OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Terima Kasih Oleander-ku Sayang


__ADS_3

..."Thank you, Oleander! Thank you! Aku bakalan jadi suami yang terbaik untukmu!" - Rain...


...🌸🌸🌸...


Pagi ini, tak ada mentari yang masuk melalui celah tirai kamar, pasalnya, awan sedang berkabung dan menangis. Entah kenapa, hujan begitu deras dan cuaca begitu dingin. Meskipun AC sudah dimatikan, dinginnya tetap menusuk hingga ke tulang, selimut hangat pun tetap tak sepenuhnya memberikan kehangatan. Tapi, Joey masih tertidur lelap di dalam pelukan hangat pria tampan itu.


Rain sudah bangun sejak tadi pagi, ia tak henti-hentinya mengamati wajah indah Oleander-nya yang sedang terlelap. Tak tahan hanya dengan menatap, pria itu membelai lembut pipi tembam milik gadisnya itu.


"Sangat indah," desis Rain pelan. Pria itu tersenyum dengan sangat tulus.


Karena sentuhan dari tangan kasar milik pria itu, tiba-tiba saja Joey tersadar. Gadis itu meregangkan tubuhnya dalam pelukan hangat pria itu.


"Ughh..." le ngu h Joey sambil perlahan membuka matanya. Ia mengucek mata lalu mengerjap-ngerjapkan mata.


Sosok pria yang sangat terobsesi padanya, kini berada di depannya. Ia juga merasakan sebuah tangan kekar yang sedang melingkar di pinggulnya dengan kaki berat pria itu yang sedang memeluknya di balik selimut.


"Morning, Sweetheart," sapa Rain lembut. Pria itu mengecup dahi Joey dengan penuh kasih sayang.


Joey hanya diam dan tak mengucapkan sepatah katapun. Saat ini, pikirannya masih bercampur aduk dan sangat kacau karena kejadian semalam. Ia juga dibuat tak tenang karena rahimnya yang dibuahi oleh pria itu. Apakah pembuahan semalam berhasil? Seketika tubuhnya bergidik ngeri.


"Dingin ya?" tanya Rain saat mendapati tubuh Joey bergetar. Pria itu mengeratkan pelukannya dan menempatkan kepala gadis tersebut di dadanya.


"Joey," panggil Rain lembut sambil mengusap-usap pelan kepala dan punggung gadis itu.


"Sehari setelah aku menikah dengan Anya, kita langsung nikah ya?" sambung pria itu lagi.


Joey langsung mendorong tubuh pria itu dengan sekuat tenaga sehingga ia terlepas dari pelukan. Tatapannya memanas di ruangan yang dingin itu, meskipun mulutnya tak berkutik, tetap saja bergetar karena menahan amarah.


"Kenapa? Bukankah sebentar lagi kamu hamil?" ucap Rain santai dan tanpa sedikitpun rasa bersalah. "Atau, kita nikah dulu baru setelah itu aku menikah dengan Anya."


"Ini masih pagi loh, Om!" ucap Joey dengan penuh penekanan. "Kenapa Om udah bahas ini pagi-pagi?!"

__ADS_1


"Pembicaraan ini harus dilakukan sekarang, karena hari ini aku harus ke kantor. Ada meeting yang nggak bisa aku tunda siang nanti," desak Rain.


Joey hanya menghela nafasnya. Ia bingung harus bagaimana dan mengambil tindakan apa? Karena setiap tindakan yang ia ambil untuk pergi meninggalkan pria ini selalu saja gagal dan tak pernah berhasil. Apa sebaiknya dia mengikuti dulu ucapan pria di depannya sambil ia memikirkan cara lain untuk membebaskan diri?


"Yaudah, mau Om sekarang gimana?" tanya Joey pasrah.


"Ayo kita nikah setelah aku menikah dengan Anya," ajak Rain antusias.


"Baiklah," jawab Joey singkat. Gadis itu sudah lelah berdebat dengan pria yang sedang digilakan oleh obsesinya sendiri. Cara terbaik untuk menyelamatkan diri saat ini adalah dengan menyetujui dahulu perkataan pria ini sambil ia mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri.


