OBSESI OLEANDER

OBSESI OLEANDER
The Real Lady Boss


__ADS_3

..."Mulailah jadi Miss A yang sebenarnya. The real lady boss yang tangguh dan kuat." - Rain...


...🌸🌸🌸...


"Om pasti ngerencanain sesuatu!"


Gadis yang sedang digendong oleh Rain, tiba-tiba nyeletuk. Membuyarkan lamunan pria itu.


"Ya 'kan?" tanya Joey antusias.


Rain mendudukkan gadis kesayangannya ke atas ranjang. Lalu ia ikut duduk bersandar di atas ranjang tepatnya di samping Joey. Ia mengarahkan tubuh Joey ke dalam pelukannya.


"Hmm. Aku lagi nyelidikin Shailendra Group," tutur Rain sambil membelai lembut kepala Joey. Ia mengambil tangan gadisnya lalu dikecupnya dengan lembut punggung tangan mulus Joey.


"Nyelidikin?"


"Beberapa dari Leons ku kerahkan untuk menyelidiki Shailendra Group karena mereka terlibat dalam penyelundupan narkoba dan merupakan mucikari terbesar di Indonesia," jelas Rain.


"Hah?! Seriusan, Om?!" tanya Joey sambil mendongak menatap Rain.


"Hmm... aku berharap penyelidikan ini segera terpecahkan sebelum ulang tahunmu," jawab Rain.


"Kenapa harus sebelum ulang tahunku?"


"Jadi kamu mau? Hadiah ulang tahunmu adalah pernikahan orang yang kamu cintai? Terus nikahnya dengan wanita lain," goda Rain.


"Ish! Nggak mau!" protes Joey sambil mencebik. "Emangnya Om rela liat aku dengan Pak Luca atau Om Kale?"


"Awas aja kalo kamu berani," kecam Rain sambil mempelototkan matanya.


"Tuh 'kan .... Om aja nggak rela. Apalagi aku, gadis yang tak punya apa-apa begini."


"Kok nggak punya apa-apa?" tanya Rain sembari memainkan jemari gadisnya.


"Hotel Leonidas dan Hotel Nerium Oleander itu 'kan milikmu," ucap Rain datar tanpa basa basi.


"Oh, punyaku," gumam Joey pelan.


"Hah?! Punyaku?!" ulang Joey sambil duduk tegap memposisikan tubuhnya menghadap Rain. Kedua matanya membulat sempurna karena terkejut dengan ucapan pria tadi.


"Om nggak usah becanda deh, nggak lucu!"


"Yaudah, tanya aja Harry," tukas Rain datar. Wajah pria itu benar-benar tanpa ekspresi.

__ADS_1


Joey terdiam dan membisu. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Kenapa pria itu bisa sepercaya itu padanya? Walaupun ia merupakan keluarga terkaya se-Asia Tenggara, tetap saja, aset yang sebesar itu takkan semudah itu diberikan secara cuma-cuma.


"Mulailah jadi Miss A yang sebenarnya. The real lady boss yang tangguh dan kuat karena sekarang Leons berada di bawah perintahmu. Aku menyuruh mereka mendahulukan perintahmu dan aku yang kedua, jadi sering-sering lah main ke Hotel Leonidas," jelas Rain lagi.


Kedua mata Joey dibuat berkaca-kaca akibat tindakan yang diambil pria itu secara diam-diam. Kenapa selama ini ia tak pernah mau mempercayai pria tersebut? Padahal, selama empat belas tahun pria itu telah menunjukkan kesetiaannya secara diam-diam. Meskipun tak terlihat, tapi seharusnya Joey dapat merasakan kebaikan-kebaikan yang tulus diberikan oleh Rain selama ini.


Joey langsung memeluk Rain dengan sangat erat.


"Jangan pernah tinggalin aku," gumam Joey pelan.


"Nggak akan," balas Rain sambil membalas pelukan gadis kesayangannya tersebut. "Seharusnya kalimat itu milikku karna selama ini yang selalu ingin pergi meninggalkanku adalah kamu!"


Joey melepaskan pelukannya dan kembali menatap Rain. "Sekarang udah nggak lagi kok, kalo bisa nih ya, aku mau ngintilin Om kemana pun Om pergi!"


"Ugh! Dasar!" Rain mencubit hidung mancung gadisnya dengan gemas.


"Yaudah, sekarang kamu istirahat," Rain meletakkan punggung tangannya ke dahi Joey. "Tuh 'kan, masih panas."


