
...“Joey Ainsley. Pengemis jalanan yang Mas rawat selama empat belas tahun. Aku tak akan menyakitinya kalo Mas menemaniku mempersiapkan kebutuhan pernikahan kita.” – Anya...
...🌸🌸🌸...
TING!!!
Ponsel Rain berdering. Ada sebuah notifikasi masuk dari seorang pria yang sebelumnya tak pernah mengirim pesan padanya setelah lulus kuliah.
“Kale?” gumam Rain lirih sambil mengerutkan dahinya. Ia meraih ponselnya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kemudian membuka pesan yang dikirimkan oleh pria itu.
“Video?” lagi-lagi Rain mengerutkan dahinya sambil membuka video yang dikirimkan oleh Kale. Di dalam hatinya saat ini, pria aneh itu sedang apa? Apa sesenggang itu waktunya dan tak ada pekerjaan lain sampai-sampai mengirimkan video?
Rain tersentak kaget dengan mata yang terbelalak. Sosok gadis yang sedang menyanyi di video tersebut merupakan Oleander kesayangannya. Sedang apa gadis itu di sana? Di sebuah studio rekaman? Rain melihat dan mendengarkan video tersebut sampai habis. Hatinya terasa hangat saat mendengarkan suara gadis kesayangannya, entah kenapa rasa rindu yang kini berkumpul di dada terasa begitu sesak dan menyakitkan.
“Haaa….” Rain menghela nafasnya menatapi gadis tersebut di video. “I miss you so much.m, Sweetheart."
“Kayaknya, dia lagi rindu seseorang. Nggak mungkin lo ‘kan? Kalian ‘kan satu apartemen. Baru pisah beberapa jam, masak udah pisah aja? Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Kale dalam pesan yang ia kirimkan kepada Rain.
“Sepertinya ini kesempatan yang baik untukku masuk di antara hubungan kalian yang sedang retak,” sambung Kale lagi melalui pesan singkat yang ia kirimkan.
Rain berdecak sebal sambil melonggarkan dasinya yang terasa ketat dan membuatnya sulit bernapas. Ia merasa kesal saat membayangkan Oleander kesayangannya menjadi incaran dan di goda oleh pria lain. Ia mengepalkan tangan menahan amarah karena di saat-saat seperti ini ia tak dapat melakukan hal yang ia inginkan untuk menyelamatkan Oleander-nya dari incaran pria-pria lain.
CEKLEK!!!
“Selamat siang, Mas Rain!” seru Anya yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan diiringi Harry.
Wajah Harry terlihat panik karena sepertinya Anya masuk ke ruangan Rain tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada atasannya tersebut.
“Pak,” panggil Harry cemas. “Sa-“
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Lanjutkan saja pekerjaanmu,” potong Rain sambil melambaikan tangannya sebagai isyarat bahwa Harry boleh pergi meninggalkannya dari ruangan tersebut.
Beberapa detik setelah Harry meninggalkan ruangan tersebut, Anya datang mendekati kursi kerja Rain. Lalu wanita tersebut membelai lembut bahu pria tampan yang dingin itu.
“Mas, dua bulan lagi pernikahan kita loh,” ucap Anya manja. “Jadi, kapan kita fitting? Kita juga belum-“
“Anya,” potong Rain sambil menempik tangan wanita tersebut.
“Iya, Mas.” Jawab Anya sedikitpun rasa malu karena tangannya ditempik oleh pria tersebut.
“Jangan lupa, ini hanya pernikahan bisnis. Nggak ada cinta di antara kita,” tegas Rain dengan tatapan yang tajam.
Anya membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Rain. Lalu wanita tersebut berbisik pelan. “Joey Ainsley. Pengemis jalanan yang Mas rawat selama empat belas tahun. Aku tak akan menyakitinya kalo Mas menemaniku mempersiapkan kebutuhan pernikahan kita.”
Seluruh darah Rain berdesir dengan rahang mengeras dan kedua tangan yang ia kepalkan. Bibirnya bergetas menahan amarah. Dari mana lalat hijau itu tahu tentang Oleander kesayangannya?! Sejauh apa ia menyelidiki Oleander-nya?!
