OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Sebatas Cinta Satu Malam


__ADS_3

..."Sudahlah. Ini hanya cinta satu malam. Just go and forget it." - Zea...


...🌸🌸🌸...


Seperti yang diketahui bersama, cuaca pagi itu sangat mendukung siapapun untuk menarik kembali selimut mereka dan melanjutkan mimpi indah yang belum selesai.


Tak beda dengan Harry. Pria bujang lapuk yang berusia tiga puluh tiga tahun itu juga sama. Ia sedang berada di atas ranjang dan berada di dalam selimut yang sama dengan Zea, sahabat Joey. Keduanya sedang lelap dan saling berpagutan dengan sangat mesra.


Cuaca yang begitu dingin, membuat tubuh kedua manusia itu menggigil. Apalagi, tak ada satupun busana yang melekat ditubuh mereka.


Harry yang kini sedang memeluk erat tubuh mungil Zea, tanpa membuka mata walau sekejap, ia menarik selimut menutupi tubuh mereka sebatas leher dan kembali membawa tubuh gadis kecil itu ke pelukannya.


Sesaat setelah Harry menarik selimut, secara bersamaan kedua mata mereka terbuka dengan paksa. Mereka saling melihat ke arah satu sama lain dengan tatapan yang terheran-heran, lalu mereka juga saling memeriksa tubuh mereka yang kini tanpa mengenakan sehelai busanapun yang melekat.


“Om Harry?!”


“Zea?!”


Zea langsung mendorong tubuh kekar berotot Harry agar menjarak darinya. Kemudian ia bergegas bangun dari tidurnya dan duduk. Ia juga tak lupa menutupi dadanya menggunakan selimut.


Begitu juga dengan Harry. Pria itu bergegas bangkit dari tidurnya dan memposisikan duduknya mengarah Zea. Secara refleks, ia memegang kepalanya yang sakit akibat masih pengar dan bangun secara kaget.


"Z-Zea ..." ucap Harry gelagapan. Ia bingung harus memulai dari mana. Yang jelas, ia sangat tak menyangka peristiwa apa yang telah mereka lewati malam tadi sampai-sampai pagi ini mereka tak mengenakan sehelai busana.


"A-aku a-"


Drrttt.. Drrrttt...


Pembicaraan Harry tak terselesaikan saat ponselnya bergetar. Ia menoleh ke meja kecil yang ada di samping ranjang. Nama Rain tertera di ponse tersebut.


"Sebentar," ucap Harry sambil meraih ponselnya dan menjawab panggilan Rain.


"Halo, Pak?"


^^^"Kamu masih di hotel ini, 'kan?"^^^

__ADS_1


Pertanyaan Rain membuat Harry mendadak menelan salivanya. Ia semakin dibuat ketakutan jika sampai atasannya itu tau bahwa ia telah bermalam dengan gadis kecil yang merupakan sahabat istri atasannya.


^^^"Harry?"^^^


"I-iya, Pak," jawab Harry gugup. Rasa pusing yang semula mengusik kepalanya tiba-tiba saja hilang. Namun digantikan dengan rasa cemas dan takut. Bagaimana jika Rain memecatnya? Lalu, ia menjadi pegawai blacklist sehingga tak diterima di perusahaan manapun.


^^^"Ke penthouse."^^^


^^^"Ada yang ingin ku bicarakan."^^^


"B-ba-baik."


^^^"Hei, ada apa denganmu?"^^^


^^^"Dari tadi menjawabku dengan suara yang terbata-bata."^^^


"Ti-tidak, Pak."


"Saya akan segera ke sana."


"Zea, tunggu aku sebentar. Ya?" pinta Harry dengan wajah yang pucat pasi. "Jangan pergi sampai aku kembali."


Zea tak berkutik. Gadis itu hanya diam seribu kata. Ia merasakan perasaan de ja vu. Sepertinya situasi ini tak asing baginya.


Harry bergegas meraih boxernya yang ada di samping ranjang tanpa turun, kemudian ia memakai boxer tersebut di dalam selimut. Setelah ia selesai memakai boxer, ia turun dari ranjang dan menapaki lantai.


Tanpa mandi atau sekedar cuci muka, Harry langsung memakai celana abu-abu dan kemeja biru langitnya yang berserakan di lantai. Ia juga melihat pakaian dalam milik wanita yang berserakan di lantai. Tanpa harus mencari tahu, bukankah sudah jelas siapa pemiliknya? Wajah Harry dibuat merona melihat pakaian dalam yang berserakan tersebut. Tapi ia tak memiliki waktu untuk itu sekarang. Ia harus segera ke penthouse!


