OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Siapakah Leons?


__ADS_3

...“Leons. Nama yang sangat terkenal bagi mereka yang berhubungan dengan dunia gelap." - Alpha...


...🌸🌸🌸...


“Om, kita makan di sini aja ya?” pinta Joey memelas.


Lagi-lagi pria dingin itu tak menggubris perkataan Joey. Ia malah menarik lengan kecil milik gadis tersebut menuju sebuah lift pribadi yang ada di samping restoran tersebut. Setibanya mereka di dalam lift, Rain menekan tombol darurat yang ada di dalam lift tersebut.


“Huh?” Joey memicingkan matanya. “Om nggak salah pencet, ‘kan?”


Hening, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir pria tersebut. Sebaliknya, lift yang mereka tumpangi bukannya naik ke atas, malah turun ke bawah.


“Loh, Om. Kok ke bawah?” tanya Joey terheran-heran.


TING!


Pintu lift terbuka.


Seketika Joey terbelalak saat lift yang ia tumpangi terbuka. Tombol darurat yang sempat Rain tekan tadi ternyata membawa mereka ke sebuah ruangan bawah tanah yang dipenuhi oleh pria-pria bertubuh tegap dan kekar. Pria-pria yang sedang berseliweran dengan pakaian hitam, berambut cepak, gondrong dan botak. Bahkan ada juga yang berambut gimbal dengan kulit yang hitam legam.


“O-Om. A-apa i-ini?” tanya Joey ketakutan.


Gadis itu bergidik ngeri dan bersembunyi di balik punggung kekar milik pria mesumnya saat semua orang yang ada di sana mendadak menghentikan aktifitas mereka dan membungkuk secara bersamaan.


“Welcome, Alpha!” seru mereka serentak lalu berdiri tegap.


“Hmm.” Rain hanya mendehem sambil berdiri dengan kepala yang sedikit terangkat seperti seorang pria yang angkuh. Pria itu menarik gadis yang sedang bersembunyi di belakang ke depan.


“Kamu akan ku jual,” goda Rain dengan bisikan yang hanya dapat didengarkan oleh Joey.


Gadis tersebut mendadak terkejut dengan bola mata yang melotot saat Rain mengatakan bahwa dia akan di jual kepada pria-pria yang mengerikan itu. “A-aku mau pulang!” ucap Joey sambil membalikkan tubuhnya menuju lift. Namun tubuhnya dicegat oleh seorang pria botak dengan tubuh yang mengerikan.


Rain tertawa kecil melihat tingkah lucu gadisnya yang ketakutan. Namun ia segera memasang wajah serius sesaat setelah itu.


“Seperti yang pernah ku katakan, gadis ini akan menjadi istri ku nanti,” ucap Rain dengan suara lantang dan penuh kharisma. Pria tersebut meraih tangan kanan gadis yang di sampingnya.


Joey yang awalnya ketakutan, mendadak memasang wajah terkejut. Ia dibuat kebingungan dengan situasi yang ada di depan matanya saat ini. Situasi yang asing, aneh dan tak pernah ia temukan di dunia nyata, kecuali di film layar lebar.

__ADS_1


“Jangan-jangan ini kelompok mafia?” pikir Joey saat itu. Ia berargumen sendiri menerka-nerka situasi yang sedang ia hadapi saat ini.


“Dia adalah Miss A kalian,” ucap Rain sambil mencium punggung tangan Oleander-nya.


“Welcome, Miss A!” seru pria-pria tersebut serentak sambil membungkukkan badan, kemudian berdiri tegap setelah memberikan sapa hormat.


“Ah… h-hai!” sapa Joey ragu-ragu sambil menarik tangannya dari genggaman kekas pria mesum yang di sampingnya.


“Lanjutkan kegiatan kalian,” titah Rain sambil menggandeng tangan Joey dan berjalan menuju sebuah kamar yang ada di sudut ruangan tersebut.


“Masuklah,” ucap Rain sambil membukakan pintu untuk gadisnya.


Joey hanya patuh tanpa membantah, gadis itu menapaki kakinya setapak demi setapak ke dalam ruangan tersebut. Namun, setelah tiga langkah, ia terhenti dan terpaku menatap dinding-dinding yang penuh dengan lukisan besar pertumbuhan dia dari usia empat belas tahun hingga saat ini.


“O-Om, i-ini …”


“Foto Oleander-ku. Kenapa?” tanya Rain sambil masuk ke dalam ruangan tersebut. Lalu ia membuka jas dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa dan bersandar sambil melipat kaki kanannya ke atas paha kiri.


