OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Ayo! Berpacaran dengan Tujuan Menikah


__ADS_3

...“Bertanggung jawablah. Kamu telah mengambil paksa ciuman pertama bahkan malam pertamaku.” – Harry...


...🌸...


...“Ayo kita berpacaran dengan tujuan menikah!” - Harry...


...🌸🌸🌸...


Sore itu, senja begitu indah dan menjingga. Burung berterbangan menghiasi langit.


Harry kini sedang berada di dalam mobil Merci pemberian dari atasannya Rain. Pria itu kini sedang berada di basement tepatnya di apartemen yang ia tinggali. Apartemen yang ia tinggali itu juga gratis tanpa sedikitpun bayaran. Pasalnya, Ravindra Group juga berkecimpung di bisnis properti sehingga Rain memaksa Harry tinggal di sana tanpa mengeluarkan sepeser uangpun.


“Aku harus mengajaknya bertemu!” gumam Harry lirih dengan perasaan kalut yang berkecamuk di dada.


Sejak kemaren, ia tak mempunyai keberanian untuk menghubungi Zea meskipun ia telah memiliki nomor ponsel gadis itu dari data pribadi yang sempat ia selidiki. Apa sebaiknya ia langsung menghampiri gadis itu ke rumahnya?


“Ya, aku langsung saja ke rumahnya,” ucap Harry meyakinkan dirinya.


Tanpa berlama-lama, Harry menurunkan rem tangan dan menginjak gas. Kemudian mobil tersebut melaju menuju rumah Zea. Kurang lebih lima belas menit, akhirnya ia tiba di depan rumah Zea.


Sesaat kemudian, Harry memberanikan dirinya untuk menghubungi Zea.


^^^“Halo.”^^^


“Halo. I-ni a-aku. Harry.”


“Kamu di mana sekarang?” tanya Harry ragu-ragu.


^^^“Aku di rumah. Ada apa, Om?”^^^

__ADS_1


Suara Zea terdengar santai di dalam telefon. Membuat Harry semakin cemas bahwa gadis itu menolaknya untuk bertemu.


“Aku di depan rumahmu sekarang. Ayo kita ngopi sebentar, ada yang ingin ku bicarakan.”


^^^“Kalo soal kemaren … nggak apa-apa. Aku udah melupakan—”^^^


“Apa maksudmu melupakannya? Kamu seharusnya bertanggung jawab!” seru Harry tanpa sengaja.


Niat hati Harry ingin mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab. Tapi setelah mendengar dari Zea bahwa gadis itu menyuruhnya untuk melupakan kejadian itu, ia mendadak kesal dan marah. Bagaimana bisa malam yang begitu berarti itu dilupakan begitu saja? Apa dirinya begitu tak berharga sampai-sampai gadis kecil itu dengan beraninya menyuruh dia melupakan malamnya yang berarti itu?


...****************...


Kini, Zea dan Harry sedang berdepanan di sebuah cafe. Akibat desakan yang Harry berikan secara bertubi-tubi pada Zea dengan ancaman bahwa ia tak akan pergi meskipun harus bermalaman di depan rumah gadis itu, akhirnya Zea memutuskan untuk menerima undangan pria itu untuk berbicara empat mata.


“Hanya minum? Apa nggak mau pesan yang lain?” tanya Harry kepada Zea.


“Nggak. Kita cuma ngobrol bentar aja,” sahut Zea acuh tak acuh. Padahal, sebenarnya hati gadis itu berdebar-debar. Meski malam panas itu telah berlalu dua hari, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa ingatan itu begitu melekat di kepalanya


“Bertanggung jawablah. Kamu telah mengambil paksa ciuman pertama bahkan malam pertamaku,” tegas Harry dengan gamblang.


“Berapa bayaran yang harus ku keluarkan untuk pertanggung jawaban itu?” tanya Zea nyelekit. Tanpa gadis itu sadari, ia telah melukai harga diri Harry. Bagaimana bisa gadis muda yang belum pernah bekerja mengungkit soal uang pada seorang pria yang sudah lama bekerja dan memiliki tabungan yang cukup untuk hidup di masa tua?


“Aku nggak butuh uang, karena aku juga punya,” jawab Harry dingin. “Meski uangku tak sebanyak milik orangtuamu.”


“Terus, Om mau aku bertanggung jawab gimana?” tanya Zea sambil menyeruput orange juice yang ia pesan tadi. Matanya melihat ke arah lain agar tak beradu pandang dengan pria itu.


