OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Relasi Pertama Oleander


__ADS_3

..."Karna aku tau, suatu saat nanti, kamu pasti menjadi orang besar yang terkenal. Jadi, nggak ada salahnya 'kan kalo aku menjalin relasi sejak dini denganmu." - Kale...


...🌸🌸🌸...


Sore itu, di tengah-tengah taman yang luas dan megah, suara gemericik air mancur terdengar menenangkan. Ditambah lagi dengan suasana asri yang menyejukkan. Siapapun akan betah berlama-lama di taman megah itu.


Tapi tidak dengan Rain. Pria yang berstatus tunangan Anya itu tiba-tiba saja muncul di saat Joey jatuh ke dalam pelukan Kale tanpa sengaja.


Joey langsung berdiri melepaskan tubuhnya dari rangkulan pria bule itu. Ia sangat terkejut saat mengetahui bahwa Rain melihatnya dengan Kale dalam keadaan seperti itu. Siapapun yang melihatnya pasti salah paham.


Gadis itu berusaha berdiri tegak, namun ia terjatuh karena kakinya yang terkilir terasa sakit dan tak dapat menopang tubuhnya.


"Aww!" pekik Joey saat memaksakan berdiri, namun ia tersungkur di atas trotoar yang ada di taman tersebut.


Kale spontan ingin membantu Joey dengan jongkok di hadapan gadis muda itu. Namun Rain bergegas mendekati bunga kesayangannya dan mendorong tubuh pria itu, lalu ia bergegas memeriksa kaki Joey yang terkilir.


"Is she okay?" tanya Kale khawatir. Meskipun ia terdorong ke belakang hingga terduduk, itu tak masalah baginya.


Rain tak menjawab pertanyaan Kale. Pria itu segera merogoh ponsel di saku jasnya lalu menelfon Harry agar segera menunggunya di lobby karena ingin segera membawa Joey ke rumah sakit.


"A-aku baik-baik aja," ucap Joey saat Rain ingin menggendongnya. Gadis itu tak ingin pria yang ia cintai berada dalam masalah jika pria itu menggendongnya di depan umum.


"Mas!" panggil Anya tiba-tiba. Wanita tersebut tiba-tiba muncul bersamaan dengan Pak Ravindra dan Ibu Ravindra, diikuti Pak Shailendra dan Ibu Shailendra.


"H o l y s h ! t !!!!" umpat Rain kesal dengan nada yang perlahan namun penuh dengan penekanan.


Saat itu hanya Kale dan Joey yang mendengarkan umpatan pria itu. Ia terlihat kesal dengan kehadiran Anya bersama empat orang yang tak dapat ia lawan.


"Joey kenapa, Mas?" tanya Anya pura-pura khawatir. Wanita tersebut berlari-lari kecil mebdekati Rain yang sedang memegang tumit Joey yang memerah karena terkilir.

__ADS_1


Melihat Rain yang tak berkata sepatah kata pun, Kale berinisiatif untuk menjawab pertanyaan Anya. "Dia terkilir dan harus segera diobati."


Kale jongkok mendekati Rain serta berbisik, "i know this situation. So, biar gue yang bawa Joey ke rumah sakit."


Rain terhenyak saat Kale berbisik padanya. Bagaimana pria itu bisa tahu bahwa ada sesuatu antara dia dan Oleander-nya? Apakah sejelas itu perasaaannya kepada Joey di mata orang lain?


"Hah," Rain menghela nafasnya. Situasi yang ia hadapi saat ini sangat membuatnya sesak. Saat di mana gadis yang ia cintai terluka, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa.


Dengan berat hati, Rain berdiri dan mundur selangkah dari Oleander kesayangannya. "Tolong bawa dia ke rumah sakit. Harry bakalan nganterin kalian ke sana."


Wajah meringis menahan sakit, seketika mendadak sendu dan kelabu saat mendengarkan Rain menyuruh Kale mengantarkannya ke rumah sakit. Ada rasa asing yang menggelitikinya, rasa sesak yang tak dapat digambarkan saat pria yang ia cintai menyuruh pria lain mengantarkannya ke rumah sakit. Namun perasaan sedih dan egois itu segera ditepis Joey. Walau bagaimanapun ia mencintai Rain, tetap saja keadaan saat ini tak menguntungkan bagi mereka, terlebih lagi dirinya sendiri.


