
..."Aku tak akan tinggal diam jika Oleander-ku disentuh oleh siapapun!" - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Ugh!" Joey berdecak sebal sambil berjalan keluar meninggalkan Rain dan pengunjung-pengunjung toko yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sinis.
"Om Rain bener-bener deh! Lagian, ngapain juga sih sampe ngide buat make lingerie! Niat hati mengulur-ulur waktu, eh malah kejebak sendiri!" gerutu Joey sambil berjalan tanpa arah di mall mewah yang ada di Kota Jakarta.
BUKKK!!!
Tiba-tiba, Joey menabrak seorang pria tinggi berkulit putih sehingga tubuhnya terpental dan jatuh ke lantai. Pria itu menurunkan kacamata sebatas batang hidungnya sambil melihat ke arah Joey.
"Joey?" ucap pria tersebut sambil membantu Joey berdiri.
"K-Kak Felix?" Joey terperangah saat melihat Felix berada di depan matanya. Kejadian siang tadi yang sempat terlupakan olehnya, mendadak teringat kembali karena pertemuan tak sengaja antara dia dan pria yang merupakan saudara kandung Ace itu.
"Sorry, ada pesan, jadi aku membaca pesan sambil jalan. Kamu nggak apa-apa?" tanya Felix khawatir.
"Iya aku nggak apa-apa. Makasi. Kakak lagi apa di sini?" tanya Joey penasaran. "Bukannya tadi siang Kakak mabuk ya di Hotel Zynburgh?"
"Hah? Mabuk?" tanya Felix sambil mengernyitkan dahinya. "Sejak kapan aku mabuk di siang bolong? Hahaha... kamu ada-ada aja deh."
"Te-terus ...."
"Joey." Suara Rain yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang Joey. Pria yang sedang memegang beberapa paperbag merek Nictoria Nevret berjalan mendekati Joey dan Felix.
"Siapa dia?" tanya Rain tak suka. Tersirat api cemburu dari tatapan mata pria dewasa itu, dia benar-benar terusik dengan kehadiran pria berkulit putih yang ada di depannya.
"Lah? Masak nggak kenal gue sih?" kekeh Felix menatap Rain yang tiba-tiba muncul berdiri di samping Joey.
Rain menatap Felix dingin. Memangnya siapa dia sampai-sampai ia harus mengenali pria sombong itu? Memangnya dia artis?
"Dia Felix, pemain film sekaligus sutradara muda yang ter-"
"Felix Adinata? Saudara kandung Ace Adinata?" Rain memotong pembicaraan Joey dengan nada yang dingin. Dari sorot mata pria itu, sepertinya ia sedang menahan amarah karena sedang berada di tempat umum.
__ADS_1
"Ternyata lo fans gue ya? Sampai-sampai adek gue aja lo tau," kekeh Felix. Pria itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. "Mau foto bareng? Jarang-jarang loh gue kek gini sama fans."
"Cih! Pede sekali," decih Rain sambil menghela nafasnya.
"Ayok!" Rain menarik tangan Joey dan mereka bergegas meninggalkan Felix yang tercengang karena mendapatkan perlakuan yang aneh dari pria yang menurutnya adalah fansnya.
"Kak, maaf aku duluan," ucap Joey sambil berjalan membuntuti Rain yang menarik tangannya.
...****************...
"Turunlah, ada hal penting yang harus ku urus."
Saat mobil yang ditumpangi Rain dan Joey berhenti di Lobby Apartemen Danendra, Joey terkejut saat Rain memerintahkannya untuk turun. Pria itu sudah aneh sejak di jalan tadi, karena pria mesum itu tidak berbicara sepatah katapun sejak kejadian di mall tadi.
Sebenarnya bukan hal yang aneh jika pria itu tidak berbicara, karena sifatnya memang dingin dan tak acuh. Tapi, lebih aneh lagi jika dia pergi setelah membelikan baju dinas untuk gadis itu. Bukankah baju itu dibeli untuk dipertontonkan kepadanya?
"Om nggak turun?" tanya Joey penasaran.
"Kenapa? Mau langsung praktek?" goda Rain sambil menoleh ke arah Joey.
Sudut bibir Rain terangkat sebelah. Pria itu menghela nafasnya sambil membelai lembut kepala Joey.
