OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Menjadi Kupu-Kupu Malam?


__ADS_3

..."Apa ini cara yang dia katakan untuk meninggalkan Indonesia? Dengan menjadi Kupu-Kupu Malam?!" - Rain...


...🌸🌸🌸...


Drrttt... Drrttt...


Joey mengangkat sebuah panggilan yang ia terima dari Zea, sahabatnya.


^^^"Joey!!!"^^^


^^^"Ngilang kemana aja sih?!"^^^


"Hahaha... lagi bersemayam."


^^^"Ck! Bersemayam buat apa?"^^^


^^^"Mau pelet orang? Hahaha..."^^^


"Ada-ada aja dah."


"Jadi, ada apa?"


^^^"Pengen ajak keluar. Bosen gue!"^^^


"Kemana?"


^^^"Hmm ... clubbing yok!"^^^


"Eyyy... nggak deh. Belum pernah soalnya."


"Takut dibungkus ntar! Hahaha."


^^^"Ya elah, nggak usah mabuk."^^^


^^^"Kita nikmati jedag jedugnya aja."^^^


^^^"Gue juga lagi galau sih."^^^


"Hah? Galau kenapa?"


^^^"Ntar deh gue ceritain."^^^


^^^"Lu siap-siap aja."^^^


^^^"Satu jam lagi gue otw."^^^


"Oke. Oke."


Panggilan terputus.


Joey bangkit dari sofa dan bergegas menuju kamarnya. Gadis itu terhenti saat berada di depan kamar Rain.


"Ck! Mikirin apa sih, udah jadi tunangan orang juga," celetuk Joey sambil bergegas masuk kamar dan menyambar handuk yang ada di gantungan pintu.


Gadis itu bergegas menuju kamar mandi dan menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel. Sorot mata yang redup dengan lingkaran hitam yang pekat, wajah yang tak terawat dan tubuh yang mengurus.

__ADS_1


"Kasian banget sih, Joey. Udah dibo'ongin, dinikmatin, eh malah ditinggal tunangan," Joey berdecak sebal sambil menertawakan dirinya yang terlihat di pantulan cermin.


"Wake up, girl! Wake up! Ayo kita move on!"


Gadis itu menghela nafas panjang lalu menepuk-nepuk pipinya sambil menerjap-nerjapkan kedua kelopak matanya. Lalu kedua jari manisnya menarik kedua sudut bibirnya ke atas hingga menghasilkan sebuah senyuman paksa yang lebar.


...****************...


TING!


TING!


Rain meraih ponselnya dan membuka pesan yang ia terima dari Brown yang merupakan salah satu dari anggota Leons yang ditugaskan mengikuti dan mengawasi Joey.


^^^"Bos, Joey terpantau memasuki klub dengan Zea."^^^


^^^"Saat ini mereka di Club Agonfly."^^^


"Perketat pengawasan! Jangan sampai ada yang menyentuhnya!"


^^^"Oke, Bos!"^^^


Rain yang saat itu sedang berbaring di ranjang, bergegas bangkit dan duduk, lalu ia menuruni ranjang dan mengganti pakaiannya dengan kaos kerah hitam dipadukan jeans hitam. Tak lupa ia melengkapi stelannya malam itu dengan jaket kulit berwarna cokelat. Ia menyambar kunci Lamborghini-nya di laci meja kamar, lalu bergegas keluar kamar.


"Ke mana, Nak?" tanya Bu Hana Ravindra yang terlihat sedang menaiki anak tangga setapak demi setapak bersama seorang pria tua di sisinya.


"Ada urusan," jawab Rain singkat.


"Udah jam sebelas loh, mending kamu telfon Anya, tanyain dia lagi ngapain, udah tidur atau belum?" ucap Pak Ravindra.


Rain diam tak mengindahkan ucapan ayah kandung dan ibu tirinya. Pria itu bergegas menuruni anak tangga dan berlari menuju pintu keluar. Lalu ia segera menuju bagasi mobil dan menghampiri Lamborghini merah yang berada di sebelah Rubicorn hitam. Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil dan menancap gas dengan kecepatan tinggi menuju club yang dikatakan oleh Alpha tadi.


...****************...


Alunan musik yang memekakkan telinga terdengar saling berdentuman dan memberikan sebuah kesenangan tersendiri bagi mereka yang berada di dalamnya. Sang DJ terlihat sedang asik dengan turntable dan headphone yang berada di kepalanya, sesekali DJ yang ada di pentas tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas dan menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang ia ciptakan.


"Ladies and gentleman! Put your hands up and shake your body! Forget all your sadness here!" teriak DJ laki-laki tersebut sambil kembali menggerakkan piringan hitam yang ada di turntable.


Joey yang saat itu masuk ke dalam ruangan gelap bercahaya kedap-kedip, terlihat canggung dan tak biasa. Ini merupakan pertama kali baginya menginjakkan kaki ke tempat seperti itu. Matanya berkeliling penasaran menikmati sekeliling. Terdapat banyak pasangan muda mudi yang sedang bercengkrama di kursi, ada juga yang sedang menenggak minuman dari botol yang merupakan bir dan wine, lalu ada juga yang sedang on the floor dengan menggoyangkan tubuhnya.


Zea yang berada di sebelah Joey, terlihat sudah biasa memasuki tempat tersebut dan gadis itu sepertinya tak canggung. Ia meliukkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan menikmati alunan musik jedag jedug yang diciptakan oleh Sang DJ.


"Ayo! Kita pesan minum!" ujar Zea


Gadis muda berambut ikal panjang yang merupakan sahabat dekat Joey itu menarik tangan Joey menuju meja bar. Lalu, keduanya disambut hangat oleh pria bertubuh kekar dengan tampang yang mempesona, ia merupakan salah satu bartender di sana.


