
..."Gue nggak akan nge-judge lo pria aneh yang suka sama gadis dengan jarak usia yang jauh, Rain. Karna gue salah satu pelakunya. Gadis itu mencuri hati gue." - Kale...
...🌸🌸🌸...
"Tujuh Desember!" seru Pak Ravindra saat Anya dan Rain sudah berada di atas panggung.
"Tujuh Desember ini mereka akan menikah!"
Sekujur tubuh Joey mendadak kaku. Seluruh darah yang ada dalam tubuhnya seolah-olah mengeras dan dadanya mendadak sesak karena kesulitan bernafas. Bagaimana bisa pria yang ia cintai menikah dengan wanita lain tepat pada hari ulang tahunnya?!
"Pa?!" Rain tak dapat menutupi rasa terkejutnya saat Pak Ravindra mengumumkan tanggal pernikahan tanpa sepengetahuan dan persetujuan darinya.
"Pernikahannya 'kan setahun lagi! Kok tiba-tiba dipercepat jadi dua bulan lagi?!" bisik Rain ke telinga Pak Ravindra dengan nada yang penuh dengan penegasan.
Pak Ravindra hanya tersenyum girang menanggapi tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan tanpa menghiraukan ucapan anaknya.
"Seharusnya pernikahan ini setahun lagi, tapi aku udah nggak sabar untuk bertemu dengan cucuku," ucap Pak Ravindra sambil menatap ke arah Anya.
Ibu Ravindra ikut bersuka cita sambil memeluk Anya di atas panggung dan pelukan tersebut dibalas balik oleh Anya.
Di waktu yang sama, Rain menyibak keramaian dengan mempertegas lagi sorot matanya mencari Oleander yang ia cintai. Meskipun dari jauh, pria itu dapat memahami perasaan bunga kesayangannya walau hanya sekilas.
Wajah yang meringis menahan rasa sakit dan luka yang tak berdarah dengan kepalan tangan yang mengeras karena kekecewaan mendalam akibat acara pernikahan tersebut dilaksanakan tepat di hari ulang tahunnya.
Joey beranjak dari tempat ia berdiri, gadis itu tak dapat menerima kabar bahagia yang diumumkan oleh CEO Ravindra Group. Karena kabar itu merupakan pukulan telak baginya agar ia kembali sadar bahwa dia bukan siapa-siapa di ruangan yang megah itu.
Di saat yang sama, Kale mengernyitkan dahinya. Ia menangkap tatapan bersalah Rain ke arah gadis yang ada di sampingnya. Gadis yang mencuri hatinya pada pandangan pertama hari ini.
"Cinta segitiga," gumam Kale pelan. Pria itu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gue nggak akan nge-judge lo pria aneh yang suka sama gadis dengan jarak usia yang jauh, Rain. Karna gue salah satu pelakunya. Gadis itu mencuri hati gue," sambungnya sambil menaikkan kedua alis dan menghela nafas.
Tanpa gadis muda itu sadari, Kale ikut berjalan keluar mengikutinya tanpa arah tujuan. Hingga akhirnya kedua orang tersebut berada di sebuah taman yang sangat indah, asri dan dipenuhi oleh tanaman Oleander.
"Joey?" panggil Kale sambil menahan tangan gadis itu.
Joey menghentikan langkahnya tepat di depan air mancur yang besar dengan kolam ikan di bawahnya. Gadis itu terkejut lalu bergegas menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggil dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Pak Kale?"
Joey semakin kaget saat melihat sosok pria yang menahannya. Tanpa sengaja gadis itu menarik tangannya secara paksa dari genggaman bule tampan yang ada di depannya.
"Sorry. Aku nggak bermaksud ngagetin kamu," ucap Kale. Ia merasa bersalah karena membuat Joey ketakutan dan terkejut karena telah mengikuti gadis itu diam-diam sejak tadi.
"Why?" tanya Kale sambil menaikkan alisnya sebelah. Sorot mata hazel pria itu terlihat tenang dan pupil matanya membesar saat tatapannya terfokus ke arah gadis yang ada di depannya.
"Why?" Joey balik bertanya.
"Eum ... kenapa kamu keluar?" tanya Kale hati-hati. "Apa kamu nggak suka keramaian?"
"Oh... saya hanya mencari udara segar, Pak."
Kale tersenyum mendengarkan kebohongan gadis itu. "Nggak usah kaku dan jangan panggil 'Pak'. Kamu bikin aku merasa semakin tua."
"Kenyataannya emang begitu, 'kan?" celetuk Joey malas karena sedang tak ingin terlibat percakapan dengan bule itu.
