
...“Rain-ku sayang, just go. I’ll be fine here."...
..."Pergilah, selesaikan semua urusan Om dan jangan lupa pulang karna aku adalah rumah tempat Om beristirahat."...
..."Cause I wanna be your wife till we getting old.”...
...- Joey -...
...🌸🌸🌸...
"Ish! Om jorok!"
Joey merengek karena merasa tak nyaman dengan apa yang dikatakan oleh Rain.
"Aku butuh ini," ucap Rain sambil menunjuk bibir merekah gadisnya.
Joey mendadak terbelalak. Matanya membulat dengan sempurna bersamaan mulut yang setengah terbuka karena syok.
"Hehehe... a-aku 'kan l-lagi sakit," elak Joey sambil tertawa paksa.
“Sakit?” tanya Rain sambil menyeringai.
Rain merebahkan tubuh Joey ke atas ranjang, lalu ia memanjati tubuh gadis tersebut. Kemudian ia berbisik ke telinga Joey.
"Kata Dokter Robert, bercinta saat hamil muda nggak masalah, yang penting pelan-pelan.”
“Hah? Seorang Rain Ravindra bercinta pelan-pelan?” tanya Joey sambil mendorong tubuh Rain sehingga tubuh mereka menyisakan jarak sekitar lima belas senti.
Joey menatap Rain dengan tatapan mengejek karena tak percaya bahwa pria tersebut bisa bercinta dengan lemah lembut, sebaliknya pria itu menggagahinya dengan sangat brutal sampai-sampai ia selalu kewalahan setelahnya.
“Waktu itu ‘kan, kamu belum hamil, Sayang,” ucap Rain nakal sambil tangan kanannya perlahan menggerayangi dada sintal milik Oleander-nya.
“Om… aku ‘kan masih sakit,” Joey memelas dengan mata yang berkilat-kilat. Ia berharap semoga pria itu tak akan mengajaknya bercinta kali ini.
“Pilih, mau pake lobang atas atau lobang bawah?” tanya Rain sembari tangan kanannya yang tadi masuk ke dalam daster dan mulai mera ba gundukan kenyal milik ibu hamil tersebut.
“O-Om, mulai deh,” Joey mulai terhanyut dengan permainan tangan kasar Rain yang besar itu. Wajahnya merona akibat ucapan vulgar Rain yang tak pernah berbasa-basi, ia juga dibuat pasrah saat tiba-tiba pria tersebut mulai menge.cupi leher jenjangnya. Deruan napas hangat pria tersebut menggelitiki leher Joey sehingga mata gadis itu dibuat merem melek menahan sensasi yang sudah beberapa minggu ini tak ia rasakan.
Drrttt. Drrrtt…
Di saat suasana pemanasan bercocok tanam sedang berlangsung, tiba-tiba saja ponsel Rain bergetar.
“Om, ada yang nelfon tuh,” ucap Joey sambil memegang kedua bahu kekar Rain.
__ADS_1
Joey merasa terganggu dengan getaran ponsel milik Rain sehingga suasana intim yang sempat membuatnya terhanyut perlahan mulai menghilang.
“Ntar aja,” protes Rain sambil tetap mencum.bui leher jenjang gadis tersebut.
Rain tak peduli dengan getaran ponsel yang mengganggu itu, baginya saat ini yang terpenting adalah ia harus menuntaskan syah.watnya yang sudah menggebu-gebu. Tangannya mulai menuruni perut Joey dan menyusup di balik kain segitiga gadis tersebut.
“Mhh…” Joey tak mampu menahan leng.uhannya saat jari tengah pria tersebut mulai menyelinap masuk menyentuh lipatan daging tebal miliknya.
Getaran ponsel tersebut mulai berhenti. Keduanya kembali hanyut dalam suasana pemanasan bercocok tanam.
“Call my name,” pinta Rain sambil menggigit gemas telinga gadisnya. Lalu jari tengahnya mulai membelai lembut dengan gerakan gesekan naik turun tepat di tengah-tengah lipatan daging tebal milik Oleander-nya.
Drrttt… Drrtttt…
Keduanya tak peduli dengan getaran ponsel tersebut. Sehingga getarannya kembali mati.
Joey terisak-isak dan dibuat mende.sah tanpa henti akibat aksi liar dari jari yang bergerilya di bawah sana. Sesekali pinggulnya dibuat tersentak ke atas akibat tusukan jari tersebut yang tiba-tiba saja masuk menerobos lobang sempitnya.
Drrtt... Drrtttt....
“Sial!” umpat Rain sambil menghentikan aksi pemanasannya.
Pria itu merangkak ke sisi ranjang mendekati meja kecil, lalu ia menggapai ponselnya.
