
..."Jadi ... berapa ronde dalam sehari selama di sana?" ...
..."Udah nyobain berapa gaya?!"...
..."Apa jangan-jangan kalian nggak keluar kamar sama sekali selama enam hari?!"...
...- Rain -...
...🌸🌸🌸...
Tiga hari telah berlalu. Di ruangan penthouse yang megah itu, tepatnya di ruangan kerja, Joey terlihat sedang fokus menatap buku sambil bibirnya bergerak-gerak karena membaca tanpa bersuara.
Gadis itu terlihat mengenakan kaos longgar berwarna putih milik suaminya dengan rambut yang dikuncir model messy bun. Ada sebuah pensil yang ia sangkutkan di telinganya.
Rain menggoyangkan roda kursinya memasuki ruangan.
"Om!" panggil Joey saat menyadari suaminya masuk ke dalam ruangan tersebut. "Ada yang aku nggak ngerti."
Rain tersenyum sambil mendekat ke arah istrinya. Kemudian ia menjelaskan hal-hal yang Joey tanyakan dengan terperinci dan mudah difahami.
Kurang lebih satu jam berlalu. Joey mulai lelah dan menidurkan kepalanya ke atas meja dengan kedua tangan yang menjuntai ke bawah.
"Cape, Om..." gumamnya lirih.
TING TONG!
"Nah ... pas banget," Rain beranjak dari sisi gadis itu. "Bentar ya, aku punya sesuatu untukmu."
Joey menatap heran tubuh suaminya yang perlahan menghilang dari pandangannya. Memangnya, pria itu mau ngasih apa?
Tak membutuhkan waktu yang lama, Harry masuk ke ruangan tersebut sambil membawakan beberapa paperbag. Pria itu juga masuk sambil mendorong kursi roda Rain secara bersamaan.
__ADS_1
"Om Harry?!" seru Joey sambil memposisikan tubuhnya duduk.
"Kasih aja ke orangnya langsung," tutur Rain pada Harry.
Tanpa berlama-lama, Harry langsung memberikan paperbag yang ia tenteng tadi. Joey langsung mengambil beberapa paperbag yang Harry bawakan.
"Wahhh ... gelato!!!" Joey tampak girang saat melihat ada es krim gelato di dalam paperbag tersebut.
"Ini 'kan rasa favorit aku! Vanila choco chip biscuit!" seru Joey dengan mata berbinar-binar. Rasa lelahnya yang tadi membuatnya tak bersemangat, kini berubah. Gadis itu kegirangan sambil tersenyum dengan lebar.
"Makasi, Om Harry!" seru Joey.
Harry membulatkan matanya. Ia merasa bersalah. "Makasihnya bukan ke saya."
"Om Rain?" dahi mulus Joey mengkerut. Kemudian ia menoleh ke arah suaminya. Gadis itu langsung berdiri dan mendekati suaminya yang ada di atas kursi roda. Kemudian ia memeluk tubuh suaminya tersebut. "Makasiii!!!"
"Paperbag yang satu lagi nggak di buka?" tanya Rain penasaran.
"Ih! Makasih loh, Om!" seru Joey sambil melihat ke arah Harry.
Mereka bertiga pun tertawa bersama karena ruangan tersebut yang penuh dengan suara lentingan Joey, gadis muda itu.
"Om Harry sama Om Rain ke ruang tamu aja ya, aku bikinin minuman," ucap Joey sambil mendorong kursi roda suaminya.
Setelah mendorong kursi roda suaminya ke ruang tamu, Joey bergegas ke dapur dan membuat kopi untuk dua pria di luar. Ia juga tak lupa mengeluarkan beberapa cemilan yang ada di sana. Lalu membawakan semua makanan dan minuman tadi ke ruang tamu di atas satu nampan.
Harry meraih cangkir kopi yang tadi telah disodorkan oleh Joey. Kemudian ia menyeruput kopi hangat tersebut.
"Jadi ... siapa sih cewe yang mende.sah kemaren ini, Om Harry?" celetuk Joey tanpa basa basi.
"Uhukk ... uhukk ..." Harry tersedak dari minumnya. Ia bergegas menyeka bibirnya yang kepanasan karena terkena kopi hangat. Wajahnya yang semula bersinar-sinar seperti penganti baru yang pulang bulan maduk mendadak gugup dan berubah pucat.
__ADS_1
"Oh ... i-itu-"
"Karyawan Ravindra Group? Atau client?" potong Rain penasaran. Entah kenapa, ia pun ingin tahu gadis mana yang berhasil mencuri hati pria dingin yang merupakan salinan dirinya. Pria yang cuek dan tak pernah tertarik dengan sesuatu yang berhubungan cinta.
"Jadi ... berapa ronde dalam sehari selama di sana?"
"Udah nyobain berapa gaya?!"
"Apa jangan-jangan kalian nggak keluar kamar sama sekali selama enam hari?!" celetuk Rain tak sabar. Ia memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi tanpa henti. Sejak kapan ia menjadi julid seperti itu.
Harry tertawa kesengsem akibat pertanyaan bertubi-tubi dari atasannya itu. Tak dapat ia pungkiri, benar bahwa ia menggagahi Zea tanpa mengenal bosan dan lelah saat di Bali selama enam hari. Meskipun mereka diberikan waktu enam hari di sana, hanya satu setengah hari yang mereka gunakan untuk menikmati udara segar Bali dan mengunjungi beberapa tempat untuk bertamasya. Selebihnya? Mereka gunakan untuk bercinta!
"Ish, Om! Jangan bikin malu deh!" Joey merenggut saat mendengarkan pertanyaan suaminya yang berkonotasi mesum itu. Pria itu benar-benar membuatnya frustasi. Apa tak ada hal lain selain pikiran-pikiran mesum yang berseliweran di kepalanya?
"Hahaha... saya akan mengenalkan dia jika saatnya telah tiba," gumam Harry pelan sambil tersenyum. Saat ia mengatakan hal tersebut, pupil matanya membesar. Ia sedang membayangkan wajah Zea yang ia cintai.
"Om Harry mau nikah?!" seru Joey antusias. Ia yang sejak tadi duduk di samping Rain sambil sibuk menyuapi mulutnya dengan es krim gelato, dibuat tersentak kaget saat mendengarkan ucapan Harry.
"Benar. Saya akan menikah di waktu dekat ini," tutur Harry tanpa basa-basi. "Rasanya, berpisah sedetik saja terasa lama."
"Woooo... ini beneran Om Harry, 'kan?" tanya Joey penasaran.
Rain juga yang sedari tadi sibuk menanyakan beberapa hal tanpa henti, ia dibuat terperangah dan terdiam saat mendengarkan ucapan Harry. Tapi setelah itu ia tersenyum.
"Pertahankan gadis yang berhasil mencuri hatimu itu," gumam Rain lirih dan penuh penghayatan.
"Dia akan menjadi kunci kebahagiaanmu. Seperti Oleander-ku ini."
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1