OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Rela Terkena Gosip demi Dia


__ADS_3

...“Kalo gosip pacarannya benar-benar terjadi juga aku tak masalah.” – Luca...


...🌸🌸🌸...


Di sebuah restoran yang bernuansa romantis, yang berada di Kemang, Jakarta Selatan, sorot mata pengunjung restoran tersebut tak dapat lepas dari Joey dan Luca yang datang secara bersamaan. Terlebih lagi saat Luca menarikkan kursi untuk mempersilahkan Joey duduk, sorot mata pengunjung di sana terlihat berbinar-binar karena kagum akan pesona ketampanan dan kecantikan dua orang tersebut.


“Wah! Itu ‘kan Pak Luca? Yang sering hadir di red carpet bersama bintang papan atas, ‘kan?” celetuk salah seorang yang ada di sana.


“Iya deh. Itu dia dateng sama cewe, kayaknya sih pacarnya!” sahut salah seorang yang ikut bergosip.


“Ugh! Aku iri liat mereka, pasangan yang serasi! Tampan dan cantik!” celetuk salah satu dari mereka.


Joey dibuat gelisah akibat suara-suara yang sayup-sayup terdengar di telinganya. Ia merasa menjadi pusat perhatian saat ini karena berjalan dengan seorang pria yang cukup terkenal di dunia hiburan.


“Are you okay?” tanya Luca khawatir.


“Aku khawatir nanti Bapak terkena skandal karna kita lunch bareng,” tutur Joey dengan nada yang serak sambil menunduk memainkan kukunya.


“Hahaha….” Luca tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapan gadis polos di depannya. Ia menghela napasnya merasa tak tega melihat kepolosan gadis ini, takutnya nanti ia terluka saat sudah benar-benar menginjakkan kaki ke dunia hiburan. Pasalnya, dunia hiburan itu sangat keras. Karena harus dihadapkan dengan opini-opini publik yang terkadang tak sesuai dengan kenyataan di dunia nyata.


“Hei, Princess. Angkat kepalamu,” ucap Luca sambil tersenyum. “Skandal atau gosip, itu hal biasa di dunia hiburan. Kita harus membiasakan diri.”


“Kamu harus kuat,” sambung Luca dengan hangat.


Seketika Joey mengangkat wajahnya yang sempat menunduk dan menatap ke arah Luca. Wajahnya yang semula lesu, kini berubah menjadi bersemangat, sinar di wajah itu perlahan mulai terlihat diiringi lengkungan indah yang membentuk sebuah senyuman. Benar-benar senyuman yang manis, Luca dibuat meleleh akibat senyuman tersebut.


“Hahaha… iya juga sih,” ucap Joey dengan senyum yang lebar. “Kenapa aku melupakan hal penting itu.”


“Kalo gosip pacarannya benar-benar terjadi juga aku tak masalah,” celetuk Luca lirih dengan suara yang samar-samar terdengar.


“Ya?” Joey mengerutkan keningnya sambil mempertajam pendengarannya, berharap pria itu mengulang kembali ucapannya. Karena ia tak dapat mendengarkan perkataan pria tadi dengan jelas.

__ADS_1


Luca tak mampu menutupi wajahnya yang kesengsem akibat pesona gadis itu. Berulang kali ia mencoba menghela napasnya mengatur detak jantung yang semakin kencang, tetap saja debar tersebut tak hilang. Mungkin karena dia terlalu senang karena bertemu lagi dengan gadis yang hampir beberapa bulan ini ia khawatirkan.


“Gunakan saja aku untuk menaikkan popularitasmu,” dalih Luca. Ia memberikan saran kepada Joey sekaligus saran tersebut merupakan sebuah keuntungan buatnya.


“Maksudnya pansos?” tanya Joey.


“Permisi, Pak, Mbak.” Sapa seorang pelayang laki-laki sambil membawakan buku menu.


Joey dan Luca menoleh ke arah pelayan tersebut secara bersamaan. Mereka melihat-lihat buku menu yang diberikan oleh pelayan tadi.


“Spageti aglio olio satu dan ice lemonade,” pinta Luca kepada pelayan tersebut.


“Chicken cardon blue dan ice lemon tea,” pinta Joey.


Pelayan tersebut mencatat pesanan Joey dan Luca, lalu mengambil buku menu tadi dan berlalu pergi meninggalkan meja yang di tempati oleh kedua orang tersebut.


Joey tak sabar ingin menanyakan saran yang diberikan oleh Luca tadi. Ia kembali bertanya dengan wajah yang serius. “Pak … itu, yang tadi.”


