
...“Cepatlah sadar, setelah itu kita segera memilih gaun pengantin yang kamu sukai.” – Rain...
...🌸🌸🌸...
“Maaf, istri Bapak keguguran.”
Dengan berat hati seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih khas dokter terpaksa mengatakan bahwa Joey keguguran.
“Usia kandungan yang masih muda sangat rentan keguguran jika ibunya mengalami stress, apalagi sampai jatuh. Itu sangat fatal bagi kandungan yang masih muda,” jelas dokter tersebut.
Rain tak mampu menahan rasa terkejutnya saat mendengarkan ucapan dokter tersebut. Saat itu juga ia mengutuki dirinya karena tak dapat menjaga gadis itu dengan baik, bahkan bayi mereka juga harus gugur sebelum dilahirkan ke dunia.
“Saya sarankan untuk menjaga kondisi psikisnya,” ucap dokter tersebut. “Karena stress dan terlalu banyak berfikir akan memberikan dampak negatif pada kesehatan.”
Dokter tersebut berlalu pergi meninggalkan ruangan UGD. Rain terpaku membisu melihat Joey yang terkapar tak berdaya di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap di pembuluh darah tangan kanannya.
“Maaf, Pak,” ucap salah seorang perawat. “Kami harus memindahkan istri Bapak ke ruang rawat inap.”
“Bapak bisa mengurus administrasinya dulu dan bisa memilih ruangan yang diinginkan melalui kasir.” Sambung perawat wanita tadi.
“Biar saya saja, Pak.” Ucap Harry yang tiba-tiba masuk ke ruang UGD.
...****************...
Malam itu, waktu menunjukkan pukul dua belas lewat. Rain duduk di kursi yang berada di sebelah ranjang di mana Joey terbaring. Pria itu menatap nanar ke arah Joey sambil memegang tangan kiri Joey.
“I’m so sorry,” sesal Rain dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.
Perasaannya saat ini sangat berkecamuk dan bercampur aduk. Sebuah penyesalan karena tak dapat menjaga gadis itu beserta bayinya, sekaligus rasa sedih dan pilu karena harus kehilangan bayi yang mereka tunggu-tunggu.
“Cepatlah sadar, setelah itu kita segera memilih gaun pengantin yang kamu sukai,” gumam Rain lirih. Ia mengecup lembut tangan Joey sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Entah kenapa, tiba-tiba saja air matanya menetes setitik dari sudut mata kiri, padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga agar tak menangis.
“Permisi, Pak.”
Tiba-tiba saja Harry masuk ke ruangan tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu, ia tak merasa jika mengetuk pintu akan membangunkan Joey secara tiba-tiba. Rain bergegas menyeka airmatanya agar tak terlihat oleh Harry.
Harry yang menyadari hal tersebut, ia berusaha terlihat seperti tak tau apa-apa agar bosnya merasa tenang dan tak malu karena menangis.
“Pak, saya bawakan baju ganti,” ucap Harry sambil menyodorkan paperbag ke arah Rain. “Tukarlah baju anda dulu agar lebih nyaman.”
Rain melihat ke arah tubuhnya. Ia sampai lupa bahwa saat ini baju yang ia kenakan masih kumuh karena berdebu dan berlumuran darah. Ia bahkan menyentuh tangan gadis itu menggunakan tangannya yang kotor. Tanpa berlama-lama, Rain mengambil baju ganti tersebut dan bergegas ke kamar mandi di ruangan VVIP tersebut.
Kurang lebih sepuluh menit, Rain telah segar dan menyelesaikan mandinya. Ia keluar menggunakan kaos hitam santai dan celana jogger berwarna abu-abu. Ia berjalan ke arah sofa yang berada di sebelah kiri ranjang Joey. Di sana ada Harry yang sedang duduk menunggu perintah dari Rain.
“Kenapa belum balik? Ini udah larut,” ucap Rain sambil duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya.
“Saya menunggu perintah anda untuk menyerahkan ke polisi semua kejahatan yang dilakukan oleh Shailendra Group,” ucap Harry sambil membuka tabletnya. Mata pria itu terlihat merah karena menahan kantuk, tapi tetap saja ia masih loyal pada pekerjaannya.
