OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Mungkinkah Percaya?


__ADS_3

...“Apapun yang terjadi, kamu tetap mempercayaiku ‘kan?” – Rain...


...🌸🌸🌸...


TING!


Pintu lift lantai rahasia Hotel Leonidas terbuka.


“Selamat pagi, Miss A!” sapa semua anggota Leons. Sesaat setelah lift terbuka, semua anggota tersebut berdiri dengan tegap menghentikan semua aktifitas lalu memberikan hormat pada Joey.


“Pagi,” sahut Joey sambil tersenyum sumringah ke semua anggota tersebut. Semua anggota Leons tersenyum senang saat melihatnya.


Joey menuju ke ruangan khusus di mana ia dan Rain janjian akan bertemu. Setibanya di depan pintu, Joey membuka pintu tersebut dengan senyum yang sumringah. Perasaannya sangat senang karena akan bertemu dengan pria yang ia sayangi.


“Om!” pekik Joey sambil lari berhamburan ke arah Rain yang ternyata sudah di dalam ruangan tersebut.


Pria tersebut terlihat sedang duduk di atas sofa sambil menyilangkan kaki dan melihat tablet. Ia mengenakan jas 3 piece berwarna biru tua dan kemeja hitam. Melihat gadis yang ia cintai berlari ke arahnya, Rain menyingkirkan tabletnya dan meletakkan ke atas meja kaca yang ada di depannya.


“I miss you!” ucap Joey sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas paha Rain dan mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu.


Rain terperangah. Kemudian kedua sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman yang begitu lebar. Jantungnya dibuat berdebar-debar akibat tiga kata singkat yang diucapkan oleh Joey.


Melihat Rain yang tak merespon dirinya, Joey bergegas mengecup lembut pipi pria tersebut.


Lagi-lagi Rain dibuat terkejut dengan kelakuan gadis itu. “Mimpi apa semalam?”


“Nggak ada sih,” ucap Joey sambil mengerutkan dahi dan bibirnya sembari mata melihat ke atas karena sedang berfikir.


“Emangnya kenapa, Om?” sambungnya.


“Ini yang pertama kalinya kamu bilang rindu,” tutur Rain gembira.


“Masa sih?”


“Hmm.” Dehem Rain sambil menaikkan kedua alisnya dengan kedua sudut bibir yang ia lengkungkan ke bawah sesaat.


“Oh. Berarti Om nggak suka?” tanya Joey sambil melepaskan kedua tangannya dari leher Rain. Gadis itu sengaja pura-pura cemberut karena ingin menggoda pria dewasanya.


“Hei, I like it!” seru Rain terbelalak. Ia langsung memeluk erat tubuh Joey dan menciumi pipi tembam gadis tersebut.


“I miss you so much!” sambung Rain sambil menciumi gadisnya bertubi-tubi, mulai dari wajah hingga ke leher.


“Udah udah udah…” Joey menahan kedua bahu Rain sambil tertawa cekikikan karena menahan geli akibat serangan pria tersebut.

__ADS_1


“Ini masih pagi loh, Om-ku sayang,” sambung Joey lagi.


“Habisnya, aku rindu,” Rain memasang mimik wajah murung.


“Please nggak usah masang wajah kayak gitu, nggak cocok!” seru Joey sambil mencubit kedua pipi Rain. “Aku lebih suka wajah Om yang dingin dan bringas.”


“Itu membuat adrenalin ku naik, hehehe,” sambung Joey tanpa basa-basi.


Rain menggelengkan kepalanya mendengarkan ucapan Joey. Kini gadis itu telah menjadi seorang gadis yang impulsif. Berbeda dengan sebelumnya, gadis itu lebih tertutup dan tak pernah mau jujur dengan apa yang ia rasakan. Sebenarnya, tak ada bedanya juga dengan dirinya sendiri. Karena ia juga seorang pria yang dingin dan sangat tertutup. Hanya saja, kini ia menjadi terbuka berkat gadis kesayangannya tersebut.


“Badanmu sudah enakan?” tanya Rain sambil punggung tangannya ditempelkan ke dahi Joey.


“Berkat Om, aku udah sembuh,” ucap Joey sambil tersenyum.


Tok Tok Tok!


“Masuk!” ucap Rain saat mendengarkan suara ketukan pintu.


Joey buru-buru ingin turun dari paha Rain saat pria itu menyuruh seseorang yang mengetuk pintu tadi untuk masuk ke dalam. Namun tubuhnya ditahan dan pelukan pria itu semakin erat mengunci tubuhnya agar tak bisa bergerak.


“Om, aku malu,” bisik Joey ke telinga Rain. Namun pria tersebut tak mengindahkan ucapannya. Wajahnya mendadak merengut bercampur malu akibat ulah pria itu.


