
...“Sayang ataupun Om, itu hanyalah sebuah panggilan. Dengan berjanji untuk selamanya di sisiku, itu sudah lebih dari cukup.” - Rain...
...🌸🌸🌸...
“Iya, kalo ada apa-apa, aku bakalan segera kabarin, Om,” ucap Joey sambil tersenyum dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
Cuaca pagi itu benar-benar mendukung suasana romantisnya pengantin baru. Sampai-sampai kopi hangat Rain berubah menjadi dingin.
“Om,” panggil Joey manja.
Rain diam dan tak menyahut. Padahal, pria itu mendengarkan istrinya memanggil.
Merasa aneh karena suaminya tak menyahut, Joey lagi-lagi mendongak melihat Rain.
“Ish, Om!” rengek Joey manja sambil mencubit pen.til susu suaminya.
“Aduh!” ringis Rain sesaat setelah dadanya dicubit oleh sang istri.
“Siapa suruh mendiamkan ku? Hemm?” kecam Joey dengan mata yang ia buat melotot ke arah Rain.
Rain mendekatkan wajahnya ke arah wajah Joey, kemudian hidung mancung mereka saling bersentuhan dan saling bertabrakan. Rain mendaratkan sebuah kecupan ke bibir istrinya.
“Berhenti memanggilku, Om,” pinta Rain lirih dan terdengar seperti berbisik. Kini, dahi mereka saling menempel dan mata yang saling menatap lekat.
“Terus, aku panggil apa?” tanya Joey sambil tersenyum simpul. Gadis itu tak mampu menahan debaran di dadanya saat wajah mereka begitu dekat dan mata mereka saling terpaut antara satu sama lain. Rasanya begitu hangat dan menyenangkan.
“Sayang,” bisik Rain dengan suara baritonnya yang seksi.
Sekujur tubuh Joey dibuat bergetar saat Rain mengatakan ‘Sayang’. Hanya sebuah kata, tapi kenapa cukup menggetarkan hati? Apa karena suara bariton pria itu yang begitu seksi di pagi yang romantis ini? Atau, karena dia harus membiasakan diri memanggil pria itu dengan sebutan ‘Sayang’? Padahal, sebelumnya ia tak seperti ini saat memanggil Ace dengan sebutan ‘Sayang’. Lalu kenapa lidahnya mendadak kelu saat mengganti panggilan ‘Om’ berubah menjadi ‘Sayang’? Meskipun ia pernah memanggil Rain dengan sebutan ‘Om-ku Sayang’, ‘Suamiku Sayang’, itu berbeda dengan hanya sebuah kata ‘Sayang’. Kata yang begitu mesra dan memiliki berjuta arti.
“Sweetheart?” panggil Rain membuyarkan lamunan Joey.
__ADS_1
“E-eum … i-iya, Om,” sahut Joey gelagapan.
Rain mendelik ke arah istrinya. “Om?”
“Ih … jangan menggodaku!” rengek Joey malu. Wajahnya yang putih tanpa riasan itu dibuat merona karena malu. Padahal, Rain tidak sedang menggodanya. Tapi gadis itu berargumen bahwa ia sedang digoda. Tingkah kekanakannya belum sepenuhnya hilang!
“Call me, Honey. Hemm?” Rain menyentakkan kedua alisnya sesaat. Ia berharap istrinya dapat memanggilnya dengan panggilan yang lebih mesra. Ketimbang memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Memangnya, dia Om gadis itu? Apa ada seorang paman menikahi keponakannya? Haa… membuatnya frustasi saja, pikir Rain saat itu.
“Akan ku pikirkan,” gumam Joey sambil memalingkan wajahnya dari Rain.
Sebenarnya gadis itu malu memanggil pria itu dengan mesra. Pasalnya, jarak usia mereka yang terpaut jauh, bukan karena alasan lain. Hanya saja, kelakuan gadis itu malah disalah artikan oleh Rain. Pria itu beranggapan bahwa istrinya enggan memanggilnya dengan sebutan yang mesra karena merasa tak nyaman.
Haaa… kelakuan mereka berdua sungguh membuatku frustasi sebagai author novel ini!
“Yaudah,” ucap Rain singkat. Pria dewasa ini berkecil hati dan ia juga tak lagi memaksa gadis itu memanggilnya dengan mesra.
“Mandilah,” suruh Rain dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Ia melonggarkan pelukannya yang semula erat. Kini tatapan pria itu kembali tertuju pada rintikan hujan yang masih belum menemukan titik bosan karena langit yang tak kunjung berhenti menangis.