Zea, gadis berkulit kuning langsat dengan rambut coklat sebatas dada yang sedari tadi tak bergerak bahkan mengucapkan sepatah katapun, ia hanya menunduk malu saat menyadari bahwa pakaian dalamnya yang berwarna lilac itu berserakan di atas lantai.


"Aku pergi bentar, ya?" ucap Harry membuyarkan lamunan gadis yang di atas ranjang tersebut. "Tolong jangan ke mana-mana."


"Aku akan bertanggung jawab," sambung Harry sambil berjalan menuju pintu. Namun ia berjalan mundur karena melihat dan berbicara dengan Zea.


Zea hanya mengangguk pelan mengiyakan ucapan Harry. Pasalnya, ia masih shock dan sedang mencoba mengingat-ingat kembali kepingan-kepingan peristiwa yang telah ia lewati dengan Harry semalam. Bagaimana bisa sampai seperti ini?

__ADS_1


Harry keluar dari kamar hotel mewah tersebut dan bergegas menuju lift untuk menemui Rain. Tak lama kemudian, ia tiba di penthouse milik pengantin baru tersebut. Lalu ia menekan bel agar pintu yang mengarahkan masuk ke penthouse di buka dari dalam. Meskipun lift tersebut langsung mengarah ke penthouse, tetap saja ada sebuah ruang kecil yang menjadi tempat letak sepatu atau alas kaki. Agar tamu yang datang tak langsung bisa masuk ke penthouse tersebut.


"Om Harry," sapa Joey dengan wajah yang girang. "Masuk dulu Om."


"Om Rain lagi di kamar mandi."


Akhirnya, Harry memutuskan untuk menunggu Rain di ruang tamu. Ia dibuat gusar sambil terus-terusan melirik jam di layar ponselnya. Sekujur tubuhnya berkeringat di cuaca yang dingin itu.


"Om mau kopi?" tanya Joey sambil berjalan ke arah dapur.


"Nggak. Aku akan segera pergi setelah berbicara dengan Pak Rain," tolak Harry sopan dengan wajah yang pucat sembari memaksakan senyum.


Lagi-lagi ia melirik ke jam di ponselnya. Sepuluh menit telah berlalu. Rain tak kunjung keluar. Ia pun bangkit sambil mondar-mandir bak setrika panas. Lima belas menit telah berlalu. Pria yang ia tunggu-tunggu tak juga terlihat. Apa ia pergi saja dulu? Lalu nanti kembali lagi ke penthouse?


"Hei, Harry." Panggil Rain yang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kursi rodanya.


"Mau ke mana?" tanya Rain penasaran. Pasalnya, pria bertubuh tegap berkulit sawo matang namun tampan itu sedang menuju ke arah lift.


"T-ti-tidak, Pak," tutur Harry sambil memutar kembali tubuhnya dan berjalan kembali menuju ruang tamu.


...****************...


Di waktu yang sama, sesaat setelah Harry pergi meninggalkan kamar yang mewah tersebut. Zea menghempaskan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Lalu tatapannya menerawang jauh sambil mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi semalam.


"Haaa... Zea... Zea..." gumam gadis itu dengan tatapan yang kosong. "Mau jadi piala bergilir?"


"Kejadian dengan Kak Bryan apa tak membuatmu jera?" kutuknya pada diri sendiri.


Ia pun bergegas bangkit dari tidurnya dan duduk. Lalu ia menuruni ranjang dan menapaki lantai. Dipungutnya semua pakaiannya yang berceceran di lantai, lalu ia bergegas mengenakan pakaian tersebut.


Dengan perasaan yang menyesal karena telah terlibat cinta satu malam lagi dengan pria yang berbeda, ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan hotel tersebut tanpa berpamitan dengan Joey. Ia merasa sangat menyesal karena mempercayai kesuciannya pada Kak Bryan, ternyata ia dicampakkan. Begitu juga dengan Om Harry, 'kan? Tetap saja ia dicampakkan setelah dipakai? Tak ada gunanya ia menunggu. Ia tak ingin semakin menyesal ketika mendengarkan bahwa pria itu akan bertanggungjawab tapi hanya sebatas uang. Memangnya, ia butuh uang? Orangtuanya mampu menyediakannya uang tanpa ia harus bekerja sampai tua sekalipun.


"Sudahlah. Ini hanya cinta satu malam. Just go and forget it," gumamnya lirih sambil pergi meninggalkan kamar tersebut.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2