
..."Apa aku harus menjadi kupu-kupu yang selamanya terkurung di dalam toples?" - Joey...
...🌸🌸🌸...
Di kamar yang dingin tersebut, Joey terbaring lemas tak berdaya dengan dengan tatapan yang nanar menghadap langit-langit. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Joey menoleh ke kiri, tak ditemukan sosok pria yang memenuhi rahimnya dengan sel-sel telur miliknya berulang kali tadi. Jika dihitung-hitung, sejak tadi siang, mereka sudah melakukannya tujuh kali. Entah apa yang di makan pria itu sampai tak sedikitpun ia merasa lelah. Apa mungkin jam terbangnya sudah tinggi? Dia 'kan pernah tinggal lama di luar negri, lagi pula, s e x bukanlah hal yang tabu di sana. Mungkin dia sudah terlatih melakukannya dengan wanita lain di luar sana.
"Ck!" entah kenapa, gadis itu berdecak sebal jika membayangkan pria itu pernah berhubungan badan dengan wanita lain di luar sana. Sekecewa apapun dia terhadap kelakuan pria itu, cintanya masih kental dan mendarah daging.
Gadis tersebut kembali mengalihkan pandangannya ke langit-langit. Tatapan kosong yang tak ada arti. Dipikirannya saat ini hanyalah, bagaimana masa depannya? Jika sel-sel yang dilepaskan pria itu berhasil di rahimnya, seperti apa masa depannya nanti.
Joey menggerakkan kedua pahanya, ia merasakan ada banyak cairan yang perlahan merembes keluar dari bawah sana. Sepertinya itu sel-sel telur yang dilepaskan pria tadi. Merasa tak nyaman karena kasur yang basah dan lengket, ia bergerak ke samping mencari tempat yang kering.
"Ughh..." ringisnya pelan saat merasakan sekujur tubuhnya ngilu dan remuk.
Joey melihat kedua tangannya yang memerah akibat ikatan kuat dari ikat pinggang milik pria tadi selama mereka bercocok tanam. Ia tersenyum pahit. Lalu ia kembali menurunkan kedua tangannya.
Ia menghela nafas perlahan, kemudian menarik selimut menutupi tubuhnya hingga ke dada. Entah atas dorongan apa, tangannya perlahan mengelus lembut perutnya.
"K-kalau aku hamil, a-apa aku masih bisa punya cita-cita?" keluhnya pilu. Matanya tak lagi mampu menangis, airmata yang telah terkuras habis hanya menyisakan kepiluan dan ketakutan yang tak dapat tertuangkan dengan benar. "Apa aku harus menjadi kupu-kupu yang selamanya terkurung di dalam toples?"
Gadis tersebut hanyut di dalam ketidakpastian dan masa depan yang terlihat gelap baginya. Ia menggigit bibirnya membayangkan bahwa selamanya ia hanya menjadi kekasih gelap, bahkan istri gelap yang tak terekspos. Bagaimana dengan anaknya nanti? Dapatkah anak tak berdosa itu menerima kenyataan bahwa ibunya merupakan istri gelap dari pengusaha hebat yang terkenal?
"Hahhh," Joey menghela nafasnya.
Gadis itu merasa tak ada gunanya terus-terusan bersedih dan meratapi nasib. Semua sudah terjadi, mau atau tidak, dia harus meneruskan nasibnya dan memikirkan jalan keluar dari semua ini.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku aborsi saja?" Gumamnya.
"Aborsi?" suara lantang Rain yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mengagetkan gadis itu dari lamunannya.
Pria itu masuk ke kamar sambil membawakan nampan yang berisi makanan dan minuman. Ia hanya mengenakan boxer tanpa baju, sehingga mempertontonkan dengan jelas tubuh atletis miliknya.
"Jangan melakukan hal bodoh!" kecam Rain sambil duduk ke atas ranjang tepatnya di sebelah Joey. Nampan tadi ia letakkan ke atas meja kecil yang ada di samping ranjang.
Joey hanya diam dan tak menanggapi ucapan dari pria tersebut. Menurutnya, sudah tak ada gunanya berbicara dengan pria yang memiliki obsesi membabi buta pada dirinya. Karena ujung-ujungnya, pria tersebut akan kekeh pada keegoisan yang ia miliki.
