
...“Aku pintar dalam segala hal, tapi tidak dengan mengontrol nafsu-ku saat berhadapan dengan Oleander-ku.” - Rain...
...🌸🌸🌸...
Siang itu, di tengah-tengah ruangan yang dingin karena AC, Joey terlihat sedang kepanasan dengan nafas yang memburu. Mata gadis itu terlihat sayu dan tubuhnya tak berdaya karena pengaruh obat perang sang yang dibubuhkan Ace ke dalam minuman kemasan yang ia teguk tadi.
“Om Rain ….”
Joey sadar bahwa pria yang ada di dekatnya adalah Rain. Gadis itu memanggil Rain dan mengulurkan tangannya seolah sedang meminta bantuan agar ia dapat terlepas dari rasa aneh yang menyiksa saat itu.
“Hah!” Rain berdecak sebal melihat Joey yang sedang tak berdaya. Pria itu sedang khawatir dengan situasi yang ada di depan matanya. Benar, bahwa selama ini dia sangat terobsesi dengan tubuh gadis itu, tapi dia tak ingin menikmati tubuh gadis tersebut di saat gadis itu sedang di bawah pengaruh obat.
Merasa tak ada pilihan lagi, Rain bergegas membuka jasnya lalu melemparkannya ke lantai. Setelah itu, ia merangkak menaiki ranjang dan memanjat tubuh Joey.
“Hei!” Rain terbelalak kaget saat Joey menarik dasinya sehingga tubuh pria itu jatuh menimpa tubuh Joey.
Entah atas dorongan apa, kedua tangan Joey meraih tengkuk Rain dan mendorongnya maju sehingga bibir mereka bertemu. Rain semakin terbelalak saat Joey memimpin ciu man panas mereka kali ini. Apakah pengaruh obatnya sampai sekuat ini? Ini pertama kalinya Joey yang inisiatif melu mat bibir pria itu duluan.
Tak cukup puas hanya dengan ciuman, Joey membuka dasi yang melingkar di kerah kemeja putih pria tersebut. Setelah itu, ia membuka satu per satu kancing baju pria yang ia mangsai, namun dengan bibir yang masih terpaut. Lidahnya tak henti-henti bergerilya menjelajahi setiap sudut yang ada di dalam mulut pria dewasa itu.
Menerima perlakuan panas Joey tersebut, Rain tak ingin berdiam diri. Tubuhnya mulai memanas dan gejolak yang ada semakin membludak. Ingin rasanya saat itu juga ia meluapkan dan melepaskan semua gejolak yang tertahan. Daging tak bertulangnya pun semakin memberontak di tempat sempit yang tertutup oleh ikat pinggang, ia seakan sedang berdenyut meronta-ronta agar segera dipertemukan dengan sesuatu yang sempit, lembut dan hangat. Gadis itu benar-benar telah membuat akal sehat Rain hilang!
Tak kuasa menahan gejolak yang membuatnya sakit kepala, Rain melepaskan pautan bibir mereka dan kini napasnya yang terengah-engah karena kekurangan oksigen. Sejak kapan gadis itu menjadi ahli dalam urusan pergulatan lidah? Apakah selama ini ia diam-diam mencuri ilmu yang sering Rain praktikkan pada dirinya?
__ADS_1
“Kamu sadar dengan apa yang sedang kamu lakukan sekarang?” tanya Rain dengan tatapan yang sangat dalam. Sorot matanya yang kelaparan membuat kharisma di wajahnya semakin mempesona.
Saat itu, Rain benar-benar ingin memastikan bahwa apa yang sedang Joey lakukan merupakan undangan baginya untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Bagi seorang pria normal, tak cukup jika hanya sebuah ciuman saat keduanya sedang berduaan di sebuah ruangan yang tertutup.
Joey tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Rain. Tangan mulusnya telah berhasil membuka seluruh kancing kemeja pria yang ada di atas tubuhnya. Sesaat setelah semua kancing dibuka, Joey menyentuh setiap inci dari otot-otot yang terukir dengan sangat gagah di dada dan perut Rain.