Tanpa berlama-lama, Kale bergegas menggendong tubuh Joey. "Ntar gue kabarin."


Kale bergegas pergi meninggalkan taman dan Rain yang terdiam kaku dengan tangan yang ia kepalkan karena menahan amarah. Sedangkan Anya, wanita tersebut tersenyum dengan penuh kemenangan.


...****************...


"Pak?" ucap Kale sambil menaikkan alisnya. Pria itu duduk di sofa bersebelahan dengan Joey namun dengan jarak setengah meter. Ia tak ingin membuat Joey merasa risih.


"Maaf, aku belum terbiasa, soalnya-"


"Hmmm... gimana ya," potong Kale. "Aku 'kan udah membantumu ke rumah sakit, menggendongmu juga, jadi ... aku punya permintaan."


"Apa?" tanya Joey sambil menatap ke arah Kale. Gadis itu sempat berargumen sendiri bahwa pria itu sepertinya tak ikhlas membantunya.


"Panggil aku Kale."


Mendengar permintaan pria tersebut, Joey tak mampu menahan tawanya, tiba-tiba saja gadis itu terkekeh kecil sambil memeluk bantal sofa ke tubuhnya.

__ADS_1


"Ngotot banget ya?" ledek Joey sambil tersenyum.


"Oke, Kale!" ucap Joey sambil menghela nafasnya karena gugup. "Jangan salahin aku kalo mulai sekarang aku panggil nama aja."


"Nah, gitu dong," seru Kale sambil tersenyum girang.


"Kenapa?" tanya Joey singkat. Gadis itu penasaran, apa alasan pria di depannya ngotot ingin dipanggil nama, padahal jarak mereka sangat jauh, meskipun dia baby face, tetap saja usia mereka terpaut empat belas tahun kurang lebih.


"Kan sudah ku bilang, pengen punya temen."


"Ya kenapa harus aku? Lagian, nggak mungkin dong kamu nggak punya temen di luar sana?" tuding Joey sambil mencebik.


"Karna aku tau, suatu saat nanti, kamu pasti menjadi orang besar yang terkenal. Jadi, nggak ada salahnya 'kan kalo aku menjalin relasi sejak dini denganmu," jelas Kale berbohong.


Di dalam dunia bisnis, pria itu sangat terkenal dengan kepintarannya dalam bernegosiasi. Apapun yang dia inginkan, selalu ia dapatkan dengan keahliannya bernegosiasi, tapi tidak dengan wanita. Pria itu terkenal sebagai pria dingin yang anti terhadap hubungan percintaan dan wanita, entah kenapa, Joey dapat membuat pria anti wanita itu bisa bertekuk lutut padanya.


"Ooo... jadi, ini salah satu trik dalam berbisnis toh. Menjalin relasi sejak dini," gumam Joey polos. Gadis delapan belas tahun itu menelan bulat-bulat apa yang dikatakan oleh Kale. Mungkin karena usianya yang masih belia, sehingga ia belum terlalu matang dalam berfikir.


"Jadi gimana? Mau nggak jadi penyanyi? Aku bakalan bantuin kamu," ucap Kale sambil duduk memposisikan tubuhnya menghadap Joey.


"Sebenarnya aku nggak terlalu tertarik sih, tapi ..." Joey tak melanjutkan ucapannya. Gadis itu sedang memikirkan, alasan apa yang harus ia berikan pada pria di depannya kenapa ia menjadi ingin terjun ke dunia hiburan itu.


Sejujurnya, Joey ingin fokus pada kuliahnya, namun jika ia mengingat lagi pengumuman yang sempat ia dengarkan di Hotel Nerium Oleander tadi, ia kembali didesak oleh akal sehatnya untuk segera mencari mata pencarian sendiri dan perlahan-lahan belajar untuk tidak bergantung pada pria yang sebentar lagi akan berstatus suami orang.


"Aku punya alasan sendiri," lirih Joey pelan sambil tersenyum sendu.


"Oke, aku nggak akan maksa kamu untuk bilang alasannya apa, yang penting kamu beneran mau ya?"


Joey mengangguk mengiyakan ucapan pria di depannya. "Tapi, kamu juga pasti ngambil keuntungan dari ku 'kan?"

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2