Gadis itu langsung menutup mulutnya dengan mata yang mendadak membulat. Sial! Kenapa dia bisa selancang itu di depan pria yang ada di depannya? Kelihatannya, pria itu juga bukan orang sembarangan.
"Hemm?" Kale mendehem. Pria tersebut sengaja memasang wajah heran karena ingin menjahili gadis muda itu. Reaksi tersebut semakin membuat Joey merasa bersalah.
"Maksud saya ... Bapak ..." Joey terbata-bata dan semakin gelisah.
"Hahaha...," Kale tak bisa menahan tawanya melihat tingkah menggemaskan gadis yang sedang khawatir itu.
"Panggil aku Kale, nggak usah pakai Bapak," ucap Kale.
"Tapi ... itu 'kan nggak sopan? Saya-"
"Ah... satu lagi. Nggak usah terlalu formal, santai aja," protes Kale. Pria itu ingin berkomunikasi santai dengan Joey tanpa ada rasa sungkan dan canggung.
"Anggap aja aku teman," sambungnya lagi.
Joey semakin kikuk saat pria yang seusia dengan Rain ingin menjadi temannya. Terlebih lagi pria itu menunjukkan dengan jelas rasa tertarik pada dirinya. Pikiran gadis itu semakin ke mana-mana dan ia jadi berspekulasi sendiri.
"Jangan-jangan Om ini deketin aku karna niat nggak baik," batin Joey sambil menggigit jarinya tanpa sadar.
__ADS_1
Melihat kekhawatiran yang terpancar dari gadis muda itu, Kale memutar otaknya memikirkan cara bagaimana agar komunikasi mereka mengalir seperti seharusnya tanpa rasa was-was dan kekhawatiran yang berlebihan. Ia memikirkan topik yang pas sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Sejak kapan kamu suka nyanyi?" tanya Kale. Sesaat setelah menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia langsung mendapatkan topik yang pas untuk dijadikan bahan obrolan.
"Eum ... sejak kecil," jawab Joey singkat.
"Kamu ikut les nyanyi atau semacamnya gitu?" tanya Kale lagi.
"Nggak."
"Oh... hehehe," Kale merasa semakin canggung dan bingung ingin bertanya apa lagi, karena respon gadis itu terlalu singkat dan dingin.
Tapi, sikap dingin dan acuh tak acuh gadis itu semakin membuat Kale menjadi penasaran dan tertarik untuk mendekati gadis tersebut.
Kale bergerak selangkah maju ke depan mendekati Joey, namun gadis itu semakin waspada dan risih sehingga ia bergerak mundur selangkah.
"Temanku sedang mencari penyanyi berbakat. Kebetulan sekali aku mendengarkan suara emasmu hari ini," ucap Kale tiba-tiba. "Gimana kalo aku mereferensikan kamu kepadanya?"
Joey terdiam sejenak. Sesaat rasa khawatir dan waspadanya hilang. Sebaliknya, ia tiba-tiba memikirkan tawaran yang diberikan oleh Kale, karena bagaimanapun, ia tak dapat bergantung lagi pada Rain yang akan menjadi suami orang. Benar bahwa ia mencintai Rain, tapi tak seharusnya ia menggantungkan seluruh hidupnya pada pria itu. Tak ada yang mengetahui masa depan kan? Dan hati orang gampang berubah.
Joey mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Kale. Gadis itu mencoba berdiri tegak, karena sebelumnya kedua kakinya perlahan bergerak mundur.
Sayangnya, saat gadis itu mencoba berdiri tegak, kakinya malah terkilir karena pijakan tapak heelsnya meleset dan menginjak kerikil kecil yang ada di taman tersebut.
Kale yang khawatir gadis itu jatuh tercebur ke dalam air mancur, ia bergegas meraih tubuh Joey dengan menangkap pinggul gadis tersebut. Di saat yang sama, kedua tangan Joey tanpa sengaja memegang lengan kekar bule tampan bermata hazel tersebut.
Kedua orang tersebut saling bertatapan dengan pikiran mereka masing-masing. Kale tak henti-hentinya terpesona oleh kecantikan alami yang dimiliki gadis yang ada di dekapannya. Jantung pria itu dibuat berdebar kencang untuk kesekian kalinya karena tebaran pesona yang diberikan oleh gadis muda itu.
"Joey," teriak Rain tiba-tiba. Pria itu muncul dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran di sekujur tubuh. Sepertinya ia berlari ke sana ke mari mencari bunga kesayangannya.
Rain dibuat kaget oleh pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Pemandangan yang cukup membuat emosinya mendidih saat melihat Oleander kesayangannya disentuh oleh pria lain.
"Apa-apaan ini?!" bentak Rain dengan suara yang lantang.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1