OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Obsessive Love Disorder (OLD) Part 3


__ADS_3

..."Angry but still sexy. Oleander-ku memang seharusnya begitu." - Rain...


...🌸🌸🌸...


“I-itu ‘kan, LINGERIE!”


Gadis muda tersebut benar-benar dibuat terkejut saat melihat pria dewasa di depannya sedang melihat-lihat pakaian haram yang ada di e-commerce.


Rain tak berkutik saat Joey meninggikan suara, ia tetap fokus memilah-milah lingerie yang menurutnya bagus dan dapat memanjakan matanya. Sepertinya, pria ini sedang mempersiapkan dengan matang malam panas yang akan ia lewati dengan gadis muda di depannya.


“Ck! Katanya sibuk. Sibuk nyari lingerie!” gerutu Joey sambil melanjutkan kunyahan makanan yang masih tersisa di mulutnya. Gadis itu berdecak sebal dan terlihat kesal saat mengetahui pria di depannya itu tidak sibuk seperti yang dikatakan sebelumnya.


“Om ….” Joey menghela napasnya. “Aku yakin dengan sepenuh hatiku kalo Om itu orang baik.”


Rain menaikkan alisnya saat Joey mengatakan dia ‘orang baik’.


“Sampai detik ini, aku masih terus maafin semua kelakuan Om. Bahkan bibirku …” Joey memegang bibirnya sambil menatap piring kosong yang ada di depan matanya, “aku udah maafin Om soal itu. Dan sekarang, aku sedang berusaha untuk tetap baik-baik aja seperti biasa di depan, Om.”


“Sejujurnya aku canggung, Om,” sambung Joey.


“Aku nggak mau hubungan kita rusak hanya karna nafsu yang bersifat fana ini. Jadi ayo, kita mulai semuanya dari nol. Aku sangat menghargai Om melebihi apapun, bahkan Om sudahku anggap keluarga selama ini. Aneh rasanya jika aku menjadikan keluarga sebagai pasangan yang kucintai."


Joey mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan, ke arah pria yang masih sibuk mencari-cari lingerie. Satu detik, dua detik, hingga sepuluh detik berlalu, sepatah katapun tak ada yang keluar dari bibir pria itu.


“Om!” tubuh Joey bergetar dan ia merasa kesabarannya serta kelembutan berdiskusinya tak membuahkan hasil.


"Om dengar nggak sih?! Aku ini ngomong baik-baik loh dari tadi, Om!" omelan gadis tersebut terdengar nyaring di telinga Rain. Joey bangkit dari kursi sambil kedua tangannya dihentakkan ke atas meja. Matanya membulat dan wajahnya mengeram menahan amarah.


“Kalo saya udah ngambil keputusan, siapapun nggak akan bisa mengubahnya,” jawab Rain sambil menatap ke arah Joey.


"Oke. Kalo itu mau Om! Aku terlalu bodoh karna berharap Om menjadi sadar!"


Gadis itu meraih gelas yang berisikan susu yang ada di depannya, lalu diteguknya dengan cepat sehingga rembesan susu tersebut keluar dari celah-celah antara gelas dan bibirnya. Rembesan susu tersebut meleleh menuruni dagu, leher hingga ke da da nya.


"Ck! Angry but still sexy. Oleander-ku memang seharusnya begitu," gumam Rain lirih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Setelah susu tersebut habis tak bersisa di gelas, Joey bergegas ke kamarnya dan mengunci pintu kamar tersebut.


...****************...


Tok ... tok ... tok ...


Rain mengetuk pintu kamar Joey. Tangan kanan pria itu bersembunyi di balik saku celana jogernya. Wajahnya terlihat sedang semrawut karena sedang memikirkan sesuatu.


Selang beberapa detik Rain mengetuk pintu kamar Joey, pintu tersebut terbuka dan sosok Joey perlahan terlihat di balik pintu itu.


Rain terperangah melihat Joey. Wajah datar yang selama ini tak pernah berganti ekspresi, kini berubah menjadi ekspresi bingung dan terheran-heran.


"Om nggak usah heran. Aku pake baju seperti ini biar Om nggak jelalatan!" repet Joey sambil menyilangkan kedua tangannya dan membuang muka dari Rain.


"Nggak panas?" tanya Rain penasaran.


