OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Salahku, Bukan Salahmu


__ADS_3

..."Ini bukan salahmu. Salahku karena terlalu mencintaimu." - Rain...


...🌸🌸🌸...


"Udah siap?" tanya Rain saat melihat Joey keluar dari kamar.


Hari ini, Joey mengenakan dress berwarna cream dengan rambutnya yang dikuncir kuda. Ia juga memberikan sedikit sentuhan makeup yang soft di wajah. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan perpaduan heels berwarna putih.


"Udah," jawab Joey sambil tersenyum sumringah.


Gadis itu merasa sangat bahagia hari ini. Pasalnya, mereka akan pergi mencoba gaun pengantin. Rasanya seperti mimpi, menikah di usia sembilan belas tahun dengan seorang pria tampan dan mapan yang ia cintai.


Drrttt... Drrtttt...


Sebuah panggilan masuk dari Pak Ravindra. Rain menghela napasnya dengan malas saat melihat nama tersebut tertera di layar ponsel.


"Angkat aja, Om. Siapa tau urgent," ucap Joey sambil duduk di sofa tepatnya di samping Rain.


Mendengarkan ucapan gadisnya, Rain mengangkat panggilan tersebut dengan malas.


"Ya, Pa?"


^^^"Papa udah batalin pernikahan kamu dengan Anya. Papa nggak nyangka ternyata mereka begitu busuk dan tak bermoral."^^^


"Ck! Baru sadar sekarang."


^^^"Pulanglah."^^^


^^^"Papa akan mengenalkanmu dengan seseorang yang lebih baik lagi."^^^


"Pa! Stop jodoh-jodohin aku!"


"Aku bakalan bawa calon menantu Papa ke rumah."

__ADS_1


Rain langsung mematikan ponselnya tanpa memberikan kesempatan pada Pak Ravindra untuk menjawab perkataannya. Ia berdecak sebal sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa dan merebahkan kepalanya ke sandaran sofa. Lalu ia memejamkan matanya mencoba meredakan amarah yang tiba-tiba meluap. Pasalnya, ia sudah susah payah mencari cara membuka keburukan Shailendra Group agar perjodohan mereka batal, ternyata sekarang ia malah dijodohkan lagi dengan seorang wanita lain. Memangnya ini zaman Siti Nurbaya? Masih saja ada perjodohan-perjodohan.


"Om," panggil Joey mencoba menenangkan Rain. Ia meraih tangan Rain dan membelainya dengan lembut.


"Hari ini aku akan mengenalkanmu pada Papa," ucap Rain tanpa membuka matanya. Dadanya masih naik turun karena amarah sesaat tadi. Padahal, hari masih pagi, tapi pria tua itu sudah membuatnya kesal karena menjodohkannya lagi dengan wanita yang tak ia cintai.


...****************...


Siang itu, setelah makan di penthouse Hotel Nerium Oleander, Joey dan Rain menuju ke PIK di mana rumah Ravindra berada.


Setibanya mereka di depan rumah, Rain turun dari mobil dan membukakan pintu untuk gadisnya. Kemudian Joey turun.


"Om... a-aku ... gugup," ucap Joey terbata-bata.


Rain tersenyum ke arah Joey. Ia mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Ayo, aku bersamamu," ucap Rain.


Keduanya berjalan melangkahkan kaki memasuki rumah mewah tersebut. Saat Rain membuka pintu, isi dari rumah tersebut bak istana-istana kerajaan karena tertata dengan rapi dan perabotan yang nyaris mengkilat di setiap sudut ruangan. Ada sebuah lampu gantung dari kristal di tengah-tengah rumah tersebut.


"Siang. Papa mana?" tanya Rain.


"Ada di ruang tengah, Pak."


Setelah mendapatkan jawaban dari Bi Susi, Rain dan Joey melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Di sana, terlihat Pak Ravindra dan Ibu Ravindra yang sedang duduk bersebelahan di sofa sambil menikmati tontonan televisi. Namun, fokus mereka teralihkan saat melihat Rain masuk ke rumah tersebut dengan seorang gadis muda.


Joey berjalan mengikuti Rain sambil menunduk.


"Angkat kepalamu," perintah Rain saat melihat Joey.


Pak Ravindra tertawa sinis saat melihat Rain membawa gadis ke depannya. "Ck! Ini?"


"Aku nggak mau basa basi lagi," tutur Rain dingin. "Dia akan menjadi istriku dan jangan pernah melibatkanku lagi dengan perjodohan tak masuk akal itu."

__ADS_1


"Duduk dulu, Nak," ucap Ibu Ravindra.


"Baiklah, kalo itu maumu," sahut Pak Ravindra sambil mengambil ponselnya. "Posisi CEO Group Ravindra akan kuberikan pada Zayn."


Rain mengepalkan tangannya sambil menggertakkan gigi. Ia merasa kesal dengan ancaman yang selalu saja pria tua itu berikan padanya.


"Silahkan," jawab Rain dingin.


Kemudian, Rain membalikkan tubuhnya dan ingin berjalan meninggalkan ruang tengah diikuti Joey yang sedari tadi tangannya digenggam erat.


"Rain!!!" panggil Pak Ravindra sambil berdiri dari duduknya. Keriput di wajahnya semakin terlihat jelas karena marah.


"Sejak kapan kamu berani melawanku!!!" bentak Pak Ravindra lagi.


Rain tak peduli. Ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut bersama Joey. Yang ada dipikirannya saat ini, ia harus menikahi Joey apapun yang terjadi. Tak peduli jika harus kehilangan posisi CEO Ravindra Group, yang penting ia tak kehilangan Joey di hidupnya.


Keduanya memasuki mobil dan melaju meninggalkan pelataran rumah mewah tersebut. Rain tak berkata apa-apa sejak mereka berdua meninggalkan rumah tadi. Joey merasa serba salah, andai ia tak ada, pasti Rain tak akan seperti ini.


"Om," panggil Joey. Ia menundukkan wajahnya sembari memainkan kukunya.


"Hmm," jawab Rain tanpa menoleh.


"Maaf, semua ini gara-gara aku," tutur Joey dengan suara yang serak.


"Gara-gara kamu?" tanya Rain sambil menoleh ke arah Joey.


Rain menatap gadisnya dengan penuh kasih sayang. Tangan kirinya meraih tangan kanan gadis di sebelahnya sambil ia berkata dengan lembut. "Ini bukan salahmu. Salahku karena terlalu mencintaimu."


Saat fokus Rain teralihkan ke gadisnya, tanpa ia sadari, ada sebuah truk yang melaju kencang dari arah depan. Joey tak sengaja mengangkat wajahnya.


"OM!!!" pekik Joey sambil mencoba menunjuk ke arah truk tersebut.


Namun sayang, sesaat setelah Joey berteriak, mobil yang mereka kendarai terlibat dalam sebuah kecelakaan.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2