“Ayo kita berpacaran dengan tujuan menikah!” seru Harry spontan tanpa basa basi.


“Uhuk… uhukk…” Zea tersedak sekaligus terbelalak. Ia menepuk-nepuk dadanya mencoba menurunkan air yang tertahan di dadanya.

__ADS_1


Harry bergegas meraih gelas minuman Zea dan menyodorkannya lebih dekat ke gadis itu. “Minumlah.”


“M-maaf … jika itu terkesan mendadak,” sambungnya dengan rasa bersalah.


Zea tak berkutik dan masih mematung mencoba mencerna dengan baik apa yang di ucapkan pria itu tadi. Berapa kalipun ia melihat ke arah Harry, pria itu sempurna tanpa sedikitpun kekurangan. Tampan dan juga berkarisma. Aura yang pria itu pancarkan begitu kuat dan memikat.


“Om … aku nggak suka bermain-main,” tutur Zea mencoba tenang dan kini ia menatap tajam ke arah Harry. Meskipun gugup, ia memaksakan diri untuk menatap mata Harry agar ia tahu apakah pria itu serius atau sekedar berbohong karena terpaksa akibat one night yang tanpa sengaja mereka lalui itu.


“Aku serius,” ucap Harry sambil mengeluarkan kotak cincin dan memberikannya kepada Zea. “Ayo pacaran dengan tujuan menikah.”


Lagi-lagi Zea terbelalak akibat melihat kelakuan sat set sat set pria yang ada di depannya saat ini. Bagaimana bisa pria itu menyediakan cincin tanpa mendengarkan persetujuan darinya menerima atau menolak lamaran itu? Lalu, apa ini? Kenapa pria yang ada di depannya sekarang tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya? Bukankah pria itu sama? Habis manis, sepah dibuang.


“Ke-kenapa?” tanya Zea terbata-bata. Ada rasa penasaran yang menggelitik sesaat ia melihat keseriusan yang terpancarkan dari sorot mata pria dewasa di depannya saat ini.


“Mungkin ini terdengar bualan, tapi aku merasakan ada chemistry di antara kita,” tutur Harry lugas. “Sejak malam itu, aku selalu mengingatmu tanpa henti.”


“Paling juga Om ingetnya saat kita bercinta,” celetuk Zea asal-asalan. Ia masih saja tak percaya dengan apa yang dikatakan pria di depannya saat ini. Ia benar-benar tak ingin terlihat menyedihkan di depan pria sejak kejadian menyakitkan yang ia terima dari Kak Bryan.


“Benar, aku selalu ingat dengan detail malam panas itu,” sahut Harry dengan ekspresi yang serius.


Zea mendadak kaget, kemudian ia tersenyum setengah. Lalu ia menyilangkan kedua tangannya ke dada dan bersandar ke kursi. Benarkan apa yang ia pikirkan? Pria itu hanya mengingat malam panas yang mereka lewati bersama. Jadi, kesimpulannya pria itu tertarik dengannya hanya sebatas nafsu. Lalu membual mengajak berkencan dengan tujuan menikah. Setelah berpacaran dan menikmati tubuhnya, lalu pria itu pergi tanpa jadi menikah.


“Tapi aku lebih mengingat dengan detail raut wajahmu serta debaran jantung yang tak karuan saat malam itu. Entah kenapa aku mendadak jatuh cinta pada gadis yang bersamaku malam itu,” imbuh Harry mematahkan pikiran buruk serta opini-opini buruk yang sedang berkecamuk di kepala Zea saat itu.


Harry membuka kotak cincin yang ia sodorkan pada Zea tadi. Kemudian ia memberikan kotak cincin yang telah terbuka itu pada Zea.


“Jika kamu mengizinkan, sebenarnya aku lebih ingin kita menikah dan berpacaran setelahnya,” tegas Harry dengan gamblang. Pria bujang lapuk ini benar-benar penuh kejutan! Bagaimana bisa seorang pria yang tak pernah berpacaran langsung mengajak gadis muda di depannya menikah? Memangnya, gadis itu mau?


“U-usia … aku rasa, sekarang tak masalah jika pasangan beda usia. Yang penting cinta, bukan? Dan aku … mencintaimu,” imbuh Harry tanpa memberikan kesempatan untuk Zea berbicara sejak tadi. Pria itu benar-benar menguasai waktu untuk mengungkapkan seluruh isi hatinya!

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2