OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Bakat Oleander-ku


__ADS_3

..."Aku 'kan punya bakat nyanyi." - Joey...


...🌸🌸🌸...


Joey meringis karena sekujur tubuhnya kesakitan. Ini merupakan hari ketiga dia di atas ranjang, pria yang ia anggap malaikat, ternyata merupakan iblis mesum yang tak punya hati. Selama tiga hari, ia di ikat di atas ranjang, makan minum pun disuapin langsung oleh pria itu, bahkan ke kamar mandi pun ia digendong dan ditunggu.


"Gimana? Hmm?" tanya Rain dingin. Pria itu sedang memeluk tubuhnya dari belakang.


"A-aku nggak bakalan ke mana-mana, dan ..." Joey tak dapat melanjutkan perkataannya, gadis itu mendadak menelan air liurnya. Kerongkongannya mendadak kering dan sulit menelan.


"Dan?" tanya Rain dingin.


"Dan ... aku bakalan nungguin Om cerai sama wanita itu."


Sesaat setelah Joey mengucapkan kata-kata pedih tersebut, entah kenapa, hatinya mendadak terbakar pilu dan menjadi abu. Usia di mana dia seharusnya dapat menikmati cinta selayaknya anak muda seusianya, malah dia harus menunggu pria yang ia cintai menjadi duda. Bahkan, sekarang pria itu belum menikah.


"Good! That's my pretty Oleander!" seru Rain girang sambil memeluk tubuh Joey dari belakang. Pria itu benar-benar sudah kehilangan akal karena obsesinya.


...****************...


Beberapa bulan kemudian.


"Joey!" panggil Zea. Gadis berambut ikal panjang tersebut berlari-lari kecil ke arah Joey yang sedang berjalan menuju kantin kampus.


"Hmm..."


"Chating sama siapa, sih?" tanya Zea penasaran.


"Kepo!" cibir Joey sambil mematikan layar ponselnya.


"Eh... suara lu 'kan bagus, ikut Max Factor gih! Kali aja lu lolos, bisa jadi penyanyi."


"Nggak ah. Ntar kalo gue terkenal, jadinya nggak ada waktu buat elu!"


"Dih... sombong!" cibir Zea sambil menggandeng lengan sahabatnya. "Tapi coba aja yuk! Gue temenin!"


"Nggak ah, ngapain."


Joey tak tertarik dengan saran yang diberikan sahabatnya. Mengikuti ajang audisi pencari bakat nyanyi di seluruh Indonesia. Sejujurnya, dia memang suka nyanyi, bahkan dulu sering mengisi beberapa acara-acara yang diselenggarakan di sekolah. Tapi, entah kenapa dia tak begitu percaya diri. Mungkin karena saat ini dia lebih ingin fokus terhadap kuliahnya.


Joey dan Zea melanjutkan jalannya menuju ke kantin, setibanya di kampus, kedua gadis tersebut membeli beberapa camilan dan minuman, lalu duduk di meja yang berada tak jauh dari tempat mereka membeli camilan.


"Kak Ace, gimana kabarnya?" tanya Zea tiba-tiba.


"Kemaren ni sih sering nelfon, sering watsap juga, tapi gue blokir, sih." Joey menyeruput es teh yang ia beli tadi.


"Lu nggak mau dengerin penjelasannya gitu?"

__ADS_1


"Ngapain? Udah jelas gitu dia ngejebak gue di hotel," jelas Joey malas. Gadis itu sepertinya sudah tak tertarik lagi mendengarkan nama Ace, mantan yang meninggalkan kenangan buruk baginya, yah meskipun kini ia sudah tidak suci lagi gara-gara pria tua mesum itu.


"Kemaren ni Kak Ace watsap gue sih," ucap Zea ragu-ragu. "Mau nggak ketemu dia sekali aja?"


"Yuk, ke kelas," Joey bangkit dari duduknya, namun Zea segera menahan tangan sahabatnya dan menarik gadis tersebut agar kembali duduk.


"Dengerin gue dulu dong," Zea memelas. "Gue kasian sih sama Kak Ace, hampir tiap hari dia nanyain lu sama gue."


"Ya terus? Lu nggak kasian sama gue yang hampir diperkosa sama dia?" sembur Joey kesal. Gadis itu memasukkan camilan ciki-ciki ke mulutnya, lalu dikunyahnya dengan wajah yang kesal.


"Ya gue kasian sama lu, tapi 'kan... dia kek-"


"Zea," panggil Joey dingin. "Stop, atau gue pergi nih?"


