
...“Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi." - Kale...
...🌸🌸🌸...
Pantulan dari bidikan cahaya kamera mengiringi turunnya gadis bersuara emas itu dari pentas. Ia tersipu malu dan tak henti-hentinya melebarkan senyuman kepada semua tamu yang bersorak ria karena terkagum-kagum mendengarkan suaranya.
Gadis tersebut meraih ponsel yang ada di dalam tas jinjing kecil miliknya yang diberikan oleh Rain pagi tadi melalui Harry. Ia mengambil tas yang ada di atas kursi dan kembali menduduki kursi yang sempat ia tinggalkan tadi untuk melantunkan lagu Golden Hour.
Gadis tersebut membuka ponselnya dan mendapati sebuah pesan dari Rain.
“Jauhi pria yang bernama Kale!”
Ia mendadak mengernyitkan dahinya sesaat setelah membaca pesan dari pria mesum itu. “Gini aja terus, ngomong setengah-setengah, terus nggak pernah jelas!”
Di saat yang sama, acara tersebut telah tiba di babak mencicipi makanan yang disediakan oleh Hotel Nerium Oleander. Para tamu banyak yang bangkit dari duduknya dan bergegas mendekati meja yang ada di samping kiri dan kanan aula.
Masih di tempat tadi, Rain dan Kale saling berjabat tangan.
“Congratulation!” ucap Kale. Pria bermata hazel yang merupakan keturunan Jerman tersebut memberikan ucapan selamat kepada Rain dengan sebuah senyuman yang tulus.
“Thanks udah dateng ke acara ini,” sahut Rain tenang.
“Anytime. Lagian, masa gue nggak dateng di acara peresmian hotel terbesar se Asia Tenggara?” seru Kale antusias. “Apalagi hotel ini merupakan ide dari temen satu almamater!”
“Hahaha… lo bisa aja!” jawab Rain seadanya. Sejujurnya ia tak berminat untuk terlibat percakapan dengan pria itu, hanya saja, ada dorongan yang kuat dari dirinya untuk menyuruh pria itu menjauhi Oleander miliknya.
“Hallo semuanya,” sapa Anya yang tiba-tiba saja muncul dari belakang Rain. Wanita tersebut sempat menghilang sesaat setelah MC memberitahu kepada para tamu untuk mencicipi jamuan yang sudah disediakan.
Rain tersentak kaget dengan sorot mata elangnya menatap tajam ke arah Joey yang tiba-tiba berdiri di samping Anya. Sedang apa gadis itu dengan tunangannya? Bagaimana mereka bisa saling kenal?
“Hai!” sapa Kale sambil menyodorkan tangannya ke arah Anya. “Gue denger banyak hal tentang lo di berita.”
Anya menjabat tangan Kale sambil tersenyum.
“Oh iya. Aku sampai lupa,” ucap Anya. “Sejak awal, aku terhipnotis dengerin suara emas Jey… eh, siapa tadi?”
__ADS_1
Anya menghadap ke arah Joey dan bertingkah sok akrab.
“Joey, Mba,” ucap Joey sambil tersenyum kaku.
“Nah iya, Joey. Suaranya bener-bener bagus, persis seperti orangnya,” puji Anya sambil memegang bahu Joey. "Jadi aku pengen ngobrol dikit sama gadis manis ini."
Raut wajah tegang Rain tak dapat ditutupi lagi, pria itu berusaha keras menahan amarah yang sepertinya akan meledak saat itu juga.
“Kebetulan banget,” ucap Kale tiba-tiba. Sorot mata pria itu tertuju pada Joey yang terlihat kikuk berdiri di antara para pebisnis tersohor tanah air itu.
“Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi,” sambung Kale sambil tersenyum sumringah dengan raut wajah yang berseri-seri.
“Kale,” pria itu menyodorkan tangan ke arah Joey.
Joey yang saat itu berada di depan Kale dan menjadi pemisah antara Rain dan Anya karena berdiri di tengah-tengah, ia mendadak terkejut saat mendengar nama yang disebutkan pria di depannya. Pasalnya, setelah ia manggung tadi, Rain mengirimkan pesan padanya untuk menjauhi pria yang bernama ‘Kale’. Apakah dia pria yang dimaksud Rain tadi? Memangnya, kenapa dengan pria itu?
“Kayaknya bintang kita hari ini malu-malu,” ucap Anya sambil meraih tangan Joey dan menempelkan tangan gadis itu ke tangan Kale. Sehingga tangan kedua orang itu saling berjabat dan saling bersentuhan.
Kepalang basah dan bingung harus berbuat apa, Joey terpaksa tersenyum dan menyapa pria yang menjabat tangannya. “Halo, Pak Kale.”
