
..."Kamu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, secantik Oleander kesukaanku." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Di balik selimut tebal putih yang hangat tersebut, Joey terlihat nyenyak dalam mimpi indahnya. Gadis itu terlelap dalam pelukan hangat dari tangan kekar dan dada bidang Rain. Rasa nyaman yang sebelumnya tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Loh?” Joey mendadak membuka matanya.
Gadis muda itu terkejut saat melihat pria yang ada di depannya. Pria yang tak asing dan sering ia lihat selama tiga hari berturut-turut.
“Om Rain?” batin Joey.
Matanya berkeliling dengan tubuh yang menegang. Ingin rasanya berteriak saat ia mendapati tubuhnya tak mengenakan sehelai benang pun, apalagi saat ini ia sedang berada dalam dekapan tubuh seorang pria lajang yang selama ini terobsesi untuk menodainya. Meskipun pria itu mengenakan kemeja dan celana, tetap saja ada rasa khawatir yang menghantuinya.
“Aku belum menodaimu, tenanglah,” gumam Rain tiba-tiba. Matanya masih terpejam dan tangannya masih memeluk erat tubuh Joey.
Joey tertegun. Tanpa sengaja, ia kembali teringat akan kejadian siang tadi. Kejadian di mana pria yang ia cintai selama ini, ternyata melakukan sebuah rencana untuk menjebaknya dan merenggut kesuciannya. Bahkan pria itu tega membubuhkan obat perang sang di dalam minuman yang ia teguk.
Tanpa terasa, airmata perlahan membasahi pipinya. Ada rasa kecewa yang tak dapat ia ungkapkan. Kekecewaan yang mendalam pada pria yang selama ini ia bangga-banggakan. Hatinya benar-benar luluh lantak dan hancur berkeping-keping.
"Be strong," ucap Rain. Pria itu mengatakan kalimat simple namun terasa hangat di dada. Dengan hangat, Rain mengelus-elus lembut kepala Joey dan membawa kepala tersebut ke dadanya.
"Hiks... hiks... hiks...."
Joey menangis sejadi-jadinya saat wajahnya terbenam di dalam dada Rain. Gadis itu menumpahkan seluruh kesah dan kekecewaannya dalam bentuk airmata. Entah kenapa, saat ini ia tak merasa takut sedikitpun saat berada dipelukan Rain, padahal pria itu selalu saja berusaha menodainya.
"Kenapa, Om?" tanya Joey sambil terisak-isak di dalam pelukan Rain. "Kenapa Om nggak ngambil kesempatan di saat seperti ini?"
"Padahal, selama ini Om 'kan terobsesi pada tubuhku?" gumam Joey lirih. Suaranya kian serak dan terdengar putus asa.
"Aku bisa aja menja mah tubuhmu kapan pun aku mau."
"Terus, kenapa nggak di ja mah aja pas aku di bawah pengaruh obat?"
"Sesuatu yang berharga, harus diperlakukan dengan baik dan istimewa."
"Sesuatu yang berharga?" Joey mendongakkan kepalanya agar dapat menatap wajah Rain.
Ini pertama kalinya gadis muda itu melihat wajah tenang Rain. Selama ini, hanya ada dua ekspresi yang melekat di dalam ingatannya. Dingin dan mesum. Tapi tidak kali ini. Wajah pria itu begitu teduh dan hangat.
__ADS_1
"Hmm," dehem Rain mengiyakan.
"Huft! Lagi-lagi dingin, emangnya Om itu es batu!" celetuk Joey sambil kembali menundukkan wajahnya krena merajuk.
Gadis itu berdecak sebal karena sempat berfikir bahwa Rain adalah pria yang hangat. Pasalnya, sesaat setelah ia berfikiran begitu, Rain kembali menjawab pertanyaannya hanya dengan sebuah deheman.
"Lihat aku," ucap Rain sambil memegang dagu Joey dan menariknya ke atas, sehingga kepala Joey sedikit terangkat menatap ke arahnya.
"Masih inget dengan syarat ya-"
"Mekarlah dengan sempurna," potong Joey.
Sudut bibir Rain terangkat sebelah saat perkataannya dipotong oleh gadis yang ada di pelukannya.
"Aww!" pekik Joey saat hidung mancungnya dicubit gemas oleh Rain. "Sakit, Om!"