“Ah… satu lagi,” sambung Rain sambil merebahkan kepalanya ke atas sandaran sofa sambil ia menatap langit-langit.
Harry menoleh ke arah Rain sambil membetulkan kacamatanya.
“Sebarkan berita bahwa Anya melarikan diri karna malu menjadi pela.cur demi mendapatkan kontrak kerjasama dengan clientnya,” kata Rain dengan wajah tanpa ekspresi. “Meskipun wanita itu sekarang sudah mati.”
“Eumm… Pak,” panggil Harry takut-takut. Pasalnya ini pertama kalinya Leons membunuh orang selama Rain menjadi Alpha mereka. “Gimana kalo polisi me-“
“Nggak usah khawatir. Leons udah menghilangkan jejak kejahatan itu. Lagi pula, aku bukan membunuh orang, tapi binatang,” ucap Rain sambil memejamkan matanya.
“Baik, Pak.”
“Pulanglah, kamu butuh istirahat,” ucap Rain lagi.
__ADS_1
Meskipun dulu Rain gila kerja dan berhati dingin serta tak peduli pada sekitar, entah kenapa akhir-akhir ini ia sadar bahwa Harry juga membutuhkan istirahat. Mungkin sejak ia merasakan kehangatan dan kelembutan dari Joey, hatinya yang semula keras bagaikan batu, kini telah menjadi lembut bagaikan kapas.
“Baik, terima kasih, Pak.” Harry bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
“Sebentar.” Ucapan Rain tersebut membuat langkah Harry terhenti dan pria itu membalikkan tubuhnya menghadap Rain.
“Pesankan tiket untukku dan Joey ke Maldives minggu depan,” perintah Rain tanpa membuka matanya. Ia masih tersandar lelah di sofa tersebut.
“Maaf, Pak. U-untuk ke-keperluan apa?” tanya Harry takut-takut. Ia tak ingin di cap sebagai pria yang suka ikut campur urusan orang lain. Apalagi itu urusan atasannya.
“Jalan-jalan aja. Biar Joey bisa menenangkan diri,” ucap Rain lagi. “Kasian, akhir-akhir ini dia terlalu stress dan banyak pikiran.”
Harry mengeluarkan ponselnya dan ingin mencatat perintah Rain ke memo. Namun, tiba-tiba saja pria itu mengerutkan keningnya. Ia merasa bahwa Joey pernah mengatakan bahwa ia ingin sekali ke Bali. Pasalnya, selama empat belas tahun ini, Rain tak memberikan izin untuk gadis itu meninggalkan apartemen walaupun sehari.
Bahkan jika ada kegiatan sekolah yang mengharuskan menginap di luar saja Harry harus mengkonfirmasinya terlebih dahulu ke sekolah. Tak sampai di situ, Rain juga mengutus Leons untuk memantau Joey dari jauh saat kegiatan sekolah yang mengharuskan menginap di luar. Itu juga salah satu alasan kenapa selama empat belas tahun ini Joey tak pernah bertemu dengan ayah kandungnya.
“Sejak dulu, dia selalu ingin pergi ke Bali,” ucap Harry.
“Kenapa nggak biarin aja dia ke Bali?” tanya Rain tanpa ingat bahwa selama empat belas tahun itu ia terlalu posesif pada Joey.
Harry yang mendengarkan ucapan tersebut, seketika ia memutarkan bola matanya karena atasannya itu benar-benar berkata tanpa berfikir terlebih dahulu. Bukankah dia sendiri yang tak membolehkan? Bahkan ia selalu mempersulit gadis kecilnya setiap gadis itu meminta izin ingin pergi ke luar Jakarta.
“Dulu ‘kan, anda tak membolehkan Joey pergi keluar dari kota Jakarta?”
Rain tersentak. Ia membuka matanya secara mendadak sambil duduk menghadap Harry.
“Memangnya aku begitu?” tanya Rain lagi.
Harry hanya menganggukkan kepalanya tanpa berani mengatakan apa-apa. Ia takut jika sekalinya berbicara, pasti terkesan menyalahkan dan menyudutkan atasannya itu. Dari pada ia kehilangan pekerjaan, sebaiknya ia diam dan mengiyakan saja apa perintah pria itu.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG…