
..."Oleander .... Ck! Om benar, aku memang sekuntum bunga yang indah. Tapi kini, aku telah layu dan racunku memudar sesaat setelah Om petik." - Joey...
...🌸🌸🌸...
"Efek dari kekurangan cairan tubuh dan asam lambungnya yang kumat," ucap wanita paruh baya yang mengenakan seragam putih, ia merupakan salah satu dokter yang bertugas.
"Untuk sementara, biarkan dia istirahat dahulu, sepertinya dia kelelahan," sambung dokter tadi sambil berlalu meninggalkan ruangan.
Rain duduk di sisi ranjang sambil memposisikan tubuhnya menghadap Joey, lalu ia menatap ke arah gadis yang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah yang pucat, tapi tetap anggun.
"Haaa..." Rain tak henti-hentinya menghela nafas sambil mengusap kasar wajahnya. Bodoh sekali dia, bagaimana bisa dia melewatkan makan dan tak memperhatikan gadis kesayangannya?
Kurang lebih beberapa menit kemudian, saat Rain sedang menatapi gadisnya dengan seksama, terdengar suara telapak kaki yang sedang berjalan mendekati ruangan di mana Joey di rawat.
Tok ... tok ... tok ...
"Selamat siang, Pak," ucap Harry yang tiba-tiba muncul di balik pintu masuk. Pria tersebut menenteng beberapa box makanan dan buah-buahan di sebuah keranjang. "Sesuai yang Bapak minta."
"Masuklah."
Harry masuk ke dalam ruangan tersebut lalu meletakkan makanan yang ia bawa tak jauh dari meja yang ada di sisi ranjang Joey.
"Pak."
"Hmm..." dehem Rain tanpa melihat ke arah Harry, pandangannya tak lepas dari wajah bunga kesayangannya.
"Ada pesan dari Bapak dan Ibu Ravindra."
"Katakan."
"Beliau sangat susah menghubungi Bapak akhir-akhir ini, jika Bapak tidak hadir dalam pertemuan keluarga yang diselenggarakan sore ini di Hotel Emerald, maka posisi CEO akan diserahkan kepada Pak Zayn."
"Ck! Mereka mengancamku dengan posisi CEO?" geram Rain dengan wajah yang kesal. Pria itu mengepalkan tangan kirinya yang semula tertumpu di atas ranjang. Zayn yang merupakan anak tiri dan bukan darah daging dari keluarga besar Ravindra, bisa-bisanya dia menjadi ancaman bagi Rain.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ke sana. Sementara itu, aku nungguin Joey bangun dulu, kalo dia belum bangun, nanti kamu di sini dulu untuk menjaganya, aku akan ke hotel itu sendiri," tukas Rain.
"Gimana dengan pakaian Bapak?" tanya Harry saat melihat tubuh Rain yang masih berbalut piyama.
"Oh. Aku lupa," Rain mengusap wajahnya saat menyadari bahwa pakaian yang ia kenakan saat ini adalah piyama. "Nanti aku menyempatkan diri ke apartemen dulu."
"Baiklah. Kalau begitu, saya tunggu di kursi depan ruangan ini saja," ucap Harry, lalu pria itu berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan tersebut.
Di saat yang sama, Rain meraih tangan kiri Joey yang tak tertusuk infus. Pria itu menggenggamnya erat, lalu diciumi punggung tangan tersebut.
"Apapun yang terjadi kedepannya, Oleander tetap lah milikku," gumam Rain perlahan.
...****************...
Di ruangan yang hening dan higenis tersebut, Joey membuka matanya perlahan sambil meringis kesakitan karena tubuhnya yang remuk. Gadis tersebut melihat ke arah sekelilingnya.
"Loh, kok aku di sini?" gumam Joey heran. "Om Rain kemana?"
Tak mendapati pria yang ia cari di ruangan tersebut, ia pun merasa bosan. Joey berusaha duduk bersandar pada besi ranjang rumah sakit disanggahi bantal. Lalu ia mengambil ponselnya dan meraih gelas air putih yang ada di meja sebelah ranjangnya. Gadis itu membuka ponselnya dan membuka aplikasi Witter.
Seketika, tubuh Joey bergetar saat melihat nama seseorang yang tak asing baginya ada di trending topic Witter dengan nama seorang wanita. Tangan kanan yang ditusuk infus, bergetar memegang ponsel, sedangkan tangan kiri yang memegang gelas, ikut bergetar saat ia melihat sebuah thread yang menjadi trending topic saat ini.
PRANGGG!!!
