OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Untuk Dia yang Istimewa


__ADS_3

..."Kamu pikir, ciuman dibibir itu bisa diberikan kepada siapapun? Hanya orang istimewa yang berhak menerimanya." - Rain...


...✍🏻✍🏻✍🏻...


Joey mendorong paksa tubuh Rain yang kekar itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Ia benar-benar merasa takut dengan sikap agresif Rain yang tak bisa ditebak itu. Apa jangan-jangan selama ini Rain menganggapnya sebagai gadis murahan? Atau, Rain sengaja membesarkannya dengan maksud tertentu? Pikir Joey berargumen sendiri.


"Om!" teriak Joey. Gadis itu kini tertunduk dengan wajah yang memerah menahan malu dan amarah. Ia malu karena pria yang ia anggap malaikat di hidupnya itu ******* paksa bibirnya dan ia juga marah karena pria itu melakukan hal yang melecehkan dirinya.


"Katakan, apalagi yang udah kalian lakukan selain ciuman?" tanya Rain dengan nafas yang terengah-engah karena menahan gejolak di dalam dada. Ia sungguh tak mengerti kenapa ia sampai semarah itu saat mendengar Joey mengatakan bahwa mereka telah berciuman.


"Dia udah nyentuh ini?" tangan Rain menyusuri paha mulus Joey, namun dengan sigap tangan tersebut ditempik oleh Joey.


"Brengsek!" umpat Joey kesal. Gadis itu berusaha melarikan dirinya dari sofa itu, ia menurunkan kakinya ke lantai dan menapaki lantai dengan telapak kaki yang masih diperban, padahal luka itu masih basah dan belum diobati dengan benar.


Rain tak menahan gadis itu, sebaliknya ia hanya menonton tingkah Joey itu.


"Aww!" pekik Joey saat menginjakkan lantai. Kain kasa yang tadinya dibalutkan ke kakinya, perlahan mulai memerah karena rembesan darah segar. Namun Joey tak mempedulikan hal tersebut, baginya rasa sakit itu tak berarti, hatinya yang malah lebih sakit karena kelakuan Rain yang melecehkan dirinya.


Tak tega melihat gadis itu berjalan kesakitan, Rain menghela nafasnya, lalu bangkit dari duduknya. Ia menggendong tubuh Joey ke kamar, lalu ia dudukkan tubuh gadis itu di sisi kasur.


"Jangan sampai saya melihat kamu pake handuk lagi. Karna saya ini pria," ucap Rain datar. Wajah tak bersalahnya setelah merenggut paksa bibir Joey benar-benar membuat Joey berdecak sebal. Gadis itu menatap sinis ke arah pria yang ada di depan matanya. Selang beberapa detik, pria itu menuju ke lemari Joey dan membuka lemari pakaian milik gadis itu.


"Apa yang Om lakukan?!"


Rain tak menggubrisnya. Ia sibuk memilah-milah baju yang tergantung di lemari itu. Setelah ia mendapatkan baju yang menurutnya bagus, pria itu mengambilnya dan memberikan pada Joey.


Joey terdiam saat Rain memberikan baju padanya. Pria itu benar-benar sulit ditebak! Dia bahkan lebih parah dari musim yang ada di dunia, karena kelakuannya yang sering kali berubah-ubah dengan sangat cepat.


"Makasih, Om."


Rain bergegas menuju pintu untuk membiarkan Joey memakai dress casual coklat yang ia pilihkan. Namun, tak lama setelah itu ia memutar tubuhnya kembali menuju lemari. Sepertinya ia melupakan sesuatu. Pria itu mencari-cari di setiap sudut lemari bahkan di setiap laci yang ada.


Joey menatap Rain dengan penuh tanda tanya. Apalagi yang pria itu cari?


Tak butuh satu menit untuk gadis itu bergulat dengan rasa penasarannya, ia langsung membelalakkan matanya saat melihat Rain membuka laci tempat barang berharganya.

__ADS_1


"Om! Jangan dibuka!"


Lagi-lagi Rain tak mempedulikan gadis itu. Ia membuka laci tersebut sehingga terpampanglah dengan rapi pakaian-pakaian dalam atas dan bawah yang dimiliki oleh Joey. Ia langsung mengambil bra dan panty yang ada di dalam laci tersebut tanpa sedikit pun rasa gugup atau malu, lalu ia berikan kepada Joey.


"Nggak mungkin 'kan kamu pake baju aja?" ucap Rain sambil berlalu pergi keluar kamar. "Bilang kalo udah siap."


Joey diam tak bergeming. Gadis itu benar-benar dibuat malu sampai tak mampu mengangkat wajahnya. Bagaimana bisa pria lajang yang tampak berkharisma dan berwibawa itu bisa memegang pakaian dalam wanita sesantai itu. Apa mungkin dia udah terbiasa saat di Amerika dulu? Di sana 'kan pergaulannya sangat bebas? Lagi-lagi Joey berargumen sendiri.


Setelah Rain keluar dan menutupi pintu kamar Joey, gadis itu bergegas memakai pakaiannya. Ia tak ingin berlama-lama, bisa saja Rain tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa berkata-kata.


Ceklek!


Benar saja firasat Joey, kurang lebih dua menit setelah ia mengenakan dressnya, tiba-tiba saja Rain masuk tanpa mengetuk pintu.


