OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Menangislah Jika Sakit


__ADS_3

...“Kumohon, menangislah jika ini benar-benar sakit. Menangis bukan karna lemah, Om hanya lelah.” - Joey...


...🌸🌸🌸...


TING TONG!


Rain menghentikan cerita masa kecilnya kepada Joey saat mendengarkan suara bel berbunyi. Sepertinya itu kurir yang mengantarkan pesanan onlinenya tadi.


“Bentar ya,” ucap Rain sambil membelai lembut pipi Joey. Ia tersenyum tanpa beban saat menatap Joey. Lalu ia bangkit dari sisi ranjang dan bergegas keluar kamar.


Joey membeku. Ia benar-benar tak menyangka bahwa pria yang dingin itu, ternyata memiliki luka mendalam yang tak dapat disembuhkan dalam waktu yang singkat. Bagaimana bisa ia menyembunyikan luka batin itu bertahun-tahun? Lalu, bagaimana bisa ia tersenyum tanpa beban setelah menceritakan luka yang ia sembunyikan itu?


Joey sempat merasa bahwa semesta tak pernah adil padanya karena diberikan hidup yang mengenaskan, tapi ternyata, ada yang lebih mengenaskan darinya. Ia hanya merasakan perihnya hidup selama empat tahun, setelah itu Rain menemukannya dan memberi hidup yang berkecukupan sehingga ia dapat merasakan belajar dengan baik dan memiliki banyak teman.


Sedangkan Rain? Pria itu hidup di dalam sebuah jeruji yang membelenggu, jeruji dendam yang membuat hidupnya monoton dan tak berwarna selama dua puluh tujuh tahun. Ia harus hidup di dalam bayangan luka cinta pertamanya yang meninggal karena bunuh diri dan adik yang tak sempat ia temui. Bagaimana bisa pria itu menahan luka sedalam itu selama ini?


“Aku harus menjadi rumah ternyaman untuknya pulang!” gumam Joey lirih.


Akhirnya, perasaan gelisah yang membuat pendiriannya berubah-ubah kini menjadi teguh. Ia telah menemukan tujuan yang harus ia perjuangkan dan ia pertahankan. Menjadi rumah ternyaman untuk pria itu pulang.

__ADS_1


Gadis itu bangkit dari ranjang, ia menuju ke pintu kamar dan berlari keluar. Entah energi dari mana, rasa nyeri dan meriangnya terlupakan sejenak hingga ia dapat berlari ke arah Rain yang sedang di dapur saat ini.


“Om!” panggil Joey dengan nada yang serak. Ia memeluk punggung kekar pria itu dari belakang. Rasa haru yang menyeruak di dada seketika membuncah saat ia dapat mencium aroma khas dari tubuh pelita hidupnya itu. Kedua tangannya yang lemah memeluk erat tubuh atletis pria itu.


“Aku bisa, Om! Aku bisa!” seru Joey dengan suaranya yang serak.


Rain terheran-heran dan dibuat bingung oleh kelakuan aneh gadis itu. Apa maksud dari ucapannya? Kenapa dia berlari keluar? Bukankah gadis itu sedang sakit? Ke kamar mandi saja ia digendong.


Merasa penasaran, Rain membalikkan tubuhnya menghadap Joey. Saat ia membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu, Joey menempelkan kepalanya ke dada Rain. Lalu, Rain mengelus lembut kepala gadis itu sambil tertawa kecil.


"Ada apa sih? Tiba-tiba lari, terus bilang bisa?” tanya Rain bingung.


“Mulai detik ini, kalo Om lelah, Om cari aja aku. Karna aku selalu menjadi rumah ternyaman untuk Om pulang dan istirahat. Om nggak sendiri, aku selalu ada untuk Om,” sambungnya tulus.


Mata Rain mendadak berkaca-kaca. Perasaan apa ini? Ia merasa asing. Perasaan hangat di mana ingin sekali ia luapkan saat itu juga.


Seumur hidupnya, ia tak pernah merasa segoyah bahkan sesedih ini. Kesedihan terakhirnya adalah saat di mana ia melihat cinta pertamanya menghembuskan napas terakhir. Setelah itu, ia tak lagi pernah merasakan airmata membasahi pipinya. Tapi sekarang? Setelah dua puluh tujuh tahun, air bening yang hangat itu perlahan keluar membasahi pipinya.


“Hahaha… kamu benar-benar kelemahan terbesarku,” gumam Rain pelan sambil tertawa getir. Meskipun airmata merembes membasahi pipinya satu per satu, lengkungan di bibirnya membentuk sebuah senyuman. Senyuman dari seorang pria yang selama ini hidup dalam kegersangan cinta dan kasih sayang, namun dihantui kesunyian yang mencekam dan membunuh secara perlahan.

__ADS_1


Joey mendongakkan kepalanya. Ia melihat ke atas, ke arah pria yang tingginya lima belas senti lebih tinggi. Entah kenapa, kedua tangannya meraih kepala pria tersebut dan menariknya ke pelukan. Kini tubuh pria itu sedikit membungkuk dan berada di pelukan Oleander kesayangannya.


“Jangan ditahan sendiri. Melihat Om begini saja sudah sangat menyiksaku, apalagi Om yang menghadapinya selama dua puluh tujuh tahun,” gumam Joey lirih.


“Sakit, bukan?” tanya Joey pelan sambil memeluk erat tubuh kekar Rain. “Kalo sakit itu nangis, meng-aduh. Bukan diam. Om itu manusia, bukan robot.”


“Kumohon, menangislah jika ini benar-benar sakit,” pinta Joey.


Kelembutan dan kehangatan yang Joey berikan, mendorong habis dan meruntuhkan seluruh tembok keangkuhan dan kesombongan Rain. Selama ini, Rain merasa bahwa dirinya kuat. Namun tanpa ia sadari, dirinya begitu rapuh dan butuh tempat bersandar.


Pria itu tak lagi mampu membendung rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan, perlahan isak tangisnya samar-samar terdengar. Begitu pilu dan menyayat hati.


“Nggak apa-apa, menangis bukan karna lemah, Om hanya lelah,” bujuk Joey pelan sambil menepuk pelan punggung pria tersebut.


Sedari tadi, ia bersusah payah menahan sebak di dada. Namun tak tertahankan. Ia pun ikut menangis pilu bersama pria yang ia cintai tersebut, merasakan sakitnya kehampaan dan kesepian yang bertemankan dendam.


“Aku janji, akan selalu ada di sisi, Om. Jadi, mulai detik ini juga jangan pernah merasa sendiri.”


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2