
..."Kamu harus lupain bagaimana rasa bibir pria itu!" - Rain...
...βπ»βπ»βπ»...
"Ugh!" lenguh Joey sambil meregangkan tubuhnya. Gadis itu meraih teddy bear coklat yang ada di sampingnya, lalu dipeluknya teddy bear tersebut.
"Astaga!" pekik gadis itu sambil membuka paksa matanya. Ia langsung duduk dari tidurnya.
"Lima menit?! Lima menit apaan! Ini mah delapan jam! Dasar gadis pemalas!" gadis itu mengutuk dirinya sendiri yang ketiduran tanpa mengganti pakaian, cuci muka dan gosok gigi. Ia gadis itu langsung menuruni kasurnya dan menapaki lantai menuju meja rias.
"Ya ampun! Ntar tumbuh jerawat, Joey!" keluhnya saat melihat make up yang berantakan dengan rambut yang acak-acakan. Gadis itu melihat dress hitam yang ia kenakan juga sudah menjadi kusut dan hampir jatuh mempertontonkan hampir setengah dari gunung kembar miliknya, pasalnya model dress yang ia kenakan itu adalah model sabrina.
Joey bergegas menuju ke kamar mandi. Gadis itu segera mandi menyegarkan tubuhnya dan membersihkan wajahnya. Selang beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi mengenakan handuk berwarna putih dengan rambut yang basah.
"Ehemm!" dehem Joey sambil memegang tenggorokannya. Gadis itu merasa tenggorokannya kering dan bergegas menuju ke dapur. Ia mengambil gelas dan mengisi air putih, lalu diteguknya air tersebut.
Ceklek!
Tiba-tiba Rain keluar dari kamarnya sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Ternyata pria itu juga baru saja habis mandi. Pasalnya ia sedang mengenakan jubah mandi berwarna biru tua dengan rambut yang basah.
"O-om!" Joey terperangah melihat Rain yang tiba-tiba muncul di depannya. Gadis itu kaget setengah mati karena dia hanya mengenakan handuk. Dia pikir saat itu Rain sudah berangkat kerja, terlebih lagi selama ini dia tinggal sendiri di apartemen itu. Bu Teti hanya merawatnya hingga dia kelas 3 SMP, selebihnya dia mengurus dirinya sendiri, bahkan gadis itu juga bisa memasak. Setiap bulannya Harry akan mengabarinya bahwa Rain telah mengirimkan uang saku bulanan.
PRANGGG!!!
Tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas yang ia pegang akibat kaget dan tangannya yang licin karena baru selesai mandi.
"Aww!" pekiknya seketika. Kakinya terkena pecahan beling yang berserakan di lantai. Lalu, gadis itu melangkah mundur karena ingin menjauhi beling yang ada di depannya.
"Aww!" Joey kembali meringis kesakitan. Pasalnya ia kembali menginjak serpihan kaca yang terpelanting hingga ke belakang.
Melihat hal tersebut, tanpa berpikir panjang, Rain bergegas mendekati Joey. Tanpa sepatah katapun, ia bergegas menggendong tubuh Joey yang hanya berbalut handuk yang menutupi dada hingga paha. Saat Rain menggendong Joey ala bridal style, kulit mereka saling bersentuhan.
Deg deg deg!
Jantung Rain seketika berdebar kencang saat jubah mandinya sedikit tersingkap mempertontonkan dada bidangnya dan bersentuhan dengan bahu mulus milik Joey. Pria itu menghela napas dengan keras karena tiba-tiba saja ia merasakan ada sesuatu yang bangkit.
"Astaga!" batin Rain.
"A-aku berat ya, Om? Sorry," ucap Joey merasa bersalah saat mendengarkan helaan napas Rain.
Rain mengerutkan keningnya menatap ke arah Joey, lalu ia merebahkan tubuh Joey ke atas sofa. Tanpa jeda, pria itu bergegas mengambil kotak P3K yang ada di lemari kaca yang ada di samping kulkas, lalu ia kembali ke sofa di mana Joey ia rebahkan. Pria itu duduk di sofa tepatnya di dekat bagian kaki Joey, lalu ia mengangkat kedua kaki Joey dan menaruhnya di atas pahanya. Ia segera membuka kotak P3K tadi. Mengambil pinset untuk mengeluarkan serpihan kaca yang menancap di kaki Joey.
"A-aku bisa sendiri, Om," Joey menahan lengan Rain saat pria itu memegang lembut kakinya ingin mengeluarkan kaca yang menancap di kakinya tadi.
__ADS_1
"Nggak bisa diam?"
Rain terlihat kesal saat itu. Dia merasa khawatir akan kaca-kaca yang menancap di kaki indah gadis itu, namun saat ini dia lebih mengkhawatirkan dirinya jika nanti tak dapat mengontrol diri. Pasalnya gadis cantik yang ada di depan matanya saat ini hanya mengenakan handuk.
"Sial! Gimana bisa fokus kalo seperti ini!" pikir Rain. Namun ia mencoba sebisanya agar dapat memberikan pertolongan pertama pada gadis itu.
"Ugh! S-sakit, Om," Joey meringis kesakitan saat Rain berusaha mengeluarkan serpihan kaca tadi.
"Aww!" pekiknya lagi saat Rain mengeluarkan serpihan kaca tadi.
Setelah kacanya keluar, Rain membersihkan kaki tersebut menggunakan cairan antiseptik, lalu kaki tersebut diperbannya sementara menggunakan kain kasa steril.
