OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Membunuh Secara Perlahan


__ADS_3

..."Kalau memang ingin menyakitiku secara perlahan, lantas kenapa merawatku dengan kehangatan seperti ini? Ini sama saja dengan membunuhku secara perlahan!" - Rain...


...🌸...


..."Saking bodohnya aku, hotel ini malah ku dirikan sebagai bukti cintaku pada Oleander yang sebenarnya bukan milikku." - Rain...


...🌸🌸🌸...


Awan yang menghitam dengan curahan air hujan yang tak henti-hentinya membasahi kota terlihat jelas dari dinding kaca di kamar penthouse Hotel Nerium Oleander.


Rain terbangun sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Matanya berkeliling ke kiri dan ke kanan mencari sosok gadis yang selalu berkelabat dipikirannya.


"Om udah bangun?" tanya Joey lembut sambil tersenyum, Gadis itu masuk ke kamar sambil membawakan nampan yang berisi bubur dan air putih. Lalu ia duduk di samping Rain tepatnya di sisi ranjang.


"Ayo sarapan," serunya. Ia membantu Rain duduk dari tidurnya.


"Morning, Sweetheart," sapa Rain sambil tersenyum. Lalu ia mengecup lembut kening Joey dengan sangat mesra, melupakan semua kejadian buruk tadi malam.


Joey tersentak kaget, bagaimana bisa pria sakit itu kembali romantis dan mengecupnya lembut pagi ini. Apakah ia melupakan kejadian semalam?


Rain memegang kedua pipi Joey, lalu ia menatap gadis itu dengan tatapan yang hangat. "Maafkan sikap dinginku tadi malam, aku hanya cemburu. Ayo kita lupakan hal itu dan menjalani hari yang baik. Cukup tak usah membalas pesannya lagi."


Joey terbelalak mendengarkan ucapan pria itu. Melupakan kejadian buruk tadi malam? Lalu dia memaafkannya begitu saja? Ada apa ini? Kenapa semua tingkah dan kelakuan pria itu begitu hangat dan baik?! Itu benar-benar membuatnya frustasi dan semakin susah untuk menjauh dari pria tersebut.


"Sweetheart? Kenapa diam?" tanya Rain yang melihat Joey melamun. Pria itu mengecup lembut bibir merekah Joey.


Entah kenapa, tiba-tiba wajah pucat yang bersinar itu tertawa kecil. "Hahaha... kamu merasa aneh ya? Aku tiba-tiba begini? Hmm?"

__ADS_1


"Aku hanya berusaha menjadi suami yang hangat dan baik untukmu, aku ingin istriku bahagia di sisiku," sambung Rain sambil meraih kedua tangan Joey dan ia menciumi jari jemari gadis itu.


Rain mendadak terbelalak. Wajah bersinarnya mendadak suram dan berubah menjadi tak bergai rah saat melihat cincin yang ia sarungkan kemaren tak ia temukan di kedua jari manis gadis itu. Di tambah lagi, sorot mata kosong gadis itu menatap ke arahnya. Apa yang terjadi?!


"Ke-ke mana? Cincin yang ... kusarungkan di jarimu?" tanya Rain tercekat. Entah kenapa, hatinya mendadak sesak dan pilu saat menanyakan hal tersebut,


"Aku ... nggak. Kita ..." Joey menelan salivanya. "Ayo kita udahi semua kegilaan ini."


Bagaikan gelas penuh yang berisi mendadak jatuh pecah ke lantai, seluruh isinya tumpah dengan pecahan kaca yang yang terbagi menjadi berkeping-keping, begitulah kondisi hati Rain saat ini. Ia berusaha keras melupakan rasa cemburunya agar bisa tetap baik-baik saja dengan Oleander kesayangannya, ia berusaha keras meninggalkan semua sifat dingin, harga diri dan keegoisannya, tapi kenapa balasan menyakitkan seperti ini yang ia terima dari gadis itu? Apa benar, selama ini gadis itu tak pernah mencintainya dan hanya terpaksa karena balas budi selama empat belas tahun ini?


Joey melepaskan kedua tangannya dari genggaman kasar pria tampan itu, sehingga pria itu tersentak dari lamunannya. Ia meraih mangkok bubur yang tadi dihantarkan oleh Brown ke penthouse. "Sarapanlah, Om harus minum o-."


