
..."Besok, ayo kita daftarkan pernikahan kita. Aku ingin menjadikanmu seutuhnya milikku." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Sinar matahari yang nyentrik mengusik kelopak mata Joey. Meskipun Rain telah menutup tirainya, tetap saja cahaya silau itu masuk menyelinap mengganggu pulasnya tidur Joey. Gadis itu mengucek-ngucek matanya dan melihat ke arah sekeliling. Ia memegang kepalanya yang sakit akibat pengarnya yang belum hilang.
"Om Rain?" panggilnya lirih. Nama yang selalu ia sebut dan sosok yang selalu ia cari saat pertama kali ia membuka mata.
"Om..." panggilnya lagi saat tak ada satu pun jawaban yang ia dapatkan.
Joey duduk dari tidurnya, kemudian ia melihat sekujur tubuhnya yang penuh dengan bekas-bekas memerah yang Rain berikan.
"Ck! Nggak bisa jalan belum tentu nggak bisa bercinta. Dasar Om Mesum!" umpat Joey sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya mengingat kebringasan pria itu di sela-sela pengarnya.
Joey menuruni ranjang dan menapaki lantai. Saat ia berdiri, tiba-tiba ia terpaku saat merasakan derasnya aliran air yang keluar dibalik selang.kangannya. Air tersebut perlahan turun merembes ke paha hingga kakinya dan kini menetes satu per satu ke lantai.
"B-banyak b-banget!!!" Joey tersentak kaget begitu mengetahui bahwa cairan yang keluar dari selang.kangannya itu merupakan ****** milik pria itu. Tapi, bagaimana bisa sebanyak itu? Bukankah mereka bercinta hanya sekali? Apa jangan-jangan pria itu menyetubuhinya lagi saat ia tidur?
Joey bergegas menyambar jubah mandi yang tergantung di balik pintu kemudian ia pakaikan ke tubuh, lalu ia mendekati meja rias di mana ada tisu di sana. Ia bersihkan selang.kangannya yang tadi sempat becek akibat cairan sper..ma yang berjatuhan.
"Sshh..." desisnya saat merasakan perih di antara kedua pahanya. Sepertinya benar bahwa ia disetubuhi berkali-kali.
"Pukul lima lewat?!!!" Joey terbelalak saat melihat jam. Sepertinya dia benar-benar tertidur dengan pulas. Ia menghela napasnya kemudian memijat-mijat kepalanya mencoba mengembalikan kesadaran. Seingatnya, tadi ia tidur pukul satu kurang.
"Ah! Bodo!" gumamnya.
Setelah ia membersihkan kakinya, ia membuang tisu ke tong sampah kecil yang tersedia di samping meja rias, kemudian ia keluar dari kamar melihat sekeliling. Ia ke kiri di mana ada dapur dan meja makan. Tak ia temukan sosok pria itu. Kemudian ia ke kanan, di mana ruang tengah berada, tak juga ia temukan pria tersebut.
Joey menuju ruang tengah, berdepanan dengan pintu lift. Ia melihat ke sekeliling. Matanya terusik ke arah sosok pria yang berada di balkon. Sosok tersebut samar-samar terlihat akibat tirai pintu balkon meliuk-liuk gemulai karena sentuhan angin sore.
__ADS_1
Dengan perlahan, Joey berjalan mendekati pria itu.
"Hmm... cari tahu tentang Sara Walters, wanita yang ingin Papa jodohkan denganku," ucap Rain pada seseorang di telfonnya.
Joey terdiam. Ia terkejut setengah mati saat mendengarkan nama yang tak asing tersebut. Bukankah Sara Walters merupakan penyanyi terkenal tanah air yang merupakan artis papan atas. Apakah wanita tersebut akan menjadi saingannya nanti?
"Cari tahu semua kekurangan dan kelebihannya," ucap Rain lagi. Tak lama kemudian, Rain memutuskan panggilan tersebut dan ia memutarkan kursi rodanya ingin masuk ke dalam penthouse.
"Joey?" panggil Rain yang tiba-tiba kaget melihat gadisnya mematung dipintu.
