
..."I never love her like i love you. Aku dijodohin dan pernikahan ini hanyalah pernikahan bisnis. Meskipun menikah dengannya, aku nggak akan pernah mencintai wanita itu." - Rain...
...🌸🌸🌸...
..."Sejak peristiwa pagi yang panas itu, kamu sudah seutuhnya milikku. Pacar, pasangan sekaligus calon dari ibu anak-anakku." - Rain...
...🌸🌸🌸...
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang hangat merembet masuk melalui celah-celah tirai kamar Rain. Cahaya tersebut menyapa lembut wajah gadis muda yang tubuhnya penuh dengan bekas-bekas cu pang yang dibuat oleh Rain semalaman. Ya, gadis itu digagahi oleh Rain non-stop hingga pukul lima pagi.
Karena matanya terusik terkena silau mentari, perlahan Joey membuka matanya sambil mendesis kesakitan. Tubuh yang remuk dan ngilu akibat kebringasan pria yang sedang memeluk pinggulnya dari belakang saat ini. Joey menerjap-nerjapkan matanya sambil berusaha memutar tubuhnya menghadap Rain, pria itu masih terlelap.
"Ugh... tubuhku," desis Joey sambil menggigit bibir bawahnya.
Saat mereka saling berhadapan, Joey mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa yang terjadi tadi malam. Di mana pria itu membawanya pulang dari club malam dan membawanya masuk ke kamar. Kamar? Joey tersentak. Ia tersadar bahwa saat ini, kamar yang ia tempati adalah kamar milik pria tersebut. Matanya berkeliling menikmati isi kamar tersebut dengan aroma khas pria yang tercium di hidungnya. Entah kenapa gadis itu tersenyum getir.
"Aku rindu ..." gumamnya pelan.
Ditatapnya dengan seksama wajah pria yang sudah beberapa hari tak muncul di depannya, dan ia kembali diingatkan bahwa pria yang sedang memeluknya sekarang merupakan tunangan orang lain. Kenapa pria itu datang lagi bahkan menggagahinya semalaman? Apa ia juga sudah melewati malam yang panas dengan tunangannya? Ck! Sungguh menyakitkan jika dibayangkan, pikir Joey saat itu. Tanpa terasa, buliran airmata mengalir membasahi pipinya. Mungkin sudah takdirnya harus hidup seperti ini. Sejak kecil memang tak pernah beruntung.
Tak hanya mengganggu Joey, sinar mentari yang masuk juga mengganggu dan menyilaukan mata Rain. Pria tersebut perlahan membuka matanya dan mendapati gadis kesayangannya sedang menangis.
Joey bergegas menghapus airmatanya saat menyadari pria itu membuka matanya. Ia terkaku dan tak tahu harus bersikap seperti apa. Rasanya canggung dan tak pantas jika menanyakan banyak hal, apalagi tentang Anya, tunangan pria itu.
"Hei, sweetheart. Good morning," sapa Rain sambil mengecup dahi Joey dengan penuh kasih sayang. Pria itu menatapnya lekat sambil membelai kepala gadis itu dengan lembut.
"Aku tau kenapa kamu nangis," sesal Rain lirih. "Maaf, aku akan menjelaskan semuanya."
"Nggak apa-apa. Om nggak usah jelasin juga aku ngerti kok. Seharusnya aku sadar diri dan nggak boleh percaya sama ucapan dan janji manis, Om," tutur Joey sendu sambil menundukkan wajahnya.
Rain memegang kedua pipi Joey dan mengangkatnya dengan pelan hingga mata mereka menyatu saling tatapan.
"I never love her like i love you. Aku dijodohin dan pernikahan ini hanyalah pernikahan bisnis. Meskipun menikah dengannya, aku nggak akan pernah mencintai wanita itu," jelas Rain berusaha meyakinkan Joey.
"Hehehe... Om nggak usah gitu. Pria dan wanita, kalo udah seatap bareng, lama kelamaan pasti memendam rasa dan nggak mungkin nggak tidur bareng. Apalagi Om mesum." Kekeh Joey cemburu.
"Ck! Jangan pukul rata dong. Sedikitpun aku nggak nafsu melihatnya, apalagi wanita itu liar, dia sudah tidur dengan banyak lelaki demi bisnisnya. Aku nggak yakin jika dia masih sehat."
"Ya bisa aja 'kan Om pake pengaman?" celetuk Joey kesal.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" tanya Rain sambil tersenyum. Entah kenapa ada kebahagiaan tersendiri saat mengetahui bahwa gadis tersebut cemburu melihatnya dengan wanita lain.
"Emangnya boleh? Kan aku nggak pantas, apalagi aku cuma pengemis-"
"Hei, jaga ucapanmu," ucap Rain sambil menaruh telunjuknya di bibir merekah milik Joey. "Aku nggak pernah nganggap kamu pengemis. Dulu, kamu hanya terpaksa melakukannya. Apapun yang terjadi di masa lalumu, aku nggak peduli. Kamu tetaplah gadis yang aku cintai, selamanya. Karena sekalinya milikku, selamanya akan jadi milikku."
Joey terdiam. Ia tak dapat berkata-kata, lagi-lagi ucapan pria tersebut membuatnya luluh dan meleleh. Ck! Apa dia memang buaya darat? Selalu bisa membuat hatinya yang berantakan menjadi hangat.