"Makanlah dulu, perutmu kosong," ucap Rain sambil mendudukkan tubuh gadisnya. Joey hanya diam dan mengikuti tanpa perlawanan. Lagipula, ia sudah tak bertenaga.
"Aku mau pipis," ucap Joey datar.
Mendengarkan ucapan tersebut, Rain bangkit dari duduknya dan menggendong tubuh gadis kesayangannya ke kamar mandi. Ia mendudukkan gadis itu ke atas toilet. Setelah itu ia keluar menunggu di depan kamar mandi.
Saat itu, tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh gadis itu. Tak ada lagi malu saat tubuh tak berpakaiannya digendong begitu saja oleh pria itu, ia benar-benar pasrah.
"Kenapa?" tanya Rain panik. Ia bergegas masuk ke dalam saat mendengar Joey meringis kesakitan.
Joey tak bergeming, ia kembali diam dan membersihkan ke ma-lu annya. Setelah itu, Rain mengangkat tubuh gadis tersebut dan membawanya menuju ranjang, lalu didudukkannya gadis tersebut ke atas ranjang dan ia menutupi tubuh gadis itu menggunakan selimut.
"Aku nggak mau kehilangan kamu," gumam Rain sambil memeluk tubuh gadis yang ada di depannya. Dikecupnya dengan perlahan dahi gadis tersebut dengan penuh kasih sayang.
Joey yang menerima perlakuan tersebut lagi-lagi tak memberikan respon apa-apa. Meskipun ia masih mencintai pria tersebut, namun cinta tersebut telah bercampur aduk dengan rasa benci. Ia hanya diam seperti mayat hidup.
Setelah memeluk gadis itu, Rain mengambil nampan tadi, lalu ia menyuapkan gadis itu makanan. Sesuap, dua suap, tiga suap, sampai habis, Joey hanya mengunyah secara perlahan dengan tatapan yang kosong tak bersemangat.
__ADS_1
"Sayang," panggil Rain pelan. Pria itu memegang dagu gadis tersebut dengan hati-hati. Ia melihat dagu tersebut merah dan ada bekas cengkraman tangannya.
Rain menggigit bibirnya karena menyesal telah menyakiti gadis yang ia cintai. Sementara itu, ia melihat kedua tangan gadis itu yang memerah karena bekas ikatan yang kuat menggunakan ikat pinggang tadi.
"Hah!" Rain mengela nafas berat.
"I'm really sorry," sesal Rain dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku nggak mau kehilangan kamu," sambungnya.
Meskipun pria tersebut menyesal dan meminta maaf, Joey tetap diam dan tak mengucapkan apa-apa.
"Tidur di kamarku, di sini berantakan," ucap Rain sambil menggendong tubuh gadis itu, dan menuju kamarnya.
Setibanya di kamar pria itu, ia tak meletakkan Joey ke atas ranjang, pria itu malah membawa Joey ke kamar mandi dan memasukkan tubuh tersebut ke dalam bathtub yang sudah berisikan air hangat. Sepertinya pria itu sudah menyediakannya saat tadi bangun mengambil pesanan makanan online.
Pria itu melepaskan boxernya dan ikut masuk ke dalam bathtub. Ia ikut berendam di dalam air hangat tersebut sambil memandikan gadis kesayangannya.
Kurang lebih lima belas menit, mereka berdua keluar dari kamar mandi, saat itu Joey sudah berbalut dress piyama yang sudah ia ambil di kamar gadis itu tadi. Sedangkan Rain, pria itu juga sudah mengenakan piyama.
Rain mendudukkan Joey ke depan meja rias. Lalu pria itu menghidupkan hair dryer dan mengeringkan rambut lurus hitam panjang milik gadis tersebut. Ia menyentuh helai demi helai rambut halus yang wangi itu dengan sangat hati-hati. Sedangkan Joey? Gadis itu hanya diam menatap cermin tanpa bereaksi apapun.
Setelah rambut gadis itu kering, Rain menggendong tubuh gadis itu dan merebahkannya ke atas ranjang dan menyelimuti tubuh ringkih itu. Lalu ia pun naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya ke sisi gadis tersebut.
Rain meletakkan kepala Joey ke atas lengan kekarnya yang berotot, lalu dihadapkannya wajah gadis itu ke arahnya sehingga mereka saling berhadapan.
"Aku sangat mencintaimu, Oleander-ku," gumam Rain sambil menge cu p lembut bibir Joey.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...