OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Obsessive Love Disorder (OLD) Part 1


__ADS_3

..."Entah sejak kapan, rasa ingin mendominasi itu semakin besar. Terima atau nggak, kamu nggak akan bisa lari dari kenyataan yang udah aku putuskan." - Rain...


...🌸🌸🌸...


"T-tapi ... eum ...."


Tanpa ampun, Rain kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Joey. Pria itu benar-benar sudah dikuasai nafsu yang sedang bergejolak di dada. Tangannya menggera-yangi dada Joey dan mulai merem as bukit yang berbalut bra hitam tersebut.


Meskipun enggan, ada rasa menggelitik yang di rasakan gadis muda tersebut. Gejolak aneh yang perlahan mulai mendidih, membuat sekujur tubuhnya merasakan panas di ruang dingin ber-AC tersebut.


Di saat yang sama, Joey memejamkan matanya karena tak ingin menatap wajah bringas Rain yang sudah kehilangan akal tersebut.


"Perasaan apa ini? Aku belum pernah merasakannya. Perasaan haus. Haus akan sesuatu yang bahkan aku pun nggak ngerti," batin Joey.


Tiba-tiba, Joey tersentak saat tangan kekar milik Rain perlahan menyusup di balik bra hitamnya. Matanya terbelalak, dan seketika ia berusaha memberontak, namun sia-sia saat tenaga yang ia miliki tak sebanding dengan tenaga yang dimiliki Rain. Buliran airmata mulai merembes keluar dari sudut matanya.


Belum sempat tangan kekarnya menyusup di balik bra hitam tersebut, Rain menyadari adanya linangan airmata dari sudut mata gadis muda yang ada di bawahnya. Ia pun melepaskan pautan bibirnya dari bibir Joey, begitu juga dengan tangannya, pria itu menghentikan aktifitas refleksi tangannya di da da gadis muda itu.


"Ck!" Rain berdecak sebal di sela-sela nafasnya yang naik turun.


"Hiks... hiks...." Joey menangis tersedu-sedu saat Rain melepaskan pijatan tangan dan pautan bibirnya.


Meskipun Rain melihat Joey menangis, gai rahnya tetap bergejolak dan tetap meminta untuk dituntaskan.


"Entah sejak kapan, rasa ingin mendominasi itu semakin besar. Terima atau nggak, kamu nggak akan bisa lari dari kenyataan yang udah aku putuskan," bisik Rain sambil menuruni ranjang tersebut.


"Persiapkan dirimu, besok aku akan menaiki ranjang ini lagi," ucap Rain sambil berjalan membelakangi dan meninggalkan kamar Joey.


...****************...


Sesaat setelah Rain meninggalkan Joey di kamar, gadis itu terlentang menghadap langit-langit kamar dengan tatapan yang nelangsa.


Pikirannya berkecamuk. Dia sangat ingin meninggalkan tempat itu, tapi dia tak tau harus ke mana, bahkan dia juga tak tau bagaimana cara membiayai dirinya sendiri. Tapi jika harus memutuskan Ace juga sulit, pasalnya dia benar-benar mencintai pria itu.


Drrttt... Drrrtt...


Ace. Baru saja ia memikirkan pria tersebut, pria itu langsung menelfonnya.


Angkat? Nggak? Angkat? Nggak? Itulah yang ada difikiran Joey saat ini. Dia melewatkan satu panggilan dari Ace.


"Oh... jawabannya nggak usah angkat," gumam Joey lirih.


Drrttt... Drrttt...


Ponsel Joey kembali berdering. Gadis itu bimbang apakah sebaiknya diangkat saja. Terus, setelah diangkat? Apa yang harus Joey katakan?


"Halo?"


^^^"Halo! Gimana? Kamu baik-baik aja, 'kan?"^^^


"Eum ... b-baik, Kak."

__ADS_1


^^^"Berat ya?"^^^


Joey diam tak bergeming begitu Ace melontarkan pertanyaan tersebut. Hatinya terenyuh mendengarkan perkataan tersebut.


^^^"Aku nggak tau masalah apa yang sedang kamu hadapi. Tapi, kalo kamu cerita, siapa tau aku bisa memberikan solusi."^^^


"Tapi, masalah ini nggak sesepele itu, Kak."


^^^"Selagi ada aku, aku akan mengusahakan apapun untukmu."^^^


"T-tapi, Kak-"


^^^"Choco..."^^^


^^^"Apa aku ini orang asing bagimu?"^^^


"B-bu-bukan begitu maksudku."


^^^"Makanya, ceritakan padaku."^^^


^^^"Ayo kita cari solusinya bersama."^^^


"Baiklah. Sebelum itu, aku ingin memastikan satu hal terlebih dahulu."