Rain menahan tangan Joey yang sedang bergerilya nakal menyentuh tubuhnya. “Aku pintar dalam segala hal, tapi tidak dengan mengontrol nafsu-ku saat berhadapan dengan Oleander-ku."
Setelah mengucapkan hal tersebut, Rain mengecup lembut punggung mulus milik tangan Joey. Pria itu menciumi punggung tangan Joey hingga ke bahu mulus gadis idamannya. Setelah itu, ia mulai menciumi leher jenjang yang mulus milik Joey, sesekali digigitnya untuk memberikan sensasi menggelitik yang luar biasa.
“O-Om, ge-geli.”
Rain tak mengindahkan perkataan Joey. Nafasnya mulai memburu menggelitiki leher Joey. Gadis itu dibuat terlena dengan kelihaian Rain dalam pemanasan sebelum bercinta. Tangan pria tersebut mulai menyelinap masuk ke dalam bra dan mere mas gundukan lembut milik Joey silih berganti.
Perlahan, tangan Rain mulai menuju ke bawah menuruni perut hingga ke pertigaan yang memiliki sebuah lembah yang dipenuhi semak belukar. Awalnya pria itu hanya mengusap lembut dari balik kain yang menutupinya, tapi ia menjadi serakah dan menginginkan lebih. Hingga akhirnya Rain menyusupkan tangannya ke dalam kain penutup tersebut dan seketika tubuh Joey bergetar hebat.
"Om!" pekik Joey manja sambil tangannya merem as dan menjambak rambut Rain.
Sentu han demi sentu han yang diberikan oleh Rain membuat gadis itu terlena dan terbang ke awang-awang. Akal sehatnya telah hilang tak bersisa.
"E-enak ...." Joey menggigit bibirnya sambil memejamkan mata.
"Ini aneh, tapi aku belum pernah merasakan kenikmatan yang aneh seperti ini," sambung Joey dengan nafas yang terengah-engah. Sesekali ia terisak-isak saat jari Rain bergerilya dengan semangat di bawah sana.
__ADS_1
"Aku menginginkan lebih, Om!"
Seketika Rain terbelalak dan terkejut. Pria itu menghentikan gerilya tangannya dan menatap ke arah gadis yang ada di bawahnya.
"****! Ini nggak benar! Having s e x karna dia nggak sadar?!" gumam Rain.
Pria itu langsung bangkit menuruni ranjang. Tanpa basa basi, ia bergegas menggendong tubuh Joey dan meletakkannya ke dalam bathtub.
Rain menghidupkan shower tepatnya di atas kepala Joey yang sedang meringkuk dengan nafas yang terengah-engah menikmatmi sisa-sisa kenikmatan yang terhenti di tengah jalan tadi.
"D-dingin!" Joey setengah memekik di balik suaranya yang tak berdaya.
"Kita akan melakukannya kalo kamu sadar!" ucap Rain. Pria ity mengguyur tubuh Joey dari atas menggunakan air dingin. Ia juga tak lupa menghidupkan keran agar bathtub tersebut dipenuhi air dingin.
Perlahan, air di bathtub mulai penuh. Joey tersandar di pinggiran bathtub dengan tubuh yang lemas. Matanya terpejam dan ia terlena kelelahan saat berendam di dalam air dingin tersebut.
Rain yang merasa bi rahinya tak terlepaskan, ia membelakangi tubuh Joey dan segera menuntaskan puncak gai rahnya dengan memainkannya daging tak bertulangnya menggunakan tangannya sendiri. Kurang lebih satu menit, Rain berhasil menuntaskan gai rah dengan cepat. Ia tak butuh waktu yang lama karena nafsunya sudah di ubun-ubun akibat keagresifan Joey tadi.
Rain memutarkan kepalanya menghadap ke belakang dan menatap ke arah gadis yang sedang terkulai lemas di dalam bathtub.
"Aku memang nggak sabaran, tapi aku tau seperti apa pria sejati untuk Oleander yang sangat ku hormati," lirih Rain terengah-engah.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...