"Om..." ucap Joey dengan suara yang berat. "Sara Walters yang ada dipikiranku saat ini, orang yang sama 'kan?"
Raim mengangguk pelan sambil menggerakkan roda kursinya agar berjalan mendekati Joey. Ia meraih tangan gadis itu, kemudian ia dudukkan gadis itu ke atas kursi rodanya tepat di atas pangkuannya.
"Om?" panggil Joey lagi sambil menatap ke arah Rain yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Rain menggerakkan kursi roda tadi menuju balkon. Kini mereka berdua sedang menatap langit sore yang luas dihiasi burung-burung yang sedang berterbang ria tanpa beban.
"Hmm... Sara Walters penyanyi terkenal itu," ucap Rain sambil menatap ke arah Joey.
"Terus ..." Joey tak melanjutkan ucapannya. Dadanya terasa sesak saat membayangkan rivalnya yang begitu cantik, cerdas dan kaya. Sepertinya tak ada celah untuknya bersaing dengan wanita sempurna seperti itu.
"D-dia 'kan sempurna," lanjut Joey dengan susah payah.
Rain tertawa pelan sambil menghela napasnya. Ia membelai lembut pipi tembam Joey.
"Karna dia sempurna, mana mungkin dia mau sama pria cacat seperti ku?" ucap Rain meyakinkan gadisnya.
"T-tapi ... Om 'kan kaya?"
__ADS_1
"Memangnya dia nggak kaya?" tanya Rain sambil menaikkan alis kananya.
Joey terdiam. Ada kekhawatiran yang menggelitiki dadanya. Perasaan cemas dan takut bahwa bisa saja wanita itu menerima kekurangan Rain? Meskipun Rain terkenal bengis dan dingin, tapi setelah mengetahui sisi lembut pria itu, wanita manapun pasti jatuh dan bertekuk lutut padanya.
"Besok, ayo kita daftarkan pernikahan kita," ajak Rain tanpa basa basi. "Aku ingin menjadikanmu seutuhnya milikku."
Joey terbelalak mendengar ajakan pria itu. Pasalnya, ia tak menyangka bahwa mereka akan segera melangsungkan peresmian pernikahan. Pikirnya, ia harus menunggu sedikit lebih lama untuk meresmikan hubungan suami istri tersebut.
"Maaf, aku belum bisa memberikan pesta yang indah untukmu," sesal Rain dengan rasa yang bersalah.
"Nggak apa-apa. Di akui secara sah aja aku udah sangat bahagia! Apalagi ada dokumen yang dikeluarkan oleh negara!" sergah Joey girang.
"A-aku bakalan j-jadi ... istri Om, 'k-kan?" ucap Joey terbata-bata.
Rain menghela napasnya lega. Pikirnya, gadis itu tak menerima tawarannya untuk menikah diam-diam. tapi ternyata, hanya dengan langkah kecil seperti itu saja sudah membuatnya begitu bahagia.
"I love you, Om!" seru Joey sambil mendekatkan bibirnya ingin mencium pria itu. Namun Rain menjarakkan wajahnya dari wajah Joey sehingga gadis itu terperangah dan mengernyitkan dahi.
"K-kok ...." Joey merengut cemberut.
"I love you, istriku sayang ...." ucap Rain sambil mendaratkan sebuah ciuman yang hangat ke dahi Joey, lalu ia menciumi kedua pipi gadis itu serta bibir gadis itu.
Joey tak mampu menahan tawa gelinya saat mendengarkan ucapan pria tersebut. Ucapan yang terdengar begitu romantis di senja kali ini.
Joey melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu.
"Aku mencintaimu juga ... suamiku sayang," lirih Joey pelan dengan wajah yang memerah akibat menahan malu. Kemudian ia membalas ciuman pria itu dengan penuh kasih sayang.
Keduanya saling meluapkan cinta yang mereka miliki di balkon pada senja hari itu. Bertemankan kicauan burung yang menghantarkan kepergian senja bersamaan dengan sentuhan angin yang sepoi-sepoi. Kedua orang yang sedang dimabuk asmara tersebut saling berpelukan mesra sambil sesekali tertawa cekikikan akibat malu karena ciuman yang begitu bersemangat.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...