"Aku bakalan ngabarin Kakak secepatnya."


^^^"Oke. Kalo itu mau mu."^^^


^^^"Jangan lupa kunci pintu."^^^


^^^"Aku takut ntar dia bertingkah."^^^


^^^"Gimanapun, dia itu cowo!"^^^


"Iya, Kak. Aku ngerti."


"Makasi ya, Kak. Karna udah perhatian sama aku."


^^^"Anytime, Sayang."^^^


...****************...


Keesokan paginya, Joey membuka matanya yang bengkak karena menangis. Gadis itu mengambil teddy bear yang ada di sampingnya, dipeluknya teddy bear pemberian Ace saat ulang tahunnya pada bulan Desember yang lalu.


"Ted! Menurutmu, kalo aku ngomong baik-baik sama Om Rain, dia bakalan ngasih tau nggak sih, alasan sebenarnya dia mau menghidupi aku selama ini?"


"Terus nih ya, aku ngerasa dia itu aneh deh. Apa dia punya penyakit OLD? Begitu terobsesi dengan hal-hal yang nggak bisa dia kendalikan? Seperti aku! Seenaknya aja mau ngendaliin aku!"


Joey menghela napasnya saat membayangkan kejadian kemaren.


"Hah! Om Rain ngeselin dan membuatku sedikit ji...."

__ADS_1


Joey tak berani melanjutkan ucapannya bahwa dia merasa jijik pada Rain.


"Andai dia nggak gitu, pasti banyak wanita yang mau sama dia. Secara, dia 'kan tampan? Aku aja terpesona dengan ketampanannya, kalo dia itu baik dan normal. Sayangnya dia nggak normal!"


Joey berbicara terus menerus pada boneka yang ada dipelukannya.


"Tapi tetap aja ih! Dia kan empat belas tahun lebih tua dariku. Ugh! Mana mau aku sama orangtua kayak gitu! Membayangkannya saja udah bikin aku geli!" gerutu Joey sambil menendang-nendang kakinya dari balik selimut.


Tok... tok... tok...


Saat Joey sibuk berbicara dengan boneka pemberian Ace, tiba-tiba ada sebuah ketukan dari luar.


"Om Rain? Pasti itu dia! Siapa lagi kalo bukan dia!" celetuk Joey sambil memutar tubuhnya membelakangi pintu.


"Pasti nagih janji kemaren. Ish!"


Gadis itu enggan membuka pintu tersebut karena dipikirannya saat ini, pasti Rain ingin berbuat mesum lagi. Membayangkannya saja membuat Joey bergidik dan bulu kuduknya merinding.


Tok... tok... tok...


"Ketukan ketiga, aku akan mendobrak pintu ini!"


Nada bicara dingin Rain terdengar dari balik pintu, Joey yang takut terjadi hal-hal di luar perkiraannya bergegas menuruni ranjang dan berlari ke arah pintu.


"A-aku belum pakai baju!" teriak Joey dari dalam kamar. Gadis itu masih mengenakan bra dan panty sejak tadi malam.


"Buka!" perintah Rain dengan lantang.


"S-satu menit!" ucap Joey sambil pontang panting mengambil handuk bersih di lemari, lalu dililitkan ke tubuhnya dan bergegas ke pintu.


Ceklek!


Joey membuka pintu tersebut dengan mula bantalnya dan rambut yang acak-acakan. Dia terlihat gugup menghadapi Rain karena kejadian tadi malam.


"Mau makan atau dimakan?" ucap Rain datar. Tak ada sedikitpun raut sesal dan malu yang terlihat di wajahnya karena peristiwa tadi malam.


"Makan!" Joey menjawabnya dengan cepat.


"T-tapi, a-aku mandi dulu, Om," ucap Joey terbata-bata. Gadis itu menunduk.


"Mandi?" tanya Rain sambil menajamkan matanya ke arah handuk yang melilit di tubuh Joey. Pria itu mencondongkan tubuhnya sehingga wajah mereka berdekatan.


"Om, a-aku sedang datang bulan!" Joey spontan berbicara seperti itu saat menyadari tatapan Rain yang seolah-olah menelanjanginya. Sepertinya pria itu sudah tak sabar ingin menagih janjinya.


"Iya, puas-puasin aja. Setelah itu kamu aku bikin ga bisa datang bulan selama sembilan bulan," celetuk Rain asal-asalan.


Joey membelalakkan matanya karena ucapan pria itu. Sepertinya dia merasa kesal karena tak dapat menuntaskan hasrat seksualnya pada Joey. Dan yang membuat Joey bergidik adalah, pria itu menargetkan rahimnya untuk menjadi tempat pelepasan sel-sel spermatozoanya.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2