"Aku tuh masih inget sampe sekarang tau! Tapi aku nggak tau maksudnya apa," rengek Joey kesal karena hidungnya dicubit.
"Kamu udah ngerjain syaratnya kok."
"Hah? Aku nggak ngerti maksud, Om."
"Selama empat belas tahun ini, kamu telah berusaha dengan gigih dan usahamu kini membuahkan hasil. Bahkan, kamu telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, secantik Oleander kesukaanku."
Mendengar ucapan hangat yang penuh arti tersebut, Joey mendadak malu dengan wajah yang memerah. Ia tak mengerti rasa menggelitik apa yang sedang menghujam dadanya saat ini.
"Ck! Sudah berapa banyak wanita yang Om gombal!" celetuk Joey asal. Gadis itu berusaha untuk tidak terpesona dan termakan rayuan buaya yang ada di depan matanya.
"Memangnya, aku pria murahan yang sering menggombal ribuan wanita?" ucap Rain dengan wajah datar.
"Ya, siapa tau, 'kan? Apalagi selama ini Om di Amerika, bisa aja 'kan Om gombalin wanita yang menarik perhatian Om, terus Om bawa deh mereka ke ranjang Om!"
Tuk!
Dahi lebar gadis itu tiba-tiba saja disentil oleh Rain. "Kamu pikir, ranjangku bisa dinaiki oleh sembarangan orang?"
"Ya 'kan siapa tau?!" Joey masih kekeh dengan argumennya.
Rain tak menanggapi perkataan Joey, sebaliknya, pria itu malah mendekap erat tubuh gadis tersebut lebih erat ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"O-Om ... i-itu ...." Joey tak berani melanjutkan perkataannya.
"Diamlah, kalo nggak mau diper kosa."
Joey mendadak menelan salivanya saat Rain mengucapkan perkataan tanpa basa basi tersebut. Ia dibuat tak tenang dalam pelukan pria dewasa itu, pasalnya, gadis itu merasakan sesuatu yang keras sedang menekan-nekan pahanya di bawah sana di dalam selimut.
"Om?" panggil Joey lagi.
"Hmm."
"Kapan Om pulang ke rumah, Om?"
Joey terkejut saat tiba-tiba pria itu mendorong tubuhnya kebelakang dan menatapnya dengan tajam. Tatapan mencekam apa ini? Padahal, ia hanya penasaran kenapa Rain tak pernah pulang ke rumahnya.
"Ngusir?" tanya Rain. "Mau pergi lagi?"
"Ng-nggak, Om. Aku hanya penasaran."
"Inget! Kalo kamu pergi lagi, aku nggak akan pernah ragu untuk mengikat tanganmu di kasur dan menguncimu di kamar. Bahkan, aku akan membuatmu melahirkan anakku setiap tahunnya sampai masa menopause-mu tiba!" ancam Rain dengan tatapan yang menyeramkan. Pria itu benar-benar terobsesi dengan gadis muda yang ada di depannya.
"Walaupun aku bisa mencintai, Om. Tapi ... k-kita nggak mungkin bersama," ucap Joey terbata-bata.
"Aku ini pengemis, sedangkan Om anak dari orang nomor satu terkaya di Asia Tenggara. A-apalagi ... usia kita jauh berbeda," sambung Joey dengan tatapan yang nanar.
"Tetap saja! Sekalinya menjadi milikku, selamanya akan menjadi milikku."
Rain yang sebelumnya hangat dan penuh dengan kasih sayang, kini kembali menjadi pria yang areogant dan dingin. Pria yang egois dan hanya mementingkan keinginannya sendiri. Tak peduli apapun yang dikatakan oleh orang lain, gadis itu tetap miliknya.
"Jangan lupa! Aku kembali ke Indonesia karna ingin mengambil benda yang sudah ku bayar selama ini!" kecam Rain dengan tatapan yang dingin.
"Benda?" tanya Joey dengan raut wajah yang perlahan mulai berubah, tersirat kekecewaan yang mendalam saat ia mendengarkan ucapan Rain tadi.
Gadis itu tak terima saat dirinya disamakan dengan sebuah benda. Apakah serendah itu dirinya?
"Jadi, selama ini Om menyamakanku dengan sebuah benda? Ck!"
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1