
..."Meskipun Om terbaring tak berdaya di kasur, aku tetap akan menikahi Om, jadi jangan pernah berfikir untuk menghentikan pernikahan ini." - Joey...
...🌸...
..."Sekalian aja ntar Om bilang kalo ini tuh Obsesi Oleander!" - Joey...
...🌸🌸🌸...
"Sshhh..."
Joey tersadar dari tidurnya yang panjang akibat kecelakaan yang ia hadapi siang tadi. Ia melirik ke arah jam dinding, pukul delapan lewat. Ternyata sudah malam.
"Om Rain?!" pikirnya dengan mata yang berkeliling.
Joey tak menemukan sosok yang ia cari di ruangan tersebut. Hanya ada dia di ruangan yang besar itu. Ia juga melihat ke meja yang ada di samping ranjang, tak ia temukan ponselnya. Merasa tak tenang, ia berusaha bangkit dari tidurnya.
"Aww!!!" pekiknya saat merasakan sakit. Sekujur tubuhnya remuk. Ia baru menyadari bahwa kaki kirinya diperban dan kepalanya juga diperban, mungkin karena luka akibat kecelakaan tadi.
Joey tak peduli dengan rasa sakit itu, yang penting sekarang adalah bagaimana keadaan Rain?! Pria itu sangat penting di hidupnya. Joey menapaki lantai, ia melihat ada tongkat kruk yang berada di samping pintu. Dengan susah payah ia berjalan terseok-seok menuju pintu untuk mengambil tongkat tersebut.
"Joey!"
Belum sempat Joey meraih tongkat tersebut, tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang memanggilnya.
Di saat yang sama di mana pintu terbuka, Joey tersentak kaget sekaligus jatuh terduduk di lantai akibat terkejut. Kemudian ia melihat ke arah pria yang memanggil namanya. Suara yang tak asing dan suara yang ia cari-cari saat bangun tidur.
"Om Rain... hiks.. hiks..." tangis gadis itu seketika pecah saat melihat Rain yang ada di depan pintu. Namun pria itu kini berada di atas kursi roda, didorong oleh Harry dari belakang.
Rain tersenyum pilu melihat gadisnya. Harry bergegas mendekati tubuh Joey dan membantunya berdiri, kemudian memapah gadis itu duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang yang Joey tempati. Kemudian Harry mendorong kursi roda Rain mendekati Joey, lalu ia pergi keluar meninggalkan dua orang tersebut.
"Jangan nangis, Sweetheart," tutur Rain sambil membelai lembut pipi Joey dan menghapus airmata tersebut.
"Aku khawatir. Hiks.. hiks..." ucap Joey tersedu-sedu sambil memegang tangan Rain yang menghapus airmatanya.
"Aku khawatir Om kenapa-kenapa. Terus ... terus tadi ... pas aku bangun ... Om nggak ada di sampingku, aku takut," sambungnya sambil terisak-isak.
"Haaa... menggemaskan," gumam Rain pelan sambil tersenyum.
Joey melihat ke arah Rain dari atas hingga bawah. Kedua kaki pria tersebut diperban, tangan kanan dan kepala pria itu juga ikut diperban.
"Om... sakit ya? Hiks.. hikss..." tanya Joey iba.
"Hmm. Tapi sakitnya hilang saat melihatmu," goda Rain. Entah kenapa, ia merasa apa yang ia ucapkan itu ada benarnya. Semua rasa sakit yang ia rasakan seketika hilang saat melihat gadis yang ia cintai tersebut.
__ADS_1
"Ish! Om ada-ada aja deh!" ketus Joey sebal, namun ia juga tertawa kecil disela-sela tangisannya akibat mendengarkan perkataan Rain. Pria itu benar-benar bisa mengembalikan senyumannya.
"Bagaimana ini..." tutur Rain tak selesai. Pria itu menghela napas berat sembari menerawang hampa tanpa titik fokus.
"Kenapa, Om?" tanya Joey penasaran.
"Aku ... lumpuh," lirih Rain putus asa.
Joey terbelalak. Kedua matanya membulat dengan sempurna serta bibirnya setengah terbuka. Ia tak mampu menahan rasa terkejutnya mendengar ucapan pria tersebut sambil menutupi mulutnya menggunakan tangan.
"Kamu boleh mencari pria lain dan me-"
"Nggak!" potong Joey dengan nada yang penuh penekanan. "Apapun yang terjadi, pernikahan kita harus tetap dilanjutkan!"
"Om jangan pernah berfikir untuk membatalkan pernikahan ini!"
Kedua mata Joey terlihat berapi-api. Ia benar-benar telah yakin dengan keputusan yang ia ambil barusan. Meskipun tak berfikir panjang, ia tetap yakin dengan pilihan hatinya. Cinta telah membutakan hatinya, sampai-sampai ia tak peduli, walaupun pria itu cacat, ia tetaplah pria yang sangat berharga di hidupnya.
"Tapi aku lumpuh," ucap Rain dengan suara yang berat dan tercekat. Tatapan Rain sangat iba dan penuh sesal ke arah gadisnya.