“Hahaha… iya. Misalnya kita terlibat skandal pacaran, terus banyak netizen-netizen yang kepo sama kamu. Nah, pas popularitas kamu sedang naik daun, langsung aja kita rilis lagu perdana kamu. Jadi, kita nggak usah susah-susah iklan ke mana-mana untuk memperkenalkan album baru kamu, karna dengan sendirinya netizen akan tau siapa kamu,” jelas Luca antusias.


“Joey?” panggil Luca sambil melambaikan tangannya ke wajah gadis yang sedang melamun itu. “Mikirin apa sih?”


“Jalani aja dan dinikmati semua prosesnya,” sambung Luca sambil tersenyum hangat.


“Oke, Pak. Jalani dulu aja, urusan pansos, nanti akan aku pikirkan lagi,” lirih Joey pelan.


Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan akhirnya datang.


“Selamat makan!” seru Luca antusias.


Joey membalas seruan pria tersebut dengan sebuah senyuman yang hangat. Ia terlihat fokus dan sangat menikmati makanannya.

__ADS_1


“Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Luca tiba-tiba. Pria itu menyuapkan spageti yang ia pesan tadi ke mulutnya.


“Boleh,” jawab Joey sambil menyuapi kentang goreng ke mulutnya. Gadis itu menatap ke arah Luca sambil mengunyah makanan di mulutnya.


“Apa yang terjadi saat kamu diculik tempo hari? Alasannya?” tanya Luca hati-hati. “Terus, gimana kamu bisa bebas?”


Joey tersentak. Ia juga tersedak saat Luca melontarkan pertanyaan tersebut. Karena setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh pria di depannya, itu berhubungan erat dengan Rain, calon CEO Grup Ravindra yang kini sedang panas menjadi pembicaraan para pebisnis dan dunia hiburan.


Luca menangkap sinyal tak suka Joey saat mendengarkan pertanyaannya. Wajah cantik yang semula bercahaya tersebut mendadak suram. Sepertinya, pertanyaan yang ia lontarkan sesaat tadi, terkesan privasi dan tak ingin diketahui oleh orang lain.


“Lupakan. Maaf jika pertanyaanku memberatkanmu,” sesal Luca sambil menyeruput minumannya. Pria itu mencoba membangunkan kembali suasana yang semula bahagia, kini mendadak tegang dan gersang.


“Dua tahun yang lalu, aku gagal nikah karna tunanganku yang selingkuh,” ucap Luca yang entah kenapa tiba-tiba saja menceritakan kisah cintanya yang kandas karena pihak ketiga.


Namun, berkat kisah sedih yang pria itu bawakan, Joey yang semula suram, kini wajahnya berubah menjadi penasaran dan menajamkan pendengarannya agar dapat menjadi pendengar yang baik, sebagai tanda bahwa ia menghargai pria yang ada di depannya itu berbicara.


“Saking sakit dan kecewanya, aku sampai menutup pintu hatiku rapat-rapat untuk wanita lain selama dua tahun ini,” jelas Luca sambil sedikit menaikkan sudut bibir kanannya ke atas. Tatapannya kosong tak bertumpu.


“Itulah kenapa, sahabatku menyarankan aku menjadi supir taksi online untuk mencari pasangan. Katanya life must go on, jadi aku juga harus move on. Ck!” Luca berdecak sebal namun diselingi dengan tawa kecil karena ia menertawakan kebodohannya sendiri yang mau saja mendengarkan saran bodoh dari temannya itu.


“Kalo jadi sinetron, judulnya … Direktur Menyamar Jadi Supir Taksi Online untuk Mencari Cinta Sejati,” celetuk Joey dengan antusias dan wajah yang cerah. Tanpa sengaja ia kembali tertawa sendiri membayangkan hal yang telah di lalui oleh pria muda tampan yang ada di depannya. “Pffttt….”


“Hei, kamu ya,” panggil Luca sambil menajamkan matanya menahan tawa. Namun seketika tawanya membuncah akibat judul yang gadis itu berikan terlalu panjang.


“Itu kayaknya bukan judul deh, kepanjangan,” sambung Luca lagi.


“Menyamar sebagai Supir Taksi Demi Cinta? Nah, gimana?” saran Joey semangat. Gadis itu terlihat nyaman berbicara dengan Luca. Mungkin karena ia merasa karena usia mereka terpaut tak begitu jauh.


“Aku lebih suka kalo judulnya … Gadis Pemilik Hati Direktur Tampan,” tutur Luca pelan dengan tatapan yang sangat dalam ke arah gadis yang ada di depannya. Ia tersenyum dengan penuh arti saat mengatakan judul sinetron yang ada dibenaknya tadi.


“Gadis Pemilik Hati Direktur Tampan?”

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG…


__ADS_2