
..."Baiklah, sesuai keinginanmu, aku akan membuat malam ini menjadi malam yang tak terlupakan. Nggak ada ampun atau berhenti jika sudah dimulai." - Rain...
...🌸🌸🌸...
"Om bener-bener keterlaluan!" di ruang yang gelap itu, terlihat wajah Joey yang sedang mengeram dengan penuh amarah. Gadis yang setinggi bahu Rain itu terlihat sedikit mendongak menatap ke arah Rain yang lebih tinggi darinya.
"Ini baru dua hari, Om! Dua hari!" suara lantang Joey menggelegar seiring dengan dentuman gemuruh yang ikut hadir di sela-sela hujan gerimis yang mulai deras.
"Empat belas tahun. Empat belas tahun yang lalu, pertemuan kita selama dua hari sebelum Om ke Amerika sangat berarti sampai-sampai aku nggak bisa ngelupain dua hari bersejarah itu."
"Tapi sekarang? Dua hari bersejarah itu pupus dengan kelakuan aneh dan mesum Om yang nggak beralasan itu! Ck! Aku sampai terheran-heran, apa benar pria dewasa yang ada di depanku sekarang adalah pria yang aku temui empat belas tahun yang lalu?!"
"Om pikir aku nggak sadar apa yang Om lakuin kepada ku saat di kamar tadi? Om pikir aku nggak sadar dengan hembusan napas Om yang menjelajahi da daku?!!"
Tubuh Joey bergetar saat ia berbicara panjang lebar mengeluarkan semua kesah yang selama ini tertahan di dada. Sorot matanya menatap tajam ke arah Rain dengan mulut yang bergetar. Kekecewaan gadis itu berlipat ganda saat mendengarkan percakapan Rain dengan seseorang melalui ponsel. Percakapan di mana ia berargumen bahwa Rain ingin mencelakai Ace, pria yang ia cintai.
"Selama ini, aku terlalu naif," gumam Joey lirih sambil menundukkan wajahnya menatap lantai. Tak terasa, airmata mulai berjatuhan ke lantai tetes demi tetes.
Rain yang sedari tadi dihujan cecaran oleh gadis muda di depannya tak bergeming seperti biasanya. Wajah datar tanpa emosi itu menatap lekat ke arah Joey. Entah kenapa pria itu menelan salivanya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Entah siapa yang mendorongnya, Rain memegang kedua bahu Joey. Tangan kekar itu terlihat sedang memijat-mijat bahu rapuh dari tubuh gadis muda itu.
"Lihat saya." Suara dingin tanpa emosi itu mulai terdengar setelah diam mendengarkan cerocosan Joey.
Joey terisak-isak sambil perlahan mendongakkan kepalanya menengok Rain.
"Dia hanya menginginkan tubuhmu."
Mendengar ucapan Rain, seketika kedua tangan Joey menempik tangan pria itu dari bahunya. Amarahnya yang tadi mulai mereda, kini bangkit lagi. Namun kali ini dia terkekeh sambil menyeringai.
__ADS_1
"Hahaha... Om lucu deh," celetuk Joey sambil terkekeh.
"Yang menginginkan tubuhku itu, Om! Bukan Kak Ace! Aku dan dia belum pernah melakukan hal lain selain ciuman! Bahkan kami baru sekali berciuman setelah menjalin hubungan selama sebelas bulan. Sedangkan Om? Baru dua hari tapi sudah me-"
Tanpa ampun, Rain langsung melahap bibir ranum sambil mendekap erat tubug gadis muda tersebut. Gadis itu meronta-ronta berusaha melepaskan tubuhnya sambil sesekali berusaha berteriak saat lahapan bibir Rain terlepas.
"Bajingan!" umpat Joey dengan dada yang naik turun karena napasnya yang menderu.
"Le- ... eum ... lepas- ... hah! Lepaskan!" Joey benar-benar berusaha melepaskan dirinya dari pria dewasa itu.
Namun, sesuai perkataan Rain sebelumnya, dia adalah pria yang tidak sabaran. Tangan kekar pria itu meraih tengkuk Joey dan menekan ke depan agar gadis itu tak dapat melepaskan diri.