“Aku tak akan melewati batasku kalau Mas berusaha mencintaiku,” tuntut Anya tanpa basa basi. Wanita tersebut berdiri tegak dan menyilangkan kedua tangannya ke dada sambil menatap ke arah Rain dengan tatapan yang penuh kemenangan. Ia tersenyum puas karena telah memegang titik kelemahan pria tersebut.
“Apa mau mu?!” tanya Rain dingin.
“Ck! Gimana bisa seorang gadis muda begitu jadi kelemahan terbesar Mas-ku yang tercinta?” ejek Anya sambil mengerlingkan matanya dengan senyuman yang mengejek.
Rain hanya diam. Ia berusaha sekuat mungkin agar tak berlaku kasar pada wanita yang ada di sampingnya saat ini. Jika bukan karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka, sudah sejak lama ia menghabisi wanita gila ini.
“Sore ini kita fitting dan temani aku makan ke satu restoran yang sedang populer akhir-akhir ini, tak jauh dari lokasi kita fitting,” jelas Anya sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan Rain.
“Ah… satu lagi, jemput aku ke rumah ya, Mas,” sambung Anya sambil memegang gagang pintu ruangan tersebut.
...****************...
__ADS_1
“Bisa tinggalin gue dengan Joey bentar nggak?” pinta Luca kepada Kale. “Soalnya mau bahas kontrak. Ini bersifat-“
“Okay, Okay,” ucap Kale sambil bangkit dari duduknya.
“Joey, aku tunggu di luar ya,” ucap Kale kepada Joey. Ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, hanya ada Joey dan Luca yang tersisa di ruangan direktur tersebut. Luca mengambil kontrak yang telah disediakan oleh sekretarisnya di atas meja, lalu pria itu duduk di sofa berdepanan dengan Joey. Ia meletakkan kertas kontrak bersama pulpen di atas meja kaca yang menjadi penengah di antara mereka berdua.
Joey tersenyum sumringah saat Luca memberikan kontrak tersebut kepadanya. Tangannya mendadak memegang kertas kontrak tersebut namun di tahan oleh Luca. Hal tersebut spontan membuat Joey langsung menatap ke arah Luca dengan tatapan yang menyiratkan tanda tanya. Ia tak mengerti kenapa pria itu berbuat demikian?
“Kamu ingat aku?” tanya Luca tiba-tiba.
Joey tersentak. Ia melupakan hal penting itu. Sejak awal ia melihat Luca, pria itu terlihat tak asing, tapi ia lupa siapa pria yang ada di depannya saat ini. Dia benar-benar lupa. Joey hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang bingung.
“Luca. Bandara Soekarno Hatta,” ucap Luca lagi.
“Bandara?” gumam Joey pelan sambil mencoba mengingat-ingat pria tersebut. Joey menghabiskan waktunya beberapa detik memikirkan siapa pria yang ada di depannya saat ini.
“Are you okay?” tanya Luca khawatir. Pria itu benar-benar membuat Joey pusing setengah mati. Siapa sih dia sebenarnya? Lalu kenapa menanyakan pertanyaan yang seperti itu? Sudah jelas dia baik-baik saja.
“Maaf, Pak. Saya benar-benar lupa,” Joey memelas memasang raut wajah yang mengiba. Ia takut menyinggung Luca karena melupakan pria tersebut.
Luca menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil. Ia menghela napasnya pelan. Lalu kini ia menatap ke arah Joey sambil tersenyum. “Aku Luca. Supir taksi yang membawamu ke bandara tempo hari. Kemudian kita dihadang oleh mobil dan kamu di bawa kabur oleh dua orang pria yang aneh.”
Joey terbelalak. Ia benar-benar tak menyangka bahwa pria yang ada di depannya saat ini merupakan supir taksi yang sempat mengantarkannya ke bandara dulu untuk pergi meninggalkan Jakarta. Tapi sayangnya rencana untuk meninggalkan negara tersebut terpaksa ia kuburkan karena ia diculik oleh dua orang pria aneh yang bertubuh tegap dan mengerikan.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1