"Aku nggak akan lama," pria itu menarik tengkuk Joey dan mencium dahi gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Deg... deg... deg...
Joey mendadak bungkam sesaat setelah ciuman hangat yang mendarat di dahinya. Gadis itu dibuat meleleh hanya karena sebuah ciuman di dahi. Padahal, selama ini Rain sudah sering menciumnya.
"Istirahatlah. Kalau lapar, pesan online. Aku akan menambahkan uang bulananmu," sambung Rain sambil mengusap lembut pipi Joey.
"Nggak usah Om. Sepuluh juta sebulan, itu udah lebih dari cukup buat aku."
"Itu kurang. Kan mulai sekarang kamu harus merawat tubuh dan penampilanmu dengan baik?"
"Karena ... pria ini membutuhkan service yang menyenangkan dengan penampilan yang memanjakan mata," sambung Rain dengan bisikan nakal.
__ADS_1
Joey tersentak kaget dan ia mendadak kesal. Pasalnya, moment romantis yang awalnya Rain berikan padanya dengan sebuah kecupan di dahi menjadi hilang karena ucapan mesum yang baru saja ia lontarkan.
"Huft! Aku salah karena hanyut dengan ciuman di dahi tadi," gumam Joey lirih. Gadis itu memutar tubuhnya untuk membuka pintu mobil. Namun Rain menahan dan menarik lengan gadis tersebut.
Saat Joey menoleh ke arah Rain, tanpa jeda, pria itu mengecup lembut bibir Joey yang kini menjadi kesukaannya. Tak lama, hanya sekedar ucapan good bye, karena Rain akan pergi selama beberapa jam ke depan.
"I love you, Oleander," ucap Rain. Pria itu tersenyum hangat ke arah Joey yang mendadak membisu.
Joey bergegas keluar dari mobil tanpa membalas perkataan Rain yang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Sepertinya, Rain berhasil menghipnotis gadis itu secara perlahan. Karena kini, gadis itu mulai merasakan detakan aneh yang perlahan mincul menghujami dadanya.
Joey berjalan menuju lift dengan langkah yang gontai sambil memegang dadanya. "Hahaha... apa yang ada dipikiranku saat ini, mustahil 'kan?"
...****************...
"Ace Adinata. Anak kedua dari pasangan Adinata," ucap Harry sambil menyerahkan beberapa lembar dokumen yang berisi data-data pribadi tentang keluarga Adinata.
"Ayahnya merupakan konglomerat ketiga di Indonesia. Di dunia bisnis, mereka terkenal dengan menghalalkan segala cara untuk membuat bisnis mereka berjalan dengan lancar. Saudara kandung Ace, Felix Adinata, merupakan pemain film sekaligus sutradara terkenal di tanah air, karena dia telah meraih banyak prestasi di usianya yang masih muda," jelas Harry panjang lebar.
Rain melihat lembaran demi lembaran kertas yang diberikan oleh Harry dengan seksama. Tatapan pria itu sepertinya sedang memindai informasi-informasi yang ada di kertas tersebut untuk ia simpan di kepalanya.
"Bagaimana bocah tengik tadi?" tanya Rain dingin, dengan sorot mata yang fokus ke arah informasi yang diberikan oleh Harry.
"Sesuai permintaan anda, kami telah memberinya pelajaran dengan memberikan beberapa pukulan beserta ancaman, Pak."
"Bocah tengik itu nggak akan jera selagi orangtuanya masih mempunyai uang yang berlimpah," ucap Rain sambil mengepalkan tangannya sehingga tanpa sadar kertas yang ia pegang menjadi remuk.
"Bagaimana jika Lean memperhatikan setiap gerak gerik bocah itu, Pak?"
"Ya, perintahkan saja Lean mengawasi setiap gerak gerik bocah tengik itu. Tapi jangan pernah menyentuhnya sebelum ada aba-aba dariku." Ucap Rain dingin. "Aku khawatir, jika Lean mulai bergerak, bocah tengik itu akan mati sebelum disiksa!"
"Baik, saya mengerti, Pak." Sahut Harry sambil membenarkan kacamatanya.
"Aku tak akan tinggal diam jika Oleander-ku disentuh oleh siapapun!" gumam Rain lirih dengan tatapan yang penuh arti.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...