OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Bolehkah Aku Mencintainya?


__ADS_3

..."Bolehkah aku memastikannya lagi? Debaran apa yang sedang menggelitiki dada ku saat ini? Dan jika itu benar dengan apa yang ada dipikiranku saat ini, memangnya, aku boleh mencintai pria seperti ini?" - Joey...


...🌸🌸🌸...


Pagi itu, sinar mentari pagi yang hangat, masuk melewati celah jendela yang terbuka. Ia hadir untuk memberitahu bahwa ini saatnya untuk meninggalkan dunia mimpi.


Di kamar itu, terdapat dua tubuh manusia yang sedang berpelukan erat di atas ranjang berbungkus selimut tebal. Rain terlihat sangat lelap dan masih menikmati mimpi yang belum usai hingga pagi ini. Berbeda dengan Joey, ia membuka dan menerjapkan matanya saat melihat sosok tampan yang sedang tertidur pulas. Saat ia akan bangun, ia merasakan lengan kekar milik pria itu melingkar di pinggangnya.


“Hmm… dasar pria tua mesum! Kayaknya sih, sejak semalam, tangannya nggak pernah lepas dari tubuhku!” celetuk Joey dengan suara yang pelan, ia takut pria mesum di depannya terbangun.


Gadis itu menatap lekat ke arah wajah tampan berhidung mancung milik pria di depannya. Entah atas dorongan apa, tangannya tergerak untuk meraba wajah singa tidur itu. Disentuhnya setiap inci wajah itu dari atas menulusuri hidung hingga akhirnya jari gadis itu berhenti saat di mulut.


Tatapan Joey terhenti saat jemarinya menyentuh bibir tebal pria itu, bibir yang merenggut paksa ciuman darinya, tapi bibir itu juga yang membuat ia merasakan sensasi aneh yang menenangkan. Sebelumnya ia pernah berciuman dengan Ace, tapi, ciuman tersebut tak memberikan kesan apa-apa selain 'ciuman pertama'.


"Aneh, ciuman pertamaku dengan Kak Ace, tapi, ciuman dengan Om Rain jauh membuatku berdebar," gumam Joey lirih.


"Bolehkah aku memastikannya lagi? Debaran apa yang sedang menggelitiki dada ku saat ini? Dan jika itu benar dengan apa yang ada dipikiranku saat ini, memangnya, aku boleh mencintai pria seperti ini?"


Joey menghela nafas pelan, lalu ia tersenyum simpul. Gadis itu mendekatkan bibirnya ke bibir Rain. Perlahan, ia mengecup lembut bibir tebal pria yang sedang tidur itu.


Saat bibirnya bersentuhan dengan bibir Rain, seketika, ada sebuah getaran yang ia tak tau datang dari mana, yang jelas, getaran tersebut membuat tubuhnya tak henti-henti bergetar karena sebuah penolakan dan rasa tak percaya. Sejak kapan rasa itu tumbuh? Sejak kapan ia mulai mencintai pria yang menjadi malaikat dihidupnya? Bukankah selama ini dia selalu menolak kehadiran pria yang selama ini berusaha mendapatkan tubuhnya.


"Ck! Nggak mungkin!" Joey berdecak sebal dengan wajah yang sendu.


"Apa yang nggak mungkin?" tanya Rain sambil menghapus jarak diantara mereka dengan mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Joey, lalu tubuh mereka saling berdempetan.


"Mencintaiku? Kenapa nggak mungkin?" tanya Rain lagi.

__ADS_1


Pria itu benar-benar membuat Joey terkejut. Bukankah sejak tadi pria itu tertidur pulas? Sejak kapan dia bangun? Apa dia mendengarkan semuanya? Pikir Joey saat itu.


“Ng-nggak…” ucap Joey terbata-bata, “kayaknya Om mimpi deh.”


Rain tak mengindahkan ucapan gadis yang ada dipelukannya, sebaliknya pria itu menggigit gemas telinga milik gadis itu.


“Aw!” pekik Joey sambil mengusap-usap telinganya, “ini masih pagi loh, Om.”


“Karna masih pagi, makanya harus jujur. Rasa menggelitik apa yang sedang mengusik Oleander-ku?” goda Rain sambil menatap lekat ke arah Joey.


