
..."Gimana kalau kita jenguk Papa? Gimanapun, dia ayah kandung, Om." - Joey...
...🌸🌸🌸...
"Maksud, Om?" tanya Joey dengan kedua matanya yang membulat sembari menjauhkan wajahnya dari dada Rain.
Joey menengadahkan wajahnya mendongak ke arah Rain. Ia penasaran dengan apa yang dikatakan oleh suaminya beberapa saat tadi.
"Let's move to our room," bisik Rain pelan. "I miss you."
Rain bangkit dari duduknya sambil membopong tubuh Joey ke depan tubuhnya. Secara spontan, kedua tangan Joey melingkar ke leher suaminya.
"Om, kaki Om nggak apa-apa?" tanya Joey sembari menatap Rain dengan tatapan khawatir.
"Hahaha, kakiku nggak masalah sejak kecelakaan. Cuma luka aja, retak tulang dan hal-hal mengerikan lain nggak terjadi padaku," ucap Rain sambil membawa tubuh Joey ke kamar.
"Yah ... lagipun, aku rindu menggendong tubuh istriku yang cantik ini," sambungnya menggoda.
"Ish, Om mulai deh," rengek Joey manja dengan pipinya yang memerah karena malu.
"Hahaha ... Oleander-ku masih malu-malu? Kita 'kan udah suami istri," ucap Rain sambil merebahkan tubuh Joey ke atas ranjang. Kemudian ia mengecup pelan bibir Joey.
"Ya nggak tau, malu aja," ucap Joey sambil menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal dengan mata yang berlawanan dengan Rain.
Rain tersenyum simpul. Ia melepaskan jas dan kemejanya. Lalu, ia melepaskan celana kerjanya dan melemparkan ke atas sofa. Setelah itu ia yang hanya mengenakan celana boxer pun naik ke atas ranjang dan memeluk Joey dari belakang.
__ADS_1
"Jadi ... gimana ceritanya Leons bisa ada karna aku?" tanya Joey penasaran.
"Cerita yang panjang. Tapi, sebelum itu ada satu hal penting yang ingin ku sampaikan padamu," ucap Rain mulai serius.
"Besok, aku akan membawa hubungan ini go public. Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa aku memiliki seorang gadis yang ku cintai. Seorang gadis yang kini telah sah menjadi istriku dan sekarang sedang hamil anakku," jelas Rain panjang lebar.
Joey langsung terbelalak. Ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap Rain. Lalu menatap kedua mata suaminya dengan tatapan yang serius.
"Om ... gimana dengan posisi CEO? Om jangan-"
"Aku yakin Zayn akan memberikannya padaku," ucap Rain percaya pada Zayn.
"Tapi dia 'kan orangnya kayak gitu? Aneh. Kok Om bisa percaya? Emangnya ada bukti atau hitam di atas putih?" tanya Joey mencoba meyakinkan Rain.
"Ish! Om! Aku serius!" ucap Joey sambil mengerutkan keningnya.
"Aku juga serius, Oleander-ku," Rain mencubit hidung Joey.
"Sebagai seorang pria, aku dapat melihat keseriusan Zayn dalam mengejar Sara. Meskipun aku nggak tau alasannya apa. Tapi yang jelas, dia pasti akan melakukan apapun untuk wanita itu meskipun harus merelakan kursi CEO di Group Ravindra," jelas Rain lagi.
"Yaudah, Om jangan takut miskin ya kalo misalkan nggak dapet kursi CEO. Soalnya istri Om sekarang jadi gadis muda yang kaya raya loh," canda Joey sambil tersenyum girang.
"Hahaha... bukan kekayaan yang ku incar dalam posisi CEO di Group Ravindra. Tapi kehancuran Papa-ku sendiri," ucap Rain dengan bola mata yang terlihat mulai kosong saat membahas sesuatu yang bersangkutan dengan Ravi, ayah kandungnya sendiri. "Entah kenapa, aku ingin melihatnya tersiksa sebelum mati. Sama seperti Mama yang tersiksa di saat-saat terakhirnya."
"Kayaknya sih tadi dia kena serangan jantung. Yah ... tapi aku nggak peduli." Sambungnya.
__ADS_1
"Papa kena serangan jantung?" tanya Joey dengan wajah yang terkejut.
"Hmm," dehem Rain santai dengan mimik wajah yang datar.
Joey terdiam. Ada beberapa hal yang dapat ia maklumi saat suaminya itu begitu membenci ayah kandungnya sendiri. Namun ... entah kenapa ia tak setuju saat Rain mengatakan bahwa ia tak peduli saat ayah mertuanya terkena serangan jantung.
"Tadi siang, aku ke rumah buat nemuin Zayn. Tapi ternyata Zayn sedang bertengkar dengan Papa. Zayn bersikukuh ingin menikahi Sara. Aku nggak tau kenapa dia sengebet itu pengen nikah sama Sara," jelas Rain dengan mata yang menatap lurus dan dahi yang berkerut.
"Om ... terlepas dari urusan perasaan Mas Zayn, biarin aja dia yang ngurus urusan pribadinya. Tapi, apa nggak apa-apa Om ninggalin Papa kayak gitu?" tanya Joey. "Gimana kalau kita jenguk Papa? Gimanapun, dia ayah kandung, Om."
"Ayah kandung apa yang rela mengorbankan kebahagiaan anak sendiri? Bahkan tega membunuh istrinya sendiri?" sanggah Rain tak suka.
"Tapi, Om-"
"Sayang," potong Rain sambil menatap Joey. Terpancarkan dendam yang begitu dalam dari sorot mata yang tajam seperti mata elang itu.
"Biarin aja, apapun yang terjadi, sampai kapanpun aku nggak akan memaafkannya. Nggak hanya Mama, aku, tapi dia juga tega mengancam kamu yang merupakan menantunya sendiri. Cepat mati juga lebih baik."
...****************...
BERSAMBUNG...
...****************...
__ADS_1