Pria itu menatap Joey dari atas hingga bawah. Gadis itu benar-benar berusaha keras mencoba membentengi dirinya dengan mengenakan dress panjang sebanyak tiga lapis dan jaket bulu yang tebalnya hingga dua puluh lima senti. Ia juga tak lupa memakai shawl di kepala dan lehernya.


"Kan ada AC."


"Makanan ada di atas meja," ucap Rain datar. Pria itu memutarkan tubuh dan memasuki kamarnya.


Setibanya Joey di meja makan, mata gadis itu mengerjap-ngerjap melihat box ayam cabe ijo dari tempat langganannya. Bibirnya mengukir sebuah senyuman yang indah.


"Kirain mesum doang, ternyata lumayan care lah. Tapi tetep aja, aku nggak bakalan mau jatuh cinta sama om-om. Ih! Amit-amit!"


Lagi-lagi gadis itu mencebik sambil memasang wajah yang jijik ingin muntah membayangkan dirinya jatuh cinta pada pria yang sudah berusia tersebut.


Tak ingin membiarkan makanan kesukaannya keburu dingin, Joey langsung mencuci tangannya ke wastafel dan segera duduk untuk menyantap makan siangnya.


"Uhh! Pedes!" ucap Joey sambil mengkibas-kibas bibirnya menggunakan tangan kiri. Gadis itu mulai merasa tak nyaman dengan baju tebal yang ia gunakan, terlihat keringat yang mulai mengucur di dahinya dan ia juga merasakan tubuhnya mulai basah bermandikan keringat.


"Huh! Panas banget! Kalo nggak gara-gara pria mesum itu, aku nggak bakalan mau pake baju yang kayak gini!"


"Tadi katanya nggak panas," celetuk Rain yang tiba-tiba keluar dari kamar. Pria itu mengambil remot AC dan menekan tombol OFF.

__ADS_1


"Om! Kok dimatiin?!"


"Apartemen kamu?" sindir Rain sambil berjalan mendekatinya.


Joey terdiam tak dapat menjawab. Pria itu benar, apartemen ini miliknya dan Joey hanya menumpang di sana.


"O-Om mau ngapain lagi?" tanya Joey dengan tubuh yang tersentak ke belakang. Pria itu ternyata berjalan ke arahnya sambil mencondongkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke wajah Joey.


Rain tak bergeming, malah matanya menatap ke arah bibir Joey yang merah merekah karena kepedasan.


Joey yang sadar bahwa bibirnya sedang menjadi sasaran buaya lapar, tanpa berfikir panjang, ia bergegas melumuri bibirnya menggunakan cabe ijo.


"E mut aja kalo bisa! Udah aku lumurin cabe!"


Seketika Rain terbelalak. Ingin rasanya dia tertawa saat itu juga di depan gadis muda tersebut, namun ia berusaha menahan agar tawanya tak lepas. Sebaliknya, Rain malah ingin mengerjai gadis itu. Dia berlama-lama menatap bibir Joey yang dilumuri cabe ijo tersebut sehingga mimik wajah Joey berubah menjadi panik karena bibirnya mulai kepedasan.


"Om mau ke mana?" tanya Joey. Ia baru sadar saat melihat Rain mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih dilengkapi dengan dasi garis-garis merah biru.


"Ada urusan."


"Yaudah, Om buruan pergi ya, mau sampai kapan Om natapin bibir aku?"


Rain tak bergeming. Matanya masih terfokus pada bibir Joey yang sudah mulai kebas karena kepedasan.


"Om!!!" pekik Joey. Gadis itu tak lagi sanggup menahan pedas yang menguliti bibirnya. Ia bergegas mengambil tisu yang ada di meja dan mengelap bibirnya membuang cabe ijo yang melekat. Setelah itu, ia bergegas meraih segelas air putih yang ada di meja.


"Enak?" tanya Rain datar sambil menaikkan alisnya.


"Ck! Kalo bukan gara-gara Om, aku nggak bakalan sebodoh ini!"


Cup!


Rain menge cup bibir Joey yang sudah tak ada cabe ijo, lalu ia bangkit dan berdiri tegak. Pria itu mengambil sesuatu dari dalam kantong jasnya dan meletakkan ke atas meja.


"Pakai ini kalau kamu menghargaiku," ucap Rain dingin. Pria itu bergegas pergi meninggalkan Joey yang masih memiliki pertanyaan namun tak sempat ia ungkapkan.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2