
...“Jadi, pekerjaannya sekarang … Sugar Baby Kale? Pekerjaan yang tak akan menyusahkan ku katanya? Ck!” - Rain...
...🌸🌸🌸...
Keesokan paginya, Joey bangun dari tidurnya. Gadis itu mengucek matanya yang sembab karena tangisan semalam yang entah kapan berhenti. Yang dia ingat, ia tertidur saat menangis.
Hari ini, ia mempunyai janji dengan agensi yang akan dikenalkan oleh Kale kepadanya. Jadi, ia bergegas bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Kurang lebih beberapa menit, gadis itu selesai mandi dan bersiap-siap. Tak membutuhkan waktu yang lama, kini ia telah siap memakai dress putih dengan sentuhan makeup cerah.
Joey membuka pintu kamarnya sambil memakai jam tangan. Saat ia fokus memakai jam tangan, tanpa sengaja ia menabrak tubuh Rain yang juga keluar dari kamar dengan tampilan yang sudah rapi. Sepertinya pria itu sedang bergegas menuju kantor.
Rain penasaran. Ke mana Oleander-nya pergi pagi-pagi sekali? Kuliah? Sepertinya tak mungkin, karena tampilan gadis itu tak seperti ingin ke kampus. Ia ingin bertanya, tapi rasanya gengsi.
“Ck! Pagi-pagi udah pacaran,” celetuk Rain kesal. “Membesarkan seorang gadis selama empat belas tahun, tapi ternyata-“
“Aku pergi kerja. Bukan pacaran!” protes Joey sambil bergegas pergi meninggalkan Rain yang terpaku di depan pintu kamar.
Rain terdiam mendengarkan ucapan Joey. Kenapa gadis itu kerja? Memangnya uang saku yang ia berikan kurang sampai-sampai gadis itu harus pergi kerja? Tak tahan dengan rasa penasarannya, Rain bergegas mendekati Joey yang sedang berada di depan pintu keluar. Ia menahan lengan gadis tersebut.
“Kerja?” tanya Rain dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
“Hmm…” dehem Joey sambil menaikkan kedua alisnya. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar itu.
“Memangnya kur-“
“Nggak kurang, tapi aku nggak mungkin bergantung sama SU-A-MI O-RANG lagi ‘kan ke depannya?” ucap Joey dengan nada yang penuh penekanan saat menyebutkan ‘suami orang’.
Joey melepaskan tangan kekar Rain dengan paksa dari lengannya, lalu gadis itu bergegas pergi menuju lift. Disusuli Rain, pria itu juga mempercepat langkahnya menuju lift sehingga mereka berada di lift yang sama saat turun ke lobby.
“Kerja apa? Di mana? Kuliahmu gimana?” cecar Rain penasaran sambil melihat ke arah Joey yang pandangannya lurus ke depan.
“Yang jelas pekerjaan ku tak akan menyusahkan, Om.”
TING!
Pintu lift terbuka. Joey melangkahkan kakinya keluar dari lift menuju lobby. Tepatnya di lobby, ada dua mobil yang sedang terparkir. Merci dan Lamborghini. Di dalam mobil Merci hitam, Harry terlihat sedang di bangku kemudi,sepertinya pria itu sedang menjemput Rain. Sedangkan di dalam mobil Lamborghini hitam, terlihat Kale yang sedang duduk di bangku kemudi.
“Nggak mungkin bule itu menjemput Joey, ‘kan?” gumam Rain lirih saat melihat Kale berada di lobby.
Belum beberapa detik Rain berpikiran bahwa Kale tak mungkin menjemput Oleander-nya, ternyata perkataan tersebut seketika menjadi nyata. Joey berjalan menuju mobil Lamborghini hitam di mana ada Kale di dalamnya. Pria tersebut tersenyum dengan girang saat Joey masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
“Morning, Bro!” sapa Kale sambil melambaikan tangannya ke arah Rain.
Rain mengepalkan tangan melihat Oleander-nya masuk dengan santai ke dalam mobil pria blasteran tersebut. Ia tak mampu menutupi rasa terkejutnya sehingga memperlihatkan raut wajah yang suram di pagi yang mendung itu.
“Sorry, gue cabut dulu ya,” ucap Kale sambil melambaikan tangan kembali dan bergegas menancap gas meninggalkan lobby apartemen tersebut.
Rain yang tersulut amarah dan api cemburu bergegas masuk ke dalam mobil di mana Harry telah menunggunya. Ia merogoh ponselnya dari saku celana dan segera memberikan pesan pada Brown.
“Ikuti Miss A! Jangan sampai kehilangan jejak!”
Setelah mengirimkan perintah kepada Brown, Rain menghela nafasnya ke sambil menatap ke luar jendela. Kepadatan pengguna lalu lintas di jalanan terlihat begitu semrawut, apalagi cuaca pagi itu mendung dan sepertinya sebentar lagi akan hujan.