"Makasih, Om," ucap Joey setelah sadar bahwa kakinya telah diperban.
"Hmm..." jawab Rain datar tanpa ekspresi, bahkan sedetikpun ia sama sekali tak melihat ke arah Joey.
"Om, nggak kerja?" Joey memberanikan diri untuk bertanya kepada Rain.
"Libur."
"Oh. Aku pikir tadi Om kerja," ucap Joey sambil menatap ke arah Rain. Namun ucapannya tersebut tak kunjung di balas oleh Rain. Pria itu sibuk mengemaskan alat-alat P3K tadi yang telah ia gunakan.
"Bersiaplah, kita akan ke rumah sakit," ucap Rain. Lalu ia menganjakkan kaki Joey dari pahanya, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berdiri.
"Maaf, aku lupa waktu," sambung Joey lagi.
Rain terdiam. Tiba-tiba saja Joey menanyakan hal yang terjadi semalam, namun ia belum menyiapkan jawaban untuk menjawabnya.
"Om juga aneh! Om nggak pernah balik selama empat belas tahun, om nggak pernah menanyakan kabarku atau menghubungiku, terus om juga nggak pernah mau menatapku saat berbicara. Aku salah apa, Om?" cecar Joey sambil menatap ke arah Rain yang masih saja tak ingin menatapnya.
"Saya sibuk, banyak hal yang harus saya lakukan."
"Tapi, Om. Apa maksud dari mekarlah dengan sempurna? Bahkan sampai sekarang aku nggak tau dengan benar apa maksudnya."
"Joey," panggil Rain. "Kita ke rumah sakit dulu, ntar kita bahas lagi pertanyaan kamu. Dan pakailah baju-"
"Bentar, Om. Aku penasaran setengah mati. Bahkan Om menyuruhku putus dengan Kak A-"
Ucapan Joey terhenti saat Rain duduk di sisi sofa berhadapan dengannya. Pria itu membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Joey dan ia mendekatkan kepalanya ke wajah Joey. Pria itu menatap lekat mata yang hanya berjarak kurang dari lima senti dengannya.
"Jangan pernah nyebut nama itu," ucap Rain sinis.
"T-tapi, apa salah dia, Om?!"
__ADS_1
"Kamu nggak bisa patuh?" bisik Rain perlahan memotong omongan Joey yang hampir saja menyebut nama Ace tadi.
"Tapi, Om. Aku nggak bisa memutuskannya sepihak."
"Bukan urusan saya," bisik Rain lagi di telinga Joey. Tanpa sengaja pria itu menghirup aroma sabun yang wangi dari tubuh gadis itu. Lagi-lagi, naluri lelakinya memberontak.
"Hah!" dengus Rain. Pria itu merebahkan kepalanya ke bahu telanjang Joey.
"Kamu mau jadi Kupu-Kupu Malam?" tanya Rain tiba-tiba.
"Hah? Apa maksud, Om?!" Joey terbelalak merasa bahwa ia sedang dilecehkan. Terlebih lagi saat ini ia kembali sadar bahwa ia hanya dibalut handuk tanpa pakaian lainnya.
"Saya akan mewujudkannya," ucap Rain. Ia mengangkat wajahnya dari bahu Jihan, lalu kembali menatap wajah polos gadis itu. Tak ada sedikitpun sentuhan makeup atau skincare lainnya, tapi entah kenapa kecantikannya semakin terpancarkan dengan wajah yang natural itu.
"Om!" seru Joey. "Apa maksud, Om?!"
"Kamu udah ngapain aja sama dia?"
"Itu bukan urusan, Om!"
Mendengarkan ucapan tersebut, mata elang Rain mendadak tajam. Raut wajahnya seketika berubah menjadi menakutkan.
"Kamu lupa, kenapa kamu bisa kayak gini sekarang?"
Bak ditembak petir di siang bolong, Joey membelalakkan matanya. Kalimat Rain barusan sangat memojokkannya karena membuat ia merasa bahwa ia telah melupakan siapa dia sebenarnya saat ini.
"Om! Aku tau asalku yang hanya seorang pengemis, tapi bukan berarti Om berhak sepenuhnya atas kehidupanku. Terlebih lagi antara aku dan Kak A-"
Rain mendadak menempelkan bibirnya ke bibir Joey hingga bibir mereka bertemu. Mata bulat Joey yang sebelumnya sudah melotot karena marah, kini semakin membulat karena terkejut dengan tindakan agresif yang dilakukan oleh Rain. Apa yang sedang pria itu lakukan? Kenapa dia tiba-tiba seperti ini? Pikir Joey saat itu. Dengan sigap tangannya mendorong tubuh Rain agar menjauh darinya.
"Joey," panggil Rain sambil mengelus lembut pipi gadis itu menggunakan jarinya. "Jawab saya, kalian udah ngapain aja?"
Joey bergidik ketakutan. Tubuhnya gemetaran saking takutnya. Merasa tak ada pilihan lain, ia langsung mengatakan sejujurnya pada Rain. "Ci-ciuman, Om."
"Aku akan menunjukkan padamu, apa itu efek racun Nerium Oleander!" seru Rain.
"Maksud, Om?"
Rain segera meraih tengkuk Joey lalu menekan maju kepala gadis itu sehingga wajah mereka berdempetan. "Kamu harus lupain bagaimana rasa bibir pria itu!"
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1