“Kok banyak foto aku?” tanya Joey sambil matanya berkeliling mengamati setiap foto-foto yang tergantung di dinding.


“Come,” panggil Rain sambil menepuk sofa di sampingnya.


“Om bukan psikopat, ‘kan?” tuduh Joey sambil menudingkan jarinya ke arah Rain.


Bukannya menjawab, pria itu malah langsung menggigit jari telunjuk gadis tersebut.


“Om!” pekik Joey sambil memelototkan matanya. “Sakit!”


Karena gadis berkata demikian, Rain menge mut jari gadis tersebut dengan tatapan yang nakal.


“Ish! Dasar psikopat mesum!” gerutu Joey sambil menarik jarinya dari mulut pria itu. Gadis itu berdecak sebal lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar bersandar di sofa. Ia menyilangkan kedua tangannya ke dada dengan raut wajah yang cemberut.


Rain menaikkan sudut bibirnya setengah melihat tingkah manja gadis itu.


CTAKKK!


Lagi-lagi sebuah sentilan mendarat di dahi lebar gadis itu.

__ADS_1


"Kebanyakan nonton drama!” tutur Rain penuh dengan penekanan.


“Ish!” Joey mengerlingkan matanya sambil mengusap-usap dahinya yang sakit karena sentilan pria mesum itu. “Bukan kebanyakan nonton drama, dari awal Om nggak jelasin apa-apa ke aku, ya mana aku tau.”


“Dateng-dateng disambut sama Om-Om yang menakutkan, terus dipanggil Miss A, terus pas masuk ke ruangan ini, ada foto aku semua. Ya ‘kan aku jadinya nebak-nebak sendiri. Om tuh sebenarnya siapa sih? Anak konglomerat apa mafia gangster?!” sambung gadis itu panjang lebar.


“Apa jangan-jangan Om tuh psikopat berdarah dingin? Pembunuh berantai? Atau Om mucikari yang jual gigolo ke tante-tante kesepian?” tuduh Joey sembarangan tanpa memberikan celah untuk Rain menjawab pertanyaan.


Rain mendadak ketawa terpingkal-pingkal mendengarkan ucapan gadis muda yang di sampingnya. Semuanya aja dia sebut, tak ada sedikitpun perkataannya yang positif, semua tebakannya negatif dan memojokkan.


Raut wajah pria itu mendadak serius, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah Joey dan berbicara dengan nada suara yang menakutkan. “Kalo semua tebakan kamu benar, gimana?”


“Hehehe… nggak mungkin ‘kan?” kekeh Joey kaku sambil menjarakkan tubuhnya agar menjauh dari pria itu.


“Nggak ada yang nggak mungkin, ‘kan?” Rain balik bertanya dengan nada dingin.


Joey mendadak menelan salivanya sambil menatap lekat ke arah mata Rain yang terlihat serius dan garang. Sepertinya pria itu tak berbohong. Lalu, jika benar pria di depan matanya merupakan mafia kelas kakap seperti yang ada di drama-drama yang ia tonton, kenapa dia di bawa ke tempat ini? Apa ingin dijadikan santapan pria-pria mengerikan tadi? Atau jangan-jangan dia akan dijadikan sandera? Memangnya sepenting apa dirinya sampai-sampai ia dijadikan sandera?


Merasa iba dengan raut wajah gadis kecilnya yang ketakutan, Rain menarik tubuh ringkih gadis kecil tersebut agar berdempetan dengan tubuhnya, lalu ia merangkul bahu gadis tersebut.


“Semua yang kamu sebut tadi, ada yang benar dan ada yang nggak,” tutur Rain.


“Yang bener yang mana? Psikopat mesum?” celetuk Joey tak sabar.


“Aww!” pekik Joey saat hidungnya dicubit oleh Rain sesaat setelah ia menuduh pria itu psikopat mesum.


“Kenapa suka banget sih denger aku teriak!” gerutu Joey.


“Karena …” Rain mendekatkan bibirnya ke telinga Joey sambil berbisik, “teriakan Oleander-ku saaangat seksi.”


“Om!”


“Hahaha… makanya jangan nyerocos mulu,” celetuk Rain. “Dengarkan aku baik-baik.”


“Leons. Nama yang sangat terkenal bagi mereka yang berhubungan dengan dunia gelap,” sambung pria itu.


“Leons?” gumam Joey lirih. “Leonidas. Nama hotel ini ‘kan Leonidas?”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2