Pria yang selama ini terkenal dengan wajah dingin dan datar, entah kenapa tiba-tiba menampakkan senyumnya yang manis.


“I-itu ... karena tangan Om di pinggangku, jadinya geli.”


“Ooo… ternyata Oleander-ku pintar berbohong. Aku akan membuatnya jujur dengan sendirinya,” ucap Rain dengan senyum yang penuh dengan misteri. Sepertinya, ada hal mesum yang ingin ia lakukan agar gadis dipelukannya berkata jujur.


"Kamu tidak memakai bra?" tanya Rain frontal. "Bagaimana dengan panty? Sini ku lihat."


“Ish! Om mulai deh!" rengek Joey. "Oke… oke… aku akan jujur, t-tapi … aku belum sepenuhnya pasti denga-“


“Katakan,” potong Rain tak sabar.


“A-aku nggak tau sejak kapan, tapi jantungku sering berdebar saat bibir kita bersentuhan,” ucap Joey. Pipi gadis itu terlihat merona karena menahan malu.


“Hemm… terus?”


“A-aku nggak tau, ini rasa cinta atau kagum, terlebih lagi, Om yang merawatku se-“

__ADS_1


Rain tak membiarkan gadis itu menyelesaikan perkataannya, ia bergegas me lu mat bibir ranum milik gadis tersebut. Baginya, hanya dengan mengatakan jantung gadis itu mulai berdebar saja, sudah cukup untuknya memverifikasi bahwa perlahan, gadis itu mulai menerimanya.


Sedangkan Joey? Gadis itu tak lagi menolak saat dicium, sebaliknya, ia hanya pasrah menerima serbuan demi serbuan yang diberikan Rain kepada dirinya.


Menerima sinyal hijau dari gadis yang menjadi obsesinya selama ini, Rain mengubah posisinya dengan berada di atas tubuh gadis tersebut. Ia memanjat tubuh gadis yang pasrah itu, lalu kedua tangannya tak tinggal diam untuk mulai menjelajahi gunung kesukaannya, gunung yang menjanjikan kekenyalan yang nyata.


“O-Om… pe-pelan-pelan,” de sah Joey saat tangan kekar milik pria itu mulai mere mas bukit kembarnya dengan kasar.


Pria itu tak peduli, saat ini, ia sudah tak ingin menunda-nunda bahkan menahan seluruh gejolak di dada. Ingin ia luapkan dan ia salurkan semuanya pagi itu juga.


Rain kembali menaikkan daster satin milik gadis yang berada di bawah tubuhnya, lalu, ia bergegas mendaratkan bibir hangatnya ke pucuk merah jambu yang menggoda itu. Ia me lu mat nya dengan sangat antusias dan menye d o t nya bagaikan bayi kecil yang sedang kehausan.


“Om … i-ini … a-aneh. S-sakit s-sakit … e-enak,” Joey tak dapat menahan sentruman demi sentruman yang Rain hasilkan ke tubuhnya saat pria itu menggigit gemas pucuk merah jambu di d a d a nya.


Saat menerima sentruman cinta yang penuh gai rah dari Rain, Joey mengalungkan kedua tangannya ke tengkuk pria tersebut, bahkan sesekali ia mencengkram dan menjambak rambut Rain.


“Sial! Aku sudah tak tahan lagi!” dengus Rain sambil bergegas membuka piyamanya. Pria itu sudah tak peduli lagi, apakah pemanasan ini setengah jalan atau masih kurang, apakah ia harus menelusuri lembah bawah itu atau tidak, yang ia rasakan saat ini, daging tak bertulang miliknya sudah tak mampu menahan sabar, daging tersebut sudah mulai sesak dan tak tahan untuk segera memasuki lembah hangat nan sempit milik gadis pe rawan itu. Jika ia melanjutkan pemanasan yang lain-lain, bisa saja gadis itu berubah pikiran.


Rain bergegas membuka celananya, lalu dilemparnya ke lantai. Lalu, ia bergegas membuka segitiga milik gadis muda itu sehingga terpampanglah dengan jelas semak yang terpangkas dengan rapi dengan lipatan yang menggoda.


Rain melebarkan kedua paha Joey dengan mata yang liar dan tatapan bringas yang mengerikan.


"Benteng yang indah. Bagaimana bentuknya setelah dihancurkan, lalu aku menerobos masuk," gumam Rain nakal.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2