OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Menerima Perjodohan


__ADS_3

...“Terima saja perjodohan yang dikatakan Papa.” - Joey...


...🌸🌸🌸...


Setelah berdiskusi dengan Dokter Stefan, pria berjubah putih khas dokter itu berlalu pergi meninggalkan ruangan yang di tempati oleh Rain. Kini tinggal Rain dan Harry di ruangan tersebut.


“Duduklah,” ucap Rain kepada Harry yang sedari tadi mematung berdiri di sampingnya.


“Baik, Pak.” Harry mengikuti perintah Rain dan duduk di sofa di mana tempat yang sempat diduduki oleh Dokter Stefan tadi. Kini mereka duduk saling berhadapan.


“Terima kasih karena selama kamu selalu setia di sampingku,” ucap Rain tanpa ekspresi. “Aku tak tau jadinya seperti apa rencana-rencana ku dan Joey tanpa bantuanmu.”


“Saya lebih berterima kasih atas kepercayaan anda kepada saya, Pak.”


“Sebagai ucapan terima kasih, aku telah membelikanmu Merci keluaran terbaru, besok dikirimkan ke rumahmu.” Ucap Rain sambil mengambil ponselnya.


“P-Pak…” Harry tercekat. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Pasalnya, selama ini pria dingin yang ada di depannya selalu membantu dia dan keluarganya, bahkan gaji yang ia terima juga selalu mendapatkan tambahan selain gaji pokok. Lalu, sebuah sedan mewah bukanlah hal yang normal.


“I-ini terlalu mewah untuk saya,” ucap Harry lagi dengan tatapan tak percaya ke arah Rain.


“Kamu udah memperlakukan gadis ku dengan baik, jadi aku akan memperlakukanmu dengan baik juga,” ucap Rain datar. “Terimalah, aku merasa tak dihargai jika kamu menolaknya.”


Harry bergegas bangkit dari duduknya, kemudian ia membungkuk di hadapan Rain. “Terima kasih, Pak.”


Lalu, pria itu duduk lagi dengan tegap di hadapan Rain.


“Kali ini, aku memiliki rencana besar,” ucap Rain sambil melihat foto Joey di ponselnya. Foto yang ia dapatkan dari Harry saat hari pertama gadis itu menginjakkan kakinya ke dunia putih abu-abu.


...****************...


“Om Rain!” panggil Joey saat melihat Rain yang muncul di balik pintu dengan kursi rodanya. Ia menutup ponselnya dan meletakkannya ke atas meja samping ranjang. Gadis itu membuka selimutnya dan ingin menapaki lantai.


“No. Biar aku yang ke sana,” perintah Rain. Kemudian Harry mendorong kursi roda tersebut mendekati ranjang Joey.

__ADS_1


Gadis yang semulanya mau menapaki lantai dan berlari ke arah Rain, ia mengurungkan niatnya dan kembali meluruskan kaki di atas ranjang dan menutupinya dengan selimut.


“Kenapa belum tidur?” tanya Rain. Pasalnya, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Harry bergegas meninggalkan ruangan tersebut setelah menempatkan kursi roda di samping ranjang Joey.


“Nggak bisa tidur kalo nggak di samping Om,” ucap Joey manja. Ia memasang wajah sedih dengan mata yang berkilat-kilat ke arah Rain.


Rain berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. Bagaimana bisa seorang gadis muda itu ditakdirkan hadir di hidupnya yang hampa? Lalu gadis itu hadir membawa berjuta-juta kebahagiaan yang selama ini tak pernah ia dapatkan. Apa jangan-jangan gadis ini merupakan dewi yang turun dari kayangan?


“Memangnya kamu itu bidadari,” lirih Rain pelan sambil tersenyum.


“Apa? Aku nggak dengar,” ucap Joey sambil mengernyitkan dahinya dan menajamkan pendengarannya.


Rain hanya tersenyum tak menjawab ucapan gadis itu.


Tok tok tok!


“Maaf, Pak. Ada Bapak dan Ibu Ravindra di ruangan sebelah,” ucap Harry yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut setelah mengetuk pintu.


“Suruh aja mereka ke sini,” ucap Rain dingin. Ia merasa malas menerima kedua tamu tersebut, meskipun salah satu dari mereka adalah orangtua kandungnya.


