OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Gadis Nakal


__ADS_3

...“Iya … belum setengah. Tapi aku sudah ingin gila dibuatnya." - Zea...


...🌸🌸🌸...


Malam itu, di sebuah apartemen yang luas dan terbilang mewah untuk seorang sekretaris pribadi, Harry dan Zea saling berpelukan dengan bibir yang saling terpaut. Meskipun saat itu masih di depan pintu masuk, kedua orang tersebut tak peduli.


Sembari ciuman, Harry mengunci pintu apartemennya. Ia juga melepaskan sepatu menggunakan satu tangan. Setelah itu, Harry mengangkat Zea dan menggendong gadis itu menghadapnya. Sambil mereka bercum.bu mesra, Harry berjalan menggendong tubuh Zea menuju kamarnya.


Tak beda dengan Zea. Gadis itu mencum.bui dengan sangat bergair.ah bibir pria itu sambil melepaskan heels yang ia kenakan, kemudian ia lemparkan heels tersebut ke sembarangan arah.


Kini, keduanya telah berada di kamar. Harry merebahkan secara perlahan tubuh mungil gadis yang sebentar lagi akan ia nikahi. Dengan nafas yang terengah-engah, keduanya melepaskan pagutan bibir mereka untuk menghirup oksigen sejenak, kemudian mereka kembali bercum.bu mesra dan memainkan lidah mereka seenaknya.


Zea melepaskan kancing baju Harry dengan sangat cepat, lalu dilepaskannya kemeja pria itu dan dilemparkannya ke lantai. Setelah Harry bertelan.jang dada, gadis itu menaiki tubuh Harry dan melepaskan dress yang ia kenakan lalu ia lemparkan ke atas lantai.


Merasa harga dirinya terinjak-injak karena Zea yang memegang kendali, Harry menggulingkan tubuh Zea sehingga kini ia yang kembali berada di atas.


“Ini tugasku, Gadis Nakal,” bisik Harry sambil menggigit telinga Zea.


Harry menyibak ke atas bra hitam milik gadis itu, kemudian kedua tangannya memijat dengan kasar dada kenyal milik Zea. Lalu, bibir hangatnya mulai bergerilya di leher jenjang milik gadis itu. Ia memberikan beberapa tanda kepemilikan di leher gadis itu.


“Mhh… Om Harry,” panggil Zea sambil kedua tangannya dengan lihai melepaskan celana Harry.


“Ck! Tak adil jika aku saja yang tak berbusana,” Harry berdecak sebal sambil melepaskan pakaian dalam yang masih melekat di tubuh Zea.


Kini, keduanya sudah tak lagi berbusana barang sehelaipun. Harry melebarkan kedua paha Zea sembari ia bersiap-siap di tengah-tengah paha gadis itu. Kemudian ia mengarahkan miliknya ke arah liang sempit gadis itu.


“Hmphh!” Zea tersentak dengan sekujur tubuh yang sempat bergetar. Kedua tangannya mencengkeram dengan erat bahu kekar Harry.

__ADS_1


“Belum setengah, Sayang,” bisik Harry nakal ke telinga Zea.


“Iya … belum setengah. Tapi aku sudah ingin gila dibuatnya,” sahut Zea terus terang. Ia juga tak mampu menahan sensasi nikmat dari benda sakti milik pria itu. Apalagi milik Om Harry jauh lebih besar dan panjang ketimbang milik pria brengsek yang tak bertanggung jawab itu.


“Kalau masuk setengah begini … bagaimana?” tanya Harry sembari mendorong setengah benda kerasnya masuk ke dalam goa hangat Zea.


“Ugh…” Zea menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. “Pu-punya Om … jauh lebih besar dari … milik pria brengsek itu.”


“Hakkk!!!” Zea terpekik dan tubuhnya tersentak hebat sesaat setelah ia mengucapkan bahwa milik Harry jauh lebih besar ketimbang milik Bryan.


“Berhenti memikirkan pria lain saat bersamaku,” tukas Harry dengan wajah yang bengis. Ia memasukkan seluruh batang miliknya dengan sekali hentakkan yang kuat saat Zea menyebut pria lain. Meskipun Zea mengatakan bahwa miliknya lebih unggul ketimbang pria brengsek itu, entah kenapa, tetap saja ia merasa cemburu dan tak senang.