"Meskipun Om terbaring tak berdaya di kasur, aku tetap akan menikahi Om, jadi jangan pernah berfikir untuk menghentikan pernikahan ini," tutur Joey dengan sangat yakin.
"Karena aku ... sangat mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpa Om," sambung Joey lagi sambil meraih tubuh Rain dan memeluk tubuh pria itu.
Rain tersentak. Ia tak menyangka bahwa gadis yang selama ini ia cintai ternyata memiliki rasa cinta yang sangat besar untuknya. Pikirnya selama ini, gadis itu membalas cintanya karena terpaksa dan balas jasa, tapi sepertinya tidak. Itu murni karena cinta yang tulus tanpa pamrih.
"Pokoknya Om nggak boleh ninggalin aku!" kecam Joey lagi. Gadis itu merungut manja meski tangisnya perlahan mulai menghilang.
"Walaupun Om selamanya di atas kursi roda, aku tak masalah." sambung Joey.
"Terus, kamu nggak masalah saat kita bercinta, aku hanya terima pasrah dan kamu yang bekerja keras?" goda Rain sambil tersenyum.
Joey mempererat pelukannya. "Ya! Biar aku yang bekerja keras. Sampai kita punya anak sepuluh!"
"Hahaha... aku merasa bahwa Oleander-ku sedang terobsesi padaku sekarang," kekeh Rain.
"Biarin! Sekalian aja ntar Om bilang kalo ini tuh Obsesi Oleander!" celetuk Joey manja.
"Aku menantikan saat kita bercinta di atas kursi roda," goda Rain nakal. "Meskipun lumpuh, burungku tetap sehat dan bisa digunakan."
"Ish! Om!" Joey menepuk manja punggung kekar pria itu.
Rain tak mampu menahan tawanya mendengarkan ucapan Joey tadi yang begitu lantang dan penuh dengan keyakinan. Ia juga merasa bahwa gadisnya begitu lucu saat digoda. Pikirnya, selama ini cinta yang ia berikan pada gadis itu tak sia-sia. Pasalnya, cintanya dibalas dengan lebih besar dari gadis itu.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, Rain menyeringai dengan penuh arti. Seperti ia sedang merencanakan sesuatu.
Tok tok tok...
Melihat Harry membuka pintu kamar tersebut, Joey melepaskan pelukannya dari Rain. Kemudian sekretaris itu berjalan mendekati Rain dan Joey yang sedang duduk berdua saling berhadapan.
Harry membungkukkan tubuhnya dan mendekati telinga Rain untuk berbisik.
"Pak, Dokter Stefan setuju dengan rencana kita," bisik Harry pelan. Sampai-sampai Joey tak dapat mendengarkan apa yang dikatakan pria ini.
Joey hanya mengernyitkan dahinya melihat tindak tanduk kedua pria yang ada di depannya.
"Sayang," panggil Rain kepada Joey setelah Harry selesai berbisik padanya. "Kamu lapar?"
Joey mengangguk pelan.
"Kamu mau pesan apa? Biar ku pesankan online," ucap Rain lagi.
"Om ada urusan ya?" tanya Joey yang sepertinya mengerti bahwa pria di depannya sedang berusaha meluangkan waktu meskipun ia sedang sibuk.
"Hahaha... kamu bisa menebaknya ya?" kekeh Rain sambil memegang perutnya.
"Aku pesen sendiri aja. Om boleh selesaiin urusan Om dulu, tapi jangan sampai kecapean. Om 'kan masih sakit," tutur Joey dengan wajah yang khawatir.
"Iya, Sayang," sahut Rain lega. Entah kenapa gadis itu selalu bisa membuatnya lega dan tak khawatir. Gadis itu selalu bisa mengerti keadaannya, meskipun ia harus terluka.
Harry memberikan Joey ponsel. Ponsel yang gadis itu cari-cari sejak tadi, ternyata ada pada Harry. Mungkin diselamatkan oleh Harry saat mereka kecelakaan.
Setelah itu, Harry memegang kursi roda Rain dan mengarahkannya ke luar pintu, lalu mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar sebelah di mana Rain di rawat.
Saat masuk ke ruangan tersebut, Rain melihat Dokter Stefan sudah berada di sofa sedang duduk menunggu kedatangannya.
"Pak Rain," ucap Dokter Stefan sambil berdiri dari duduknya dan memberikan hormat pada Rain.
Rain tersenyum. Harry mendorong kursi roda tersebut mendekati sofa di mana Dokter Stefan berada.
Kemudian, Rain berdiri dari kursi rodanya dan duduk di sofa berhadapan dengan Dokter Stefan.
"Langsung ke intinya saja," ucap Rain tanpa basa basi. "Kirimkan no rekening Dokter kepada Harry."
"Tugasmu adalah memberikan pernyataan bahwa aku lumpuh dan tak memiliki kesempatan pulih serta merahasiakan semua ini dari siapapun," sambung Rain dengan nada yang penuh penekanan dan mimik wajah yang sangat serius.
"Baik, Pak." Ucap Dokter Stefan sambil tersenyum. "Itu hal yang mudah bagi saya."
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...