"Grey Goose satu," ujar Zea sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah bartender tersebut.


"Ada jus nggak di sini?" tanya Joey kepada bartender tersebut.


Belum sempat bartender tersebut menjawab pertanyaan Joey, langsung dipotong oleh Zea. "Classic Cocktail aja buatnya."


"Heiii, gue nggak mau mabuk!" ketus Joey sambil menatap ke arah Zea yang wajahnya hampir tak terlihat jelas karena gelap.


"Nggak. Ini nggak bikin mabuk kok, alkoholnya dikit," jawab Zea santai.

__ADS_1


"Tapi 'kan, toleransi alkohol gue rendah."


"Tenang, ada gue," ucap Zea sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya. Rokok tersebut diselipinnya ke bibir, lalu datang seorang pria bertubuh kekar berkepala botak dengan wajah yang sangar, sepertinya pria itu merupakan salah seorang server yang ada di club tersebut. Pria itu menyalakan mancis dan membakarkan rokok yang ada di bibir Zea, lalu ia pergi meninggalkan Zea.


"Se-sejak kapan lu ngerokok?" tanya Joey terkejut.


"Akhir-akhir ini," jawab Zea santai. Tubuhnya bergoyang ke kiri ke kanan sambil tangan kanannya ke atas.


"Grey Goose dan Classic Cocktail!" seru bartender tadi sambil memberikan dua stem glass. Lalu pria tersebut menyuguhkan bill kepada Joey dan Zea.


"Du-dua juta?!!" Joey terbelalak menatap angka di bill tersebut lalu menatap ke arah Zea yang sedang mengeluarkan kartu dari dompetnya.


"Udah, ini gue yang traktir," ucap Zea lagi. Gadis tersebut menyeruput alkohol yang ia pesan tadi sedikit demi sedikit.


"Gila. Minuman di sini kok mahal-mahal," bisik Joey ke telinga Zea.


"Hahaha... ntar lu bakalan terbiasa kok."


Joey menghela nafas berat. Sepertinya tempat tersebut tidak cocok dengannya. Bukannya pelit, hanya saja, ia tau bagaimana sulitnya mencari uang. Apalagi uang sebesar jutaan rupiah lenyap hanya dengan sekali tegukan.


"Yaudah, untuk malam ini aja, gue temenin. Jadi lu galau kenapa?" tanya Joey sambil bersandar di meja bar.


"Lu inget Kak Bryan?" tanya Zea lalu menghisap rokoknya.


"Temannya Kak Ace?"


"Yap! Waktu prom night, dia hadir dan dansa dengan gue."


"Really?!!! Kakak kelas yang terkenal dingin itu?! Kakak kelas yang sering lu idolakan itu?" tanya Joey tak percaya.


"Hmm ... jadi, malam itu kita mabuk dan ... check-in."


"What the ...." Joey menutup mulutnya menahan rasa terkejut yang semakin membuatnya terbelalak.


"Gue fikir, dia serius, ternyata cuma one night doang, sial!" umpat Zea kesal. "Salah gue sih, ngapain pake hati. Cuma yang gue keselin itu, pas bangun pagi, dia udah nggak ada dan pergi gitu aja. Ninggalin no hape nggak, ninggalin secarik kertas kayak di film-film juga nggak!"


"Pfftttt!!!" Joey tak sanggup menahan ketawanya. Gadis tersebut berusaha menutup mulutnya agar tawanya tak membuncah keluar.


"Lu ngetawain gue?! Ish! Sahabat kayak apa sih!" rengek Zea sambil mengerlingkan matanya, lalu ia meraih minumannya dan meneguk habis.


"Sorry, gue cuma nggak nyangka aja sih. Sahabat yang selama ini gue kenal, ternyata se bar-bar dan seliar ini! Hahaha...." Joey tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.


"Ah lu! Bikin gue makin kesel aja deh! Buruan abisin minumannya, terus kita on the floor!"


Joey mendengarkan ucapan temannya dan menenggak habis cocktail yang tadi dipesankan oleh Zea. Setelah itu, Joey dan Zea berjalan menuju lantai dansa yang berada di depan DJ. Kehadiran mereka berdua di lantai dansa membuat mata-mata liar para pria nakal tak dapat berkedit meski sedetikpun. Joey yang berbalut dress hitam lengan panjang dengan belahan dada terbuka, membuatnya terlihat seksi di bawah kerlap kerlipan lampu diskotik saat itu.


Brown yang ditemani Charlie, sejak tadi tak pernah mengalihkan fokusnya mengawasi dan menjaga Joey sesuai perintah Rain. Saat melihat Joey memasuki lantai dansa, kedua pria bertubuh tegap berbaju hitam dengan kalung silver tebal yang menggantung di lehernya, bergegas mendekati lantai dansa tersebut.


Joey yang saat itu merasa pusing dan berputar-putar akibat tegukan alkohol yang ia habiskan tadi, kini mulai menggerakkan tubuhnya bergoyang mengikuti alunan musik DJ yang semakin memanas. Ia menari meliukkan tubuhnya berdampingan dengan Zea, namun beberapa saat kemudian, Zea menghilang di balik keramaian lantai dansa tersebut.


Saat itu juga, tampak seorang pria yang sedang menari mendekati Joey. Pria tampan bertubuh kekar dengan rambut keemasan, mata biru yang menatap lekat ke arah lekukan tubuh Joey yang sedang meliuk-liuk. Pria tersebut kini berada di depan Joey dan ingin memegang pinggul gadis yang ada di depannya.


Melihat hal tersebut, Brown dan Charlie saling bertatapan dan bergegas ingin menahan tangan pria tersebut.


"Watch your hand! She's my girl!"

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2