"Iya. Iya. Galak banget deh!"


Kedua gadis tersebut pun mengalihkan topik pembicaraan mereka sambil menghabiskan camilan yang mereka beli tadi. Setelah camilan habis, mereka pun bangkit dan berjalan menuju kelas untuk mata kuliah selanjutnya.


...****************...


TING!


Pesan masuk dari Rain. Joey bergegas membuka pesan tersebut.


^^^"Aku di depan kampus."^^^


Joey membelalakkan matanya. Gadis itu mendengus sebal sambil memasukkan buku dan alat tulisnya ke dalam totebag putihnya.


"Buru-buru banget?" celetuk Zea.


"Iya, gue ada urusan, dahhh!"


Joey melambaikan tangannya dan bergegas meninggalkan Zea di kelas. Sedangkan mahasiswa dan mahasiswi yang lain juga berhamburan keluar dari kelas karena dosen yang mengajar sudah keluar dari kelas.


Joey mempercepat langkahnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Saat ia sudah yakin tak ada seorang pun yang ia kenal, ia langsung menuju gerbang dan langsung melihat sebuah Rubicorn hitam yang terparkir di depan gerbang. Platnya B 1241 N. Ia sudah tak asing dengan mobil dan plat itu. Rain, pria yang mengirimkannya pesan tadi. Ia bergegas masuk ke dalam mobil dan menutup kembali pintunya.


"Hello, sweetheart!" sapa Rain sambil mendaratkan sebuah ke cupan ke bibir ranum milik gadis tersebut.


"Om! Aku 'kan udah bilang, nggak usah jemput ke kampus. Ntar ada gosip aku Sugar Baby Om-Om gimana?" rengek Joey sambil menyilangkan kedua tangannya menghadap ke depan tanpa ingin melihat ke arah Rain yang sedang tersenyum sumringah karena kehadirannya.


"Nggak, nggak ada yang sadar. Kaca mobil juga 'kan warna hitam?" jawab Rain.


Joey hanya diam tak menjawab. Gadis itu masih kesal dan tak ingin menggubris laki-laki yang ada di sebelahnya.


Rain terkekeh melihat raut wajah cemberut gadis kesayangannya, terlihat menggemaskan dengan bibir yang monyong karena ngambek. Ia meraih seatbelt dan memasangkan seatbelt gadis tersebut.


"Aku lapar," ucap Rain sambil menginjak gas mobil.

__ADS_1


"Makan!" jawab Joey ketus.


"Makan kamu, ya?" goda Rain.


"Ish! Om!" Joey mengerling sambil mengeluarkan ponselnya.


Gadis tersebut membuka aplikasi Witter dan melihat trending topic. Sesaat setelah melihat trending topic, ia berdecak sebal sambil menghela nafasnya.


"Kenapa lagi?" tanya Rain sambil memegang tangan kanan gadis yang ada di sebelahnya, lalu di kecupnya punggung tangan gadis tersebut meski ia tetap fokus menyetir melihat jalan.


Joey menunjukkan layar ponselnya ke arah Rain. "Nih!"



"Apa tuh? Aku lagi nyetir, sayang," ucap Rain hanya melihat sekilas.


"Pasangan konglomerat! Lauching Revindra Group! Revindra vs Shailendra! Pasangan serasi!" sebut Joey dengan nada yang lantang.


"Hahaha... pacarku cemburu," kekeh Rain sambil mencubit pipi Joey.


"Ngapain cemburu, Om nikah sama Anya juga aku langsung nyari cowo yang lebih kaya, ganteng dan yang penting MU-DA!"


"Coba aja kalo berani," jawab Rain sinis sambil menaikkan sudut bibirnya setengah.


Drrttt Drrttt...


Ponsel Rain berbunyi. Pria tersebut langsung mengangkat panggilan dari Harry sekretarisnya.


"Ya, Harry?"


^^^"Pak, untuk acara launching hotel baru kita, bagaimana jika kita merekrut anak kuliah yang berbakat?"^^^


"Boleh. Telusuri setiap kampus yang memiliki bibit penyanyi terbaik dengan imbalan beasiswa sampai tamat."


^^^"Baik, Pak."^^^


Rain memutuskan panggilannya.


"Om!" panggil Joey tiba-tiba.


"Hmm."


Joey memposisikan tubuhnya menghadap ke arah Rain yang sedang fokus nyetir. "Buat aku aja ya? Itu ... beasiswanya."


Rain mengernyitkan keningnya.


"Aku 'kan punya bakat nyanyi?"

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2