Joey yang menyadari kelakuan sang suami yang mendadak dingin, ia paham betul dengan situasi yang ia hadapi saat ini. Entah kenapa, hatinya semakin tergerak untuk menggoda pria yang sedang merajuk itu.
Rain tak berkutik. Pria cuma menaikkan alisnya sebagai isyarat bahwa dia sedang mendengarkan.
“Nggak apa-apa ya kalo aku panggil Om?” tutur Joey sambil menahan mimik wajahnya yang ingin tertawa.
“Hmm…” dehem Rain acuh tak acuh. Ia mengeluarkan tangannya dari selimut dan meraih secangkir kopi yang telah dingin tadi, lalu ia menyeruput kopi dingin itu.
“Om ngambek?” tanya Joey pura-pura tak tahu.
Rain menoleh ke arah Joey sambil mengernyitkan keningnya dengan mimik wajah yang kecut, kemudian pria itu kembali membuang pandangannya dari Joey dengan sangat natural.
“Untuk apa aku ngambek?” ketus Rain dingin.
__ADS_1
“Karna aku panggil Om,” celetuk Joey dengan antusias.
Rain menghela napasnya. Ia merasa kesal karena sedari tadi ia sakit hati sendiri. Siapa suruh menaruh harapan pada gadis yang usianya empat belas tahun jauh di bawahnya? Jadi kecewa sendiri bukan? Cintanya dibalas saja sudah sangat beruntung. Kenapa ia harus berharap lebih? Akhirnya, Rain memutuskan untuk tak mempedulikan panggilan sayang itu lagi. Baginya, gadis itu mau menjadi istrinya sampai tua saja sudah sangat cukup. Jadi, apa lagi yang ia harapkan?
“Ayo sarapan,” ajak Rain sambil menghela napas lagi dan memaksakan senyumannya ke arah Joey. Meskipun hatinya masih dongkol.
Rain mengecup lembut dahi Joey. Ia berharap, dengan kecupan sayang itu, perasaan kesal dan dongkolnya akan segera lenyap. Karena ia tak ingin hari-hari bahagia ini di lewati dengan perasaan yang tak nyaman.
“Aku mencintaimu, Sweetheart,” tutur Rain hangat sambil menatap ke arah Joey. Hatinya mencair dan perasaan kesalnya seketika hilang.
“Sayang ataupun Om, itu hanyalah sebuah panggilan. Dengan berjanji untuk selamanya di sisiku, itu sudah lebih dari cukup,” sambungnya sambil membelai lembut pipi Joey.
Lagi-lagi wajah Joey merona dan kini semakin memerah saat mendengarkan ungkapan romantis dari pria itu. Ia tak menyangka bahwa sang suami akan mengatasinya dengan lapang dada dan tanpa pertengkaran. Bagaimana bisa ada pria yang sesempurna ini? Tampan, kaya, penyayang dan penuh cinta. Bodoh jika ia mensia-siakan pria seperti ini di hidupnya.
Joey mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu. Kemudian, tatapannya ia fokuskan pada pria yang kini sedang memangku tubuhnya. Dengan wajah yang bahagia dan senyum yang kian melebar terukir di wajah, ia mengatakan dengan pelan.
“Aku juga mencintaimu ….”
“Sayang,” sambungnya setelah beberapa detik berlalu karena mengumpulkan keberanian untuk menyebutkan satu kata mesra tersebut.
DUARRR!!!
Sesaat setelah Joey mengatakan ‘Sayang’, bunyi keras dentuman petir dan gemuruh mengejutkan keduanya dari suasana yang romantis itu. Rain yang sempat terkesima akibat panggilan mesra dari sang istri, ia dibuat tersentak kaget mendengarkan bunyi petir yang begitu kuat.
Sama halnya dengan Joey. Gadis itu tersentak kaget sambil memegang kedua telinganya dan bersembunyi di dalam selimut tepat di dada Rain. Ingin rasanya ia tertawa saat itu juga. Sudah susah payah ia mengumpulkan niat memanggil suaminya dengan panggilan mesra, tapi semesta malah menjahili mereka.
“Ulang lagi apa yang kamu ucapkan tadi?” pinta Rain sambil melihat gadisnya yang sedang meringkuk di dalam selimut.
“Ih! Nggak mau!” rengek Joey manja sambil menutupi mukanya yang malu.
Rain terkekeh melihat tingkah menggemaskan Oleander-nya itu. Kini ia paham, gadis itu bukannya enggan memanggilnya dengan panggilan mesra, hanya saja ia sangat malu untuk menyebutnya. Mungkin, ia akan membuat gadis itu terbiasa dengan panggilan ‘Sayang’?
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG…