OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Oleander-ku yang Berharga


__ADS_3

..."Tak ada yang lebih berharga selain Oleander-ku dan bayi kita." - Rain...


...🌸🌸🌸...


“Tinggal bareng?!”


Di pojok belakang ruangan di lantai rahasia Hotel Leonidas, Joey tersentak kaget dengan sekujur tubuh yang bergetar. Raut wajah gadis itu mendadak berubah seketika saat mendengarkan pria yang ia cintai akan tinggal bersama dengan wanita lain. Ia mencoba bangkit dari duduknya, namun tubuhnya ditahan oleh tangan kekar pria tersebut.


“Dengarkan aku dulu,” pinta Rain dengan suara yang memohon. Kedua alis pria tersebut turun dengan tatapan yang memelas.


Joey mendengus sebal. Ia berusaha menghela napasnya sembari berusaha mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh prianya itu. Meskipun darahnya seketika mendidih saat membayangkan pria yang ia cintai berada seatap dengan wanita lain.


“Nggak ada pilihan lain,” ucap Rain. “Karena dengan itu aku bisa mendapatkan posisi CEO secepatnya.”


“Terus, aku nahan hati setiap hari mikirin Om sama dia?”


Rain terdiam. Apa yang dikatakan gadis itu benar dan ia tak dapat menyanggahnya. Ia benar-benar bingung dengan situasi yang sedang ia hadapi saat ini. Ingin sekali rasanya ia menyudahi semua dendam ini, meninggalkan semua kerja kerasnya selama ini dan mencoba membuka lembaran baru dengan gadis yang ia cintai tersebut.


Drrtt Drrtttt…


Tiba-tiba saja ponsel Rain bergetar.


Kedua orang tersebut secara refleks menoleh ke arah meja di mana ponsel tersebut sedang bergetar.


Mata bulat Joey dibuat semakin membulat akibat terbelalak saat melihat nama ‘Lalat Hijau’ yang tertera di layar, hal tersebut semakin membuat Joey kesal dan mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Ia benar-benar sedang dibakar api cemburu.


“Tuh, kesayangan Om nelfon,” celetuk Joey sebal. Gadis itu memperlihatkan ketidaksukaannya pada wanita yang baru saja menjadi biang kerok kenapa mereka cekcok.


Rain meraih ponsel yang bergetar tersebut. "Aku akan menolak panggilannya."


Setelah menolak panggilan dari Anya, Rain kembali meletakkan ponsel tersebut ke atas meja dan kembali menatap ke arah Joey. "Ja-"


Drrttt Drrttt…


Rain tak dapat melanjutkan ucapannya saat ponselnya kembali berdering. Konsentrasinya terganggu dan ia naik pitam akibat panggilan yang mengganggu tersebut. Padahal ia berencana menjelaskan permasalah kemaren pada Joey.


“Tuh ‘kan, nelfon lagi,” ucap Joey semakin kesal. “Udah ah, jawab dulu aja.”

__ADS_1


Joey membuang wajahnya ke arah kanan karena tak ingin menatap ke arah Rain. Entah kenapa, suasana hati gadis itu menjadi mudah mengalami perubahan, pasalnya dia sedang hamil muda.


Rain yang sempat membaca artikel tentang perubahan emosi pada ibu hamil muda hanya bisa menghela napasnya mencoba memaklumi mood swing yang sedang Oleander-nya alami. Ia kemudian meraih ponselnya kembali dan mengangkat panggilan tersebut.


“Loudspeaker,” bisik Joey penasaran. Entah sejak kapan, tiba-tiba saja wajah gadis itu sudah berada di dekat telinga Rain.


Rain tak mampu menahan perasaan menggelitik di dadanya akibat tingkah gadis tersebut. Sifat yang mudah berubah-ubah memang memusingkan, tapi entah kenapa membuatnya gemas. Ia menghidupkan pembesar suara ponselnya sesuai keinginan Joey.


^^^“Ayo ketemu.”^^^


Tanpa basa-basi, Anya langsung mengatakan tujuannya.


“Kita nggak ada urusan,” ketus Rain dingin.


^^^"Mau aku samperin ke Hotel Leonidas?"^^^


Rain terbelalak. Bagaimana wanita itu bisa mengetahui keberadaannya? Apa wanita tersebut mengirimkan mata-mata untuk mengawasinya?


"Kamu mengawasiku?" kecam Rain dengan suara yang penuh penekanan.


Anya terdengar menghela napasnya sambil tertawa kecil, tawa yang penuh arti dan terdengar mengejek.


^^^"Nama ayah kandung gadis itu 'kan?"^^^


Joey yang sedari tadi hanya diam mendengarkan percakapan antara Rain dan Anya, tubuhnya tiba-tiba dibuat bergetar dengan hebat. Detak jantung yang tak karuan dan perasaan sesak yang membuatnya kesulitan bernapas karena sebuah nama yang telah lama ia lupakan. Nama yang memberikan trauma mendalam bagi gadis tersebut.


"Brengsek!!! Apa mau mu?!" umpat Rain dengan suara yang lantang. Amarahnya seketika memuncak saat Anya membuat takut gadis kesayangannya.


^^^"You."^^^


^^^"I want you."^^^


"Ck! Itu nggak mungkin terjadi."


^^^“Aku bakalan bantuin Mas dapetin posisi CEO Ravindra Group."^^^


Rain terdiam. Kini ia yang dibuat terperangah mendengarkan ucapan wanita ja.lang tersebut.

__ADS_1


^^^"Tapi ada syaratnya."^^^


Lagi-lagi suara Anya terdengar bengis dengan nada yang mengejek. Ia sepertinya sedang tertawa puas karena berhasil menemukan titik lemah dari kedua orang tersebut. Titik lemah yang membuat rivalnya tak berkutik sekaligus titik lemah yang dapat membuat pria incarannya bertekuk lutut. Pikirnya saat itu, Rain tak mungkin menolak tawaran besar yang ia berikan hanya karena seorang gadis yang tak berarti apa-apa itu.


Tanpa mengatakan apa-apa, Rain menutup ponselnya kemudian meletakkan ponsel tersebut ke atas meja. Mata elang yang semuIa teduh kini berubah merah dan terlihat tegang akibat amarah yang meledak-ledak. Ia memijat kepalanya sambil menyeka rambutnya ke atas sambil memejamkan mata.


Kemudian, Rain kembali membuka matanya dan menatap ke arah Joey, ke arah wanita yang sedang terdiam dengan wajah yang sangat pucat sejak tadi. Ia sadar, ada banyak hal yang sedang berkelabat dipikiran gadis itu, terlebih lagi tadi wanita ja.lang tersebut menyebut nama pria yang memberikan luka mendalam padanya saat kecil.


“Ayo kita ke luar negri!" seru Rain tiba-tiba.


“Haaa?” Joey yang sebelumnya terdiam kaku, kini mendadak tersentak kaget akibat ucapan pria itu. Tatapan yang semula kosong dan perasaan yang tak tenang, kini mendadak tergantikan dengan tatapan yang penuh dengan pertanyaan.


“Kita ke luar negri, nikah dan hidup di sana,” jelas Rain tegas.


“Gimana dengan Ravindra Group, Om?” tanya Joey tak mengerti. Bukankah selama ini pria tersebut sudah mengerahkan seluruh hidupnya yang hampa hanya untuk sebuah balas dendam? Lalu kenapa tiba-tiba pria itu berubah pikiran dan ingin pergi meninggalkan Indonesia?


"Tak ada yang lebih berharga selain Oleander-ku dan bayi kita," tegas Rain gamblang.


Rain meraih kedua tangan Joey yang sedari tadi bergetar karena rasa traumanya akan masa kecil tiba-tiba muncul lagi. Ia mere.mas jemari tersebut sembari menatap lekat ke arah Joey.


"Dulu, pembalasan dendam adalah tujuan hidupku. Tapi sekarang tak lagi karena kamu adalah tujuan yang akan ku perjuangkan."


Joey tersentak. Hatinya mendadak terenyuh akibat ucapan pria tersebut. Ucapan yang begitu tulus dan menyiratkan banyak makna-makna yang sangat mudah untuk ia mengerti. Rasa takut yang semula menyelimutinya akibat trauma masa lalu, mendadak terlupakan dan tergantikan dengan rasa haru yang begitu membuatnya melayang saking bahagianya.


Tangan kanan Joey tanpa sengaja membelai lembut pipi Rain. Ia membelai pipi pria tersebut dengan penuh perasaan sukacita yang tak mampu ia ungkapkan namun dapat tersalurkan dengan baik ke pria tersebut.


"Om membuatku nggak bisa berkata-kata lagi," gumam Joey lirih. Matanya mendadak berkaca-kaca meski bibirnya tersenyum.


Rain menggenggam tangan Joey yang membelai pipinya dengan lembut. Kemudian di ciumnya tangan tersebut.


Rain mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang aneh saat ia menggenggam dan menciumi tangan gadis tersebut. Tanpa sadar ia memicingkan mata melihat ke arah jari kanan Joey. Tiba-tiba saja sudut bibirnya terangkat dan tersenyum. "Ku pikir, cincin ini sudah dibuang."


"Membuang cincin ini, sama saja dengan membuang kebahagiaan di hidupku." Gumam Joey pelan namun penuh penghayatan.


"Maafkan aku," tutur Rain. "Maaf karna malam itu aku sempat mengatakan bahwa kita tak akan menikah. Aku terbawa emosi sesaat dan aku t-"


Joey bergegas melu.mat bibir tebal milik prianya. Ia tak membiarkan pria tersebut menyelesaikan ucapannya karena tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh pria tersebut kala itu. Bukankah itu masa lalu? Lagi pula kejadian tersebut terjadi karena banyaknya kesalah pahaman yang terjadi antara mereka akibat komunikasi yang buruk. Lalu, kesalah pahaman tersebut sudah teratasi, jadi untuk apa lagi dibahas? Sebaiknya ia menikmati kebahagiaan yang kini menyelimuti mereka ketimbang memikirkan masa lalu yang sudah berlalu.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2