OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Obsesi yang Membara


__ADS_3

..."Benar, apapun yang terjadi, Mas Rain harus tetap menjadi milikku! Aku harus mencari cara supaya Mas Rain menikahi ku segera!" - Anya...


...🌸🌸🌸...


"Apa?!!!"


Anya yang saat itu sedang menicure pedicure di sebuah salon sambil rambutnya dibalut handuk hangat karena sedang creambath, ia dibuat tersentak kaget begitu mendapatkan sebuah panggilan dari bawahannya.


Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu berdiri dari duduknya sesaat mendengarkan laporan yang ia terima. Kutek yang sedang dipakaikan oleh pekerja salon tersebut dibuat belepotan di jarinya, tapi tak ia hiraukan.


"Itu ulah siapa?!" tanya Anya pada bawahannya melalui telfon. Matanya terbelalak dengan bibir bawah yang bergetar. Kemudian tangannya mengisyaratkan pada pekerja salon tadi untuk pergi meninggalkannya.


^^^"M-maaf, Bu. K-kami nggak tau itu ulah siapa."^^^


"Cepat cari tau! Atau kalian akan kehilangan pekerjaan?!" kecam Anya saat itu juga sambil mematikan ponselnya.


Ia dibuat panik saat mengetahui Pak Teddy disandera oleh sekelompok asing yang tak ia kenal. Jika Pak Teddy disandera, berarti pergerakan prostitusi yang ia jalankan bersama keluarganya juga ikut ketahuan.


Orang itu hanya menginginkan uang 'kan? Lalu reputasinya dan keluarga Shailendra tak akan tercemar 'kan? Kalau reputasinya tercemar, pasti pernikahan antara dia dan Mas Rain-nya akan dibatalkan. Tidak, tidak! Itu tak boleh terjadi, pikirnya saat itu.


"Benar, apapun yang terjadi, Mas Rain harus tetap menjadi milikku!" gumam Anya tiba-tiba.


"Aku harus mencari cara supaya Mas Rain menikahi ku segera!" sambungnya lagi.


Di saat getir seperti ini, ia teringat pada tunangannya. Yang ada dipikirannya saat ini adalah, jangan sampai pria itu tau bahwa ia terlibat dalam kasus asusila, bisa-bisa pria itu tak jadi menikahinya jika tau hal tersebut. Meskipun harus ketahuan, pria itu harus sudah menjadi miliknya dulu! Apapun yang terjadi.


"Hah!" Anya mendengus sebal. Wanita itu bertolak pinggang sambil mondar mandir bak setrika karena sedang gelisah. Ia benar-benar takut jika pria yang sudah ia cintai sejak kuliah itu tak menjadi miliknya.


Beberapa detik kemudian, Anya tersentak dan terdiam di tempat. Seolah-olah semesta mendukungnya. Ia mendapatkan sebuah ide yang menurutnya dapat membuat apapun yang ia inginkan terkabulkan saat itu juga.


Anya bergegas menelepon seseorang. Wajahnya yang semula suram dan ketakutan serta khawatir, kini berubah menjadi lega.


"Halo," sapa Anya sambil menyeringai. "Aku punya tugas untukmu. Bayarannya tiga kali lipat dari biasanya."


...****************...


"Ada sesuatu yang kamu mau?" tanya Rain sambil menatap fokus ke arah jalanan. Ia sedang mengendarai mobil untuk mengantarkan Joey pulang ke apartemennya.


"Aku mau Om," rengek Joey manja. Gadis itu memposisikan tubuhnya menghadap Rain dan ia bersandar di pintu mobil.


"Hahaha... jangan sampai aku memakanmu saat ini juga di mobil," celetuk Rain sambil menoleh ke arah Joey sekilas, kemudian ia mengarahkan kembali pandangannya ke depan.


Joey yang melihat jalanan yang padat merasa bahwa pria itu tak akan mungkin bisa memakannya saat itu juga di mobil. Sebaliknya, ia malah mengejek pria tersebut.


"Makan aja kalo bisa," ejek Joey sambil mencebik.


Rain dibuat menyeringai mendengarkan ucapan gadis tersebut. Ia bergegas menepikan mobilnya di sela-sela kepadatan lalu lintas tersebut, kemudian menghidupkan lampu hazard.

__ADS_1


"O-Om, ngapain?" tanya Joey terbata-bata. Ia terkejut dengan kelakuan nekad pria tersebut.


"Memakanmu, Sayangku..." goda Rain sambil membuka seatbeltnya.


"Di sini?!!" tanya Joey sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


"Hmm." Rain meraih tubuh gadisnya agar berdekatan dengannya, kemudian ia mendekatkan bibirnya ke bubir gadis tersebut.


"A-aku bercanda," ucap Joey.


"Kalo Om nekad, aku turun nih ya?" rengek Joey sambil cemberut dan dahinya mengkerut.


Rain terkekeh sambil memposisikan tubuhnya menghadap stir mobil dan pandangannya kembali fokus ke depan sembari memasang kembali seatbelt. Sebenarnya, ia juga tak akan memperkosa gadis itu di jalanan yang padat begini, hanya saja ia ingin sedikit menjahili gadis itu. Entah kenapa rasanya bahagia saat melihat rengekan manja Oleander-nya.


“Malam ini aku nggak akan memakanmu,” gumam Rain sambil tersenyum. “Tapi aku akan memakanmu setelah membereskan cecunguk-cecunguk itu.”


