OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Obsesi Oleander Dimulai


__ADS_3

..."Seminggu lagi gimana? Apa aku udah nggak suci lagi?" - Joey...


...🌸🌸🌸...


Rain menghela napasnya dengan kasar. Pria itu memasuki mobil dan duduk di kursi belakang supir bersebelahan dengan Joey. Gadis itu sedang melihat ke arah luar jendela mobil yang ada di sebelah kirinya. Sepertinya Joey sedang tak ingin berbicara dengan Rain.


"Jalan," perintah Rain pada Harry.


"Baik, Pak."


Range Rover hitam melaju membawa tiga orang di dalamnya menyusuri jalan raya yang tampak padat, ternyata malam itu merupakan malam minggu. Malam di mana pasangan muda-mudi keluar berkencan dengan pasangan mereka.


Sudah tiga puluh menit sejak mereka meninggalkan Jalan Wijaya menyusuri Jalan Sudirman, tapi tetap saja mobil itu masih terjebak di depan Stadion Madya Gelora Bung Karno.


...Akulah orang yang 'kan selalu mengawasimu...


...Menikmati indahmu dari sisi gelapku...


Lagu yang dipopulerkan oleh Sheila on 7 memecah ketegangan manusia-manusia yang berada di dalam mobil tersebut. Sejak tadi, tak ada seorangpun yang berani bersuara, mereka sedang larut dalam perasaannya masing-masing.


Rain yang sedari tadi menatap lurus ke depan dengan kedua tangan yang menyilang ke dada dan kepala yang sedikit mendongak ke atas bak orang angkuh, merasa terusik saat sudut matanya menangkap kepala Joey yang sedang oleng karena terlelap. Sepertinya gadis itu lelah dengan hari ini, pikir Rain.


Tak tahan melihat kepala Joey yang berbenturan dengan kaca pintu mobil, tanpa sadar tangannya memegang kepala Joey dan mengarahkan kepala gadis tersebut ke pundaknya.


..."Mungkin kau takkan pernah tahu...


...Betapa mudahnya kau untuk dikagumi...


...Mungkin kau takkan pernah sadar...


...Betapa mudahnya kau untuk dicintai"...


Harry menangkap momen langka Rain yang tak pernah ia lihat sebelumnya melalui kaca spion dalam mobil. Pria itu tersenyum simpul melihat kehangatan yang ada pada pria bertubuh dingin tersebut.


"Pelankan musiknya," titah Rain.


"Baik, Pak."

__ADS_1


Harry mengecilkan suara radio sesuai perintah Rain.


Sesaat setelah mengecilkan suara radio, tiba-tiba tetesan air hujan berjatuhan membasahi setiap meter Jalan Sudirman. Cuaca yang sangat tak diinginkan oleh sebagian orang yang sedang menikmati malam mingguan, tapi tidak dengan Rain.


Sesuai dengan nama yang ia miliki, Rain merupakan Pria Pluviophile, dia sangat menyukai semua hal tentang hujan. Mulai dari bunyi air yang jatuh hingga melihat daun yang basah terangguk-angguk karena tetesan hujan.


Cuaca malam itu sangat mendukung suasana romantis Rain dan Joey. Namun tidak dengan Harry, dia merasa seperti seorang petugas pengusir nyamuk di mobil itu.


...****************...


"Kita sudah di lobby, Pak." ucap Harry.


"Bawa aja mobil ini dulu, besok kembalikan. Aku akan menggendong Joey ke atas."


"Baik, Pak."


Harry segera turun dari kursi kemudinya, lalu bergegas membukakan pintu belakang kemudi.


Rain menggendong tubuh Joey ala bridal style menuruni mobil, menuju lift. Beberapa menit setelah itu, akhirnya mereka tiba di apartemen.


Rain merebahkan tubuh Joey ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh gadis yang diam-diam membuatnya berdebar. Pria itu duduk di sisi ranjang sambil tatapannya tertuju ke setiap inci lekukan yang terukir di wajah Joey yang sedang terbuai mimpi.


"Hah," Rain menghela napasnya sambil tertunduk. Pria itu mengusap kasar wajahnya menggunakan tangan kanan.