Joey langsung menarik tangannya dari Kale karena merasakan ada aura dingin yang mencekam dari sisi kirinya. Dari sudut matanya, Joey melihat bahwa raut wajah Rain mendadak dingin dan pucat tanpa darah seperti seseorang yang sedang memergoki pasangannya selingkuh.
“Makasih,” gumam Joey pelan. Meskipun ia merasa tak nyaman, tapi tetap saja ia harus menghargai pujian yang telah Kale berikan padanya tadi.
“Joey,” panggil Rain tak tahan. Pria itu mengepalkan kedua tangannya. “Pergi cari Harry, ada beberapa hal yang harus dilengkapi untuk kebutuhan beasiswa.”
“Ba-“
“Ntar aja,” potong Anya. Wanita itu tak membiarkan Joey menjawab perintah Rain. “Nikmati dulu aja jamuan yang udah disediakan.”
“Mungkin, Pak Kale bisa nemenin Joey biar bisa kenal lebih dekat lagi,” sambungnya.
“Wahhh… Mbak Anya peka banget ya,” celetuk Kale sambil tersenyum sendiri.
Joey semakin dibuat serba salah akibat ulah Anya. Ia sadar, kelakuan Anya tersebut memang sengaja agar Kale menjadi dekat dengannya sehingga Rain tersulut cemburu. Tapi, dia terheran-heran, bagaimana bisa wanita karier itu tahu bahwa dia memiliki hubungan khusus dengan Rain? Apa dia juga tahu nama hotel yang diresmikan hari ini merupakan julukan kesayangan yang diberikan oleh Rain untuknya?
__ADS_1
“Tes… tes…” ucap suara berat pria yang sepertinya sudah hampir sepuh.
Suara tersebut membuat semua para tamu mendadak mengalihkan fokus mereka ke arah panggung.
“Selamat siang semuanya!” sapa pria tersebut.
Seorang pria tua yang sudah berambut putih terlihat sedang berdiri dengan seorang wanita tua juga yang berambut putih di sampingnya.
"Wahhh... sepertinya ada hal baik yang mau disampaikan oleh Bapak dan Ibu Ravindra," ucap Kale saat melihat kedua orang tersebut berada di atas pentas.
"Di hari yang bahagia ini, saya selaku CEO dari Ravindra Group ingin memberikan kabar yang mungkin sudah menjadi rahasia umum," ucap Pak Ravindra sambil tersenyum dan saling bertatapan dengan istrinya yang menggandeng lengannya dari samping.
"Rain dan Anya, sini, Nak," panggil Pak Ravindra. Pria tua itu melambaikan tangannya ke arah Rain dan Anya serta memanggil mereka untuk naik ke atas panggung.
Anya yang kegirangan, spontan merangkul tangan Rain karena itu merupakan kesempatan emas untuknya bermanja-manja dengan tunangannya di depan umum. Pasalnya, sorot mata tamu yang hadir di aula tersebut terfokus pada kedua anak muda yang akan menjadi pasangan konglomerat generasi ke tujuh.
Rain tak mampu menolak karena saat ini posisinya sedang tidak aman. Seluruh titik fokus kini teralihkan padanya. Jika ia membuat sedikit saja kesalahan, maka akan berakibat fatal. Terlebih lagi, dia adalah pria yang kelak akan menjadi CEO Ravindra Group. Jangan sampai emosi sesaatnya merusak perjuangannya selama ini untuk meraih posisi CEO perusahaan raksasa yang mendunia itu.
"Ayok, Mas," tutur Anya dengan nada yang manja.
Rain tak bergeming. Pria itu tak mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ia tak memberikan respon apa-apa selain berjalan mengikuti Anya yang menuju pentas. Dipikirannya saat ini, Oleander miliknya, seharusnya sudah tau apa yang harus ia lakukan jika Kale mendekatinya.
"Wahhh... pasangan idola."
"Nggak kebayang deh kalo gue yang ada di posisi Mbak Anya, pasti bahagia banget!"
"Bener! Mana Pak Rain cakep gitu."
"Keliatannya sih, Pak Rain sayang banget sama Mbak Anya!"
Suara bisik-bisik dan gosip mulai terdengar dari bibir-bibir para tamu. Mereka benar, wanita mana sih yang tidak ingin menjadi pasangan dari pria tampan dan kaya itu?
Meskipun dulu Joey sempat menolaknya, itu 'kan karena kehadiran pria itu yang tiba-tiba muncul di depannya lalu berbuat mesum? Namun sekarang, tak bisa dipungkiri, gadis itu pun sebenarnya berharap untuk menjadi pasangan hidup pria idola sejuta umat itu.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...