“Mulai detik ini … kamu seutuhnya milikku,” tutur Harry sambil mulai memompa miliknya keluar masuk ke dalam liang hangat milik Zea.


Keduanya bergu.mul mesra dan saling menyalurkan perasaan antara satu sama lain. Menikmati setiap rongga tubuh yang masuk dan dimasuki, lalu menikmati malam yang panas kembali dengan sadar tanpa pengaruh alkohol. Rasanya begitu hangat dan nikmat.


“I love you, Om Harry,” ucap Zea sambil memeluk erat tubuh kekar Harry. Kedua dada mereka saling berdempetan, menikmati detak jantung yang saling bersahutan dan berdebar dengan kencang.


Mereka melakukan olahraga bercocok tanam itu hampir semalaman penuh. Harry mendadak menjadi pria yang buas saat di malam hari, sedangkan Zea benar-benar gadis mesum yang pasrah mengikuti permainan liar dan buas pria dewasa itu.


...****************...


Di saat yang sama, Rain, Joey dan Zayn sedang menikmati makan malam yang telah direncanakan oleh Zayn. Keduanya sedang berada di meja yang sama. Rain duduk bersebelahan dengan Joey, sedangkan Zayn duduk berhadapan dengan Rain.


Sorot mata Zayn tak lepas-lepas dari menatap indahnya Joey pada malam itu.


“Berhenti menatapi istriku!" sergah Rain tak suka dengan tatapan Zayn pada istrinya. Ia memindahkan steak yang telah ia potong kecil-kecil tadi lalu memberikan pada Joey dan mengambil piring steak yang masih utuh milik istrinya itu.

__ADS_1


“Aku hanya menatap kakak iparku yang cantik, memangnya salah?” tukas Zayn sambil menyuapi potongan steak ke dalam mulutnya. Kemudian pria itu mengulum senyum.


Joey mulai merasakan ada sesuatu yang tak beres antara Rain dan Zayn. Sepertinya, pria yang merupakan adik tiri Rain itu memiliki niat tak baik pada ia dan suaminya.


“Jadi, bagaimana kondisi kaki, Mas?” tanya Zayn sembari menyeruput wine di gelasnya. Lalu ia menatap Joey sekilas. Entah kenapa, Joey benar-benar sukses mencuri hatinya.


“Kata dokter aku lumpuh total,” ucap Rain sambil memotong steak miliknya.


“Aku khawatir kakak iparku sulit hamil jika—”


“Jaga ucapanmu!” potong Rain dengan nada yang tinggi. Meskipun saat ini ia sedang pura-pura lumpuh, entah kenapa hatinya merasa begitu sakit saat Zayn menyinggung bahwa Joey sulit hamil dengan seorang pria lumpuh.


“Mas terlalu sensitif sejak dulu,” gumam Zayn sambil tersenyum jahat.


“Apa Mas-ku ini membuatmu kesulitan?” tanya Zayn sambil melihat ke arah Joey yang sejak tadi hanya diam tak berbicara.


“Nggak. Suamiku selalu baik padaku,” sahut Joey yang mulai merasa tak nyaman. Gadis itu menjawab pertanyaan adik iparnya dengan jawaban yang singkat yang baginya cukup mewakili semua perasaannya.


“Sebenarnya, aku nggak terlalu tertarik menjadi CEO di Ravindra Group,” tutur Zayn sambil berpangku tangan di atas meja makan. “Kalau Mas mau menjadi CEO, silahkan.”


“Tapi … kakak iparku ini menjadi milikku,” sambungnya terus terang.


PRANGG!!!


Rain mencampakkan semua yang ada di atas meja dengan sekali tebasan tangannya. Sorot matanya memerah dengan penuh amarah. Dadanya naik turun mencoba menstabilkan emosinya yang saat itu meluap-luap.


“Nafsu makanku hilang!” Rain memegang tangan Joey. “Ayo kita kembali ke kamar.”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2