OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Oleander yang Dipetik Orang


__ADS_3

..."Bibit kecil yang dulunya ditemukan di tempat yang gersang, diambil, ditanam dan dirawat dengan baik, kini sedang mencari pemiliknya yang sedang bersembunyi, jangan sampai tunas yang telah berbunga itu dipetik oleh orang lain." - Harry...


...🌸🌸🌸...


Senja kali ini tak dapat dinikmati dan terlewati dengan suram. Di sebuah kamar mewah dan luas itu, Joey duduk sambil memeluk kakinya di atas ranjang sambil menopang dagunya di lutut.


Pikiran Joey menerawang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan aneh Om Rain-nya itu. Ia juga merasa kecewa dan sakit hati atas pelecehan yang dilakukan oleh Rain.


Bagaimana bisa seorang pria yang sudah matang dan mapan melakukan hal yang rendah seperti itu? Terlebih lagi, dia tampan, bahkan Joey sendiri sangat mengagumi wajah dingin nan mempesona itu. Pasti banyak wanita di luar sana yang sedang berjuang mati-matian mengejar cintanya.


Drrttt... Drrtttt...


Ace, nama yang tiba-tiba tampil dilayar ponsel Joey. Dengan sigap, ia mengangkat panggilan tersebut.


"Halo?"


^^^"Aku di lobby, kita ke cafe yuk?"^^^


"Eum ...."


Joey terdiam sejenak. Matanya tertuju pada kaki yang berbalut kain kasa tersebut. Saat itu juga ia teringat akan Rain, pria yang memaksanya putus dari Ace.


^^^"Choco Sayang?"^^^


"Oh! Ah ... o-oke. Tunggu ya, Kak!"


Joey mematikan ponsel dan bergegas menuruni ranjangnya. Gadis itu berjalan tertatih-tatih menuju pintu kamarnya, dia benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk berjalan.


Setelah bersusah payah menuju pintu kamar, Joey memutar gagang pintu dengan sangat perlahan. Dia benar-benar tak ingin mengeluarkan suara sekecil apapun, takut nantinya Rain sadar dan tak mengizinkannya pergi.


"Please, please, please. Semoga Om Rain lagi di kamar," gumam Jihan lirih, suaranya bahkan hampir tak terdengar.


Pintu kamar terbuka. Ia melihat ke arah kamar Rain yang berada di depannya. Pintu tersebut tertutup dengan rapat.


"Fiuhh..." Joey menghela nafas lega. Ia kembali melanjutkan perjuangannya menuju ke pintu keluar.


Kurang lebih satu menit, akhirnya gadis itu sudah berada di luar apartemen dan bergegas menuju ke lift.


Joey menekan tombol turun sambil berharap cemas melihat ke arah pintu apartemennya. Takut tiba-tiba Rain keluar karena sadar bahwa ia tak ada di kamar.


TING!!!


Pintu lift terbuka.


Saat pintu lift perlahan terbuka, tampak sosok pria yang tak asing berada di dalam sana. Joey terbelalak melihat pria yang ada di dalam lift tersebut.


"O-om!" gumam Joey.


"Joey, kamu mau kemana?" tanya Om Harry sambil keluar dari lift tersebut.

__ADS_1


"A-aku ada perlu, Om," ucap Joey. Ia takut nanti Harry melaporkan pada Rain bahwa Joey pergi meninggalkam apartemen.


"Om, tolong jangan bilang sama Om Rain ya kalo Om ngeliat aku atau ketemu sama aku. Pleaseee," Joey memelas sambil memasuki lift yang perlahan pintunya mulai tertutup.


"Joey!" panggil Harry. Sayangnya pintu lift tersebut keburu tutup sehingga ia tak dapat menanyakan lebih lanjut.


...****************...


"Halo, Sayang!" sapa Ace dengan antusias. Pria itu melambaikan tangannya ke arah Joey yang muncul di lobby.


Namun mimik wajah Ace seketika berubah saat melihat Joey yang tidak mengenakan alas kaki dan kedua kakinya berbalut kain kasa.


"Halo, Kak," ucap Joey sambil memasuki mobil tersebut. Wajah yang pucat disertai bibir yang kering membuat Ace mendadak penasaran.


"Kamu kenapa?!" tanya Ace sambil memegang kedua pipi Joey.


"Kak, kita nggak ada waktu. Ayo kita pergi dulu. Please, Kak!" pinta Joey sambil sesekali melihat ke arah lobby. Ia takut-takut jika Rain dan Harry tiba-tiba muncul di sana.


Mendengar permintaan dari gadis yang ia cintai, Ace bergegas melajukan mobilnya meninggalkan apartemen tersebut.


"Hah!" Joey menghela nafas lega saat mobil yang ia tumpangi sudah tak lagi berada di apartemen yang ia tempati.


Karena penasaran, Ace menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia menoleh menghadap Joey.


"Kak, a-aku takut," ucap Joey dengan suara yang serak dan tubuh yang bergetar.