“Jadi, malam ini Om pulang ke apartemen?” tanya Joey girang.


Joey mendadak bahagia karena malam ini pria itu pulang ke apartemen. Entah kenapa, sejak mereka saling terbuka, rasanya sulit sekali untuk berpisah dengan pria itu walau hanya sebentar. Mungkin karena rasa itu perlahan mulai membesar dan tumbuh dengan subur.


“Hmm. Aku pulang malam ini,” jawab Rain sambil menoleh ke arah Joey. Kemudian ia menatap lagi ke jalanan.


“Karena sekarang, Papa udah nggak bisa mengancamku menggunakan wanita sialan itu.”


...****************...


Namun, saat ia sibuk mengunyah sambil browsing tentang kehamilan, tiba-tiba saja ia teringat akan Kale dan Luca. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa bersalah selama ini mengabaikan panggilan dan pesan dari kedua pria tersebut. Apa sebaiknya ia bertemu mereka besok? Tapi keputusan apa yang harus ia ambil? Apakah tetap lanjut atau berhenti dan membayar uang kerugian karena pembatalan kontrak sebelah pihak.


“Ntar aja deh, aku tanyain Om sebaiknya gimana,” gumamnya pelan.


Drrttt Drrtttt…


Sebuah panggilan masuk dari nomor baru yang tak ia kenal. Joey mengerutkan keningnya menatap layar ponsel tersebut. Namun, ia tetap mengangkat panggilan tersebut karena penasaran.


“Halo.”


^^^“Halo.”^^^


^^^“Benar ini dengan Mbak Joey Ainsley?”^^^


“Iya, saya sendiri. Dari mana ya?” tanya Joey heran. Pasalnya suara pria tersebut benar-benar asing baginya.


^^^“Maaf mengganggu. Saat ini Bapak Rain sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan.”^^^


^^^“Saya yang membawanya ke rumah sakit tadi karena ambulance terlambat datang.”^^^


“Apa?!!!” Joey terbelalak kaget. Sekujur tubuhnya bergetar mendengarkan kabar bahwa pria yang ia cintai mengalami kecelakaan. Sisa-sisa makanan yang belum terkunyah sempurna di dalam mulutnya, ia telan paksa.

__ADS_1


^^^“Mbak bisa ke rumah sakit sekarang?”^^^


“Bisa. Bisa. Rumah sakit mana, Mas?”


^^^“Rumah Sakit Pandora, Mba. Nanti Mba bisa langsung ke UGD ya.”^^^


Setelah mendapatkan panggilan tersebut, Joey bergegas mengambil tasnya ke kamar, kemudian menuju pintu dan hanya memakai sendal jepit. Lalu ia bergegas menuju lift. Ia tak peduli apakah makanannya tadi habis atau tidak, apakah tenggorokannya serat karena tidak minum, ia benar-benar tak peduli.


TING!!!


Sesaat setelah pintu lift terbuka, ia bergegas masuk ke dalam lift tersebut, dan menekan tombol G untuk turun ke lobby.


“Oh iya, aku harus ngabarin Om Harry,” gumam Joey sembari melihat layar ponselnya. Tangannya bergetar hebat sehingga sedikit kesulitan untuk mengetik nama Harry di daftar kontak.


TING!!!


Pintu lift terbuka. Joey bergegas keluar dari lift.


“Astaga… aku belum pesan taksi online!” gerutunya. Ia langsung membuka aplikasi taksi online tanpa menghubungi Harry. Pikirnya, nanti ia bisa menelefon pria itu saat di jalan.


Tak lama setelah Joey membuka aplikasi online, tiba-tiba saja ada sebuah taksi biru yang lewat di depan lobby dan berhenti.


“Oh. Taksinya kosong, kayaknya aku naik itu aja deh,” gumamnya sambil berjalan mendekati taksi tersebut.


“Pak,” panggil Joey.


Supir taksi tersebut menurunkan kaca mobil. “Ya, Mbak.”


“Udah ada yang pesen? Kalo belum, tolong anterin saya ke Rumah Sakit Pandora,” ucap Joey panik.


“Kebetulan orderan sebelumnya cancel, Mbak. Ayo saya anterin ke tujuan,” ucap supir taksi tersebut.


“Tapi maaf Mbak, bisa duduk di kursi depan tidak? Karena di belakang basah, soalnya penumpang sebelumnya bawa anak kecil dan ngompol.” Sambungnya.


Tanpa berlama-lama, Joey bergegas masuk ke dalam taksi tersebut dan ia duduk di pintu depan. “Nggak pa-pa, Pak.”


Di saat yang sama, Brown dan David yang sedang berjaga-jaga di pintu gerbang apartemen tak sengaja melihat Joey pergi menaiki taksi. Mereka yang berada di atas trotoar sambil menghi.sap rokok mendadak saling bertatapan.


“Miss A ke mana?” tanya David kepada Brown.


Brown mengangkat kedua bahunya yang berotot dan bertato secara bersamaan. “Ayo, ikutin.”


Tanpa berlama-lama, Brown dan David yang naik motor itu bergegas menancap gas untuk mengikuti Joey yang sedang di dalam taksi. David yang mengendarai motor sedangkan Brown yang boncengan.


“Bos, Miss A naik taksi tapi tak tahu ke mana,” ucap Brown dalam pesan singkat yang ia kirimkan kepada Rain.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2