"Kalo emang sayang, kenapa Om nggak ngabarin aku selama empat hari? Emangnya Om nggak punya nomer aku? Emangnya sesibuk itu sampai nggak bisa chat aku?" cecar Joey ngambek. Gadis itu terdengar bersemangat dan penasaran saat bertanya. Dari sorot matanya, dia ingin sekali mendapatkan jawaban yang bisa menenangkan perasaannya.
"Banyak hal yang harus ku urus. Tapi mulai hari ini, aku janji bakalan hubungi kamu terus."
"Ck! Janji mulu, Om," rajuk Joey. Gadis itu mengerling sambil menghela nafasnya.
"Hahaha... udah bisa ngambek?" goda Rain sambil mengecup dahi Joey.
"Abisnya, Om bikin aku kesel!"
"Maaf, sayang, maaf." Rain memeluk gadis yang di depannya, dituntunnya kepala Joey ke dadanya, lalu dipeluknya dengan penuh kehangatan. "Coba dengarin detak jantungku."
Joey mendengar dengan seksama. "Kenceng?"
"Ish! Pagi-pagi udah gombal!" gerutu Joey sebal. Gadis itu menggigit dada pria tersebut karena kesal.
"Aww!" pekik Rain sambil mendorong tubuh Joey ke belakang, lalu ia menatap gadis itu dengan mata yang sengaja ia pelototin. "Masih kurang yang semalem?"
"Ih! Om! Udah, badanku udah hancur gara-gara, Om!"
"Tapi enak, 'kan?"
Joey diam dan tak menjawab, wajahnya memerah karena malu.
"Benar, 'kan? Milikku yang besar masuk ke dalam tubuhmu dan menyatu. Tadi malam juga kamu nggak henti-hentinya keluar, dan-"
"Om!" Joey melotot sambil menutup mulut Rain dengan jarinya yang mungil. Pria itu benar-benar tak ada malunya!
Rain memegang tangan gadis tersebut dan menganjaknya, "kamu juga minta dimasukin berkali-kali."
"Ish! Om pagi-pagi bikin kesel!"
__ADS_1
"Kesel?" tanya Rain sambil mendekati telinga Joey. Pria itu tersenyum.
"Tapi kamu menikmati rang sangan yang kuberikan, 'kan?" sambung Rain dengan nada yang berbisik.
Lagi-lagi Joey terdiam dan malu. Wajahnya memerah bak udang rebus.
"Om?" panggil Joey.
"A-aku, mau kuliah di luar negri," sambungnya ragu-ragu.
Rain terdiam, raut wajahnya berubah drastis, yang tadinya hangat dan penuh kelembutan, kini berubah dingin dan suram. Terlihat rasa tidak sukanya saat mendengar permintaan gadis tersebut. Ia tahu, permintaan tersebut merupakan salah alasan agar gadis itu bisa menjauhinya.
"Nggak!" jawab Rain dingin. "Di Indonesia ada banyak kampus yang bagus dan sudah diakui dunia."
"Tapi, Om. Aku mau cari pengalaman dengan hidup di lu-"
"Dengar, aku pernah bilang 'kan? Sekalinya milikku, selamanya menjadi milikku," ucap Rain sambil menatap lekat ke arah Joey. "Aku tau niatmu pergi meninggalkan Indonesia. Untuk menjauhiku, 'kan?"
"Terus, aku hanya diam ngeliatin Om yang mau tunangan dan nikah dengan wanita lain?"
"Itu hanya pernikahan bisnis, nggak ada cinta di antara aku dan dia!"
"Oke, Om nggak cinta sama dia. Tapi dia? Nggak mungkin, nggak. Wanita itu makhluk yang gampang jatuh cinta, apalagi pria setampan dan sekaya, Om. Siapa yang nggak tergerak hatinya ngeliat Om?"
"Biarin aja dia, yang penting hatiku milikmu," jawab Rain simple. Ia tak mau terlalu memikirkan wanita yang dijodohkan dengannya, meskipun benar yang dikatakan oleh Joey, Anya memang menyukainya dan mengejar-ngejarnya sejak dulu.
"Om, aku juga punya perasaan. Walaupun kita nggak ada hubungan apa-apa, te-"
"Nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Rain melotot. "Jadi, kamu menganggap dirimu Kupu-Kupu Malam? Memberikan kesucianmu tanpa perasaan dan mengharapkan imbalan uang? Dan itu tujuanmu ke club kemaren, 'kan?"
"Om!" Joey mengeram dengan sorot mata yang tajam bak silet, tangan gadis itu sejak tadi sudah diangkat dan ingin segera dilayangkan ke pipi Rain, menampar pria yang mengatakan bahwa dia adalah Kupu-Kupu Malam.
"Kemaren aku cuma nemenin Zea, sedikitpun nggak pernah terlintas dipikiranku untuk jadi Kupu-Kupu Malam!"
Rain mengambil tangan Joey yang mengayun di udara, dikecupnya dengan lembut telapak tangan gadis tersebut. "Sejak peristiwa pagi yang panas itu, kamu sudah seutuhnya milikku. Pacar, pasangan sekaligus calon dari ibu anak-anakku."
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1