Kurang lebih satu menit pergulatan bibir itu berlangsung, Rain melepaskan pautan bibirnya yang basah akibat air liur mereka yang telah bercampur. Napasnya terengah-engah saat gejolak di dadanya mulai membuncah dan seketika akan meledak.
"Benar! Aku menginginkan tubuhmu! Saking inginnya, aku tak ingin ada pria lain yang menyentuhmu sebelum aku! Bahkan setelah aku menyentuhmu pun, aku tak akan membiarkan pria lain menyentuhmu!"
"Hahaha!!!" Gadis itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.
"Kenapa baru sekarang, Om?" tanya gadis itu lirih namun dengan suara yang mencekam. "Selama empat belas tahun, ini pertama kalinya aku dengerin Om berbicara panjang lebar padaku. Selama ini Om dingin sampai-sampai membuatku frustasi, harus dengan cara apa lagi aku harus membuat pria dingin ini bersuara?!"
"Apa begini caranya?" Joey melepaskan dress yang ia kenakan dan melemparkan dress tersebut ke lantai.
Tubuh mulus yang hanya berbalut bra itu terlihat sangat mulus meskipun ruangan tersebut gelap. Lekukan demi lekukan yang ada, membuat Rain mendadak menelan air liurnya. Ada sesuatu yang bangun di balik celananya.
"Begini, Om?" ucap Joey lirih. Namun gadis itu menyilangkan kedua tangannya menutupi dada dengan tubuh yang bergetar. "Ambil semuanya, Om. Asal Om nggak ngelukain Kak Ace. Dan aku juga nggak punya uang dua miliar rupiah untuk menggantikan biaya yang selama ini udah Om keluarin buat aku."
"Ck!" Rain berdengus sebal. Ia bertolak pinggang dengan satu tangan dan tangan yang sebelah mengusap kasar rambutnya ke belakang.
Rain sadar bahwa Joey saat ini sedang ketakutan, tubuhnya saja bergetar, tapi dengan pedenya gadis itu membuka dress dan menyerahkan langsung tubuhnya kepada Rain. Tapi ada satu hal yang membuat Rain kesal, kenapa gadis itu rela memberikan seluruh tubuhnya demi bocah tengik itu?
__ADS_1
"Jadi, hama itu adalah kelemahan dari Oleander-ku?"
Rain mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga jarak wajah mereka kurang dari setengah jengkal.
"Baiklah, sesuai keinginanmu, aku akan membuat malam ini menjadi malam yang tak terlupakan. Nggak ada ampun atau berhenti jika sudah dimulai," bisik Rain sambil sudut bibirnya terangkat sebelah.
GLUK!!!
Joey mendadak menelan paksa salivanya. Kerongkongan gadis itu tiba-tiba saja menjadi kering dan tercekat. Tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku dengan mata melebar. Jantungnya bergemuruh karena pompaan yang kencang tak seperti biasa.
"O- mmphh!"
Belum sempat Joey menyelesaikan kalimatnya, Rain langsung melahap bibir ranum yang merekah itu. Pria normal mana yang tak akan tergiur untuk melahapnya?
Rain menyandang Joey ke atas bahunya dan bergegas membawa gadis itu ke kamar. Tubuh mulus itu dibanting ke atas ranjang empuk itu.
Melihat Joey yang terlentang hanya dengan mengenakan bra dan panty hitam, Rain terpancing untuk membuka polo shirtnya sehingga menampakkan roti sobek yang sangat menggai rahkan.
Tak ingin membuang waktu, Rain menaiki ranjang tersebut dan merangkak menuju ke tubuh gadis tersebut. Tatapan mata Rain seperti singa yang sudah menangkap mangsanya, tinggal dimakan saja untuk mengenyangkan perutnya.
Joey mendadak gugup saat Rain membenamkan wajahny ke leher jenjang gadis itu sambil tangan kanan pria itu membelai setiap inci tangan mulus Joey.
"A-aku nggak bisa!" ucap Joey dengan suara yang tercekat. Ia kembali meronta-meronta ingin melepaskan tubuhnya dari pria dewasa yang ada di atasnya.
"Aku 'kan udah bilang, nggak ada ampun atau berhenti setelah dimulai?"
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1