Selang beberapa detik kemudian, Rain kembali menatapi wajah Joey yang sedang terpejam itu. Ia mencondongkan tubuhnya dan mengarahkan bibirnya ke wajah Joey.


"Segeralah putus dari bocah tengik itu."


Rain menge cup dahi Joey, lalu kedua mata, hidung dan bibir ranum yang merekah milik gadis muda itu. Saat bibirnya berhenti di bibir Joey, pria itu melu matnya dengan sangat berghai rah dengan mata yang terpejam. Ia melakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati.


Napas Rain terengah-engah menghentikan ciu man panas itu, kini bibirnya menelusuri leher jenjang Joey. Merasa tak cukup, Rain menuruni belahan da da Joey, namun ia tak melanjutkan ciumannya. Rasanya ingin meledak jika pria itu melanjutkan menelusuri setiap inci yang ada pada tubuh gadis muda itu.


Rain segera bangkit dari sisi ranjang dan bergegas keluar dari kamar tersebut. Pria itu menutup pintu kamar Joey dan ia memasuki kamarnya, lalu menguncinya.


"Sial! Aku melewati batas!" umpat Rain dengan ritme napas yang tak teratur, dadanya naik turun karena bernapas.


Rain bergegas menuju ke kamar mandi, ia melepaskan seluruh pakaiannya dan berdiri di bawah shower.

__ADS_1


Pria itu meraih daging tak bertulangnya sambil membayangkan wajah dan tubuh gadis yang kini telah menjadi obsesinya. Dia benar-benar larut dengan fantasi yang ada di kepalanya saat ini sampai sesekali terdengar suara desa han yang bergema di kamar mandi.


...****************...


Di waktu yang sama setelah Rain meninggalkan kamar Joey, gadis itu membuka paksa matanya sambil menyeka kasar bibirnya.


"Hiks... hiks..."


Gadis itu berusaha menahan tangisnya, namun tetap membuncah tak tertahankan. Ia merasa sangat dilecehkan dan harga dirinya terluka. Seorang pria gagah yang terpaut usia empat belas tahun dengannya, hampir saja menodainya yang belum pernah disentuh oleh siapapun.


"Dua hari," isak Joey lirih. "Ini baru dua hari."


"Seminggu lagi gimana? Apa aku udah nggak suci lagi?" gumamnya sambil tersedu-sedu.


"A-aku t-takut."


...****************...


Setelah mandi, Rain mengenakan jubah mandinya dan keluar dari kamar. Pria itu menuju balkon apartemen sambil membawa sebungkus rokok, mancis dan ponsel genggamnya.


Rain mengeluarkan sepuntung rokok dan membakarnya sambil menikmati udara malam yang lembab karena hujan yang masih gerimis. Sambil ia menikmati rokok yang di apit telunjuk dan jari manis kanannya, pria itu membuka ponselnya dan menghubungi Harry.


"Jangan sampai Leons mengetahui perselisihan hari ini, aku khawatir bocah tengik itu babak belur," perintah Rain sambil menghi sap rokoknya.


"Aku akan mengurus sendiri bocah tengik itu. Nggak ada seorangpun yang boleh menyentuh wanitaku!"


"Apa yang ingin Om lakukan pada Kak Ace?" suara Joey tiba-tiba terdengar hingga ke balkon.


Rain melihat ke belakangnya. Dari balkon tempat ia berdiri, terlihat sosok Joey yang berjalan perlahan menghampirinya dengan langkah yang terseok-seok dari ruang tamu yang gelap itu. Rain memang sengaja tak mengidupkan lampu.


"Besok kita lanjutin," ucap Rain pada Harry. Lalu ia mematikan ponselnya dan meletakkan puntung rokok ke asbak yang ada di meja kecil balkon.


"Joey? Kok bangun?" tanya Rain terkejut. Pria itu berjalan meninggalkan balkon dan mendekati Joey di ruang tamu.


PLAKKK!!!


Sebuah tamparan mendarat ke pipi Rain saat kedua tubuh itu saling berhadapan. Rain memegang pipi kanannya yang kebas karena tamparan yang diayunkan oleh tangan halus gadis muda yang ada di depan matanya.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2