om ... selama ini Om selalu mencari tahu tentang aku ya?" sambung Joey sambil menatap ke arah Rain yang sedang terlelap kelelahan.
Lagi-lagi Rain tak menggubrisnya. Pria itu sepertinya sedang kesal karena hasratnya yang tak tersampaikan.
__ADS_1
"Ish! Om aneh! Dikit-dikit ngambek! Kayak anak kecil saja!" gerutu Joey sambil bangkit dari ranjang tersebut. Gadis itu berniat ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Rain. Pria itu membuka matanya dan mengalihkan fokus ke arah gadis muda yang selalu menjadi obsesinya.
"Kalau saya anak-anak, lalu kamu? Bayi?" tanya Rain dingin.
"Emangnya aku ngambekan kayak Om?" Joey balik bertanya sambil mencebik. Gadis itu dibuat kesal karena menghadapi pria yang berusia tiga puluh dua tahun, tapi kelakuannya seperti anak-anak.
"Sudahlah," Rain memutuskan percakapan mereka dengan satu kata yang menyisakan ribuan tanda tanya. Pria itu melepaskan tangannya dari lengan gadis muda itu dan kembali memejamkan matanya.
Merasa kesal karena ucapan Rain yang tak pernah selesai dan penuh teka-teki, Joey memutuskan untuk mandi. Ia menuruni ranjang tersebut sambil melilit selimut tebal ke tubuhnya yang te lan jang. Gadis itu berjalan terseok-seok menuju kamar mandi.
"Ck! Kesalku hilang hanya karna tingkah menggemaskannya," gumam Rain perlahan saat matanya diam-diam melihat ke arah Joey yang berjalan terseok-seok karena keberatan oleh lilitan selimut tebal yang ada di tubuhnya.
...****************...
Joey telah selesai mandi. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi dan kepala yang dibaluti handuk karena rambutnya yang basah.
Saat Joey berjalan keluar kamar mandi, pandangannya teralihkan ke arah meja ang ada di sebelah kanannya. Di atas meja tersebut dipenuhi oleh makanan-makanan yang lezat dan menggiurkan. Lalu, di atas sofa yang berada di samping meja tadi, ada sebuah paperbag yang bertuliskan Tara.
Rain tak bergeming. Pria itu bangkit dari tidurnya di ranjang, lalu berjalan mendekati Joey di mana mata gadis itu sedang mengerjap-ngerjap menatap makanan yang menggugah selera.
"Bukan makanannya yang cepet, tapi kamu yang mandinya lama!" celetuk Rain sambil menjitak jidat lebar Joey.
"Aw!" pekik Joey sambil mengusap-usap jidatnya. Gadis itu mengerlingkan matanya ke arah Rain dengan raut wajah yang manja.
Rain duduk di atas sofa yang berada di sebrang Joey. Ia mengambil jus terong belanda dan menarohnya di depan Joey. Setelah itu, Rain mengambil pisau dan garpu, lalu ia membersihkannya menggunakan tisu. Pisau dan garpu yang telah dibersihkan, diberikannya kepada gadis muda yang sudah kelaparan itu.
Joey yang sudah tak sabar dengan raut wajah yang ngiler, bergegas mengambil piring yang berisikan steak yang ada di atas meja. Namun, Rain segera merebut piring tersebut dari tangan mungil Joey.
"Yah... Om," Joey terlihat cemberut saat steak kesukaannya di ambil. Gadis itu menggenggam garpu dan pisau yang ada ditangannya dengan kesal.
Rain tak menggubris gadis tersebut. Ia sibuk memotong daging steak tadi menjadi beberapa potongan yang kecil. Beberapa saat kemudian, ia mengembalikan piring yang berisikan steak tadi kepada Joey.
__ADS_1
"Eyyy... Om nggak usah sok romantis deh, kita kan nggak lagi syuting film," celetuk Joey sambil menusukkan garpu ke daging steak yang sudah dipotong kecil oleh Rain.
"Kayaknya kamu lupa ya, dulu aku pernah bilang kalo aku nggak suka anak kecil yang berisik?"
Joey berdecak sebal dengan tatapan kesalnya. Gadis itu memasukkan daging steak tadi kemulutnya dan mengunyah daging tersebut.
"Kayaknya Om harus pake kacamata deh. Udah segede ini dibilangin anak kecil!" ketus Joey. Gadis itu kembali menyuapi mulutnya dengan daging yang banyak sampai mulutnya menjadi penuh dan pipinya menjadi gembung.
Rain menatap ke arah dada Joey. "Iya sih, udah gede. Saking gedenya saya jadi ngiler."
"Om!" pekik Joey dengan mulut yang penuh oleh makanan. Ia menutup dadanya menggunakan kedua tangan.
"Makan yang benar. Biar makin gede, makin enak," celetuk Rain sambil menyuapi mulutnya dengan pasta carbonara.
Joey semakin terbelalak mendengarkan ucapan frontal Rain yang benar-benar sudah tak terkontrol itu. Gadis itu bergegas menyuapi semua makanannya dengan raut wajah yang cemberut, dia ingin segera beranjak dari meja makan itu agar tak perlu mendengarkan kalimat-kalimat mesum Rain lagi.
"Dasar pria mesum!" umpat Joey dalam hati.
"Di dalam paperbag itu, ada pakaian untukmu," ucap Rain tanpa melihat ke arah Joey. "Pakaianmu kemaren basah dan nggak bisa dipake lagi sekarang."
Joey hanya mengangguk sambil menatap piringnya yang hampir kosong.
"Om, aku penasaran. Kok Om bisa tau sih, kalo aku lagi di hotel ini?" tanya Joey tiba-tiba. "Terus Om juga tau aku di kamar nomer berapa."
Rain hanya diam tanpa jawaban. Lagi-pagi pria itu cuek dan tak mengacuhkan pertanyaan Joey.
"Ish! Giliran mesum, ngomong. Giliran ditanyain beginian, diem," Joey mencebik dengan raut wajah yang kesal. Apa hanya s e x yang ada di otak pria tersebut? Setiap kali berbicara, hanya kalimat-kalimat mesum yang dilontarkan.
"Sekecil apapun itu, aku selalu tau jika itu berhubungan denganmu. Bahkan isi di balik handuk itu pun aku tau," ucap Rain sambil mengarahkan tatapannya ke wajah Joey. "Jadi, jangan pernah berfikir sedetikpun untuk kabur dariku karna kamu selalu berada di bawah pantauanku."
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...