"Hair dryer di mana?" tanya pria itu sambil matanya mencari-cari benda yang ia tanyakan di meja rias.


"Di dalam laci, Om," jawab Joey sambil menunjuk ke arah laci meja rias.


Rain membuka laci yang disebut Joey tadi, lalu ia mengeluarkan hair dryer dan meletakkannya di atas meja rias kemudian mencolokkan kabelnya. Setelah itu, Rain memutarkan tubuhnya dan berjalan menuju ke arah Joey. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Joey, digendongnya gadis itu dan didudukkannya gadis itu ke sebuah kursi kecil yang ada di depan meja rias.


"Eum ... Om. A-aku bisa ngelakuinnya sendiri."


Rain diam. Ia sibuk mengambil rambut Joey, menyibaknya dan dikeringkannya. Karena tak ada tanggapan dari Rain, Joey pun diam menunggu hingga Rain selesai dengan aktifitasnya.


Kurang lebih lima menit, rambut Joey telah kering. Rain menyisir rambut hitam lurus itu. Setelah itu ia menggendong Joey.


"Om, a-aku akan berjalan sendiri," ucap Joey sambil menatap rahang tegas Rain.


"Dengan kaki seperti itu?" tanya Rain sambil matanya menoleh ke arah kaki Joey.


"Ng...." Joey tak dapat berkata-kata, karena sejujurnya ia memang sedang susah jalan juga.


"Nggak usah ribet, nurut aja," ucap Rain sambil berjalan ke arah lift. "Kalo nggak mau jatoh, pegang leher saya."


Mendengarkan ucapan Rain, dengan ragu, Joey merangkulkan tangannya ke arah leher Rain. Ia tertunduk malu dan harap-harap cemas. Bagaimana jika saat di dalam lift nanti ada orang? Lalu orang itu melihat Joey yang di gendong? Bukankah itu sangat memalukan?

__ADS_1


"Nggak akan ada yang peduli. Lagian mereka pasti tau kalo liat darah diperban kaki kamu," gumam Rain seakan-akan ia membaca pikiran Joey.


Mendengarkan ucapan pria itu, Joey hanya diam dan patuh. Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, kini mereka berada di basement. Untung saja waktu itu sedang tak ada orang dan untung saja mobil Rain terparkir di samping lift.


Rain membuka pintu depan mobil Range Rover hitamnya dan memasukkan tubuh Joey ke dalamnya, lalu ia tutup pintu tersebut.


"Kayaknya kemaren bukan mobil ini deh," gumam Joey yang sadar bahwa semalam mobil yang ia naiki adalah Merci. Gadis itu menatap lurus ke depan dengan bahu yang jatuh sambil bersandar ke kursi mobil, ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


"Empat belas tahun di Amerika. Berarti Om Rain terbiasa dong dengan kehidupan dan budaya sana. Apa ciuman seperti kemaren juga hal biasa buatnya? Makanya dia nyium bibir? Eh tapi 'kan nggak harus bibir? Apa dia lagi sagapung, makanya kayak gitu? Secara, di sana 'kan hubungan badan itu adalah hal yang biasa?" Joey menerka-nerka sambil memegang bibirnya. Gadis itu benar-benar melamun sampai ia tak sadar bahwa Rain sudah di dalam mobil dan menghidupkan mesin mobil.


Melihat Joey yang tak kunjung mengenakan seat belt, Rain mencondongkan tubuhnya dan didempetkannya ke tubuh Joey sehingga kini posisi telinganya berada dekat dengan mulut Joey, kurang lebih setengah jengkal. Ia meraih seatbelt yang berada di sebelah kiri Joey. Hal itu membuat Joey terkejut dan spontan mengucapkan hal yang ada dipikirannya.


"Om udah sering ML 'kan di Amerika?"


Dengan mata terbelalak, Joey menggigit bibir atasnya, ia mengepalkan kedua tangannya karena sadar bahwa ia telah melakukan hal yang bodoh!


"Gadis bodoh, gadis bodoh! Bisa-bisanya ngomong vulgar gitu!" umpat Joey dalam hati.


Rain yang mendengarkan pertanyaan itu, langsung menoleh ke arah Joey, mata mereka saling bertatapan. Bedanya, mata Joey membulat sedangkan mata Rain menatap dalam ke dalam mata bulat itu.


"Kenapa? Kamu nanya itu karna udah sering sama mantan dan pacar kamu?" tanya Rain dingin.


"B-bukan. Aku belum pernah melakukan itu dengan siapapun. Aku cuma kepikiran soal c-ci-cium ... c-ciuman!" ucap Joey gugup.


Rain mengangkat alisnya sebelah dengan wajah datar.


"Habisnya, Om menciumku! Ku pikir Om sudah terbiasa dengan budaya western, makanya Om biasa aja ciuman, 'kan?" ucap Joey sambil pura-pura senyum, padahal hatinya menjerit karena ketakutan.


Rain meraih dagu Joey, jempolnya mengusap bibir bawah Joey dengan lembut dan perlahan. Mata pria itu melihat ke arah bibir itu sejenak, lalu matanya kembali menatap ke arah mata Joey.


"Kamu pikir, ciuman dibibir itu bisa diberikan kepada siapapun? Hanya orang istimewa yang berhak menerimanya."


"Orang istimewa?"


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2