“Nak,” panggil Bu Hana Ravindra sambil mendekat ke arah Rain yang sedang terduduk di atas kursi roda. “Gimana bisa jadi begini? Astagaa…”


Pak Ravi tak berkata apa-apa, sebaliknya ekspresi di wajahnya yang berbicara. Kedua alis yang menurun dengan mata yang layu dan bibir yang sedikit melengkung ke bawah. Tersirat rasa khawatir yang mendalam saat melihat anaknya tersebut baru saja melewati pintu kematian.


“Syukurlah, kamu selamat,” gumam Pak Ravi sambil menghela napas lega.


Rain tak mengindahkan ucapan kedua orang tua tersebut. Dimatanya, apa yang ditunjukkan oleh kedua orang itu hanyalah basa basi dan drama belaka.


“Kamu istirahat aja dulu,” ucap Bu Hana. “Minggu depan Zayn balik dari Amerika, jadi dia bisa membantumu di perusahaan untuk sementara sampai kamu sembuh.”


Ekspresi wajah cemas yang ditunjukkan oleh Ibu Hana mendadak membuat Rain menyeringai miring. Pasalnya, wanita tua itu mengatakan padanya untuk beristirahat, tapi masih sempat-sempatnya mengatakan bahwa anak kesayangannya akan pulang dari Amerika untuk membantunya di perusahaan. Membantu atau menggantikan? Ck!


“Sayangnya aku lumpuh,” gumam Rain dengan wajah yang ia buat iba. Ia menunjukkan ekspresi yang putus asa di depan semua orang yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


“L-lu-lumpuh?!!!” Pak Ravi dan Ibu Hana mendadak terbelalak dan secara bersamaan mengatakan hal yang sama. Sorot mata keduanya terfokus pada Rain.


“Papa carikan dokter terbaik di dunia ini agar kamu bisa berjalan kembali!” ucap Pak Ravi dengan sungguh-sungguh. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan anaknya itu.


“Nggak usah khawatir. Tangan dan kepalaku masih bisa bekerja,” ucap Rain meyakinkan keduanya. “Jadi aku bisa mengurus perusahaan.”


Pak Ravi yang sedari tadi masih berdiri, ia berjalan menuju sofa lalu duduk dan menyandarkan diri. Diikuti oleh Ibu Hana, wanita tua itu juga ikut duduk di samping suaminya.


“Kalian hanya mengkhawatirkanku,” ucap Rain memecahkan keheningan. “Calon istriku juga terluka.”


Pak Ravi tak menoleh sedikitpun ke arah Joey yang duduk mematung di atas ranjang. Berbeda dengan Ibu Hana, ia malah memegang lengan Pak Ravi.


“Kita jodohkan Zayn aja ya, Pa. Rain sudah menemukan gadis yang ia cintai,” bujuk Bu Hana sambil tersenyum miring tanpa terlihat oleh siapapun. Sepertinya ia merencanakan sesuatu agar anak kandungnya, Zayn dapat menempati posisi CEO.


Lagi-lagi Pak Ravi tak berbicara apa-apa, pria tua itu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut disusuli Ibu Hana. Kini, hanya tinggal Rain dan Joey di ruangan tersebut. Sepertinya tak membutuhkan waktu yang lama untuk kedua orangtua tersebut datang membesuk.


“Om,” panggil Joey lirih. Gadis itu tertunduk dengan wajah yang sedih. “Sampai kapanpun, aku bakalan nggak diterima mereka ya?”


“Aku nggak peduli,” ucap Rain singkat. Nyatanya, ia benar-benar tak peduli dengan apa yang akan diucapkan oleh kedua orangtuanya itu.


“Lagipula, siapa yang mau menikahi seorang pria yang lumpuh?” celetuk Rain asal-asalan. “Dijodohkan pun, belum tentu ada yang mau.”


Keduanya saling terdiam dalam pikiran masing-masing. Ruangan itu yang semula sepi, kini dibuat semakin sepi saat mereka saling terdiam tak berbicara.


Joey memikirkan bagaimana caranya supaya Rain dapat menduduki posisi CEO, tapi mereka tetap menikah. Meskipun belum sepenuhnya sukses, tapi di usia yang terbilang muda ini, ia telah menjadi pemilik Shailendra Group yang akan digantikan dengan Ainsley Group. Lalu, ia juga merupakan pemilik tunggal dari Hotel Leonidas dan Hotel Nerium Oleander. Bukankah itu sudah termasuk kekayaan yang fantastis di usia ini?


“Om,” panggil Joey memecah keheningan.


Rain melihat ke arah Joey tanpa berkata apa-apa.


“Terima saja perjodohan yang dikatakan Papa,” ucap Joey antusias.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2