
..."Setidaknya Om harus mencintai- ...." - Joey...
..."Ya. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu sampai-sampai rasanya ingin meledak!" - Rain...
...🌸🌸🌸...
Tersirat kekecewaan dari sorot mata teduh gadis muda itu. Baru saja ia dibawa terbang oleh pria dewasa tersebut, namun sesaat setelah itu ia dihempaskan ke jurang yang paling dalam.
"Benda berharga yang pernah ku miliki," gumam Rain lirih.
"Seberharga apapun itu, benda ya tetap benda, Om! Lagi-lagi aku tertipu dengan rayuan Om, cih!" Joey mendecih dan membelakangi tubuh Rain.
"Oke. Oke. Sekarang kamu mau-nya ku anggap apa jika bukan benda? Menurutku tak ada salahnya jika aku menganggapmu sebagai benda berharga yang pernah ku miliki," Rain mendekati tubuh Joey yang sedang memunggunginya.
"Sudahlah, Om. Bagaimanapun caranya, aku akan mengusahakan uang dua miliar yang Om katakan. Lebih baik aku mengemis di jalanan daripada tinggal seatap dengan pria yang obsesinya tak masuk akal. Setidaknya Om harus mencintai- ...."
Joey tiba-tiba terdiam. Gadis itu menelan ludahnya dengan mata yang membulat dan jantung yang berdebar-debar.
"Sial!!! Apa maksud dari omonganku tadi?! Secara nggak langsung, aku 'kan sedang meminta pernyataan cinta dari Om Rain? Heiii!!! Dasar sinting! Sejak kapan otak ini jadi bodoh! Argh! Malu-maluin banget deh!" umpat Joey dalam hati. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya, ia benar-benar malu setengah mati.
"Ya. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu sampai-sampai rasanya ingin meledak!" Rain membungkam perkataan Joey dengan pernyataan cinta yang tulus dari lubuk hatinya. "Entah sejak kapan, tapi diam-diam aku mulai mencintaimu dan aku tak rela melihatmu bahagia dengan pria lain selain aku."
Joey memutar kepalanya menghadap belakang ke arah Rain. "T-tapi O-"
Rain tak membiarkan gadis itu berbicara, sebaliknya, ia malah melu mat bibir merekah milik gadis itu. Ciuman yang sangat bersemangat dari sebelumnya, ciuman yang terlahir karena obsesi Rain yang semakin tak terkendali.
__ADS_1
"Eumh ...." Joey kekurangan oksigen akibat ciuman penuh nafsu yang diberikan oleh Rain. Terlebih lagi, lidah pria itu bergerilya memasuki mulut Joey mengacak-acak dan mengobok-obok mulut gadis muda itu, bahkan ia juga menye dot lidah yang tak bertulang milik gadis muda itu.
Tak ada penolakan yang Joey berikan pada saat itu. Sejujurnya, hati kecil gadis muda itu sedikit berdebar saat pria tampan yang sudah dewasa itu mengucapkan ungkapan cinta secara tiba-tiba. Meskipun kini ia sedang kecewa karena dikhianati oleh cinta pertamanya, tapi entah bagaimana Rain bisa membuat ia sedikit melupakan kekecewaan tersebut.
"Sebut namaku," ucap Rain saat melepaskan pautan bibirnya.
"A-aku nggak bisa. Itu nggak sopan."
"Ayo, sebut namaku," ucap Rain lagi sambil menciumi tengkuk Joey. Deruan nafasnya menyapu lembut leher jenjang mulus gadis itu.
"R-Rain ...." panggil Joey diselingi le nguh an yang membangkitkan gai rah pria itu.
"That's my girl!"
"Eumh!" de sahan Joey diiringi liukan tubuhnya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan semakin membuat Rain menjadi liar.
Ciuman Rain perlahan menuruni da da gadis muda itu dan ia mulai menye dot da da padat yang ujungnya masih berwarna pink muda.