"Iya, aku bakalan istirahat. Tapi sambil pelukan," Joey menatap Rain dengan mata yang berkilat-kilat. Gadis itu memohon dengan manja dan membuat Rain tak mampu menolak permintaan tersebut.


Rain merebahkan tubuh Joey, lalu ia menyelimutkan tubuh gadis itu dan ia juga masuk ke dalam selimut. Kemudian, Rain memeluk Joey dari samping.


"Tumben?" celetuk Joey tiba-tiba.


"Biasanya Om naruh kepala aku di atas lengan Om, kok sekarang nggak?" tanya Joey penasaran.


"Ntar aku mau makan, laper," jawab Rain sembarangan. Padahal, niat pria itu ingin menghubungi dokter setelah gadisnya tertidur.


"Oh iya, Om belum makan gara-gara aku," Joey nyengir kuda.


"Tapi, Om nggak mau makan aku?" goda Joey sambil meraba dada Rain.


Rain memegang dan menahan tangan gadis itu. "Susah payah aku menahannya sejak kemaren, jangan bikin aku menjadi pria tak berperasaan karna menggagahi gadis yang sakit!"


"Dududuuuu... sejak kapan kata-kata pria tua ini jadi bijak sekali?" ledek Joey sambil mengerlingkan matanya.


Rain tak tahan untuk berdiam diri. Ia menggelitiki tubuh Joey sehingga gadis itu tertawa terpingkal-pingkal dan tubuhnya yang meliuk ke kiri dan ke kanan akibat menahan geli.


"U-udah, Om!" pekik Joey sambil terkekeh.


"Hahaha... makanya jangan usil!" Rain berhenti menggelitiki tubuh Joey, lalu ia kembali memeluk Joey sambil menciumi dahi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"I love you, Sweetheart," ucap Rain hangat.

__ADS_1


"I love you too, Om," jawab Joey sambil balas memeluk Rain dan memejamkan matanya.


...****************...


"Gadis ini sedang hamil muda," ucap Dokter Robert.


Rain mendadak terbelalak. Kedua matanya membulat dengan sempurna dengan wajah yang girang. "Hamil?!!!"


"Benar, Pak," ucap Dokter Robert sambil tersenyum. "Selamat, Bapak akan menjadi seorang ayah."


Rain tak mampu menahan rasa gembiranya. Hatinya benar-benar dibuat bahagia saat mengetahui Oleander sedang mengandung anaknya. Pria itu dibuat kesengsem sendiri saat membayangkan ia akan menjadi seorang ayah.


Sesaat setelah Rain mengantarkan Dokter Robert ke pintu keluar, pria itu bergegas kembali berlari-lari riang ke kamar. Ia duduk di sisi ranjang sambil menatapi Joey yang sedang tertidur pulas.


"Kebahagiaanku bertambah satu," gumam Rain pelan. "Aku semakin tak sabar ingin menghancur Ravindra Group dan Shailendra Group."


Rain meraih ponselnya dan membuka browser. Pria itu mencari nama-nama bayi yang bagus dan memiliki arti nama yang baik.


Sambil jempol Rain membulir di layar, ia tersenyum-senyum sendiri. "Haaa... ini sangat membahagiakan."


"Ntar bayinya cowo atau cewe ya? Hmm..." Rain mengusap-usap dagunya sambil menatapi layar tersebut.


Beberapa menit kemudian, Joey terbangun dari tidurnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya sambil menatap ke arah Rain. Sedang apa pria itu? Kenapa dia tersenyum girang begitu?


"Om?" panggil Joey dengan suara yang serak dan parau.


Rain langsung menoleh ke arah Joey. Ia meletakkan ponselnya ke atas meja kecil samping ranjang, lalu ia bergegas merebahkan diri di samping Joey. Kemudian dipeluknya tubuh gadis tersebut.


"Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Rain lembut.


"Hmm... Om kenapa senyum-senyum gitu deh?"


"Eum ... aku harus ngasih tau dari mana ya," Rain mencoba memutar otaknya. Ia sedang memikirkan kalimat pertama apa yang harus ia katakan kepada gadis tersebut.


"Apa sih, Om. Aku bangun tidur loh, jangan di suruh mikir!" geram Joey sambil mencubit pipi Rain.


"Kita akan menjadi orangtua!" seru Rain spontan tanpa basa basi. Pria itu tersenyum lebar.


"You are pregnant, Sweetheart!" sambung Rain antusias.


"A-aku hamil?!!!"


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2