Mendengar suara Joey yang gemetaran, Ace bergegas memeluk tubuh gadis itu dan ia mengarahkan kepala Joey ke dadanya. Tangan kiri Ace memegang tengkuk Joey sedangkan tangan kanannya mengelus punggung Joey agar gadis itu merasa lebih baik.


"A-aku nggak tau harus mulai dari mana, Kak."


"Yaudah, kita nggak usah ke cafe. Ke rumah aku dulu aja, kebetulan mama sama papa lagi keluar kota," ucap Ace.


...****************...


Ting Tong!


Suara bel dipencet terdengar dari dalam kamar Rain. Pria itu tau bahwa orang yang memencet bel dari luar adalah Harry. Ia bergegas bangkit dari ranjangnya, menuju pintu kamar dan membukanya.


Tatapan Rain terfokus pada pintu kamar Joey yang tertutup rapat. Sepertinya gadis itu sedang ngambek di kamar. Rain pun bergegas ke pintu utama, ia membukakan pintu. Dibalik pintu tersebut ada sosok Harry yang sedang menunggu dengan melebarkan senyum yang agak kikuk.


Pria yang kini berusia tiga puluh tiga tahun itu memasuki apartemen setelah dihimbau masuk oleh Rain.


"Tunggu di ruang tamu," ucap Rain. Ia mengambil plastik yang berisikan makanan cepat saji tadi, makanan yang tak sempat dihabiskan oleh Joey.


Niat hati Rain, ia ingin memberikan makanan tersebut kepada Joey. Walaupun sedang ngambek, dia harus makan agar tidak sakit.


Rain bergegas menuju ke kamar Joey. Pria itu memegang gagang pintu, namun tidak diputarnya. Ia bimbang, apakah sebaiknya pintu tersebut ia ketuk dulu? Atau langsung buka saja?


Tok tok tok!

__ADS_1


Rain berdiri menunggu sahutan dari dalam kamar. Suara yang ia tunggu-tunggu tak kunjung terdengar. Ia kembali mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!


"Saya masuk kalo kamu diam!" ujar Rain.


Di waktu yang sama, Harry yang sedang duduk di ruang tamu menjadi bimbang. Apakah sebaiknya dia beritahu saja bahwa tadi ia melihat Joey di lift? Tapi, gadis itu memintanya untuk tidak memberitahu hal tersebut kepada Rain.


Sungguh ini situasi yang sulit baginya, pikir Harry saat itu.


Rain yang berdiri mematung di depan kamar Joey merasa kesal karena Joey tak bersuara. Padahal sudah pernah ia katakan kepada gadis tersebut bahwa dia orangnya tidak sabaran.


Merasa kesal, Rain pun membuka pintu kamar Joey. Matanya berkeliling melihat ke dalam kamar, ia tak menemukan sosok gadis yang ia cari.


Mungkin sedang di kamar mandi pikir Rain. Pria itu pun mendekat ke arah kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi.


Tok tok tok!


"Kamu di dalam?" tanya Rain ragu-ragu. Tapi tak ada sahutan, bahkan suara gemercik air pun tak terdengar.


Rain memberanikan diri membuka pintu kamar mandi tersebut. Matanya membulat saat mengetahui Joey juga tak ada di dalam sana. Ke mana gadis itu pikirnya.


"Pasti ke rumah bocah ingusan itu!" geram Rain sambil meremas plastik makanan cepat saji yang ada ditangannya.


Rain bergegas keluar dari kamar Joey menuju ruang tamu. Dengan raut wajah yang cemas, ia benar-benar yakin bahwa saat itu Joey ke rumah Ace, pasalnya gadis itu kekeh untuk tidak memutuskan pria itu.


"Di mana rumah bajingan yang saya suruh selidiki?" tanya Rain sambil menatap ke arah Harry.


Harry bangkit dari duduknya.


"Di Jalan Wijaya, Pak."


"Kita ke sana!" titah Rain.


"Tunggu," ucap Rain tiba-tiba. "Kamu nggak ngasih tau Joey 'kan, kalo selama ini aku memintamu untuk update semua hal tentangnya sejak ia melangkahkan kakinya ke apartemen ini?!"


"Tidak, Pak. Saya tidak mengatakan apa-apa."


"Oke." Rain memutar tubuhnya membelakangi Harry, berniat melangkahkan kakinya.


"Tapi ...."


Rain menoleh ke belakang, melihat keraguan yang ingin dikatakan oleh Harry.


"Dia selalu mencari tau tentang Bapak di sosial media karena saya nggak pernah memberikan jawaban pasti saat dia menanyakan anda," jelas Harry.


"Bibit kecil yang dulunya ditemukan di tempat yang gersang, diambil, ditanam dan dirawat dengan baik, kini sedang mencari pemiliknya yang sedang bersembunyi, jangan sampai tunas yang telah berbunga itu dipetik oleh orang lain," sambung Harry lagi.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2