"Rain, pe-pelan-pelan," gumam Joey lirih. Gadis itu terus menggeliat sambil menjambak rambut Rain. Sesekali ia menge rang keenakan. Apa ini penyebabnya kenapa di luar sana banyak yang menyukai s e x ? Karena sensasi aneh yang memberikan berjuta kenikmatan sampai-sampai ia dapat melupakan kekecewaannya sejenak.
Setelah merem as gundukan lembut di da da tersebut, Rain kembali menuruni perut Joey hingga akhirnya tangan kekar tersebut menyapa lembut 'mulut' kedua Joey yang tembam dan padat itu.
"Sial! Aku tak bisa menahannya lagi!" Rain bergegas membuka kemeja dan celananya, lalu dilemparnya segera ke atas lantai. Pria itu mulai memanjati tubuh gadis muda yang membuatnya menggila pada sore itu.
Di waktu yang sama, Joey tiba-tiba saja memejamkan matanya dengan tubuh yang tegang sambil mengepalkan kedua tangannya. Mata yang dipejamkannya dengan rapat dan bibir yang bergetar.
__ADS_1
Rain yang sadar akan hal itu, menyeringai puas sambil perlahan mulai menyentuh benteng tebal yang akan ia terobos kali ini. Seperti apakah rasanya benteng tebal yang tak pernah terja mah itu? Membayangkannya saja membuat darah Rain berdesir. Kenikmatan daun muda yang belum pernah tersentuh, sebentar lagi akan membawanya terbang ke awang-awang.
"Tunggu!" ucap Joey sambil memegang lengan kekar Rain. Gadis itu tak berani melihat ke bawah di mana milik pria dewasa itu sudah tak tertutup dengan sehelai benang pun.
"Be-beri aku waktu. Aku belum siap," ucap Joey. Gadis itu membuat nafsu Rain yang sudah di ubun-ubun menjadi hilang seketika. "A-aku janji akan memberikannya, tapi tidak sekarang. Banyak yang bilang, i-i-itu sakit saat pertama kali."
"Aku akan membuat sakitnya hanya sebentar."
"Tapi, tetap saja. Aku belum siap, Om. Ku mohon, lepaskan aku kali ini," pinta Joey sambil mengatupkan kedua belah tangannya ke arah Rain.
Pria itu menuruni ranjang tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia memegang pelipisnya karena merasa migrain akibat keinginannya yang lagi-pagi tertahan dan tak tersalurkan sebagaimana mestinya. Pria itu berjalan menuju kamar mandi untuk melanjutkan perjuangannya menggunakan tangan sendiri untuk menuntaskan gai rah yang tak terselesaikan.
Sedangkn Joey, gadis muda itu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Gadis itu menatap ke langit-langit dengan tatapan yang nelangsa.
"Jika memang Om Rain merupakan takdir yang selama ini disiapkan untukku, aku akan rela memberikan segalanya. Tapi ini tak akan mudah."
Joey sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. Dia tak habis fikir, apa yang membuat Rain sehingga bisa seobsesi ini pada dirinya. Padahal di luar sana ada ribuan bahkan jutaan gadis cantik yang bahkan melebihi dirinya. Lalu, gadis di luar sana juga lebih berpengalaman ketimbang dia yang masih bau kencur. Jangankan pengalaman s e x, berpacaran saja baru satu kali, itupun ia dikecewakan karena cinta pertamanya hanya menginginkan tubuhnya.
"Hah!" Joey menghela nafasnya. "Om Rain dan Kak Ace. Keduanya sama-sama hanya menginginkan tubuhku, tapi bedanya mereka adalah ... Om Rain memiliki jasa yang begitu banyak pada hidupku. Tanpa dia, sepertinya aku tak akan hidup dengan baik seperti ini sekarang. Tapi, apakah tubuh ini senilai dengan jasa-jasa yang telah ia berikan?"
"Ck! Aku tak habis pikir jika ke depannya aku akan jatuh cinta pada pria yang terpaut usia empat belas tahun lebih tua dari ku."
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1