"K-kamu serius?!" tanya Rain dengan mata terbelalak. Pria itu langsung bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap Joey yang masih terbaring di atas ranjang.


"Hmm," Joey hanya mendehem dan mengangguk pelan.


"Emang kalo aku bilang nggak, Om bakalan biarin? Yang ada aku malah babak belur lagi!" gerutu Joey dalam hati.


Rain bergegas meraih tubuh Joey yang masih terbaring itu ke pelukannya. Pria dingin itu mendadak bahagia dengan wajah yang girang dan berseri-seri. Rain memeluk tubuh ringkih gadis kecil itu dengan sangat erat, lalu ia tak henti-hentinya menciumi wajah gadis itu.


Rain kembali mendorong tubuh Joey, lalu menatap lekat ke arah bola mata bulat gadis itu.


"Malam ini kita dinner," ucap Rain. "Aku akan menjemputmu setelah aku pulang kerja."


Lagi-lagi Joey hanya mengangguk mengiyakan dengan pasrah. Hatinya mendadak pilu melihat kebahagiaan yang terpancarkan dari pria yang berusia tiga puluh dua tahun itu. Ia merasa bersalah karena kebahagiaan itu hanyalah kebahagiaan sepihak, karena ia tak dapat merasakan bahagia, melainkan sedih karena harus menjadi istri kedua dan statusnya adalah istri simpanan.


"Om?" panggil Rain.


Rain meraih kedua tangan Joey. Di ciumnya tangan gadis itu silih berganti. "Iya, Sayang?"


"O-Om, bahagia?" tanya Joey ragu.


"Of course! Aku nggak pernah sebahagia ini sebelumnya!" ucap Rain sambil menatap lekat ke arah Joey. Pupil matanya yang membesar dengan lengkungan di bibir yang tak pernah berubah menunjukkan senyuman yang lebar.

__ADS_1


Mendengar ucapan jujur dari pria itu, Joey mendadak menggigit bibirnya dan terpaksa tersenyum, meskipun senyumnya terkesan sangat tidak tulus. Ia merasa sangat bersalah, seperti sedang mempermainkan perasaan seorang pria yang ternyata benar-benar mencintai dan menyayanginya, terlebih lagi pria itu merupakan pelita dalam hidupnya yang kelam selama ini. Tanpa pria itu, mungkin kini hidupnya menjadi pemulung atau Kupu-Kupu Malam dan jauh dari kata berkecukupan.


"Maaf, Om. Aku mengecewakan Om, padahal selama ini Om udah sangat berjasa dalam hidupku, aku ngerasa berdosa banget karna menjadi munafik seperti ini," batin Joey lirih.


Rain memegang perut Joey, sorot matanya ke arah perut gadis itu.


"Sebentar lagi, ada makhluk kecil yang akan hadir di sini," gumam Rain.


"Aku nggak sabar melihat perutmu buncit karena mengandung anakku," sambungnya lagi.


Joey mendadak menelan salivanya. Kerongkongannya tiba-tiba menjadi kering mendengarkan ucapan pria itu.


"Om, gimana masa depan ku nanti?" tanya Joey disela-sela kebahagiaan pria itu. Gadis itu sengaja bertanya dan penasaran akan jawaban yang akan diberikan oleh pria itu.


"Katakan, apa yang kamu inginkan? Perusahaan? Aku akan membuatmu menjadi pemiliknya," ucap Rain antusias.


"Tapi, aku masih pengen lanjut kuliah."


"It's okay, kuliah aja, sayang," Rain membelai lembut pipi Joey.


"Terus, nanti kalo perutku buncit?"


"Ambil cuti. Lalu setelah melahirkan, kamu bisa melanjutkan lagi kuliahmu. Kalau nggak, aku akan membayar kampus itu agar kamu tetap lulus walaupun nggak kuliah," jawab Rain spontan.


"Siapapun yang mempersulit Oleander-ku, mereka akan berhadapan denganku. Jadi kamu nggak usah khawatir."


Pria itu benar-benar mempermudah semua yang ada di benaknya. Dipikirannya, semua yang ada di dunia ini bisa dibeli dan diselesaikan dengan uang. Benar-benar pemikiran orang kaya yang tak tau bagaimana kerasnya hidup!


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2