“Jadi, pekerjaannya sekarang … Sugar Baby Kale? Pekerjaan yang tak akan menyusahkan ku katanya? Ck!”
...****************...
“Om, kok tiba-tiba jemput aku?” tanya Joey sambil melihat ke arah Kale yang fokus menatap ke arah jalan raya.
“Aku ngerasa bersalah kalo biarin kamu naik taksi,” jawab Kale sambil tersenyum.
“Di sampingmu ada coklat panas dan sandwich. Aku nggak tau seleramu apa, jadi aku beli yang best seller aja,” sambung Kale lagi.
“Buang aja kalo emang nggak mau, karna aku akan terus membelinya untukmu,” ucap Kale tanpa sedikitpun rasa kesal karena ditolak mentah-mentah oleh Joey.
Joey menghela napasnya karena pria di sampingnya itu benar-benar keras kepala. Merasa tak enak, ia pun mengambil sarapan yang dibelikan oleh pria bule tersebut dan memakannya. Namun, saat ia meminum coklat panas tersebut, tiba-tiba saja mobil yang dikendarai oleh Kale berhenti mendadak karena ada kucing yang melintasi jalan.
“Bajumu!” seru Kale terbelalak. Minuman coklat panas tadi tumpah mengenai baju putih yang Joey kenakan. “Sorry! Tadi ada kucing yang melintas, makanya aku berhenti mendadak.”
Kale mendadak panik saat melihat baju yang Joey kenakan menjadi kotor karena tumpahan coklat panas. Ia bergegas mengambil tisu dan ingin mengelap paha Joey. “Pasti panas, ya?”
Joey bergegas menahan tangan Kale yang refleks ingin mengelap pahanya yang terkena tumpahan minuman. “Aku bisa sendiri.”
“Sorry, sorry.” Gumam Kale lirih. “Aku punya butik langganan, kita beli baju aja di sana.”
“Ini masih pagi, Om. Mana ada yang buka jam segini,” celetuk Joey sambil mengelap pahanya menggunakan tisu yang ada di tangan Kale tadi.
“Ke apartemen lagi boleh? Aku ganti baju aja bentar,” sambung Joey.
“Kamu yakin?” tanya Kale bersalah.
__ADS_1
“Hmm.”
“Aku janji bakalan ganti baj-“
“Uncle Kale?” Joey memanggil pria tersebut sambil menatap ke arahnya. “I’m okay.”
“Oke, oke. Let’s go,” Kale bergegas memutar mobilnya kembali ke apartemen.
Setibanya di apartemen, Joey bergegas turun dari mobil dan naik ke apartemen untuk mengganti pakaiannya. Tak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Joey kembali turun ke mobil dan mereka melaju ke tempat yang mereka tuju. Kurang lebih satu jam, akhirnya mereka tiba di sebuah kantor yang begitu megah dan mewah.
Joey dan Kale masuk ke dalam kantor tersebut disambut resepsionis cantik dan ramah.
“Selamat pagi, Pak Kale!” sapa Clara, nama yang tertera di name tag resepsionis tersebut.
Kale mengangguk dan tersenyum kepada resepsionis tersebut.
“Bapak sudah di tunggu direktur di ruangan,” ucap Clara ramah. “Mari saya antarkan.”
Kale dan Joey berjalan mengikuti Clara menuju ke lantai 32. Setibanya di lantai 32, mereka berdua di bawa ke sebuah ruangan yang tak jauh dari lift.
TOK TOK TOK!
Clara mengetuk pintu ruangan tersebut, beberapa saat kemudian ia membuka pintu ruangan tersebut sambil mempersilahkan Joey dan Kale masuk.
“Pagi, Pak,” sapa Clara kepada direktur yang sedang berdiri membelakangi mereka karena sedang menikmati secangkir kopi sambil menatapi pemandangan kota di pagi itu dari lantai 32. “Pak Kale dan koleganya sudah di ruangan. Saya pamit keluar.”
Clara bergegas keluar dari ruangan dan menutup pintu. Sesaat setelah itu, pria yang tadinya menatap ke arah luar, membalikkan tubuhnya menghadap Kale dan Joey. Ia tersenyum hangat ke arah Joey dan Kale.
“Morning,” sapa pria tersebut sambil tersenyum hangat dan berjalan mendekati kedua tamunya pagi itu.
Joey mengerutkan keningnya menatap ke arah direktur agensi tersebut. Sepertinya, pria itu tak asing, tapi di mana ia pernah bertemu dengan pria tersebut?
“Morning, Pak Luca!” sapa Kale sambil tersenyum hangat.
“Luca? Di mana aku pernah mendengarkan nama itu?” pikir Joey saat itu.
...****************...
BERSAMBUNG…
__ADS_1