“Dasar wanita ja.lang!” Rain tak lagi mampu menahan emosinya saat melihat nama tersebut. Wanita itu benar-benar mengganggu kesibukannya yang sedang ingin bercocok tanam dengan gadis kesayangannya.
“Bentar ya,” tutur Rain pada Joey yang ternyata sudah duduk bersimpuh di belakangnya.
Joey hanya mengangguk pelan dengan wajah tercengang karena gejolak gai.rahnya yang sempat terhenti secara mendadak akibat panggilan dari seseorang yang tak ia ketahui.
Rain bergegas bangkit dan berdiri di samping ranjang sambil bertolak pinggang. Tangan kanannya memegang ponsel menerima panggilan masuk dari Anya.
“Kenapa?” ketus Rain merengus.
^^^“Mas ke mana aja?”^^^
“Nggak usah basa-basi!” tegas Rain dengan gamblang.
^^^“Halo? Rain? Kamu di mana?”^^^
Tiba-tiba suara bariton pria yang tak asing terdengar di balik ponsel tersebut.
“Papa?” ucap Rain sambil mengurut pelan pelipisnya.
__ADS_1
^^^“Pulang kalo nggak mau Papa selidiki siapa gadis yang sedang bersamamu saat ini!”^^^
“M-maksud, Papa?” tanya Rain terkesiap.
^^^“Pulang! Papa nggak mau ngulangin ucapan ini untuk yang ketiga kalinya!”^^^
Sesaat setelah Pak Ravindra memerintahkan Rain pulang, panggilan tersebut langsung terputus. Rain membuang ponselnya ke atas meja kecil di samping ranjang. Ia berdecak sebal sambil menghela napas dengan kasar.
“Kenapa, Om?” tanya Joey ingin tahu. Gadis itu menuruni ranjang dan berdiri di dekat Rain yang terlihat sedang awut-awutan.
“A-aku harus pulang,” tutur Rain. Wajahnya menyiratkan rasa bersalah dan keberatan ingin meninggalkan gadis kesayangannya yang sedang sakit sekaligus hamil.
“Lalat hijau itu … Anya?” tanya Joey menyelidiki. Ia mengangkat wajahnya melihat ke arah Rain yang terlalu tinggi baginya.
Rain membungkukkan tubuhnya dan sedikit condong ke arah Joey. “Hmm. Itu dia.”
“Kayaknya ja.lang itu ngadu ke Papa soal kamu,” sambungnya lagi.
Joey menghela napasnya. “Yaudah, Om balik dulu aja. Aku nggak apa-apa kok.”
“Tapi, aku nggak tenang ninggalin kamu sendiri. Apalagi kamu-“
“Om… aku udah gede. And I will be a mom soon,” potong Joey sambil meyakinkan pria yang ada di depannya.
Meskipun berat rasanya di tinggal sendiri di saat sakit dan hamil seperti ini, ia tak boleh bersifat angkuh dan mementingkan diri sendiri. Mengingat perjuangan panjang yang telah dilakukan oleh Rain, ia tak ingin menjadi penghambat sekaligus perusak dari rencana besar pria tersebut. Sebaliknya, ia ingin mendukung dan menyemangati calon ayah dari anaknya tersebut.
“Kamu yakin?” tanya Rain. Ia ingin memastikan lagi apakah gadis itu baik-baik saja jika ia tinggal sebentar.
Joey meraih kedua pipi Rain sambil menatap lekat ke kedua bola mata elang pria di hadapannya. Ia berbicara dengan lembut dan penuh ketenangan. “Rain-ku sayang, just go. I’ll be fine here.”
“Aku nggak mau keegoisanku ini merusak impian masa depanku berada di sisimu. Cause I wanna be your wife till we getting old.”
“Ck! Ada apa dengan Oleander-ku kali ini, hmm?” tanya Rain sambil tersenyum lega. Pupil matanya membesar dan wajah tegangnya perlahan mulai teduh.
“Pergilah, selesaikan semua urusan Om dan jangan lupa pulang karna aku adalah rumah tempat Om beristirahat.”
Lagi-lagi ucapan Joey membuat jantung Rain berdebar dengan kencang. Perasaan menggelitik yang membuatnya tak mampu menahan haru sekaligus bahagia yang menyelimuti dada. Gadis yang semula menolaknya mentah-mentah, kini menjadi seorang gadis penyemangat sekaligus tempat cinta terakhirnya berlabuh.
“Thank you,” gumam Rain pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah kenapa, sejak kejadian tadi pagi, sikap pria itu mendadak menjadi mellow dan hatinya kerap tersentuh. Sepertinya, peran Oleander di hidupnya benar-benar berpengaruh besar. Membuat hati yang sekeras baja itu mendadak berubah menjadi lunak.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG…