
..."Biarkan gadis itu tidur di sini semalam. Setelah itu, Om-om seperti lo bisa menikmatinya. Sampai puas, sampai dia nggak bisa jalan." - Ace...
...🌸🌸🌸...
..."Sebagai petani, Om nggak usah repot-repot jagain bunga yang kena hama, toh suatu saat juga bunganya akan layu." - Ace...
...🌸🌸🌸...
Mendengar perkataan Harry, Rain mendadak terdiam. Wajahnya sama sekali tak menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Apakah terharu, sedih, atau senang? Yang jelas, apa yang dikatakan oleh Harry benar. Memangnya dia rela, bunga yang selama ini dia rawat dipetik oleh orang lain?
Meskipun jarak usia mereka terpaut sangat jauh, Rain tetap tak peduli. Bukankah cinta itu buta?
"Hah!" Rain menghela nafasnya melepaskan semua kegundahan yang ada di dada. Pria itu menatap ke arah Harry. "Ayo!"
"Baik, Pak."
Kedua pria itu bergegas menuju pintu keluar, lalu mereka menuju lift dan turun ke basement. Setibanya mereka di basement, Rain melemparkan kunci mobilnya ke arah Harry dan dengan tangkasnya kunci tersebut diraih oleh Harry. Selang beberapa menit, mobil pun melaju menuju rumah Ace.
"Pak?" panggil Harry. Pria itu mengendarai mobil sambil melihat Rain melalui kaca spion dalam mobil.
Rain tak bersuara, namun ia menatap ke arah Harry melalui spion dalam mobil.
"Maaf sebelumnya, saya nggak bermaksud lancang," ucap Harry ragu-ragu.
"Teruskan," perintah Rain.
"Sebaiknya Bapak sedikit lemah lembut kepada Joey. Bagaimanapun, wanita itu tidak menyukai kekerasan," jelas Harry.
Rain tak bergeming. Dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Harry. Pria itu benar, bahwa wanita merupakan makhluk yang sensitif dan mereka sangat rentan terhadap kelembutan.
...****************...
Sebuah mobil Range Rover hitam berhenti di depan rumah mewah yang ada di Jalan Wijaya. Di dalam mobil tersebut, ada Rain dan Harry.
"Kita sudah sampai, Pak."
Rain hanya diam, namun ia bergegas membuka pintu mobil dan turun menuju ke dalam rumah tersebut diikuti Harry.
"Maaf, Pak. Ada keperluan apa?" tanya seorang pria tua yang tiba-tiba muncul dari balik pagar. Sepertinya ia melihat mobil asing yang berhenti di depan rumah tersebut melalui CCTV.
Pria tua itu merupakan satpam di rumah mewah yang di tempati Ace.
"Ada keperluan mendesak, Pak. Kami ingin bertemu Ace," Harry menjawab dengan sopan.
__ADS_1
"Oh. Pak Ace, kebetulan sekali beliau baru sampai rumah. Sebentar saya tanyakan."
Pria tua itu masuk ke dalam rumah mewah tersebut untuk melaporkan kepada Ace bahwa di luar ada tamu yang sedang mencarinya.
Kurang lebih tiga menit, sosok pria berkaos oblong muncul di balik pagar tinggi yang berlapiskan emas tersebut. Pagar tersebut terbuka otomatis setelah pria tua tadi menekan sebuah tombol.
"Ada apa?" tanya Ace sambil mengerutkan keningnya. Dia ingat siapa pria yang ada di depannya saat ini. Pria itu lah yang menarik paksa Joey keluar dari prom night dua hari yang lalu.
"Di mana Joey?" tanya Rain tanpa basa basi.
Ace memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana boxer yang ia kenakan. Tatapannya menyiratkan penolakan akan kehadiran Rain dan Harry ke rumahnya.
"Apa hak lo nanyain dia?" tanya Ace sinis.
"Ck!" sudut bibir kanan Rain terangkat setengah, ia menyeringai menatap ke arah Ace. Pria itu memasukkan tangan kirinya ke dalam kantong celana sambil tangan kanannya memegang dagunya yang kesat karena bekas jenggot yang telah dipangkas habis.
"Apa hak gue lo bilang?!" kecam Rain dengan nada yang tinggi. "Bocah bau kencur kayak lo nggak usah belagu!"
Ace berjalan maju selangkah mendekati Rain. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Rain dan mengarahkan bibirnya ke telinga Rain.
"Biarkan gadis itu tidur di sini semalam. Setelah itu, Om-om seperti lo bisa menikmatinya. Sampai puas, sampai dia nggak bisa jalan."
BUKKK!
"Pak!" di saat yang sama, Harry terkejut saat melihat Rain mengayunkan tonjokannya ke wajah Ace, entah apa yang dikatakan oleh Ace sampai Rain bisa semarah itu.
"Loh... Pak Ace!" teriak satpam tua tadi berusaha mendekati, namun Ace memberikan isyarat tangan untuk tak usah ikut campur.
"Hahaha..." kekeh Ace pelan sambil menyeringai menatap ke arah Rain.
"Nggak usah munafik. Barang lo naik 'kan, selama kalian seatap?" sentil Ace dengan nada yang pelan yang hanya dapat didengar oleh Rain.
Tak tahan mendengarkan perkataan Ace, dengan sigap Rain menarik kaos Ace. Ia mengepalkan tangan kanannya sehingga menampakkan urat-urat yang membuatnya terlihat kekar dan gagah.
"Om!" teriak Joey. Gadis itu tiba-tiba muncul dan berjalan tertatih-tatih ke arah pagar depan. Sorot matanya menajam saat melihat tangan Rain yang menarik baju Ace.
"Joey," gumam Rain lirih. Fokusnya teralihkan pada gadis yang ia cari-cari.
"Sayang, pelan-pelan jalannya," ucap Ace dengan nada yang sedikit keras agar Joey mendengarkannya.
"Ck!" Rain tak dapat menahan amarahnya saat Ace berpura-pura baik dan perhatian ketika tahu Joey mendekati mereka. Pria itu mengayunkan kepalan tangannya namun dengan sigap ditahan oleh Harry.
"Pak, tahan. Ntar Joey salah paham," bujuk Harry menenangkan Rain sambil melepaskan tangan majikannya itu dari kaos Ace. Sepertinya Harry bisa menebak situasi yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Kak Ace!" pekik Joey saat melihat darah segar yang mengalir di sudut bibir Ace.
"A-aku nggak pa-pa, ini cuma salah paham," ucap Ace menenangkan Joey, namun dalam hatinya, pria itu tertawa dengan penuh kemenangan.
"Om apa-apaan sih?!" kecam Joey dengan tatapan sinis ke arah Rain.
Seperti biasanya, Rain tak pernah mengucapkan sepatah katapun. Tak ada kalimat pembelaan untuk dirinya sendiri yang keluar dari mulut, bahkan sekedar menjelaskan apa yang terjadi saja, sepertinya ia tak bisa.
"Cih!" Rain mendecih sambil membuang mukanya ke arah lain saat Joey bertanya padanya. Napas pria itu naik turun akibat emosi yang meledak-ledak.
"Joey, ini salah paham. Nggak seperti yang kamu lihat!" jelas Harry mencoba membela Rain. Dia yang telah lama bekerja untuk Rain, sangat paham dengan bagaimana sikap majikannya yang sangat buruk dalam berkomunikasi bersama seseorang di luar kepentingan bisnis.
"Salah paham gimana? Om Harry nggak liat Om Rain mukulin Kak Ace sampe berdarah gini?"
"Sayang, udah. Nggak pa-pa. Aku benar-benar nggak pa-pa," Ace memegang bahu Joey menenangkan gadis itu yang terbakar emosi.
Rain menatap tangan Ace yang menyentuh bahu Joey dengan tatapan yang tak suka. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Ace sengaja memijat-mijat bahu Joey dengan tatapan mesum yang ia pertontonkan pada Rain.
"Brengsek!" umpat Rain tak tahan. Ia langsung meraih tangan Joey dan menarik gadis itu ke sisinya.
"Pulang! Selagi aku berbicara baik-baik!" dengan lantang, Rain menegaskan kalimat 'pulang' pada Joey dengan tatapan yang menikam. Seketika gadis itu tersentak dan tak dapat berkata apa-apa saat menatap mata Rain yang sangat menakutkan.
"Om, biarkan Joey di sini untuk menenangkan diri," bujuk Ace kepada Rain.
"Kak, nggak pa-pa. Aku balik dulu aja, nanti di rumah akan ku kabari lagi," ucap Joey pasrah. Gadis itu benar-benar takut dibuat Rain.
"Oke, kabarin aku kalo ada APA-APA," ucap Ace dengan menekankan kalimat 'apa-apa'. Sepertinya pikiran pria itu sedang menjelajah ke mana-mana.
"Oke, Kak."
Joey berjalan terpincang-pincang menuju mobil disusuli Om Harry. Ia benar-benar tak berani menatap ke arah Rain. Ini pertama kalinya ia melihat tatapan tajam Rain saat marah. Dia sampai menerka-nerka, hal apa yang membuat Rain sampai semarah itu? Lalu kenapa pria dewasa itu menonjok Ace? Apa karena dia belum memutuskan Ace? Atau karena dia kabur dari apartemen tanpa memberitahunya?
Di waktu yang sama di saat Joey sibuk bergulat dengan pikirannya sendiri, Ace dan Rain terlihat sedang menyelesaikan urusan mereka.
"Om..." panggil Ace dengan intonasi yang merendahkan.
"Sebagai petani, Om nggak usah repot-repot jagain bunga yang kena hama, toh suatu saat juga bunganya akan layu," lanjut Ace sambil menyeringai.
"Ck! Lo salah milih target," Rain membalas seringai Ace dengan tatapan yang mematikan tak ada duanya.
Melihat tatapan tersebut, seketika dada Ace berdebar, ada sedikit rasa takut yang mulai berdatangan, namun segera ia tepis dengan pikiran bahwa dia dapat menyelesaikan semua ini hanya dengan uang.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...