Brown terlihat masuk ke dalam ruangan bersama seorang pria yang sedang membawa nampan berisikan makanan dan minuman. Lalu keduanya berjalan ke arah Alpha dan Miss A mereka dan meletakkan nampan tersebut ke atas meja. Saat pria yang bersama Brown melangkah pergi meninggalkan ruangan, Brown tetap tinggal.


“Nanti aja, setelah aku selesai sarapan,” ucap Rain tanpa ekspresi.


Brown hanya mengangguk kemudian memberi hormat. Lalu ia pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menutup pintu dengan rapat.


Rain meraih segelas jus yang ada di atas meja dan menyuguhkannya kepada Joey yang sedang di pangkuannya.


“Jus wortel?” Joey mencium bau jus tersebut dengan wajah yang bingung.


“Hmm.”


“Aku nggak suka jus wortel,” protes Joey sambil berusaha menolak dengan perlahan gelas yang disodorkan oleh Rain.


“Minumlah, demi bayi kita,” tutur Rain lembut.


“Kita beli vitamin aja ya kalo untuk kesehatan janin? Ya?” bujuk Joey.


“Iya, ntar kita beli vitamin, tapi konsumsi yang murni juga penting.” Ucap Rain tanpa basa basi. Ia ingin ibu dan bayi di dalam perut selalu sehat sehingga semalaman kemaren ia sibuk mencari-cari di internet apa saja makanan dan minuman yang bagus untuk mereka berdua.


“Om…” Joey mengibaskan kelopak matanya ke arah Rain, mencoba membujuk pria itu agar ia tak dipaksa menenggak jus tersebut.

__ADS_1


Rain hanya tersenyum dengan tingkah gadisnya itu.


Joey merasa bahwa pria tersebut mengiyakan permintaannya, wajahnya mendadak menjadi girang dan berusaha meraih roti yang ada di atas meja.


“Eittt…” Rain menahan tubuh Joey. “Aku ‘kan belum mengatakan iya?.”


“Mau minum sendiri atau aku yang nyuapin?”


Joey memasang wajah cemberut namun ia tetap mengambil gelas yang sedang dipegang oleh Rain, lalu ia menyeruput jus tersebut sedikit demi sedikit.


“Udah,” ucap Joey sambil meletakkan gelas tadi ke atas meja.


“Good girl,” puji Rain sambil mengecup lembut bibir gadisnya yang masih menyisakan rasa wortel.


Rain mengambil sandwich tuna kesukaan Joey dan menyuapinya, kemudian ia juga ikut memakan sandwich tersebut.


“Om,” panggil Joey dengan mulut yang masih terisi. “Katanya mau cerita.”


Rain menelan paksa sandwich yang ada di dalam mulutnya. Nafsu makannya mendadak hilang akibat mengingat kembali permintaan tak masuk akal ayah kandungnya. Ia dibuat melamun sejenak memikirkan bagaimana caranya menyampaikan kepada Joey agar gadis itu tak kecewa.


“Aaaa?” Joey membuka mulutnya minta disuapin lagi sandwich yang ada di tangan Rain. Sekarang, ia sudah lebih santai untuk bermanja-manja dengan pria tercintanya.


Rain menyuapi sandwich tersebut ke mulut Joey dengan wajah yang kaku. Pikirnya saat ini, biarkan gadis itu menyelesaikan sarapan dulu. Karena jika ia memberitahu berita buruk tersebut sebelum gadis itu selesai makan, pasti nafsu makannya akan hilang.


“Lagi pengen makan sesuatu nggak?” tanya Rain sambil menyuapi potongan terakhir sandwich yang ada di tangannya.


Joey menggelengkan kepalanya dan menutup mulut karena sendawa.


“Aku udah kenyang,” ucapnya sambil tertawa kecil karena malu sendawa di depan pria itu.


Rain menghela napasnya berat. Ia menatap gadis tersebut dengan tatapan bersalah. “Apapun yang terjadi, kamu tetap mempercayaiku ‘kan?”


Pertanyaan Rain membuat Joey merasa aneh. Pasalnya pria itu tiba-tiba saja menanyakan tentang kepercayaan. Apa ada sangkut pautnya dengan peristiwa semalam?


“Aku mau dengerin dulu,” ucap Joey tenang. “Setelah itu aku akan memberikan pendapatku.”


“Haaa…” Rain menghela napasnya lagi, kemudian di tatapnya mata bulat Oleander-nya dengan seksama. Dengan berat hati, ia mengatakan hal tak masuk akal yang diperintahkan oleh ayahnya tadi malam.


“Papa menyuruhku tinggal bersama Anya.”


...****************...


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2