OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
Memutar Waktu


__ADS_3

...“Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa-masa itu.” – Ravi Ravindra...


...🌸🌸🌸...


Drrttt… Drrttt…


Beberapa detik setelah Rain membuat sebuah panggilan video kepada Joey, panggilan tersebut langsung direspon dengan cepat oleh gadis kesayangannya.


^^^“Om!”^^^


Suara girang Joey terdengar bahagia saat menerima panggilan video tersebut. Ia terlihat sedang berbaring dengan mengenakan baju tidur yang berbeda dari sebelumnya.


“Kamu mandi?” tanya Rain penasaran.


^^^“Iya. Soalnya sejak kemaren sore aku nggak mandi, jadinya nggak nyaman.”^^^


“Kan kamu masih sakit, Sayang.”


^^^“Masak aku nggak mandi-mandi? Ntar Om Rain-ku kabur karna badan ku bau.”^^^


“Hahaha… itu mu ‘kan memang bau,” kekeh Rain cekikikan.


Pria itu merasa bahagia saat mendengarkan suara gadis kesayangannya. Rasanya semua pening dan sakit kepala yang menghujamnya sejenak hilang saat melihat gadis tersebut meski hanya lewat panggilan video.


^^^“B-bau?!”^^^


Joey tersentak. Di satu sisi ia merasa malu karena ucapan mesum pria tersebut, namun di sisi lain ia merasa tak percaya diri pasalnya pria itu mengatakan dengan gamblang bahwa bagian tubuh bawahnya bau. Apa baunya bikin tak nyaman?


“Iya. Bau yang enak dan bikin aku ketagihan untuk selalu menghirupnya.”


^^^“Om! Otaknya mesum terus ih! Inget, bentar lagi mau jadi bapak orang!”^^^


Wajah Joey seketika memerah bak udang rebus dan terlihat cemberut karena ucapan mesum pria itu tentang bagian tubuh bawahnya. Pria itu mengatakan secara terang-terangan tentang hal vulgar tersebut tanpa basa-basi.


Sedangkan Rain, ia hanya tertawa melihat raut wajah gadisnya yang merengut.

__ADS_1


“Aku mau lihat itu,” pinta Rain tiba-tiba.


^^^“Huh? Lihat apa?”^^^


“Lihat gunung kembar kesukaanku,” ucap Rain nakal.


^^^“Ish, Om! Nggak ada pembahasan lain apa?”^^^


“Tadi ‘kan kita nggak sempat ngent-“


^^^“Om! Nggak usah disebut!”^^^


Joey menutup wajahnya menggunakan tangan kanan, ia benar-benar malu setengah mati karena ucapan pria itu yang tak disaring sama sekali. Namun, hatinya dibuat berdebar tak menentu karena ucapan mesum tersebut. Sejujurnya, dia juga merasa bir.ahinya tak tersalurkan akibat setengah jalan tadi. Tapi karena dia seorang wanita, ia merasa malu untuk mengatakan hal tersebut.


“Aku rindu,” gumam Rain pelan.


Sorot mata pria itu mendadak sendu dan saat ia mengatakan rindu pada gadis kesayangannya. Tersirat ketulusan dan kejujuran yang ia ucapkan barusan.


^^^“Aku juga rindu.”^^^


Rain terdiam. Ia menghela napasnya berat. Memikirkan bagaimana cara ingin menyampaikan kepada gadis itu tentang keputusan sepihak yang diambil oleh ayahnya. Apakah gadis itu bisa menerima keputusan tersebut?


Sejujurnya, jika dia diposisi itu, dia tak akan bisa menerima gadisnya seatap dengan pria lain.


"Ayo ketemu di Hotel Leonidas."


^^^"Oke! Besok jam berapa?"^^^


"Jangan besok, kamu masih sakit."


^^^"Gimana mau sembuh, obatnya aja jauh dariku."^^^


Rain tersenyum sumringah mendengarkan ucapan gadis tersebut. Gadis itu selalu bisa menjadi penawar dari segala kegelisahan dan kegundahan yang ia hadapi.


"Aku akan mengirim Harry untuk menjemputmu besok."

__ADS_1


^^^"Okay! Aku nggak sabar menunggu besok!"^^^


"Jangan lupa bawa lingerie," celetuk Rain sambil menyeringai nakal.


...****************...


Di sebuah ruang kerja yang besar, di mana berjejeran rak-rak buku di setiap sudut ruangan, Ravi terlihat sedang termenung di meja kerjanya yang berada di pojok tengah.


Pria tua yang kulitnya sudah keriput tersebut, berdiri sambil berjalan ke arah pintu ruang kerjanya. Ia mengunci pintu ruangan tersebut, lalu berjalan menuju sebuah rak buku yang berada tepat di samping jendela. Kemudian ia meraih sebuah buku merah yang ada di rak tingkat kelima.


Ravi menatap buku merah yang di luarnya polos itu. Tatapan pria tua itu terlihat nanar dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memeluk dan menempelkan buku tersebut ke dadanya sambil memejamkan mata.


“Apa kabarmu di sana?” gumam Ravi pelan. “Kamu menjaga anak kita dengan baik, ‘kan?”


Ravi menghela napasnya pelan sambil membuka matanya kembali. Lalu, ia berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di sana.


Buku yang ia ambil tadi, ia letakkan ke atas meja, kemudian ia raba secara perlahan dengan penuh penghayatan. Kemudian, ia membuka buku tersebut. Ada foto seorang gadis cantik yang tak asing, ia adalah Luna muda, istri pertamanya dulu yang merupakan ibu kandung Rain.


Pria tua itu tak mampu menahan airmatanya. Ia bergegas mengambil tisu lalu membuka kacamatanya dan mengusap pelan airmata yang mulai turun membasahi pipi keriputnya itu.


“Anak kita tumbuh sepertiku dan dia mencintai seorang gadis biasa.”


“Apa yang harus ku lakukan?”


Ravi berbicara sendiri sambil menatapi foto mendiang istri pertamanya tersebut. Ada rasa sebak di dadanya yang sulit ia ungkapkan. Perasaan bersalah dan takut bahwa anak semata wayang istri pertamanya akan terluka sama halnya seperti yang dia alami saat ini.


Rasa bersalah yang menghujam jantung selama bertahun-tahun sejak kematian mengenaskan istrinya, tak mampu terlupakan hingga hari ini.


Penyesalan terbesarnya karena mencintai gadis muda yang biasa saja, lalu menyalahkan gadis muda itu hadir di hidupnya karena hanya membawa cinta. Padahal, cinta yang gadis biasa itu bawa merupakan anugerah terindah yang tak dapat ia temukan di wanita manapun termasuk istri keduanya saat ini.


“Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa-masa itu.”


...****************...


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2