
..."Aku nggak tau, udah berapa wanita yang udah Mas tidurin. Tapi aku yakin satu hal, Mas nggak akan bisa ngelupain sedetik pun keintiman kita kalo Mas udah tidur dengan aku!" - Anya...
...🌸🌸🌸...
"Ngapain ke sini?!" tanya Rain tak suka.
Pria bermata elang itu menatap tajam ke arah wanita yang sedang membuat keributan di meja resepsionis. Ia merasa sangat terganggu dengan kehadiran lalat hijau itu!
Seorang wanita yang sedang mengenakan dress putih dengan rambut coklat sebahu itu membalikkan tubuhnya ke arah asal suara yang tak asing baginya. Wajah kusut karena amarah yang meledak-ledak pada resepsionis tadi mendadak berubah menjadi manis saat melihat sosok pria yang ia cari-cari.
"Mas Rain!" panggil Anya. Ia berjalan mendekati Rain sambil menjinjing tas mungilnya yang bermerek Bucci.
"Mas! Kok siang-siang ke hotel?" tanya Anya sambil meraih lengan kekar pria idamannya.
Rain menempik tangan tersebut dengan kasar. "Jaga kelakuanmu di depan umum!"
"Loh, Mas sendiri? Malah masuk hotel dengan gadis muda," protes Anya sembari mengerutkan keningnya. "Aku ngeliat sendiri kok."
Rain mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar tak dapat menutupi rasa tak sukanya pada wanita yang ada di depan matanya saat ini.
"Dengar!" kecam Rain penuh penekanan namun dengan nada suara yang perlahan. "Perjodohan ini cuma sebatas bisnis, nggak usah pake hati!"
"Terserah Mas mau ngomong apa, aku nggak akan pernah menyerah! Toh, Mas juga bakalan jadi suami aku," ucap gadis itu percaya diri.
"Aku nggak tau, udah berapa wanita yang udah Mas tidurin. Tapi aku yakin satu hal, Mas nggak akan bisa ngelupain sedetik pun keintiman kita kalo Mas udah tidur dengan aku!"
"Ck!" Rain berdecak sebal dengan sudut bibir kiri yang setengah terangkat. Andai saja bukan wanita yang ada di depannya saat ini, mungkin sudah tamat riwayatnya.
"Karena udah di sini, ayo check-in!" pinta Anya tanpa sedikitpun rasa malu. "Itung-itung pemanasan sebelum kita nikah."
"Pergilah, selagi aku ngomong baik-baik," usir Rain dingin. Wajah pria itu benar-benar sudah terlihat muak dan dongkol.
Rain memutar tubuhnya karena ingin beranjak pergi dan meninggalkan Anya, namun lengan kekarnya mendadak ditahan oleh wanita tak tahu malu itu.
"Mas, kurang aku apa? Aku bakalan berusaha jadi wanita yang Mas mau."
__ADS_1
Rain tak menggubris Anya. Pria itu malah melepaskan tangannya dengan kasar dari rangkulan lalat hijau itu. "Pergi nggak?!"
"Oke, aku pergi. Tapi aku bakalan bilang ke Papa dan Mama kalo Mas sedang check-in dengan seorang gadis di hotel," ancam Anya.
Wanita itu mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang ia jinjing sejak tadi. "Aku juga punya foto gadis yang masuk bareng Mas tadi, ntar aku sebarin biar tuh pe lacur nggak punya muka lagi buat hidup!"
Rain merampas ponsel Anya saat itu juga. Pria itu langsung naik pitam saat lalat hijau di depannya membawa-bawa Oleander kesayangannya dalam permasalahan pelik yang terpaksa mereka jalani.
Jika bukan karena kedua orangtua mereka bersahabatan sejak lama, tak mungkin ia terjebak dalam perjodohan bisnis yang memuakkan itu.
"Sampai orang di sekitarku terusik karenamu, aku takkan tinggal diam!" ancam Rain sambil menudingkan telunjuknya ke wajah Anya.
"Aku nggak akan ngusik mereka, asalkan ... Mas nggak terus-terusan menjauhiku."
Rain diam dan tak dapat berkata-kata. Seolah-olah saat ini ia terjebak dipilihan yang sulit ia putuskan. Jika ia menjauhi lalat hijau itu, maka akan sulit baginya mendapatkan posisi CEO. Sebaliknya, jika ia mengikuti permintaan lalat hijau tersebut, maka Oleander-nya akan tersakiti.
"Aku jadi curiga sama pe lacur itu. Jangan-jangan ... Mas ada sesuatu dengannya."
Anya mengambil ponsel miliknya dari tangan Rain yang mendadak kaku tanpa sepatah kata pun yang terucap. Wanita itu tersenyum dengan penuh kemenangan, sepertinya benar, bahwa Rain memiliki hubungan yang spesial dengan gadis tadi.
Setelah kepergian lalat hijau itu dari pandangannya, Rain segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.
"Brown, ke rooftop!" perintah Rain pada Brown melalui ponselnya.
...****************...
Siang itu, matahari sangat terik sampai-sampai hangatnya membakar tubuh dan menyengat ke kulit.
Rain, pria itu tak peduli dengan panasnya matahari yang membakar tubuhnya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok di balik saku jasnya, lalu mengambil sebatang rokok dan ditarohnya ke bibir.
Di saat yang sama, Brown yang baru tiba, mengeluarkan mancis dan membakar ujung rokok Rain.
"Haaa..." Rain menghela nafas sambil membuang asap rokok dari saluran pernafasannya. Tatapannya lurus ke arah hiruk pikuknya jalan yang padat pada siang hari itu.
"Perketat pengawasan kalian kepada Miss A," titah Rain tegas. "Lalu, awasi gerak gerik yang mencurigakan dari Anya."
__ADS_1
"Aku tak ingin Oleander-ku dihinggapi lalat hijau itu!" sambungnya sambil membuang puntung rokok yang belum habis ia hisap. Lalu diinjaknya sampai hancur.
"Baik, Bos!"
"Gimana dengan Tim Selatan?" tanya Rain sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana.
"Mereka masih mencari bukti-bukti penyelundupan narkoba yang dilakukan oleh Shailendra Group," jawab Brown tegas. "Infonya, Shailendra Group juga salah satu mucikari terbesar di Indonesia, tapi mereka menutupinya dengan bisnis terapi refleksi."
"Ck! Mucikari terbesar di Indonesia?" Rain menaikkan alisnya sebelah sambil menyeringai. Lalu ia mengusap-usap dagunya yang kasar karena bekas cukuran jenggot.
"Pantas saja anaknya menjadi PE-LA-CUR!!!" umpat Rain kasar sambil bertolak pinggang. Ia mendongak menatap langit yang terik sambil menghela nafas dan memejamkan mata. Mencari jalan keluar, bagaimana ia bisa mendapatkan posisi CEO tanpa harus menikahi ja lang itu.
Rain menatap ke arah Brown. Pria itu mendengus kasar. "Cari tau, apa kelemahan Anya dan keluarganya."
"Baik, Bos!"
...****************...
Di waktu yang sama, setelah bergegas melangkahkan kaki meninggalkan Hotel Leonidas, Anya bergegas masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu duduk di belakang, di kursi penumpang.
Sambil mobilnya melaju karena dikendarai supir, Anya sibuk menatap ponselnya. Ia mengamati dengan sangat teliti wajah gadis yang masuk ke hotel bersama Rain.
"Cih! Pe la cur aja bangga!" umpat Anya kesal.
Sesaat setelah itu, ia bergegas menelefon seseorang.
"Hey, apa kabar? Gue punya tugas baru nih buat lo."
"Gue kasih uang muka lima ratus juta buat lo," sambung Anya dengan senyum yang mengerikan.
Pak Riko yang sudah tua itu, hanya diam dan tak mengindahkan kebusukan yang sedang direncanakan oleh majikannya. Ia hanya fokus mengendarai meskipun telinganya tetap harus mendengarkan ujaran-ujaran kebencian dan perkataan kotor yang diucapkan opeh Anya.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1