Gelas yang ada di tangan Joey seketika terlepas dari genggamannya saat membaca sebuah poster breaking news yang membuat jantungnya hancur berkeping-keping layaknya gelas yang pecah saat jatuh ke lantai barusan.
Nafasnya tercekat dengan tubuh yang menegang, sorot matanya suram dan berkaca-kaca. Tanpa sengaja, tangan kirinya memegang mulut yang melongo karena terkejut.
"Joey!" panggil Harry yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan karena mendengarkan suara benda jatuh. Pria itu terperangah melihat gelas yang pecah, namun ia lebih dibuat terperangah dengan tatapan Joey yang suram tersirat duka. Sepertinya, gadis itu tau apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Om Rain. Kemana pria itu?" tanya Joey dengan suara yang parau.
"Tenanglah," ucap Harry sambil kedua tangannya mengayun pelan menyuruh gadis itu untuk tetap tenang, lalu ia berjalan perlahan mendekati ranjang Joey.
"Om Harry! Jawab aku!" teriak Joey seiring dengan sebuah tetesan airmata yang jatuh membasahi pipinya dari sudut mata kiri.
"Ini alasan Om Rain balik ke Indonesia?!" tanya Joey lagi sambil menunjukkan poster yang tadi ia lihat di Witter.
Harry menggigit bibir bawahnya sambil menghela nafas. Pria itu bingung harus mengatakan apa, karena ini merupakan cerita panjang yang yang sulit dimengerti jika dijelaskan dalam waktu yang singkat, yang ada, gadis itu akan semakin salah faham.
"Om! Kenapa diam! Hikss... hiks... hiks..." Joey tak lagi mampu menahan tangisnya yang membendung, gadis itu mulai terisak-isak karena rasa sakit yang menghujam dadanya saat ini. Rasa hancur yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata karena ia baru saja mencoba untuk memberikan hatinya kepada pria yang ia anggap malaikat, juga rasa kecewa karena ia merasa dikhianati setelah memberikan benda berharga yang ia jaga selama delapan belas tahun.
"Semua ini nggak berlandaskan cinta, hanya pernikahan bisnis. Gimanapun, anda tetap gadis yang ia cintai hingga saat ini," jelas Harry sebisanya.
"Cinta? Hahaha... cinta gimana? Setelah aku dibawa terbang ke awang-awang, lantas dia melemparku jatuh hingga hancur ke jurang yang paling dalam?!" kecam Joey sengit. "Ini bukan cinta, Om Harry. Ini obsesi!"
"A-aku akan menjelaskannya, tapi sebelum itu, makanlah dulu bubur ini pesan Pak Rain, perutmu kosong sejak kemaren."
Harry meraih box bubur ayam yang ada di dalam plastik di atas meja, lalu ia mengambilkan sendok dan memberikannya kepada Joey.
"Nggak ada yang perlu dijelaskan, semuanya udah jelas. Aku akan makan nanti," ketus Joey dingin. Lalu gadis itu memalingkan wajahnya ke kanan, rasanya malu dan sakit jika Harry melihatnya saat ini. Meskipun seorang sekretaris, tapi baginya, Harry merupakan salah seorang yang juga mengambil andil dalam hidupnya selama empat belas tahun ini.
"Baiklah, tenangkan dirimu, aku akan menunggu di luar sampai anda merasa tenang." Harry bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Joey memeluk lututnya, lalu ia menopang dagunya dengan tatapan lurus yang kosong. Jiwa yang semulanya hancur berkeping-keping karena ulah Ace yang tak pernah ia duga, kini kembali dibuat luluh lantak karena penghianatan Rain yang tersembunyi itu. Rasa takut menghancurkan hubungan baik yang selama ini ia khawatirkan karena jalinan perasaan cinta antara pria dan wanita, ternyata terjadi. Mungkinkah dia akan kehilangan satu-satunya pria yang sudah ia anggap keluarga selama empat belas tahun ini?
"Hiks... hikss... hiksss... Om Rain jahat!" isak Joey pilu. Tangisnya membuncah saat itu juga. Airmata keluar tanpa henti membasahi pipi dan lutut gadis itu, sesekali ia tersengal-sengal karena kesulitan bernafas akibat rasa sakit yang teramat sangat di dadanya.
Frustasi apakah ini? Kenapa terasa lebih berlipat ganda, bahkan lebih sakit dari saat ia dikhianati Ace. Ada perasaan ketat di dada dan rasa sulit bernafas yang membuatnya terganggu.
"Oleander .... Ck! Om benar, aku memang sekuntum bunga yang indah. Tapi kini, aku telah layu dan racunku memudar sesaat setelah Om petik."
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...