"Kalau memang ingin menyakitiku secara perlahan, lantas kenapa merawatku dengan kehangatan seperti ini? Ini sama saja dengan membunuhku secara perlahan!" tukas Rain sengit. Ucapan pria itu terdengar begitu pilu dan dapat dirasakan oleh Joey. Mata pria tersebut terlihat berkaca-kaca dan menyiratkan rasa sakit yang begitu dalam, seolah-olah ini adalah luka tersakit yang pernah ia rasakan dalam hidupnya.


"Om. Sadarlah, cinta itu nggak bisa dipaksakan," Joey mengepalkan tangannya. Ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati saat mengatakan hal yang sebenarnya berlawanan dengan dirinya. Sebenarnya ia sangat mencintai pria itu, hanya saja status sosial mereka saat ini tak memungkinkan dan ia juga tak ingin menjadi penghalang bagi pria itu untuk mengincar posisi CEO di perusahaan raksasa terbesar se Asia Tenggara.


"Jadi, kamu lebih memilih Kale?" Rain menelan salivanya. Pria itu tersenyum getir, ini pertama kalinya ia menunjukkan senyuman yang tak tulus dan penuh paksaan di depan gadis itu.


Joey hanya mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.


Rain mendadak terkekeh sambil memegang perutnya. Perlahan, pria itu tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang kedua perutnya.


"Entah apa yang telah kulakukan selama ini. Yang jelas, aku begitu bodoh karena termakan cinta," keluh Rain dengan tatapan yang kosong. Pria itu melemparkan pandangannya ke sekeliling secara perlahan.


"Saking bodohnya aku, hotel ini malah ku dirikan sebagai bukti cintaku pada Oleander yang sebenarnya bukan milikku, bahkan menjadi hotel nomor satu terbesar se-Asia Tenggara," sambung Rain pilu.


Joey tertunduk. Ia semakin dihantui rasa bersalah dan perasaannya menjadi berkecamuk. Andai akal sehat tak menahannya, ingin sekali ia bergegas meraih tubuh lemah di depannya dan memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


"Om, a-."


"Sudahlah. Aku tak akan memaksamu lagi," potong Rain. Ia bangkit dari duduknya dan memaksakan diri meskipun masih belum sembuh.


"Om masih sakit," ucap Joey sambil memegang tangan Rain.


Rain menempik tangan gadis itu. "Stop. Simpan perhatian palsumu!"


"Penthouse ini, sering-seringlah ke sini, karna aku nggak akan pernah menginjakkan kaki ku ke lantai 37 ini," sambung Rain sambil berjalan menuju pintu.


Dalam diam dan tanpa menoleh ke belakang ke arah Rain yang perlahan meninggalkan ruangan itu, Joey menatap ke luar ke arah rintikan hujan yang semakin deras. Dadanya terasa sangat sesak dan ia menjadi kesulitan bernafas.


"Buang aja cincin itu, karna pernikahan tak akan terjadi di antara kita," ucap Rain mengakhiri pembicaraannya sambil menghilang dari pandangan.


Guruh berdentum di saat yang sama ketika Rain mengatakan bahwa pernikahan tak akan terjadi di antara mereka. Cuaca dingin yang begitu menusuk hingga ke tulang, membuat tubuh Joey menjadi kaku dan tak mampu berkutik. Hanya matanya saja yang memanas dan perlahan mulai mengeluarkan buliran airmata satu persatu.


Hari ini, cinta pertamanya kandas. Begitu pula dengan mimpi indahnya, kini saatnya untuk dia bangun dari mimpi indah tersebut dan mulai menghadapi dunia nyata.


TING!!!


Bunyi lift terdengar dari kamar di mana Joey sedang terpaku membisu. Gadis itu bergegas bangkit dari duduknya dan berlari ke luar ke arah lift yang tersedia di dalam penthouse tersebut. Ia berharap bahwa pria tersebut masih di sana dan belum pergi meninggalkannya. Sayangnya, saat ia tiba di depan lift tersebut, ternyata Rain telah pergi dan tak lagi di sana.


Joey terduduk di lantai dengan tatapan kosong ke arah lift. Hatinya begitu sakit dan hancur berkeping-keping. Di sela riuhnya bunyi rintik-rintik hujan, Joey menangis sekeras-kerasnya melepaskan cinta pertamanya yang kini tak mungkin lagi ia gapai. Karena beberapa bulan lagi, pria itu akan menjadi suami orang.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2